
Warigalit sedang menatap tajam kearah seberang sungai kecil yang menjadi batas alam Watugaluh dan Tamwelang. Dari atas cabang pohon krombang besar yang menjorok ke atas sungai itu, terlihat jelas ada kegiatan tidak biasa di seberang sungai. Meskipun dia sangat dekat, tapi karna daun krombang lebar menyamarkan kehadiran Warigalit dengan sempurna.
Cuaca awal musim kemarau itu begitu cerah. Aneka daun mulai berguguran karena air yang mulai sulit. Angin kering yang berhembus dari selatan menambah suasana semakin panas.
Pria berkumis tipis itu segera melesat diantara cabang pohon besar yang menutupi wilayah itu. Dia bergegas menuju perkemahan para prajurit yang di pimpin nya.
Tak berapa lama kemudian, Warigalit sudah melayang turun dari pohon dekat perkemahan prajurit.
Mpu Seti segera mendekati Warigalit.
"Bagaimana situasi nya Gusti Warigalit?, Apa benar mereka berkumpul di seberang sungai kecil itu?".
"Benar Mpu, melihat baju mereka yang berwarna biru, sepertinya mereka dari Perguruan Kalajengking Biru.
Sepertinya nya mereka masih berkelompok sendiri sendiri dan tidak bersatu.
Kalau kita memutuskan untuk menyergap mereka, akan lebih mudah mengalahkan mereka.
Tapi kita juga harus menunggu adi Watugunung. Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak", jawab Warigalit sambil mengelus kumis tipis nya.
Di istana Pakuwon Watugaluh, pasukan Tumenggung Ardanata dan Tumenggung Wiguna memenuhi setiap sudut istana. Sejumlah prajurit bahkan harus berkemah di luar tembok istana Pakuwon Watugaluh.
Suasana Kota Pakuwon Watugaluh nampak sepi. Beberapa pedagang memilih menutup usahanya setelah ketegangan yang meningkat. Hanya beberapa rumah makan dan penginapan saja yang berani membuka pintu. Itupun dengan pengawasan ketat dari prajurit pakuwon Watugaluh yang nyaris berpatroli ke setiap sudut kota.
"Gusti Tumenggung Ardanata, apa langkah kita selanjutnya?", tanya Hangga Amarta sang Akuwu Watugaluh.
"Kita hanya bisa bersiaga Ki Kuwu, mendahului menyerang mereka sama dengan mengobarkan api peperangan dengan Jenggala. Gusti Prabu Samarawijaya melalui Mapatih Jayakerti sudah memerintahkan kepada kami untuk tidak mendahului menyerang", jawab Tumenggung Ardanata yang di sambut anggukan kepala dari Tumenggung Wiguna.
"Tidak bergerak nya pasukan Jenggala juga menjadi salah satu pertanyaan tersendiri bagi kami.
Itu yang kami khawatirkan", Tumenggung Wiguna menimpali omongan Tumenggung Ardanata. Wajah tumenggung muda itu terlihat sedikit khawatir. Bayangan serbuan pasukan Jenggala dalam jumlah besar di belakang pasukan pengacau itu selalu menghantuinya.
"Yang penting kita bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Masalah lain kita pikirkan pemecahan nya nanti adik Wiguna", potong Tumenggung Ardanata.
"Aku sudah meminta bantuan pada pasukan Garuda Panjalu kakang Ardanata. Gusti Pangeran Panji Watugunung juga sudah bersiap. Mereka mungkin sudah ada di wilayah Watugaluh ini sekarang", Tumenggung Wiguna menatap langit siang hari yang berwarna biru cerah.
"Ya ya ya..
Aku dengar kemampuan putra mantu Gusti Prabu Samarawijaya itu luar biasa. Semoga saja dia bisa membantu kita saat ada kesulitan", ujar Tumenggung Ardanata seraya menatap wajah Tumenggung Wiguna.
Mereka berbagi berita dan memutuskan langkah apa yang harus dilakukan.
