
Mpu Wanayasa perlahan menghentikan tawanya. Dengan mata teduh layaknya seorang pertapa, laki laki sepuh yang wajahnya penuh kerut itu menoleh ke arah tiga biksu dari negeri seberang.
"Tidak ada yang lucu, Biksu Hong Ki. Cuma aku heran saja, kenapa bisa kalian bisa mendengar nama Watugunung? Apa ada orang yang mengatakan nya?", tanya Resi Wanayasa perlahan. Kakek tua itu mengelus jenggotnya yang memutih.
"Tuan Resi,
Nama Watugunung kami dengar dari seorang pemimpin padepokan silat Pedang Awan yang ada di Gunung Pamrihan. Nama nya Tuan Resi Wasista.
Waktu itu, kami mengadu ilmu beladiri kami bersama muridnya. Sekalipun kami unggul, tapi Tuan Resi Wasista mengatakan jika dia bersedia mengakui keunggulan ilmu beladiri kami jika kami bisa mengalahkan Watugunung dari Kadiri", Biksu Hong Ki menjelaskan tentang bagaimana asal muasal dia mengetahui nama Watugunung.
Hehehe
Kembali Resi Wanayasa tertawa kecil mendengar omongan Biksu Hong Ki. Gelangwesi yang melihat gurunya tertawa sampai terheran-heran dengan itu semua. Gurunya yang biasanya sangat menjaga wibawa dan penampilan, tiba tiba bisa tertawa berulang kali.
"Wasista,
Dasar pandita gendeng kamu Hehehe", ujar Mpu Wanayasa di sela sela tawanya.
"Maaf Tuan Resi,
Kami semakin tidak mengerti apa yang membuat Tuan Resi Wanayasa begitu senang?", tanya Biksu Hong Yi yang sangat jarang berbicara.
"Maaf biksu sekalian maaf hehehe..
Bukan maksud ku menertawakan kalian, aku hanya menertawakan kejahilan pandita gendeng dari Gunung Pamrihan itu", jawab Resi Wanayasa sambil menyeka air matanya yang keluar karena tawa yang membuat perut nya sakit.
"Apa maksudnya itu Tuan Resi?", kali ini Biksu Hong Jian ikut bicara.
"Ah sudahlah jangan di omongkan lagi.
Lebih baik saudara biksu sekalian segera beristirahat karena besok masih melakukan perjalanan jauh.
Oh iya, kalau bertemu dengan Watugunung, sampaikan kepada nya bahwa Resi Wanayasa menyampaikan salam hormat kepada nya.
Aku permisi dulu", ujar Resi Wanayasa sambil berdiri.
Pemimpin Padepokan Bukit Penampihan itu segera membungkuk pada tiga biksu itu dan bergegas menuju keluar dari serambi kediaman Lurah Wanua Mruwak. Gelangwesi mengantarkan gurunya.
"Guru,
Murid tidak mengerti mengapa guru dari tadi tertawa berulang kali. Ada hal yang begitu menggelikan?", tanya Gelangwesi yang berjalan di samping gurunya itu.
"Apa kau tidak pernah dengar nama Watugunung, Gelangwesi?", Resi Wanayasa balik bertanya kepada Lurah Wanua Mruwak dengan tatapan penuh arti.
"Seingat ku, itu adalah nama pemuda yang tempo hari menolong padepokan kita dari serangan Tiga Iblis Goa Siluman kan Guru?", Gelangwesi mencoba mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Ingatan mu lumayan bagus.
Watugunung itu pendekar pilih tanding, Gelangwesi. Kalau aku berselisih paham dengan nya, aku pasti tidak mampu mengalahkan nya. Lagipula sekarang dia adalah putra mahkota kerajaan Panjalu. Mengalahkan nya ibarat memecahkan batu dengan telur ayam.
Disitulah letak kejahilan Wasista pada tiga biksu itu, makanya aku sampai tertawa terpingkal-pingkal tadi", jabar Mpu Wanayasa pada Lurah Wanua Mruwak itu dengan gamblang.
Gelangwesi akhirnya memahami apa yang dirasakan gurunya itu tadi.
Di gapura Wanua Mruwak, Resi Wanayasa melanjutkan perjalanan nya ke arah Padepokan Bukit Penampihan, sedangkan Gelangwesi kembali ke kediaman nya.
Malam segera berlalu dengan cepatnya.
Saat matahari mulai sepenggal naik di ufuk timur, tiga biksu dari negeri seberang itu mohon pamit pada Gelangwesi, Sang Lurah Wanua Mruwak. Setelah mengepalkan tangannya di depan dada dan membungkuk yang merupakan tanda penghargaan khas negeri Tiongkok, tiga biksu itu segera melompat ke atas kudanya untuk meneruskan perjalanan mereka ke Kadiri.
