Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Gejolak Pakuwon Watugaluh 2


__ADS_3

Warigalit yang mendapat serangan Racun Tua, segera melompat menghindari sabetan tongkat besi dari kakek tua itu. Naas, seorang prajurit yang ada di belakang nya justru terpukul tongkat besi si Racun Tua.


Bukkkkk


Oughhh


Si prajurit langsung tewas dengan kepala pecah.


Racun Tua terus mengayunkan tongkatnya mengincar dada Warigalit. Kakak seperguruan Panji Watugunung itu segera memutar tubuhnya sambil menusukkan Tombak Angin nya.


Whuttttt...


Angin dingin dari Tombak Angin Warigalit menerabas cepat kearah dada Racun Tua. Segera dia menarik tongkat besi nya dan memutar mutar tongkat besi untuk menangkis Tombak Angin.


Tranggg..


Percikan bunga api kecil terjadi saat adu senjata terjadi.


Warigalit melompat mundur selangkah, segera merapal mantra Ajian Sepi Angin nya lalu melesat cepat menuju ke arah Racun Tua sambil menusukkan Tombak Angin nya.


Racun Tua sadar bahaya, langsung mundur dua langkah dan memutar tongkat besi di belakang tubuhnya. Lalu tangan kiri kakek tua itu melempar jarum kecil beracun kearah Warigalit.


Sring sringggg


Warigalit melihat jarum beracun ke arah nya, segera menarik Tombak Angin, kemudian menjejak tanah dengan keras agar tubuh nya melenting ke udara menghindari serangan senjata rahasia Racun Tua.


Dua orang yang di dekat Warigalit dari anggota Kalajengking Biru yang ingin membokong, malah terkena lemparan jarum beracun si Racun Tua.


Aaaarrrggghhh


Mereka langsung kelojotan, tubuh mereka berdua ambruk dengan mata melotot menahan sakit dan dari mulut mereka keluar busa, tanda keracunan.


"Bangsat!! "


Racun Tua yang gusar karena serangannya mengenai anak buah nya sendiri, langsung memutar tongkatnya dan melesat cepat menuju Warigalit yang baru menjejak tanah.


Sabetan tongkat besi Racun Tua mengincar kepala Warigalit, laki laki itu menunduk sedikit lalu menangkis dengan mata tombak nya.


Trangggg


Tangan kiri Warigalit yang sudah berubah warna menjadi merah menyala tanda Ajian Tapak Dewa Api. Warigalit menjejak tanah dengan keras dan melayangkan pukulan tangan kiri nya.


Racun Tua yang melihat bahaya, segera menangkis pukulan tangan kiri Warigalit dengan tangan kiri nya yang juga di liputi tenaga dalam tingkat tinggi.


Dhuarrrr!!


Dua orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Warigalit merasakan kebas pada tangan kirinya, akibatnya pukulan tangan beracun si Racun Tua.


Si Racun Tua meringis kesakitan. Tangan kiri nya gosong seperti terbakar api. Rasanya sakit. Pembuluh darah tangannya pecah saat beradu tenaga dalam tadi.


"Bangsat! Jurus apa yang kau gunakan?", teriak Racun Tua sambil menotok urat nadi tangan nya.


Warigalit tersenyum sinis.


"Kau tak perlu kakek tua. Yang jelas hari ini akan ku antar nyawa mu ke neraka".


Usai berkata demikian, Warigalit segera melesat cepat menuju Racun Tua sambil memutar tombak pendeknya.


Racun Tua yang tak bisa menggunakan tangan kiri nya, mundur dua langkah dan menangkis sabetan mata Tombak Angin nya Warigalit dengan tongkat besi di tangan kanan.


Tranggg..


Jurus jurus dari Kitab Tombak Suci yang di pelajari Warigalit, benar benar berbahaya. Setiap gerakannya mengancam nyawa Racun Tua.


Warigalit memutar tombaknya lalu mengubah serangan dengan cepat. Tangan kiri nya yang dilambari Ajian Tapak Dewa Api mengincar pinggang Racun Tua.


