
"Kenapa diam? Masih mau tidak?", tanya Senopati Warigalit dengan sedikit keras.
"Ya mau Gusti Senopati, saya masih sayang dengan pekerjaan ini kog", ujar Demung Gumbreg dengan menunduk.
"Makanya kalau waktu kerja jangan tidur. Kau tidak bisa lihat itu anak buah mu semuanya sampai keringatan karena mengerjakan tanggung jawab mu? Hebat sekali kau, Mbreg..
Atau kau mau aku laporkan pada Dhimas Pangeran Jayengrana?", ancam Warigalit yang membuat Gumbreg pucat seketika.
"Ya ya ya jangan Gusti Senopati, saya salah mohon di maafkan", ujar Gumbreg sambil menunduk.
"Kalian bertiga, cepat kemari", perintah Senopati Warigalit pada Weleng, Gubarja dan Widarba.
Tiga orang bawahan Gumbreg itu segera mendekati Sang Senopati Kadiri.
"Ada tugas untuk kami, Gusti Senopati?", tanya Weleng dengan ketakutan. Dia khawatir menjadi sasaran kekesalan Gumbreg.
"Kalian bertiga istirahat, jangan bantu Gumbreg melakukan penghitungan dan pengawasan upeti yang baru di kirim untuk hari ini.
Dan kau Gumbreg,
Untuk hari ini kau bertugas sendiri. Kalau sampai kedapatan kau minta bantuan atau menyuruh orang lain untuk membantu mu, akan ku laporkan kau pada Dhimas Pangeran Jayengrana. Ini hukuman buat mu yang menyepelekan tugas yang kau emban", ujar Warigalit sambil menatap tajam ke arah Gumbreg.
"Sendiko dawuh Gusti Senopati", ujar Gumbreg, Weleng, Gubarja dan Widarba bersamaan.
Warigalit segera melangkah menuju ke pintu pergudangan istana Katang-katang.
Demung Gumbreg segera menoleh pada tiga orang bawahan nya.
"Kalian ini benar-benar keterlaluan.. Bisa-bisanya menunjukkan tempat tidur ku pada Gusti Senopati Warigalit. Sekarang aku kan yang menerima hukuman nya", gerutu Gumbreg sambil mendelik pada mereka.
"Ampun Gusti Demung,
Saya sudah berusaha menutupi keberadaan Gusti Demung, tapi Gusti Senopati memaksa untuk mengetahui keberadaan Gusti Demung.
Saya tidak berani bohong pada Gusti Senopati", ujar Weleng sambil menunduk.
"Huhhhhh dasar bawahan tidak ada etika.
Awas saja kalian. Besok kalau kalian terlambat hadir di sini sekejap saja, akan ku jatuhi hukuman berat", ancam Gumbreg sambil berjalan mendekati para pengangkut barang pajak dan upeti di pedati.
"Sekarang, kalian mulai angkat barang barang itu. Setiap satu kali angkut satu pikul, kalian teriak satu kali. Cepat!", perintah Gumbreg segera.
Para pengangkut barang segera mulai melaksanakan perintah Gumbreg. Cuaca yang terik membuat Gumbreg bermandi peluh.
"Nasib nasib, dasar apes....", gumam Gumbreg sambil terus melakukan pekerjaan nya, sementara tiga bawahan nya berteduh di bawah pohon rindang.
Sementara itu, Warigalit yang baru dari gudang penyimpanan bergegas menuju ke kesatrian yang ada di Utara Istana Katang-katang.
Ratusan prajurit nampak berlatih perang di bawah bimbingan Si Tapak Malaikat dan Pendekar Pedang Langit, dua jagoan persilatan yang di sewa Kayuwarajan Panjalu untuk meningkatkan kemampuan beladiri para prajurit Kadiri.
Seribu prajurit berkuda berlatih menebas boneka yang terbuat dari jerami kering yang diikat pada sebatang bambu.
500 prajurit berjalan kaki berlatih memakai tombak dibawah didikan Mpu Kanda yang dikenal sebagai Pendekar Tombak Guntur. Sesepuh Perguruan Gunung Kelud itu sudah menjadi pelatih prajurit Kayuwarajan Panjalu sejak kota Kadiri didirikan Panji Watugunung.
