Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Mengatasi Penyusup


__ADS_3

Panji Gunungsari masih berjalan mondar mandir di ruang pribadi nya. Surat dari Mpu Sakri masih ada digenggamnya.


Di hadapannya, Panji Watugunung, Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang masih menunggu jawaban dari sang Bupati Gelang-gelang.


Malam semakin larut..


Setelah menghela nafas, Bupati Gelang-gelang mulai berbicara.


"Terlalu berat jika aku harus mengijinkan kau kembali ke Padepokan Padas Putih. Setelah batas Panjalu dan Jenggala di tentukan, akan sulit bergerak di Jenggala. Tapi karna aku juga pernah menerima ilmu dari Resi Mpu Sakri, maka tidak ada alasan untuk menahan kamu tetap disini".


"Terimakasih Kanjeng Romo, aku bisa menjaga diri. Ayahanda tidak perlu khawatir padaku", ujar Panji Watugunung.


Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang tersenyum lega.


"Aku tidak mencemaskan kemampuan mu, Cah Bagus", potong Panji Gunungsari.


"Lantas apa lagi Kanjeng Romo?", Watugunung mengernyitkan dahi.


"Aku mencemaskan calon calon mantu ku ini", Panji Gunungsari tertawa kecil, melihat Watugunung terkejut.


'Dari mana Kanjeng Romo tahu'


Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang kaget. Saling berpandangan seolah mencari jawaban. Mereka tidak menyangka kalau sang Bupati Gelang-gelang sudah mengetahui gelagat hubungan istimewa antara mereka berempat.


"Sudah jangan pura pura bodoh. Aku sudah mendengar hubungan kalian tadi siang. Aku juga tidak keberatan selama itu baik untuk kalian semua", kata sang Bupati tersenyum penuh arti.


"Terimakasih Gusti Bupati", Ratna Pitaloka, Dewi Anggarawati dan Sekar Mayang kompak menjawab.


"Mulai sekarang kalian panggil aku Kanjeng Romo saja, lebih enak di kuping"


"Siap Kanjeng Romo", jawab ketiga gadis itu kompak.


Hahahaha


Panji Gunungsari tergelak mendengar suara dari calon mantu mantu nya.


Sementara itu, Panji Watugunung terdiam seperti merasakan hawa nafsu membunuh.


"Kanjeng Romo, ijin keluar sebentar",


Sesaat kemudian, dia melompat keluar ruang pribadi Bupati Gelang-gelang. Melesat menuju atap Puri Agung Gelang-gelang.


Suasana menjadi hening.


Tak berapa lama, Panji Watugunung kembali.


"Kanjeng Romo, ada beberapa orang seperti punya tujuan buruk, bergerak dari sisi selatan Puri Agung Gelang-gelang.


Melihat ilmu meringankan tubuh mereka cukup tinggi, bisa dipastikan mereka kelompok pembunuh bayaran".


Seketika ketegangan meliputi semua orang di ruang pribadi Bupati Gelang-gelang.


"Kurang ajar! Siapa berani main main di tempat ku?", Panji Gunungsari geram.


"Kanjeng Romo tenang dulu.


Aku dan Dinda Pitaloka akan menghadang mereka.


Dinda Dewi Anggarawati dan Dinda Sekar Mayang lindungi Kanjeng Ibu dan Adik Anggraini", Anggarawati dan Sekar Mayang mengangguk dan bergegas ke bilik pribadi Bupati Gelang-gelang.


"Romo tetap disini, panggil semua penjaga untuk bersiap menghadapi situasi", Panji Gunungsari mengangguk.


"Ayo Dinda Pitaloka, kita hadang mereka"


"Baik Kakang", jawab Ratna Pitaloka.


Ratna Pitaloka dan Panji Watugunung melesat cepat menaiki tembok Puri Agung Gelang-gelang, dan berhenti di atap bangunan besar.


Dari selatan, sekitar sepuluh orang berpakaian hitam bergerak lincah diantara puncak bangunan bangunan di wilayah kota menuju Puri Agung Gelang-gelang.


"Itu mereka Kakang", ujar Ratna Pitaloka sedikit berbisik.


"Aku tau, tunggu mereka mendekat dulu", jawab Watugunung seraya menarik tubuh Ratna Pitaloka. Karna jarak wajah begitu dekat, tiba tiba jantung Ratna Pitaloka berdegup kencang.


Baru kali ini dia begitu dekat dengan Panji Watugunung, entah kenapa ada rasa senang meliputi dadanya.