Sementara itu, para pemburu dari Alas Larangan yang pagi buta sudah bergerak mengejar tiga biksu dari negeri seberang yang menurut mereka sudah menghina Padepokan Alas Larangan. Saat memasuki perbatasan antara Kadipaten Kurawan dan Anjuk Ladang, mereka mendapatkan berita terkait tiga biksu asing yang menuju ke Kadiri lewat Anjuk Ladang.
"Bagaimana Guru? Apa kita kejar mereka ke Anjuk Ladang?", tanya Bhirawa pada Dewa Tanah gurunya.
Laki laki tua bertubuh gendut dengan perut nya yang buncit itu mengelus dagunya.
"Dewi Api,
Apa saran mu kali ini?", tanya Dewa Tanah pada adik seperguruannya itu.
"Kita cegat mereka di dekat dermaga penyeberangan Sungai Brantas saja Kakang,
Daripada berurusan dengan prajurit Kadipaten Anjuk Ladang, lebih baik kita lewat jalur selatan saja meski beresiko berhadapan dengan murid murid Racun Kembang", jawab Dewi Api sambil menyeka keringat yang membasahi keningnya.
"Ahh aku tidak takut dengan mereka. Daripada di keroyok prajurit Anjuk Ladang lebih baik menghadapi para perempuan binal dari Racun Kembang.
Ayo kita berangkat", ujar Dewa Tanah sambil menggebrak kudanya berbelok ke kanan menuju selatan. Di selatan Pakuwon Berbek, mereka berbelok ke timur menuju ke dermaga penyeberangan utama menuju ke Kota Dahanapura.
Dua pasang mata dari dua gadis muda menatap rombongan orang berbaju merah dan coklat itu dengan tatapan penuh kebencian.
Setelah saling mengangguk, dua gadis muda berbaju cerah itu segera berlari menuju ke sebuah pohon perdu yang menjadi tempat mereka menambatkan kuda kuda mereka.
Segera mereka menggebrak kuda kuda mereka menuju ke sebuah pemukiman kecil yang ada di tengah lembah kecil diantara dua bukit kecil yang penuh dengan bunga bunga beraneka warna.
Itulah Lembah Seribu Bunga, markas perguruan Racun Kembang yang terkenal karena ilmu beladiri beracun nya.
Dua gadis muda itu segera melompat turun dari kudanya setelah sampai di dalam pagar perguruan yang terbuat dari kayu. Usai menambatkan kuda pada geladakan, dua gadis muda itu segera berlari menuju ke sebuah rumah yang paling besar di tengah pemukiman kecil itu.
Dewi Kembang Wengi, pimpinan sekaligus guru besar perguruan Racun Kembang sedang meracik ramuan racun bersama muridnya, Dewi Kantil dan Kenanga saat dua gadis muda itu masuk ke serambi kediaman nya.
"Melati, Seruni..
Ada apa kalian kemari? Bukankah kalian ku tugaskan untuk mengawasi orang orang dari Kadipaten Anjuk Ladang itu?", tanya Dewi Kembang Wengi sambil menatap ke arah Dewi Seruni dan Dewi Melati.
"Maaf Guru,
__ADS_1
Ada berita penting yang perlu kami laporkan. Serombongan orang dari Alas Larangan bergerak menuju ke timur. Seperti nya mereka ke dermaga penyeberangan utama Sungai Brantas", lapor Dewi Melati segera.
"Siapa yang memimpin mereka?", tanya Dewi Kembang Wengi yang segera meletakkan pekerjaan nya.
"Seorang wanita tua berambut merah dan seorang kakek gendut yang sedikit botak rambut nya", jawab Dewi Seruni dengan cepat.
"Hemmmm..
Dewi Api dan Dewa Tanah. Kalau sampai mereka keluar dari sarangnya, berarti ada sesuatu yang penting.
Mumpung mereka keluar, aku akan membunuh laki laki gendut itu.
Kantil, Kenanga..
Bawa 10 murid yang paling bisa diandalkan untuk bertempur melawan bajingan Alas Larangan. Ajak juga Kamboja untuk ikut membantu", perintah Dewi Kembang Wengi sambil mengumpulkan beberapa racun racikan nya.
"Baik Guru", ujar Dewi Kantil dan Dewi Kenanga bersamaan. Mereka segera keluar dari serambi kediaman Dewi Kembang Wengi untuk mengumpulkan saudara seperguruan mereka. Malam itu mereka berniat menyerang orang orang Alas Larangan.