500 prajurit berlatih untuk menjadi pasukan pemanah di bawah asuhan Arimbi dan Laras dari pasukan Garuda Panjalu.
Sementara itu 300 prajurit berbadan gempal, menjadi murid Tumenggung Adiguna yang diminta oleh Panji Watugunung untuk melatih pasukan perbekalan dan kesehatan.
Warigalit yang berkeliling di sekitar tanah lapang itu mengamati setiap perkembangan kemampuan tempur para prajurit baru Kadiri.
Keseluruhan Kadiri kini memiliki 5000 prajurit yang terdiri dari 1000 prajurit pemanah, 2000 prajurit berkuda, 1500 prajurit berjalan kaki dan 500 prajurit perbekalan. Jika ditambah dengan para prajurit penjaga istana maka jumlahnya sekitar 6500 prajurit, sepertiga dari jumlah prajurit Daha yang berjumlah 20000 prajurit.
Mpu Lumadi alias Pendekar Pedang Langit segera mendekati Warigalit yang tampak gembira melihat kemajuan para prajurit baru Kadiri.
"Bagaimana Gusti Senopati? Apa sudah sesuai harapan dari Gusti Senopati?", tanya Mpu Lumadi sambil tersenyum tipis.
"Sudah bagus Mpu Lumadi,
Aku cukup puas dengan hasil yang diperoleh oleh para prajurit baru ini. Mohon kau terus meningkatkan kemampuan mereka agar mampu menjadi kebanggaan bagi Gusti Pangeran Jayengrana", ujar Warigalit dengan cepat.
"Akan saya usahakan semampu saya Gusti Senopati. Gusti Pangeran Jayengrana pasti akan bangga melihat perubahan kemampuan beladiri para prajurit baru Kadiri sekarang.
Ngomong ngomong Gusti Senopati,
Kapan Gusti Pangeran Jayengrana akan pulang? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan beliau", tanya Mpu Lumadi sambil tersenyum tipis.
"Kenapa kau senyum senyum begitu?
Apa ada sesuatu yang ingin kau minta dari Dhimas Pangeran Jayengrana?", ucap Senopati Warigalit sambil menatap wajah sepuh Mpu Lumadi.
"Gusti Senopati memang hebat, tau maksud saya.
Sebenarnya saya ingin memasukkan putra saya, Narajaya menjadi prajurit Kadiri. Kemampuannya dalam ilmu beladiri menurut saya cukup bagus", Mpu Lumadi tersenyum penuh arti.
"Aku tidak bisa memutuskan untuk menerima putra mu, Mpu Lumadi.
__ADS_1
Biar Dhimas Pangeran Jayengrana saja yang memberi keputusan", ujar Senopati Warigalit sambil menatap wajah sepuh Mpu Lumadi.
Pendekar Pedang Langit itu manggut-manggut tanda mengerti.
Keesokan harinya...
Panji Watugunung dan ketiga istrinya bersiap untuk pulang ke Kadiri. Demung Rakai Sanga dan ke delapan belas prajurit pengawal mereka mengikuti langkah sang Yuwaraja Panjalu saat mereka berpamitan kepada Bupati Gelang-gelang, Panji Gunungsari.
Dengan diantar Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati sampai di pintu gerbang istana Gelang-gelang, rombongan Panji Watugunung memacu kudanya menuju ke arah kota Kadiri.
Sepanjang perjalanan, mereka mendapat perhatian dari para warga yang kebetulan berpapasan dengan iring-iringan itu.
Saat sampai di Wanua Pejarakan yang masuk ke dalam wilayah Kadiri, hujan deras tiba tiba mengguyur.
Panji Watugunung segera berhenti di salah satu rumah warga Pejarakan yang ada di ujung jalan raya wanua itu diikuti oleh para pengiringnya. Mereka segera bergegas berteduh di sana.
Seorang lelaki paruh baya berjenggot lebat tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Panji Watugunung dan rombongannya.
"Permisi Ki, kami numpang berteduh disini", ucap Panji Watugunung segera.
"Silahkan, Gusti Pangeran Jayengrana.
