
Adipati Gandakusuma dan keluarga nya terus berkuda kearah barat. Adanya para wanita bangsawan itu benar-benar memperlambat pergerakan mereka. Mereka tidak biasa menaiki kuda tentu kerepotan dalam mengendalikan kuda. Apalagi kebiasaan manja mereka di istana, semakin membuat mereka merasa bagai dalam neraka menghadapi situasi seperti ini.
"Ayo cepat.. Jangan terlalu lambat..
Nanti kita terkejar pasukan Daha. Kalau kita sampai terkejar, kita pasti dibunuh mereka", teriak Patih Nala Gupita memberikan perintah.
"Sabar Paman Patih, kami tidak bisa berkuda. Kami terbiasa naik kereta", ujar Dewi Gandawati, putri sulung Adipati Paguhan.
"Huhhh..
Keadaan sudah seperti ini masih ingin bermanja-manja. Lekas berkuda atau kalian kami tinggal disini", teriak Patih Nala Gupita dengan sedikit mengancam.
Dengan perasaan dongkol, putri putri Paguhan itu menuruti perintah Patih Nala Gupita.
Rombongan Adipati Gandakusuma terus menyusuri jalan setapak di tengah hutan kecil dengan perasaan tak menentu.
Sementara itu, Panji Watugunung diikuti oleh keempat istrinya, Warigalit, Ludaka, Gumbreg dan Tumenggung Janadi menggebrak kuda mereka menuju ke arah barat dengan 500 prajurit Kalingga.
Di tepi hutan kecil, seorang peladang tua menghentikan langkah mereka.
"Maaf Gusti,
Apa kalian sedang mengejar Adipati Gandakusuma yang durjana itu?", tanya peladang tua itu segera.
"Benar Ki, kami sedang memburu mereka", jawab Lawana yang ikut serta dalam pengejaran.
"Mereka masuk ke hutan beberapa waktu yang lalu", ujar peladang tua itu segera.
"Terimakasih atas bantuannya Ki", Panji Watugunung segera menggebrak kuda mereka menuju ke jalan setapak yang membelah hutan kecil diikuti pasukannya.
Peladang tua itu terus memperhatikan mereka yang menuju ke arah yang dia tunjukkan. Dia begitu marah saat putranya dipaksa menjadi prajurit Paguhan.
Menjelang sore rombongan Adipati Gandakusuma terus bergerak menuju ke arah barat. Melewati beberapa wanua kecil, akhirnya mereka sampai di istana Pakuwon Purwa.
Dengan masih bergaya seperti penguasa, mereka segera masuk ke istana Pakuwon Purwa yang ada di barat kota Pakuwon.
Akuwu Purwa, Gentabumi adalah saudara sepupu Adipati Gandakusuma dari pihak ibu. Laki laki paruh baya bertubuh tegap itu segera menyambut kedatangan rombongan Adipati Gandakusuma.
"Kangmas Gandakusuma,
Ada apa ini? Kenapa kau bawa keluarga mu kemari?", tanya Akuwu Gentabumi yang keheranan. Dia memang belum mendengar berita jatuhnya Kadipaten Paguhan ke tangan pasukan Panjalu.
"Dhimas Gentabumi,
Kau harus menolong ku. Paguhan sudah jatuh di serang Pasukan Daha. Hanya bantuan dari mu yang bisa menolong ku", ujar Adipati Gandakusuma segera.
Gentabumi terlihat kaget mendengar ucapan Adipati Gandakusuma. Dia sebelumnya sudah memperingatkan Gandakusuma bahwa tindakannya itu akan mengundang bahaya. Namun waktu itu, Gandakusuma malah marah dan mengusirnya dari balai paseban Kadipaten Paguhan.
Huuuhhhh..
"Dari dulu kau sudah ku ingatkan Kangmas..
Melawan Panjalu sama dengan Kangmas mencari perkara. Tapi kau tetap bersikeras dengan keinginan mu untuk menjadi raja", Akuwu Gentabumi menghela nafas panjang.
