Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Adipati Tanpa Mahkota


__ADS_3

Setelah menguburkan mayat mayat prajurit Daha yang gugur dengan layak, Panji Watugunung memerintahkan kepada keluarga Adipati Gandakusuma dan Akuwu Gentabumi untuk mengatur pemakaman kepada dua jasad mantan petinggi Paguhan.


Setelah itu, Panji Watugunung dan keempat istrinya diikuti Tumenggung Janadi, Warigalit, Ludaka dan Gumbreg meninggalkan istana Pakuwon Purwa dengan di kawal 50 prajurit Daha dari Kalingga. Sementara Lawana tinggal di Pakuwon Purwa dan bertugas sebagai Akuwu sementara menunggu perintah dari Daha. Dia memimpin pasukan Kalingga sebanyak 300 prajurit untuk menjaga keselamatan dan wilayah Pakuwon.


Lepas tengah hari, Panji Watugunung dan rombongannya memasuki istana Paguhan dengan iringan sorak-sorai para penduduk Kota Kadipaten Paguhan.


Mereka yang selama ini tertindas oleh kelaliman Adipati Gandakusuma, merasa lega dengan terbunuhnya pemimpin kejam yang menyengsarakan rakyat itu.


Di istana, Panji Watugunung di sambut Senopati Narapraja dan Senopati Lokananta serta para perwira prajurit Daha yang berjuang bersama nya.


Siang itu mereka melaporkan rincian peperangan yang baru mereka lalui.


Dari 9300 pasukan mereka, 3000 prajurit Daha gugur sebagai pahlawan. Jumlah yang terbanyak gugur dari Rajapura yang mencapai 600 prajurit, di susul Kembang Kuning dengan 500 prajurit, Bhumi Sambara kehilangan 400 prajurit dan Kalingga dengan 300 prajurit. Sisanya dari Daha dan Pasukan Garuda Panjalu kehilangan 30 prajurit nya. 3 perwira tinggi luka ringan, 1 perwira tinggi luka berat, dan 5 perwira menengah luka berat, 2 perwira luka berat dan 2 perwira menengah tewas.


Sedang dari Paguhan, dari 10.500 prajurit yang berperang, 6500 tewas dan 5.000 menyerah. Sang pemimpin tewas, 4 perwira tinggi tewas, 2 perwira tinggi luka berat. 4 perwira menengah luka berat, 1 perwira menengah tewas dan 5 luka ringan.


"Senopati Narapraja, kirim utusan ke Daha.


Minta Gusti Prabu Samarawijaya menentukan siapa yang akan menjadi Adipati Paguhan selanjutnya", perintah Panji Watugunung usai mendengar laporan dua senopati dari Kalingga dan Daha.


"Narapraja siap melaksanakan perintah dari Gusti Pangeran Panji Watugunung", ujar Senopati Narapraja sambil menghormat.


"Sekarang, tentukan siapa yang memegang pemerintahan sementara di Paguhan sambil menunggu kedatangan berita dari Daha", Panji Watugunung menatap wajah para perwira tinggi di depan nya.


Para perwira prajurit itu saling berpandangan sejenak. Mereka tidak menyangka bahwa Panji Watugunung sama sekali tidak berambisi untuk menjadi seorang Adipati.


Mendengar ucapan itu, Senopati Lokananta segera bersuara.


"Hamba hanya mendengar ucapan Gusti Pangeran Panji Watugunung. Hamba lebih suka jika Gusti Pangeran yang memegang pemerintahan sementara di Paguhan", ujar Senopati Lokananta yang segera berjongkok dan menyembah kepada Panji Watugunung. Seluruh perwira tinggi prajurit Daha segera mengikuti langkah Senopati Lokananta.


"Kami mohon, pimpin lah Paguhan Gusti Pangeran", ujar seluruh perwira prajurit Daha sambil menghormat.


Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Panji Watugunung segera berkata.


"Baiklah,


Aku bersedia ditempatkan sebagai Adipati. Namun aku tidak akan memakai mahkota Adipati Paguhan. Biarlah Adipati selanjutnya yang akan memakai nya", ujar Panji Watugunung sambil berdiri.


Semua perwira tinggi prajurit tersenyum tipis sambil manggut-manggut senang.


Mulai hari itu, Panji Watugunung menjadi Adipati Paguhan sementara. Dia tidak bersedia menempati istana pribadi Adipati, namun memilih tinggal di balai peristirahatan tamu Kadipaten Paguhan.