Suatu kehormatan bagi kami bisa memberikan tempat bagi Gusti Pangeran", ujar lelaki paruh baya itu dengan penuh hormat.
"Apa aki mengenal kami?", tanya Rara Sunti pada lelaki paruh baya itu segera.
"Pejarakan masuk wilayah Pakuwon Kadri, Gusti Putri. Kalau sampai tidak mengenali siapa penguasa disini, maka kami akan sangat tidak tahu diri", jawab si lelaki berjenggot lebat itu sambil membungkuk hormat pada Rara Sunti.
"Kau tinggal sendiri di sini Ki?", Dewi Srimpi segera menatap wajah laki laki paruh baya itu sambil menatap ke sekeliling rumah.
"Hamba tinggal bersama istri, Gusti Putri. 2 putra hamba bergabung menjadi prajurit Kadiri yang baru.
Mereka kini tengah berlatih di kesatrian", si lelaki paruh baya itu tersenyum tipis.
Panji Watugunung segera menatap wajah sepuh lelaki itu.
"Siapa nama putra mu, Ki?", tanya Panji Watugunung segera.
"Mereka bernama Gardika dan Walungan, Gusti Pangeran. Mereka berdua adalah putra kebanggaan kami", sahut seorang wanita paruh baya yang merupakan istri lelaki paruh baya itu sambil membawa nampan berisi kendi berisi air minum dan beberapa gelas minuman hangat.
Lelaki tua itu segera mempersilakan Panji Watugunung dan rombongannya untuk meminum minuman yang mereka hidangkan.
Hujan terus mengguyur wilayah Kadiri dengan derasnya.
Saat memasuki kota Kadiri, semua penduduk memberikan jalan pada mereka. Begitu memasuki istana Katang-katang, para prajurit penjaga gerbang istana segera membukakan pintu gerbang. Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera menuju ke istana pribadi nya, sedang Demung Rakai Sanga memimpin para prajurit pengawal menuju kesatrian.
Patih Saketi yang baru saja hendak menemui Dewi Anggarawati, langsung mendekati Panji Watugunung. Warangka Kayuwarajan Panjalu itu segera menghormat pada Panji Watugunung.
"Sembah bakti hamba pada Gusti Pangeran Jayengrana..
Mohon ampun bila hamba mengganggu", ujar Patih Saketi dengan hormat.
"Ada apa Paman Patih?
Apa ada hal penting yang perlu kau laporkan?", Panji Watugunung menghentikan langkahnya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Para utusan yang Gusti Pangeran kirim ke seluruh wilayah Panjalu, sudah ada yang kembali. Diantara nya Demung Marakeh dan Tumenggung Landung", ujar Patih Saketi menyampaikan laporan nya.
"Panggil mereka ke istana pribadi ku, Paman Patih pada lepas tengah hari ini.
Juga Kakang Warigalit dan Demung Gumbreg", perintah Panji Watugunung pada sang Patih Kadiri itu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Patih Saketi menghormat pada Panji Watugunung dan segera mundur dari hadapannya.
Panji Watugunung segera menuju ke Puri pribadi Dewi Anggarawati. Para istri nya suka berkumpul bersama disana. Cempluk Rara Sunti, Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum mengikuti langkah sang suami mereka.
Dewi Anggarawati, Ayu Galuh, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang langsung menghambur ke arah Panji Watugunung begitu Yuwaraja Panjalu itu muncul di Puri pribadi Dewi Anggarawati. Mereka sangat bergembira menyambut kedatangan sang suami.
"Selamat datang kembali di istana Katang-katang, Kangmas Panji", ujar Dewi Anggarawati yang diikuti senyuman oleh Ayu Galuh, Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka.
"Terima kasih atas sambutan kalian semua, para istri ku tercinta", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum manis.
"Bagaimana masalah Nimas Anggraeni, Kangmas?", tanya Ayu Galuh yang penasaran.
"Sudah beres Dinda Galuh, malah Pangeran Arya Prabu memberikan dukungan penuh kepada Panjalu jika terjadi perang dengan Jenggala", ujar Panji Watugunung segera.
Ayu Galuh, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati saling berpandangan sejenak mendengar ucapan Panji Watugunung.