Sementara itu, pasukan Garuda Panjalu di bawah pimpinan Panji Watugunung sudah mendekati wilayah perkemahan pasukan Warigalit.
Sesampainya di sana mereka segera bergabung dan membangun perkemahan.
Warigalit segera mendekati Panji Watugunung. Ada sesuatu yang menggangu pikiran nya.
"Adi Watugunung, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres", ujar Warigalit seraya menggaruk kepalanya.
"Ada apa Kakang Warigalit?", Panji mendudukkan dirinya di bawah pohon di luar perkemahan para prajurit.
"Mereka tidak berkumpul di satu titik, tapi mereka berpencar menjadi 3 titik yang berbeda. Lembah Hantu di Utara, Bukit Hitam di tengah dan Kalajengking Biru di selatan. Apa sebenarnya yang ingin mereka lakukan? Bukankah jika berniat menyerbu Pakuwon Watugaluh, seharusnya mereka berkumpul di satu titik saja?", tanya Warigalit kemudian.
"Kakang Warigalit,
Itu namanya siasat perang Supit Urang. Menata pasukan dalam jumlah besar pada dua sisi serangan, sedangkan pasukan tengah akan bergerak perlahan menghantam dalam jumlah besar. Sepertinya mereka hendak menyerbu Pakuwon Watugaluh dari dua arah berbeda.
Sepertinya siasat perang mereka cukup baik melihat dari pola yang mereka tata", jawab Panji Watugunung sambil mencorat-coret tanah mencoba menggambarkan bagaimana cara kerja pasukan musuh.
"Aduh otak ku yang bebal ini tidak mampu berpikir sejauh itu adik", Warigalit pusing kepala nya melihat uraian Panji Watugunung. Memang secara kecerdasan, dia jauh di bawah Panji Watugunung.
"Lalu bagaimana cara kita menghadapi mereka adik? Jangan kau suruh aku memikirkan caranya", timpal Warigalit.
Hehehehe
"Kita bisa menyiapkan beberapa siasat berbeda untuk menghadapi mereka kakang. Yang paling mudah, kita hadang salah satu supit yang menyerang. Yang aku khawatirkan hanya serangan dari sisi Utara yang mungkin lewat sungai Brantas", Panji Watugunung menatap ke langit yang cerah nyaris tanpa awan..
"Apa sebaiknya kita kirim utusan ke Watugaluh untuk mengabarkan keberadaan kita disini adik, sekaligus membicarakan siasat perang yang mereka pakai?", tanya Warigalit yang duduk tak jauh dari Panji Watugunung.
"Loh, apa Kakang belum memberi tahu pihak Pakuwon Watugaluh kalau kita berkemah disini?", Panji Watugunung balik bertanya.
__ADS_1
"Hehehehe belum adik. Aku tidak mau melangkahi kepemimpinan mu. Walaupun kau adik seperguruan ku, tapi urusan begini kau pemimpin nya. Aku hanya pengikut mu", Warigalit meringis saja.
Panji Watugunung tersenyum simpul memandang kakak seperguruannya itu.
Mereka segera bergegas menuju ke tenda besar yang ada di tengah perkemahan itu. Disana berkumpul perwira prajurit prajurit Garuda Panjalu dan Mpu Seti dari Pakuwon Kunjang.
"Jarasanda dan Paman Saketi..
Kalian masuk ke kota Pakuwon Watugaluh. Beritahu pimpinan pasukan Daha dan Watugaluh kalau kita berkemah disini juga tentang kemungkinan siasat perang Supit Urang yang mereka pakai. Meskipun mereka dari dunia persilatan dan ada kemungkinan mereka menyerang di malam hari, tapi melihat titik kumpul mereka di tiga tempat, kemungkinan besar mereka menggunakan siasat ini", perintah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", dua perwira pasukan Garuda Panjalu itu segera menghormat pada Panji Watugunung dan segera bergegas keluar dari tenda perkemahan.
Mereka segera melompat ke atas kuda mereka dan memacu kudanya menuju istana Pakuwon Watugaluh.