Keesokan harinya, Panji Watugunung memanggil semua bekas pembesar istana Kadipaten Paguhan yang tidak ikut melarikan diri bersama Adipati Gandakusuma. Mereka duduk bersila di lantai bangsal paseban Kadipaten dengan raut wajah penuh ketakutan.


Panji Watugunung duduk di singgasana Adipati Paguhan dengan tenang. Di kanan-kiri nya empat istri nya duduk berdampingan.


Ada pula Senopati Narapraja di sebelah kanan dan Senopati Lokananta di sebelah kiri.


"Kalian semua tahu, apa sebab kalian ku panggil kesini?", Panji Watugunung tersenyum tipis sambil menatap wajah para bekas pembesar istana kadipaten.


"Kami tidak tahu Gusti Adipati. Mohon ampuni hamba", ujar Dang Acharya ring Kasaiwan, Mpu Janabajra sambil menyembah. Raut wajah kakek tua itu benar benar ketakutan.


Mpu Sukra, sang Ramadyaksa turut bicara.


"Ampun Gusti Adipati, kami ini hanya bawahan. Sama sekali tidak ingin mencari masalah dengan Daha. Saya dan Kakang Janabajra sudah berulang kali mencoba membujuk Gusti Gandakusuma agar tidak menjadi pemberontak, namun hamba justru diancam.


Kalau Gusti Adipati menganggap kami bersalah karena ulah pemimpin kami, maka akan kami terima. Namun jika masih boleh membela diri, maka kami benar benar hanya tunduk pada Daha", jawaban bijak Mpu Sukra membuat Panji Watugunung tersenyum simpul.


"Aku tahu kalian hanya mengikuti perintah Adipati Gandakusuma. Aku tidak akan memaksa kalian untuk tetap mengabdi pada Paguhan.


Yang masih ingin mengabdi kepada negara, aku akan tetap menjadikan sebagai pembesar istana Paguhan tapi ada syaratnya.

__ADS_1


Yang tidak mau menjadi bawahan ku, aku persilakan kalian pergi dari istana Daha tapi tanpa membawa apapun yang kalian miliki.


Tentukan sendiri pilihan kalian", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


Suasana di antara para bekas pembesar istana Kadipaten Paguhan langsung kasak kusuk tidak jelas. Jelas ini pilihan yang mudah tapi juga berat untuk mereka.


Demung Kandaga yang telah menyerah angkat bicara.


"Mohon ampun Gusti Adipati,


Apa syaratnya jika kami masih bertahan di istana Kadipaten Paguhan sebagai abdi dalem Istana?", tanya Demung Kandaga sambil menghormat.


"Selama 1 Warsa, kalian tidak akan menerima upah dari kerja kalian.


Kalian tentu berpikir aku sama juga membunuh kalian pelan pelan bukan?", Panji Watugunung tersenyum lebar.


Suasana yang sempat tenang, kembali riuh dengan kasak kusuk diantara para bekas pembesar istana. Tak hanya mereka, para prajurit Daha yang ikut menghadiri paseban itu juga kaget mendengar ucapan Panji Watugunung. Mereka tidak menyangka bahwa Panji Watugunung ternyata bisa kejam juga.


"Kalian tidak perlu khawatir, selama satu warsa, semua kebutuhan kalian akan di cukupi oleh lumbung pangan istana kadipaten. Tinggal kalian lapor petugas khusus yang nanti aku tunjuk", Panji Watugunung menatap wajah para bekas pembesar itu.


Mereka nampak lega mendengar titah sang Adipati.


"Kalian tidak bertanya, untuk apa kalian tidak menerima upah selama satu warsa itu? Apa kalian pikir upah kalian akan ku pergunakan untuk kepentingan pribadi ku?


Jawaban nya tidak.


Akibat perang ini sudah menyengsarakan rakyat. Kebutuhan pangan dan sandang mereka terbengkalai. Kalian tidak melihat keadaan masyarakat bawah yang tersiksa akibat ulah Gandakusuma. Upah kalian selama setahun akan ku pergunakan untuk memulihkan keadaan rakyat Paguhan", ucapan Panji Watugunung langsung mendapat perhatian dari seluruh hadirin yang ada balai paseban Kadipaten Paguhan, terutama para perwira tinggi prajurit Daha. Mereka semua tersenyum mendengar kebijakan Panji Watugunung.