"Iya iya aku sudah salah Dhimas,
Sekarang hanya kau harapan ku satu-satunya. Berikan aku perlindungan sebentar, besok aku akan ke Galuh Pakuan untuk meminta pertolongan dari Adi Prabu Darmaraja", ujar Adipati Gandakusuma segera.
"Baiklah Kangmas,
Bagaimanapun aku adalah saudara sepupu mu. Akan ku bantu Kangmas untuk menyebrang ke Galuh Pakuan", Akuwu Gentabumi tersenyum kecut menatap wajah Adipati Gandakusuma.
Dengan menghela nafas lega, Gandakusuma akhirnya mendapat tempat perlindungan sementara.
Di sisi lain, Pasukan Panjalu pimpinan Panji Watugunung sudah sampai di tepi hutan kecil saat sore mulai turun di ufuk barat. Berbekal petunjuk dari seorang telik sandi, mereka terus menggebrak kuda mereka menuju ke arah Kota Pakuwon Purwa.
Gerakan cepat mereka, membuat mereka sampai di batas kota Pakuwon Purwa saat cahaya kemerahan mulai menghilang di langit barat.
Seorang lelaki muda dengan pakaian rakyat jelata mendekati mereka. Di hadapan Tumenggung Janadi, dia segera menghormat.
"Ampun Gusti Tumenggung,
Rombongan Adipati Gandakusuma sudah memasuki istana Pakuwon", ujar lelaki bertubuh kurus itu segera.
"Siapa dia, Tumenggung Janadi?", tanya Panji Watugunung segera.
"Dia adalah salah satu dari 100 anggota telik sandi yang hamba sebar di wilayah Paguhan setelah ada berita Paguhan akan memberontak Gusti Pangeran", ujar Tumenggung Janadi dengan cepat.
"Bagus,
Hei kau saudara telik sandi. Ini hadiah kecil untuk jasa mu", Panji Watugunung merogoh sekantong kepeng perak dari balik bajunya dan melemparkannya ke telik sandi itu.
Si telik sandi itu sedikit ketakutan, namun setelah melihat anggukan kepala dari Tumenggung Janadi dia langsung mengucapkan terima kasih dan segera menghilang di keramaian kota Pakuwon Purwa.
"Langkah apa yang harus kita lakukan Gusti Pangeran?", tanya Tumenggung Janadi sambil menatap ke arah barat.
"Kepung istana Pakuwon Purwa. Jangan sampai Gandakusuma lolos kali ini", Panji Watugunung menoleh ke arah Dewi Naganingrum yang ada di sebelah kiri nya. Namun perempuan itu tidak gugup, malah tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya.
Malam itu Pasukan Daha bergerak cepat menuju ke istana Pakuwon Purwa.
Seorang prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon Purwa berlari menuju ke arah istana pribadi sang Akuwu.
Di dalam istana pribadi, Akuwu Gentabumi sedang duduk bersama dengan Adipati Gandakusuma dan Patih Nala Gupita saat sang prajurit penjaga gerbang masuk dengan nafas tersengal.
"Moh-Mohon ampun Gusti Akuwu.. huh huh huh", ucap sang prajurit sambil mencoba untuk mengatur nafas nya.
__ADS_1
"Tenang dulu. Ada apa kau berlari seperti orang kesurupan? Apa kau baru melihat hantu?", Akuwu Gentabumi tersenyum tipis.
"Ma-maaf Gusti Akuwu huh huh.. Ini lebih seram daripada setan.
I-istana Pakuwon di kepung prajurit asing", ucap sang prajurit sambil ngos-ngosan mengatur nafas.
Gentabumi terkejut bukan main. Pasti mereka pasukan Daha yang mengejar Adipati Gandakusuma, pikir Akuwu Gentabumi.
Raut muka Gandakusuma pucat seketika. Dia tidak menyangka bahwa prajurit Daha secepat ini mengejar nya.
"Dhimas Gentabumi,
Kau harus melindungi ku", ujar Adipati Gandakusuma segera.