**
Sementara itu, ratusan orang berpakaian rakyat biasa menunggu kedatangan pasukan dari Padepokan Bukit Jerangkong di tapal batas Tamwelang dan Pakuwon Lantir.
Sebenarnya mereka adalah pasukan Jenggala yang sedang menyamar sebagai warga biasa. Mereka di pimpin oleh seorang tumenggung muda yang bernama Tumenggung Raka. Mereka adalah pasukan awal yang di siapkan untuk mengukur kekuatan Panjalu. Sedangkan pasukan besar sudah di siapkan di Tumapel dan Lwaram.
Dari ujung jalan di tepi hutan kecil, pasukan Padepokan Bukit Jerangkong perlahan mulai memasuki tempat itu.
Rombongan pasukan Jenggala segera menyongsong kedatangan mereka. Tumenggung Raka berjalan mendekati Iblis Bukit Jerangkong yang masih duduk di atas kudanya. Dua orang prajurit mengikuti langkah sang Tumenggung.
"Apa kalian pasukan yang disiapkan oleh Mapatih Bayunata untuk membantu kami?", ucap Iblis Bukit Jerangkong.
"Kalau bicara yang sopan. Kau sedang berhadapan dengan Tumenggung Istana Jenggala. Turun kau", teriak seorang prajurit Jenggala yang mengikuti Tumenggung Raka.
Iblis Bukit Jerangkong tersinggung dengan ucapan prajurit itu. Seketika tangan kanannya diliputi sinar hijau kehitaman. Sekejap kemudian, sang prajurit itu melayang tubuh nya seperti terhisap ke tangan kanan Iblis Bukit Jerangkong. Kepala sang prajurit menempel di telapak tangan kanannya.
Tumenggung Raka dan rombongannya terkejut bukan main.
Dengan seringai lebar, tangan kanan kakek tua bertubuh kurus itu segera meremas batok kelapa sang prajurit.
Krekkk!
Blarrrrr!
"Apa ada yang ingin mampus lagi?", mata iblis tua itu mendelik tajam kearah Tumenggung Raka dan para prajurit nya.
Para prajurit Jenggala seketika ciut nyalinya.
"Menghadapi kroco sekelas kalian semua, hanya akan mengotori tangan ku saja.
Ikuti perintah ku atau kalian semua aku habisi", teriak Iblis Bukit Jerangkong keras.
"Kami sudah di perintahkan oleh Mapatih Bayunata untuk mendukung penuh tindakan mu, Iblis Bukit Jerangkong", ujar Tumenggung Raka. Hati sang tumenggung muda itu ikut ngeri melihat kemampuan ilmu kanuragan sang pemimpin Padepokan Bukit Jerangkong itu.
Tangan Setan, Pedang Iblis, Ragupati, Iblis Bayangan, Setan Pengkor, dan semua murid murid utama Padepokan Bukit Jerangkong hanya tersenyum sinis memandang kearah para prajurit Jenggala. Bagi mereka para prajurit itu hanya sampah yang siap di korbankan untuk menduduki Watugaluh.
Pasukan Iblis Bukit Jerangkong kini bertambah besar. Jumlah mereka kini 1000 orang lebih. Mereka bergerak menuju perbatasan Watugaluh dan Tamwelang.
**
Seorang prajurit telik sandi dari Daha yang baru mengintai pergerakan di perbatasan Tamwelang dan Lantir tergopoh-gopoh menuju ke perkemahan Panji Watugunung.
Panji Watugunung yang sedang bercengkrama dengan istri dan selir-selirnya, seketika menoleh ke pintu tenda besar yang di sediakan untuk nya.
"Lancang sekali kau. Berani masuk kesini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu", hardik Ayu Galuh.
"Ampuni hamba Gusti Putri, tapi hamba harus bergegas karena ini berita penting", telik sandi itu menunduk ketakutan.
"Apa kau bosan hi....."