Dari 20 pembesar istana, 5 memilih untuk mundur dari jabatannya. Mereka beralasan sudah terlalu lama berada di balik tembok istana. Panji Watugunung mengiyakan keinginan mereka, namun mereka tidak boleh keluar dari kota Kadipaten Paguhan. Jika sampai kedapatan keluar dari Kota Kadipaten Paguhan, maka prajurit Paguhan akan menghukum mati mereka.


Mereka yang masih bersedia kemudian mengucapkan sumpah setia pada Adipati Paguhan dan Kerajaan Panjalu.


Wratsangka, si pemuda Wanua Kracak diangkat menjadi Demung. Kandaga diangkat menjadi Tumenggung. Sedangkan Janadi dari Kalingga diangkat menjadi Senopati Paguhan.


Amarta di angkat menjadi Akuwu Purwa. Untuk jabatan penasehat Adipati tetap di pegang Mpu Sukra. Senopati Lokananta dan Senopati Narapraja bertindak sebagai wakil Adipati.


Setelah 3 purnama, pemerintahan Paguhan berjalan dengan baik. Perekonomian yang sempat lumpuh karena pajak tinggi dari Gandakusuma, dipulihkan dengan memangkas pajak lebih dari separuh.


Para prajurit dari Kadipaten Rajapura, Kembang Kuning, Kalingga dan Bhumi Sambara sudah kembali ke wilayah mereka masing masing. Tak lupa hadiah dari harta istana Paguhan, Panji Watugunung berikan kepada mereka.


Selama itu Panji Watugunung berkeliling ke seluruh wilayah Paguhan, dari pesisir laut selatan sampai ke lereng Gunung Agung di Utara.


Dia benar benar di cintai rakyat Paguhan karena kepemimpinan nya yang tegas tapi merakyat. Dia pun mendapat julukan Adipati tanpa mahkota oleh rakyat Paguhan.


Siang itu, saat Panji Watugunung menerima laporan dari Akuwu Pesisir di pasebanan agung, seorang prajurit penjaga gerbang istana datang memberi hormat kepada Panji Watugunung.


"Mohon ampun Gusti Adipati,


Ada seorang lelaki yang mengaku sebagai utusan dari Daha ingin menghadap".


"Persilakan dia masuk", ujar Panji Watugunung segera.


Sang prajurit penjaga gerbang segera menyembah dan mundur dari balai paseban Kadipaten Paguhan.Tak berapa lama kemudian dia kembali dengan seorang lelaki muda dan seorang lelaki tua yang sangat dikenal oleh Panji Watugunung. Mereka adalah Senopati Maitreya dan Tumenggung Adiguna.


"Sembah bakti hamba Gusti Pangeran", ujar Senopati Maitreya dan Tumenggung Adiguna sambil menyembah.


"Duduk lah, Senopati Maitreya dan Paman Tumenggung Adiguna", Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya dan dua orang itu segera duduk bersila di hadapan Panji Watugunung.


"Mohon ampun Gusti Pangeran, hamba diutus oleh Gusti Maharaja Samarawijaya untuk menghaturkan nawala untuk Gusti Pangeran", ujar Senopati Maitreya sambil merogoh surat dari daun lontar di balik bajunya.


Senopati Janadi langsung berdiri dan menerima surat itu lalu menyerahkan pada Panji Watugunung.

__ADS_1


Perlahan Panji Watugunung segera membuka kain merah pembungkus surat itu.


*Dhimas Panji Watugunung


Sudah saatnya kau kembali ke Daha


Menerima hadiah atas kemenangan mu


Untuk Paguhan, pilih seorang yang layak


Yang kau percayai,lagi kau hormati.


Kakang mu, Samarawijaya*.


Demikianlah bunyi surat dari Maharaja Samarawijaya. Panji Watugunung segera tersenyum. Dia sudah kangen istri dan putranya di Gelang-gelang. Tak terasa sudah 4 purnama lebih dia meninggalkan mereka.


Dengan perasaan penuh kebahagiaan, Panji Watugunung segera memasukkan kembali surat Maharaja Samarawijaya itu ke kantongnya.


Panji Watugunung segera berdiri.


"Kalian semua para pembesar istana Kadipaten Paguhan, dengarkan aku.


Persiapkan segala sesuatu untuk keperluan upacara penobatan Adipati Paguhan besok.


Apa kalian mengerti?", Panji Watugunung segera menatap wajah para pembesar istana Kadipaten Paguhan.


Tanpa banyak bertanya, semua orang yang ada langsung berjongkok sambil menyembah kepada Panji Watugunung.


"Sendiko dawuh Gusti"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca kak 😁😁

__ADS_1


__ADS_2