"Kangmas Gandakusuma,
Tenanglah sedikit. Akan ku pikirkan caranya", jawab Gentabumi sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
Malam itu, bulan yang telah melewati purnama tinggal separuh di atas langit Pakuwon Purwa.
Cuaca musim penghujan sedikit dingin namu suasana di istana Pakuwon benar benar panas.
"Akuwu Purwa,
Aku beri kesempatan padamu untuk menyerahkan pemberontak itu ke tangan kami.
Kalau tidak, jangan menyesal karena telah berani menantang Panjalu", teriak keras Panji Watugunung dari luar tembok istana Pakuwon terdengar nyaring karena tenaga dalam yang dikeluarkan.
"Aku akan menghitung sampai sepuluh, jika tidak ada jawaban, maka kami akan menyerbu masuk.
Satu
Dua
Tiga...", suara Panji Watugunung menghitung terdengar bagai suara dentang lonceng kematian dari Dewa Yama bagi rombongan Adipati Gandakusuma. Semua orang di dalam istana Pakuwon Purwa hanya diam tak bersuara.
"Empat..
Lima..
Enam..
Tujuh..
Delapan..
Sembilan
Sepuluh..
Bruakkk
Hantaman kayu gelondongan menghantam pintu gerbang istana Pakuwon Purwa. Ratusan prajurit Pakuwon Purwa berusaha menahan pintu gerbang istana Pakuwon dengan tubuh mereka.
Bruakkk
Kayu gelondongan yang diambil dari rumah salah satu penduduk Kota Pakuwon Purwa kembali menghantam pintu gerbang istana Pakuwon. Pada hantaman ketiga, pintu gerbang istana Pakuwon Purwa jebol.
Pertempuran sengit segera terjadi di depan pintu gerbang istana Pakuwon Purwa. Namun jumlah yang tidak seimbang, segera membuat para prajurit Daha dengan cepat menekan pasukan Pakuwon Purwa.
Gumbreg ikut mengamuk dengan pentung sakti nya. Bagai kerbau gila, dengan keras dia mengayunkan pentungan nya kearah kepala seorang prajurit Pakuwon Purwa yang menghadang langkah nya.
Bukkkk
Kepala sang prajurit Pakuwon Purwa langsung pecah terkena gebukan pentung Gumbreg.
"Rasakan akibatnya jika menghadang Ki Bekel Gumbreg", ujar Gumbreg sambil meludah ke arah mayat sang prajurit.
Ludaka dan Lawana bahu membahu menerjang kearah pasukan Pakuwon Purwa. Tumenggung Janadi terus menyabetkan pedang, bergerak lincah membantai lawan nya.
Panji Watugunung segera melompat tinggi ke udara diikuti oleh keempat istrinya.
Akuwu Gentabumi menghadang Panji Watugunung dengan pedang besarnya. Laki laki paruh baya berbadan tegap itu tersenyum kecut melihat lawannya seorang lelaki muda.
Mereka segera bertarung dengan segenap kemampuan.
Adipati Gandakusuma dan Patih Nala Gupita yang dikawal beberapa prajurit hendak kabur melewati pintu belakang istana terkaget melihat pintu belakang sudah di kepung puluhan prajurit Daha. Saat hendak berbalik, keempat istri Panji Watugunung sudah mengepung mereka.
"Sudah cukup Paman Gandakusuma,
Menyerahlah.
Abdi bade teda salaki abdi kanggo ngahampura nyawamu jika kau menyerah", ujar Dewi Naganingrum segera.
Phuihhh
"Dasar sinting,
Aku bukan lagi kerabat Galuh Pakuan saat Darmaraja menolak memberi bantuan kepada ku.
Lebih baik aku mati jika harus menyerah pada Daha", ujar Adipati Gandakusuma sambil mencabut kerisnya.
"Abdi sudah mengingatkan paman, maafkeun jika abdi tidak sopan", Naganingrum segera mengambil kuda kuda.
"Akan ku cabut nyawamu, anak Darmaraja", Adipati Gandakusuma segera meloncat sambil menusukkan kerisnya kearah dada Naganingrum. Dengan lincah, Naganingrum segera menghindar dari tusukan keris sambil mengayunkan cakar tangan nya ke arah bahu Adipati Gandakusuma.