"Sudah diam dulu Dinda Galuh. Jangan memancing keributan", potong Panji Watugunung segera.
Putri Samarawijaya itu segera diam.
"Ada apa telik sandi? Berita apa yang kau bawa?", tanya Panji Watugunung segera.
"Seribu orang lebih bergerak menuju ke barat. Dari ikat kepala hitam bergambar tengkorak, sepertinya mereka anggota Padepokan Bukit Jerangkong Gusti. Mereka kemungkinan tiba di perbatasan sore hari ini", laporan telik sandi itu.
__ADS_1
"Baiklah kau boleh kembali ke tempat tugas mu. Terus laporkan jika ada hal lain yang mencurigakan", Panji Watugunung mengangkat tangan kanannya.
Telik sandi itu segera menghormat pada Panji Watugunung dan segera bergegas keluar dari perkemahan.
Siang itu semua perwira prajurit berkumpul di tenda besar. Jarasanda dan Ki Saketi juga hadir. Warigalit, Mpu Seti, Ludaka, Gumbreg, Rajegwesi semua nya hadir.
"Mulai malam ini, kita bersiaga. Tingkatkan kewaspadaan terhadap semua hal.
Rajegwesi, ajak pasukan pemanah mu untuk bersiap di pepohonan di sekitar jalan hutan menuju ke kota Watugaluh. Aku yakin mereka akan lewat kesana. Ingat jangan menyerang sebelum mereka masuk.
Ludaka, pimpin anak buah mu membuat perangkap dan jebakan di tepi tebing di jalur masuk mereka.
Ayo semua saling bekerjasama dalam memenangkan perang ini", ujar Panji Watugunung yang segera di sambut anggukan kepala dari semua orang.
Puluhan prajurit Garuda Panjalu dipimpin Ludaka segera menata jebakan. Batu batu besar mereka angkut ke atas tebing. Berpuluh kayu gelondongan mereka ikat di balik tebing. Tak lupa minyak lampu sentir dari pohon jarak mereka oleskan pada kayu kayu itu.
Beberapa orang prajurit mengikat rumput rumput kering hingga membentuk bola bola rumput besar.
Para pemanah merendam mata panah mereka dengan minyak jarak.
Dewi Srimpi sibuk meracik ratusan pil penawar racun di bantu Ratri dan Sekar Mayang. Sementara itu Ayu Galuh dan Ratna Pitaloka sibuk membantu para prajurit perbekalan menyiapkan makanan untuk para prajurit yang sedang bekerja.
"Tak disangka, ternyata hari ini kelompok perbekalan mendapat keberuntungan", ujar Gumbreg sambil cengar-cengir sendiri.
Memang kecantikan Ayu Galuh dan Ratna Pitaloka ibarat dua sisi permata di banding para petugas wanita yang ada di dapur pasukan perbekalan.
"Memang kenapa Ki Bekel?", tanya Weleng yang mendengar kata kata Gumbreg.
"Tuh liat. Dua bidadari surga sedang sibuk menyiapkan makanan. Andai saja mereka menyiapkan makanan untuk ku, uhh pasti ku habiskan tanpa sisa", Gumbreg langsung ngiler membayangkan makanan.
"Bukankah setiap makanan yang di masak oleh para petugas wanita itu selalu kau habiskan Ki?
Jangankan untuk kami, untuk semut pun tidak kau sisakan", ujar Weleng sambil memandang kearah kepala perbekalan itu.
Semua orang tertawa termasuk Ayu Galuh dan Ratna Pitaloka mendengar ucapan Weleng. Gumbreg langsung mendelik tajam kearah Weleng.
"Kau mau ku pindah ke bagian ngurus kuda?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
😂😂😂😂😂😂😂😂
Si Gumbreg jadi perwira kecil saja sudah main ancam ya 😁😁😁😁
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
Jangan lupa sedekah like vote dan komentar nya ya 👍👍👍👍👍
Jangan pelit tinggalkan jejak, biar author semangat untuk terus menulis.
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁🙏🙏🙏