Tiga biksu dari negeri seberang memutuskan untuk bermalam di kota Anjuk Ladang sebelum besok menuju ke ibukota kerajaan Panjalu.
Di tepi kota Anjuk Ladang, seorang pandita Agama Siwa yang melihat mereka menawari untuk bermalam di rumah nya. Dengan senang hati mereka menerimanya.
**
Di keputran Istana Daha.
Panji Watugunung yang sudah 1 hari bermalam di keputran, sedang duduk di kursi kayu di temani oleh Ayu Galuh yang sedang menggendong bayi Mapanji Jayawarsa dan Warigalit serta Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum.
Saat mereka sedang asyik bercakap cakap, Tumenggung Wiguna datang menghadap.
Perwira tinggi prajurit Kerajaan Panjalu itu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.
"Ada perlu apa kau kemari, Tumenggung Wiguna?", tanya Panji Watugunung setelah Tumenggung Wiguna duduk bersila di hadapannya.
"Mohon ampun bila hamba mengganggu Gusti Pangeran Jayengrana.
Hamba diutus Gusti Prabu Samarawijaya untuk memanggil Gusti Pangeran Jayengrana ke istana pribadi raja", ujar Tumenggung Wiguna sambil menghormat.
Panji Watugunung segera berdiri dari tempat duduknya.
"Mari kita kesana. Kakang Warigalit, kau temani aku", ujar Panji Watugunung yang segera melangkah keluar dari serambi Keputran Daha diikuti oleh Warigalit serta Tumenggung Wiguna menuju ke istana pribadi raja yang ada di sisi timur istana.
Maharaja Panjalu, Sri Samarawijaya sedang duduk di kursinya di temani oleh Mapatih Jayakerti dan Senopati Narapraja juga Rakai Warak sang penasehat saat Panji Watugunung datang bersama dengan Warigalit dan Tumenggung Wiguna.
Panji Watugunung segera menyembah pada Maharaja Samarawijaya dan duduk bersila di hadapannya. Warigalit dan Tumenggung Wiguna juga melakukan hal yang sama.
"Dhimas Pangeran Jayengrana,
Terima kasih atas kesediaan mu memenuhi panggilan ku", ujar Prabu Samarawijaya sambil tersenyum tipis.
Hehehe
"Dhimas Pangeran Jayengrana selalu rendah hati.
Apa Dhimas Pangeran Jayengrana sudah tau maksud ku mengundang Dhimas Pangeran dan Ayu Galuh ke istana Daha?", Prabu Samarawijaya menatap wajah Panji Watugunung.
"Mohon maaf Gusti Prabu, saya belum mengetahuinya sama sekali", jawab Panji Watugunung segera.
"Dhimas Pangeran Jayengrana,
Beberapa waktu yang lalu, seorang telik sandi melaporkan bahwa ada kegiatan mencurigakan yang terjadi di Jenggala.
Sebenarnya ini sudah cukup lama, tapi belakangan menjadi mengkhawatirkan. Kita tahu di daerah perbatasan antara Jenggala dan Panjalu, terjadi pembukaan lahan pertanian secara besar-besaran.
Mulanya aku berfikir bahwa itu untuk menaikkan taraf kehidupan di masyarakat Jenggala yang baru mengalami kekalahan dari kita.
Tapi mendengar berita kemarin, membuat aku gelisah. Kanjeng Romo Airlangga baru saja moksa ke nirwana tapi ada peningkatan kegiatan keprajuritan di wilayah Kadipaten Matahun, Bojonegoro, dan Keling.
Beberapa sudah melakukan kegiatan latihan perang di beberapa Pakuwon di sekitar perbatasan.
Apa usul mu untuk masalah ini Dhimas Pangeran?", Prabu Samarawijaya memijat kepalanya.
Panji Watugunung terdiam sejenak.
Yuwaraja Panjalu itu nampak jelas sedang berfikir keras. Setelah menghela nafas panjang, Panji Watugunung segera berkata dengan suara tegas.
"Kalau mereka ingin berperang lagi melawan kita, maka kita juga harus menyiapkan diri Gusti Prabu.
Tapi kali ini kita tidak akan memberikan toleransi lagi kepada mereka", ujar Panji Watugunung yang disambut anggukan kepala dari Mapatih Jayakerti.
"Benar kata Gusti Pangeran Jayengrana.
Kemarin kita sudah berbaik hati dengan hanya mengalahkan mereka tanpa mengambil sejengkal pun tanah mereka.
Jika mereka berambisi untuk menaklukkan Daha, maka kita juga harus bisa menaklukkan Jenggala", timpal Mapatih Jayakerti.