__ADS_1
Pertarungan antara keponakan dan paman itu berlangsung sengit.
Di sisi lain, Ratna Pitaloka bertarung dengan Patih Nala Gupita. Sedang Dewi Srimpi dan Sekar Mayang menghadapi 4 prajurit pengawal.
Naganingrum terus bergerak menghindari sabetan keris Adipati Gandakusuma yang ingin menghabisi nyawa nya sambil mengayunkan cakar nya kearah punggung Gandakusuma.
Creeppp
Punggung Adipati Gandakusuma robek dan berdarah. Laki laki berambut ikal itu melompat mundur sambil meringis menahan perih di punggung nya.
"Kurang ajar,
Akan ku bunuh kau perempuan sinting", teriak Adipati Gandakusuma sambil merapal Ajian Kitiran Sewu. Dari telapak tangan tangan Gandakusuma yang di putar keluar sinar hijau disertai angin kencang.
Dengan berteriak keras, Gandakusuma segera menghantamkan tapaknya kearah Naganingrum.
Whussss
Sinar hijau disertai angin kencang bergulung-gulung menerjang kearah Naganingrum.
Putri bungsu Prabu Darmaraja itu segera meloncat ke udara menghindari sinar hijau berangin kencang.
Blammmm!
Ledakan keras terdengar saat Sinar hijau berangin kencang menghantam tembok istana Pakuwon. Tembok istana Pakuwon langsung jebol lebar.
Melihat lawan berhasil menghindar, dengan cepat Adipati Gandakusuma segera menghantamkan tapaknya kearah Naganingrum bertubi-tubi.
Whussss
Whussss!!
Blammmm
Blammmm!!!
Naganingrum harus berjumpalitan menghindari serangan dari pamannya itu. Dengan cepat Naganingrum merapal mantra Ajian Chandra Buana nya.
Sinar kuning kebiruan seperti cahaya bulan purnama segera melingkupi kedua tangan Naganingrum.
Saat sinar hijau berangin kencang menerjang kearah nya, Naganingrum segera menghentakkan kakinya ke tanah dan menghantamkan tangan kanan nya yang sudah berwarna kuning kebiruan menyongsong sinar hijau dari tangan Adipati Gandakusuma.
Dhuarrrr!!!
Ledakan dahsyat akibat benturan ajian andalan mereka menciptakan gelombang kejut yang luar biasa. Adipati Gandakusuma terlempar jauh ke belakang dan baru berhenti saat tubuhnya menghantam tiang balai pisowanan Pakuwon Purwa.
Adipati Gandakusuma melotot saat darah segar muncrat dari mulut nya. Perlahan dia lemas dan tewas dengan luka dalam.
Panji Watugunung yang baru membantai Akuwu Gentabumi langsung melesat cepat dan menangkap tubuh Naganingrum yang terpental ke belakang. Dengan cepat Panji Watugunung segera menotok aliran darah Dewi Naganingrum yang terluka dalam. Segera Panji Watugunung mendudukkan Naganingrum dan menyalurkan tenaga dalam nya lewat tapak tangan nya.
Huoooggghhh
Dewi Naganingrum muntah darah kehitaman. Namun setelah itu wajahnya yang sempat pucat, kembali bercahaya lagi.
"Hatur nuhun Akang Kasep", ujar Naganingrum sambil tersenyum tipis. Panji Watugunung segera memapahnya berdiri.
Malam itu menjadi malam terakhir pemberontak Paguhan. Semua yang terlibat tewas di tangan prajurit Daha.
Naganingrum menatap mayat Adipati Gandakusuma sebentar, kemudian berjalan dengan dipapah Panji Watugunung ke balai pisowanan Pakuwon Purwa.
Matahari mulai terbit di sebelah timur, seakan memberi harapan baru di tanah Paguhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Juga berikan rate lima bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 agar author terus semangat menulis yah
__ADS_1
Selamat membaca kak 😁😁