Sesepuh Perguruan Kalajengking Biru yang sudah merasakan kekuatan Tapak Dewa Api, melompat ke atas menghindar.


Saat hendak menjejak tanah, tiba tiba Warigalit melesat cepat dan menusukkan tombak nya ke dada kiri Racun Tua yang tidak siap.


Creeppp


Aaaarrrggghhh


Racun Tua menjerit keras saat Tombak Angin Warigalit menembus dadanya. Saat bersamaan tangan kiri Warigalit dengan Ajian Tapak Dewa Api menghajar perut Racun Tua.


Blammmm!


Ledakan keras terdengar dan Racun Tua terlempar ke belakang, menabrak salah satu anggota Kalajengking Biru.


Brukkk.


Kakek tua itu tewas seketika dengan perut gosong dan dada kiri berlubang.


Kematian Racun Tua membuat Dewi Kalajengking Biru marah besar.


Wanita paruh baya itu segera melompat ke arah Warigalit sambil mengayunkan Cambuk Ekor Kalajengking.


Whuttttt


Warigalit melompat mundur dua tombak. Ujung cambuk itu berbentuk lancip seperti jarum beracun, menyambar tubuh seorang prajurit Daha yang sedang berlaga dengan anak buah Kalajengking Biru.


Creeppp


Aughhhhh


Tubuh sang prajurit segera jatuh terpental akibat kuatnya sabetan Cambuk Ekor Kalajengking. Matanya melotot sesaat sebelum tewas dengan mulut berbusa dan hidung mengeluarkan darah.

__ADS_1


Hemmmmm


'Cambuk beracun rupanya', batin Warigalit.


"Ndoro Warigalit biar aku yang menghadapinya. Racun melawan racun", teriak Dewi Srimpi sambil melompat ke samping Warigalit setelah menebas leher 2 orang anggota Kalajengking Biru.


Mendengar ucapan Dewi Srimpi, Warigalit segera melesat ke arah anggota Kalajengking Biru dan mengamuk disana.


Mata Dewi Kalajengking Biru menatap sinis ke arah Dewi Srimpi.


"Gadis ingusan,


Apa kau sudah bosan hidup hah?", teriak Dewi Kalajengking Biru.


"Nenek peot, mulut mu sombong sekali. Sudah bau tanah, masih saja pongah", Dewi Srimpi ketus menjawab.


"Gadis busuk, ku cabik cabik tubuh mu".


Usai berkata seperti itu, Dewi Kalajengking Biru segera mengayunkan Cambuk Ekor Kalajengking nya.


Serangkai angin dingin mengikuti gerakan cambuk yang meliuk-liuk seperti ekor kalajengking.


Whutttt


Trhassss....


Dewi Srimpi yang segera merapal Ajian Langkah Kelabang Sewu nya, dengan cepat menghindar sabetan cambuk dari Dewi Kalajengking Biru. Selir termuda Panji Watugunung melesat menyerang Dewi Kalajengking Biru.


Belum sempat mendekat, kibasan cambuk Ekor Kalajengking bergerak cepat menghadang Dewi Srimpi. Wanita cantik itu segera melompat mundur menghindari.


'Brengsek, nenek peot itu petarung jarak jauh sedang aku petarung jarak pendek. Kalau aku tidak bisa mendekati nya, kemenangan akan sulit ku dapat', batin Dewi Srimpi.


Segera dia merapal Ajian Langkah Kelabang Sewu nya, tubuh nya menjadi seringan kapas.


Lalu Dewi Srimpi segera melesat cepat sambil melempar 3 jarum beracun nya ke arah Dewi Kalajengking Biru.


Sring sringggg sringgg


Tiga jarum racun Kelabang Neraka melesat mengancam nyawa Dewi Kalajengking Biru.


"Hah cuma mainan anak kecil mau menakuti aku? Tunggu 10 tahun lagi", Dewi Kalajengking Biru sombong. Perempuan paruh baya itu segera memutar mutar Cambuk Ekor Kalajengking nya.