Hemmmm
"Ucapan kalian ada benarnya.
Selama ini kita terlalu berbaik hati kepada mereka karena menganggap mereka masih saudara kita. Tapi sepertinya Kakang Garasakan tidak mengerti rasa persaudaraan yang sudah kita lakukan.
Kita akan melakukan persiapan untuk menghadapi mereka", ujar Prabu Samarawijaya dengan tegas.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", seluruh orang yang ada di istana pribadi raja menjawab bersamaan.
__ADS_1
Mulai saat itu, Prabu Samarawijaya mulai membagi tugas diantara mereka.
Panji Watugunung diminta mengirim utusan ke daerah terdekat dengan perbatasan seperti Kadipaten Seloageng, Kabupaten Gelang-gelang, Kadipaten Anjuk Ladang dan Kadipaten Lasem untuk menyiapkan bahan makanan.
Sementara dari Kadipaten yang jauh dari perbatasan seperti Karang Anom, Tanggulangin, Wengker, Lewa, Muria, Kembang Jenar, Kalingga, Rajapura, Paguhan dan Bhumi Sambara diminta mengirim sedikit nya seribu prajurit untuk membantu pertahanan Panjalu.
Senopati Narapraja di tugaskan untuk mengatur prajurit Panjalu yang ada di Ksatrian Kadri yang berjumlah sekitar 10 ribu prajurit.
Mapatih Jayakerti bertugas membangun pertahanan di seputar ibukota Kerajaan Panjalu dengan bantuan para pembesar istana Daha.
Setelah semua pembagian tugas tertata, mulai besok wajib dilaksanakan. Semua yang hadir menerima tugas dengan penuh semangat.
Usai pertemuan, mereka segera mohon diri untuk kembali ke tempat masing-masing.
Menjelang sore, Prabu Samarawijaya mengunjungi Keputran Daha bersama Rara Larasati, selir kesayangannya yang juga ibu dari Ayu Galuh.
"Kanjeng Romo, Kanjeng Ibu..
Kog kemari tanpa pemberitahuan?", tanya Ayu Galuh yang sedang menggendong Mapanji Jayawarsa.
"Lha kenapa Cah Ayu? Kan aku hanya ingin melihat cucu ku", jawab Prabu Samarawijaya sambil tersenyum.
"Kan aku bisa mencegah Kangmas Panji Watugunung jalan jalan Romo", Ayu Galuh kemudian menyerahkan Mapanji Jayawarsa kepada Ratri.
"Suami mu kemana Cah Ayu?", tanya Larasati, ibunda Ayu Galuh.
"Tadi bersama Senopati Warigalit, Kanjeng Ibu.
Katanya mau melihat pasar sore di tepi sungai Brantas", jawab Ayu Galuh yang segera duduk disamping ibunya.
"Apa kau bahagia Cah Ayu?", Larasati mengelus rambut hitam Ayu Galuh.
"Tidak ada yang bisa melebihi kebahagiaan ku saat ini Kanjeng Ibu.
Kangmas Panji Watugunung mencintai ku dan putra ku dengan sepenuh hati", jawab Ayu Galuh segera.
Mereka berbincang hangat melepas kerinduan yang mendalam antara mereka.
Sementara itu, Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum dan Dewi Srimpi serta Warigalit sedang berjalan di pasar sore yang ada di tepi sungai Brantas. Melihat keramaian di dermaga penyeberangan utama yang menghubungkan kota Daha dan wilayah Kadipaten Anjuk Ladang.
Melihat sebuah kapal penyeberangan, Dewi Naganingrum tiba-tiba ingin naik.
"Akang Kasep,
Sok atuh naik perahu na", ajak Naganingrum sambil menarik tangan Panji Watugunung.
"Ini sudah sore Dinda Naganingrum, besok saja", tolak halus Panji Watugunung segera.
"Ih akang Kasep teh tidak sayang abdi. Hayuk naik perahu akang", rengek Naganingrum dengan keras kepala.
Tak tega melihat tingkah Naganingrum, Panji Watugunung segera menuruti keinginan istri ketiganya itu. Dewi Srimpi dan Warigalit pun mengikuti langkah Panji Watugunung menumpang kapal penyeberangan.
Perahu terus melaju menembus air sungai Brantas yang berwarna kecoklatan.
Saat kapal penyeberangan hampir sampai ke tepi dermaga penyeberangan, tiba-tiba terdengar teriakan keras dari barat dermaga.
"Ada orang bertarung!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siapa yang bertarung?🤔
Ikuti terus kisah selanjutnya kak😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 atau komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