Cuppp..


Tanpa bisa mengontrol perasaan, sebuah kecupan mesra Ratna Pitaloka mendarat di pipi Panji Watugunung.


Degg


Panji Watugunung terkejut sebentar lalu tersenyum manis sambil berbisik pelan


"Dinda, bukan saat nya bermesraan. Kalau Dinda mau, setelah ini selesai saja"

__ADS_1


Blushhh...


Ratna Pitaloka merah wajah nya, nafasnya kaku.


"Ayo saatnya menghabisi penyusup", Watugunung menarik tangan Ratna Pitaloka melompat turun dari atap.


4 orang penyusup masuk ke Puri Agung, sesuai perintah mereka bertujuan menghabisi nyawa Panji Gunungsari.


Para penyusup kaget melihat 2 orang melayang turun dari atap.


"Siapa kalian? Jangan coba-coba halangi tugas kami! ", teriak seorang penyusup yang seperti nya wanita.


"Tugas?? Tugas apa yang kalian lakukan malam hari seperti ini?", teriak Ratna Pitaloka geram.


"Hahahaha, tugas kami adalah mencabut nyawa Gunungsari", sahut lelaki berbadan tegap.


"Keparat! Lancang sekali mulut mu, maju kalau kau punya kemampuan", teriak Ratna Pitaloka semakin geram.


Penyusup wanita itu segera mencabut pedang nya, melesat ke arah Ratna Pitaloka seraya menyabetkan pedang.


Ratna Pitaloka juga tak kalah cepat, mencabut Pedang Bulan Kembar, menyongsong kearah penyusup wanita.


Tringgg..


Benturan pedang menciptakan bunga api kecil.


Kecepatan bertarung mereka terlihat berimbang, namun sebenarnya Ratna Pitaloka hanya menahan separuh tenaga.


Saat penyusup wanita lengah, Ratna Pitaloka menusuk lurus kearah wajah penyusup wanita.


Karna jarak terlalu dekat, penyusup wanita hanya mampu menghindari sedikit. Kain hitam penutup wajah nya terbuka.


Pedang Bulan Kembar berhasil melukai wajah perempuan penyusup itu.


Ratna Pitaloka kaget melihat sosok penyusup wanita itu.


Parwati


"Sudah ku duga sebelumnya, ternyata kau memang berniat buruk", Ratna Pitaloka gusar.


Parwati geram mengusap darah di wajah nya.


"Kakang Mahesa, ayo kita bunuh pasangan tengik ini"


Penyusup berbadan tegap yang tak lain adalah Mahesa Rangkah, mencabut pedang besar.


"Ayo kita habisi mereka", teriak Mahesa Rangkah melesat ke arah Panji Watugunung di ikuti seorang lelaki bertopeng.


Parwati juga merangsek maju di ikuti satu orang berpakaian hitam.


Panji Watugunung segera mencabut Pedang Naga Api. Menyiapkan kuda kuda dan melesat maju menyongsong Mahesa Rangkah dan kawannya. Panji Watugunung dengan jurus pedang bayangan, bertarung dengan cepat.


Puluhan bayangan pedang berwarna merah, bergerak cepat, menusuk dan membabat Mahesa Rangkah.


'Gila, cepat sekali gerakan pedang nya'


Mahesa Rangkah berusaha menangkis sabetan pedang Watugunung dengan pedang besar nya, namun dia kebingungan pedang asli Panji Watugunung ada dimana.


Kawannya yang membantu, juga kesulitan mencari celah untuk membongkar pertahanan Watugunung.


Setelah bertukar lebih dari 10 jurus, Panji Watugunung melompat menyabetkan pedang kearah Mahesa Rangkah tapi berhasil di hindari tapi gerakan Watugunung yang cepat dapat mendaratkan satu pukulan ke dada kawannya.


Bukkkk...


Kawan Mahesa Rangkah terlempar 2 tombak akibat kerasnya pukulan Watugunung. Tubuhnya melayang membentur tembok, dan tewas dengan mata melotot menahan sakit.


Mahesa Rangkah terkejut, tapi itu menjadi celah dan dimanfaatkan oleh Watugunung.


Dengan gerakan memutar, sabetan Pedang Naga Api mengalirkan hawa panas merangsek ke kepala Mahesa Rangkah. Dia menunduk tapi pada saat yang sama, Watugunung berkelebat layak nya angin di depan Mahesa Rangkah dan menusuk perut.


Mahesa Rangkah melotot tanpa bisa menghindar. Tusukan Pedang Naga Api menembus punggungnya.