Serangan jarum kecil itu seketika terhenti akibat angin yang menderu dari putaran cambuk Dewi Kalajengking Biru.


Namun, Ajian Langkah Kelabang Sewu nya Dewi Srimpi segera menunjukkan kebolehannya. Dalam sekejap mata, Dewi Srimpi sudah di samping kiri Dewi Kalajengking Biru sambil mengayunkan Pedang Kelabang Sewu.


Sreeetttttt


Dewi Kalajengking Biru terkejut bukan main. Pemimpin Perguruan Kalajengking Biru itu segera melompat cepat ke kanan dan menghantamkan tangan kiri nya.


Seberkas sinar biru gelap dari Ajian Tapak Wisa melesat cepat menuju Dewi Srimpi. Perempuan itu pun menyongsong serangan Dewi Kalajengking Biru dengan Tapak Kelabang Neraka nya.


Blarrrrr!!


Dewi Kalajengking Biru terdorong mundur 2 langkah. Tangan kiri nya panas seperti terbakar akibat Racun Kelabang Neraka yang memiliki unsur panas yang tinggi.


Sedangkan Dewi Srimpi terlempar 2 tombak ke belakang.


Panji Watugunung yang baru saja membantai si Kaki Kalajengking, segera melompat dan menangkap tubuh Dewi Srimpi yang melayang.


"Srimpi,


Kau tidak apa-apa?", tanya Panji Watugunung cemas melihat darah mengalir dari sudut bibir selir termuda nya ini.


"Aku tidak apa apa Denmas. Pukulan nenek peot itu berhawa dingin. Sebaiknya Denmas memakai tenaga berunsur panas", jawab Dewi Srimpi sambil terbatuk-batuk.


Panji Watugunung segera menyalurkan tenaga dalam nya ke Dewi Srimpi. Rasa hangat segera menjalar di tubuh perempuan itu. Dewi Srimpi segera mengatur nafas dan tenaga dalam nya.


Usai menyalurkan tenaga dalam nya pada Dewi Srimpi, Panji Watugunung segera berdiri. Sekar Mayang yang baru membunuh beberapa anggota Kalajengking Biru segera mendekati Dewi Srimpi yang butuh beberapa saat untuk mengobati luka dalam nya. Selir kedua Panji Watugunung itu bermaksud melindungi Dewi Srimpi.


Panji Watugunung mendelik tajam kearah Dewi Kalajengking Biru.


"Dasar nenek tua. Harusnya kau sudah bertobat untuk menghadapi Sang Hyang Widhi Wasa, tapi malah membuat ulah".


Phuihhh


"Lancang sekali menasehati ku. Apa kau ingin cepat mampus?", cibir Dewi Kalajengking Biru.


Panji Watugunung tersenyum sinis.


"Bukan aku yang akan mati nenek tua, tapi kau yang akan menyusul murid mu si Tangan Kalajengking dan Kaki Kalajengking ke neraka".


"Jadi kau rupanya yang tempo hari mengobrak abrik markas ku?


Keparat!


Akan ku buat tubuh mu untuk sesajen kematian murid murid ku", teriak Dewi Kalajengking Biru geram.


Perempuan tua itu segera melesat menuju ke arah Panji Watugunung.


Putra Bupati Gelang-gelang itu tersenyum dingin, lalu segera mencabut Pedang Naga Api nya.


**


Sementara itu, begitu terompet tanduk kerbau berbunyi dari pasukan Iblis Bukit Jerangkong, ratusan orang berpakaian hijau gelap anggota perkumpulan sesat Lembah Hantu menerjang maju ke arah kota Pakuwon Watugaluh.


Di depan pintu gapura kota, pasukan Pakuwon Watugaluh yang di pimpin Bekel Setyaka menghadang langkah anggota Lembah Hantu.

__ADS_1


Dewi Tunjung Biru, Dewi Kipas Besi, Bekel Setyaka dan Sepasang Sriti Perak sudah mencabut senjata masing-masing.


Pertarungan tanpa taktik itu berlangsung sengit.


Sepasang Sriti Perak sedang bertarung melawan Dua Hantu Kembar dari Lembah Hantu yang merupakan murid kesayangan Pangeran Lembah Hantu. Dua Hantu Kembar itu adalah Hantu Putih dan Hantu Merah.


Pertarungan sengit mereka berimbang. Sepasang Sriti Perak mengandalkan ilmu meringankan tubuh mereka, serta kecepatan mereka bermain pedang, sama seperti Dua Hantu Kembar.


Puluhan jurus sudah mereka lalui.


Sriti Lanang menyabetkan pedang nya kearah leher Hantu Putih. Segera Hantu Putih menekuk kakinya sambil menangkis sabetan pedang Sriti Lanang.


Tranggg


Percikan bunga api kecil terjadi saat dua senjata beradu.


Sriti Wadon yang baru menghindari sabetan pedang Hantu Merah, segera melempar pisau ke arah paha Hantu Putih.


Whuttttt


Creeppp


Aughhhhh


Hantu Putih yang tak melihat serangan hanya menjerit keras saat pisau menancap di paha kanan nya.


Sriti Lanang yang melihat celah berusaha mengayunkan pedangnya mengincar punggung Hantu Putih. Tapi Hantu Merah melihat nyawa saudara nya terancam segera menangkis sabetan pedang Sriti Lanang.


Tringgg


Dengan cepat, Hantu Merah menarik tubuh Hantu Putih mundur 2 tombak.


"Wanita busuk, kau membokong ku jahanam", teriak marah Hantu Putih. Darah terus mengalir dari luka pisau Sriti Wadon.


"Dalam perang, bukan nilai kejujuran yang utama. Yang menang jadi pahlawan, yang kalah jadi pecundang", ucap Sriti Wadon sinis.


Hantu Putih marah besar. Meski tengah terluka, murid kesayangan Pangeran Lembah Hantu itu segera melesat cepat menuju ke Sepasang Sriti Perak diikuti saudara kembarnya, Hantu Merah.


Sepasang Sriti Perak segera mengelus jurus formasi Sepasang Sriti Berburu. Gerakan cepat dan lincah mereka menyongsong Dua Hantu Kembar itu segera.


Setelah dua puluh jurus, puluhan luka sayatan pedang menghias tubuh Dua Hantu Kembar itu. Luka yang diderita Hantu Putih menjadi penyebab utama nya.


Sriti Lanang bergerak cepat sambil mengayunkan pedang nya kearah leher Hantu Merah yang tak siap karena baru menghindari sabetan pedang Sriti Wadon. Hantu Putih yang melihat nyawa adik kembarnya dalam bahaya segera mendorong tubuh Hantu Merah. Namun naas, pedang Sriti Lanang langsung menebas leher nya.


Crashhhh


Hantu Putih benar benar menjadi hantu hari itu. Kepala nya menggelinding ke tanah dan tubuh nya roboh kemudian. Hantu Merah yang selamat dari tebasan pedang Sriti Lanang kaget melihat kepala kakak kembarnya jatuh ke tanah. Tapi lebih kaget lagi saat merasakan sebuah pedang menusuk dada kiri nya.


Jrebbb


Aughhhhh


Hantu Merah roboh bersimbah darah. Dia tewas menyusul Hantu Putih.


Sriti Wadon mengusap darah di pedangnya dengan baju Hantu Merah. Lalu berdiri mendekati suaminya. Sriti Lanang tersenyum tipis, dan berkata,


"Adik,


Ayo kita menangkan perang ini"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Duh jadi semangat nih 😁😁


Ayo guys ikutan semangat mendukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍


Kasih hadiah juga boleh kog 😎😎


Jangan pelit pelit tinggalkan jejak nya 😂😂

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti loh..


Selamat membaca guys 😁😁😁*


__ADS_2