Oughhh..


Hanya itu saja yang keluar dari mulut Mahesa Rangkah. Dia tewas seketika.


Seorang berpakaian hitam teman Parwati melesat, menyabetkan pedang kearah Panji Watugunung, yang segera di tangkis dengan mudah. Dalam 5 jurus saja, dia sudah tewas meregang nyawa di tangan Panji Watugunung.


Melihat Mahesa Rangkah tewas, Parwati seperti kesetanan menyerang Ratna Pitaloka.


Gerakan pedang nya menjadi kacau.


Ratna Pitaloka tak menyia-nyiakan kesempatan.


Dengan gerakan indah Pedang Dewi Bulan, Ratna Pitaloka membabatkan Pedang Bulan Kembar di tangan kanan ke arah leher Parwati.

__ADS_1


Wanita kalap itu menangkis dengan pedang nya, saat pedang bulan kembar di tangan kiri menyabet dada.


Parwati tak sempat mengelak, Pedang Bulan Kembar di tangan kiri Ratna Pitaloka membabat dada. Darah segar memancar dari dada Parwati. Perempuan itu tewas dengan mulut menganga.


Sementara itu di luar Puri, Panji Gunungsari bersama 4 penjaga menghadapi 5 orang penyusup. Setelah 4 jurus dua prajurit tewas. Memang para penyusup memiliki kemampuan kanuragan tinggi.


Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka meloncat ke arah pertarungan. Kini mereka berhadapan satu lawan satu.


Pria berpakaian hitam menusuk Panji Watugunung dengan tombak. Dengan melompat ke samping, Watugunung membabat leher pria berpakaian hitam usai berkelit dari sergapan tombak. Pertarungan mereka berlangsung cepat.


Dengan Ajian Sepi Angin tingkat tinggi, Watugunung bergerak bagai angin. Membuat repot pria berpakaian hitam.


Trang trang..


Suara senjata beradu membuat malam itu terasa mengerikan.


Panji Watugunung melompat mundur dua langkah, memusatkan tenaga dalam di tangan kiri. seketika tangan kiri Watugunung berubah merah tanda Tapak Dewa Api. Melihat Watugunung mundur, pria berpakaian hitam itu merasa diatas angin melompat dan menusuk ke arah perut Watugunung.


Watugunung melompat ke samping, Pedang Naga Api di babatkan pada gagang tombak, sedangkan tangan kirinya telak menghajar dada.


Lelaki berpakaian hitam tak sempat menghindar, pasrah saat maut menjemputnya.


Tubuhnya terlempar menghantam tanah dengan dada gosong.


Ratna Pitaloka juga berhasil mengalahkan lawannya. Panji Gunungsari juga mampu membantai lawan nya, setelah menusuk ulu hati lawan dengan keris pusaka.


Melihat teman temannya tewas, dua orang berpakaian hitam ingin kabur. Belum sempat beranjak, sebuah bayangan cepat memukul dada mereka. Dua orang penyusup terpental dan muntah darah.


"Mau coba kabur? Enak saja", desis Sekar Mayang geram.


Panji Watugunung segera menghampiri Sekar Mayang.


"Dinda, bagaimana Kanjeng Ibu dan Anggraini?"


"Aman kakang, 2 cecunguk yang kesana sudah kami habisi, Dewi Manja itu ternyata lebih galak dari perkiraan ku hehehehe"


Panji Watugunung tersenyum.


'Kau baru tau sekarang, aku saja ngeri kalau dia marah'


Ratna Pitaloka, Panji Watugunung dan Sekar Mayang segera mendekat ke arah Panji Gunungsari.


"Kanjeng Romo tidak apa-apa?", tanya Watugunung.


"Kau menghina ku ya?,


Aku ini walau sudah tua, tapi juga mantan murid Mpu Sakri", Panji Gunungsari melotot sesaat.


"Maaf Kanjeng Romo, saya lupa"


Tak berapa lama, ratusan prajurit kabupaten Gelang-gelang berdatangan ke tempat pertarungan.


Tumenggung Sancaka yang memimpin segera menghormat pada Panji Gunungsari.


"Ampun Gusti Bupati, hamba teledor menjaga keamanan Puri Agung"


Panji Gunungsari mengangguk dan berkata ,


"Telat..."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hehehehe prajurit boleh telat


Update episode Babat Negeri Leluhur jangan

__ADS_1


Author sedikit narsis gag papa yak?


Thanks for reading my novel..


__ADS_2