"Loh kog bisa Kangmas?", tanya Dewi Anggarawati sedikit kebingungan.
Belum sempat Panji Watugunung menjawab pertanyaan itu, Naganingrum segera berbicara.
"Teh Anggarawati tidak perlu bingung.
__ADS_1
Akang Kasep ngabantu eta pangeran sepuh menumpas pemberontak", Naganingrum tersenyum simpul.
"Ohhhh... pantas saja", ujar Dewi Naganingrum, Sekar Mayang, Ayu Galuh dan Ratna Pitaloka bersamaan.
Mereka berbincang hangat melepas kerinduan.
Lepas tengah hari, Panji Watugunung sudah duduk di kursi nya. Dihadapannya, Patih Saketi duduk bersila di lantai istana pribadi Yuwaraja.
Tak lama kemudian Tumenggung Landung dan Demung Marakeh datang menghadap berserta Senopati Warigalit dan Demung Gumbreg.
"Karena semua sudah berkumpul, aku ingin mendengar laporan dari tugas yang aku berikan kepada kalian semua", titah Panji Watugunung yang segera menatap wajah para bawahan setia nya itu.
Patih Saketi segera menyampaikan laporan pekerjaan nya, Senopati Warigalit juga melaporkan perkembangan pelatihan para prajurit baru di kesatrian.
Gumbreg melaporkan persediaan pangan yang sudah di terima istana Katang-katang, juga laporan Akuwu Kunjang, Watugaluh dan Kadri tentang lumbung pangan di beberapa wanua di dekat perbatasan.
Landung yang bertugas ke Muria, Lasem, Anjuk Ladang dan Kurawan menyampaikan laporan bahwa para penguasa daerah itu setuju untuk mengirimkan prajurit dan bahan makanan yang mereka minta. Dalam satu atau dua hari pasti akan segera sampai salah satu dari mereka.
Marakeh yang mendapat tugas ke Karang Anom dan Tanggulangin juga melapor hal yang sama.
**
Dewi Kenanga terus berlari menuju ke tempat kudanya di tambat.
Mata perempuan cantik itu terus basah akibat air mata yang jatuh bercucuran. Di depan kedua matanya, Pangeran Alas Larangan membantai Dewi Kembang Wengi dan saudara-saudara seperguruan nya.
Setelah kematian Dewi Api dan Dewa Tanah, Pangeran Alas Larangan murka. Para sesepuh Padepokan Alas Larangan habis tak bersisa. Darugeni dan Simbarmayura yang berhasil kabur, mengatakan bahwa Dewa Tanah dan Dewi Api tewas karena di bunuh Panji Watugunung yang mendapat hasutan dari Perguruan Racun Kembang. Oleh karena itu, Pangeran Alas Larangan memimpin orang orang mereka yang tersisa untuk membinasakan Perguruan Racun Kembang. Kekuatan yang jauh berbeda ditambah kemampuan kanuragan Pangeran Alas Larangan yang tinggi, membuat Perguruan Racun Kembang musnah dari muka bumi.
"Kanjeng Pangeran,
Perempuan itu berhasil kabur", teriak Darugeni saat melihat Dewi Kenanga berhasil lolos dari maut setelah Dewi Kembang Wengi mengorbankan nyawa nya agar Dewi Kenanga bisa kabur.
"Biarkan saja,
Kalau cuma cecunguk seperti itu, aku tidak keberatan jika dia ingin menuntut balas.
Darugeni, Simbarmayura..
Bakar seluruh tempat ini. Jangan sampai ada yang tersisa", perintah Pangeran Alas Larangan dengan lantang.
Darugeni dan Simbarmayura segera menyalakan api dan membakar kediaman Dewi Kembang Wengi yang menjadi markas Perguruan Racun Kembang.
Api segera membakar atap rumah yang terbuat dari alang-alang kering. Dengan cepat api melahap semua kayu dan seisi rumah kediaman Dewi Kembang Wengi. Asap tebal membumbung tinggi ke udara.
"Selanjutnya kita ke Kadiri. Akan ku bantai Panji Watugunung.
Ayo kita ke Kadiri", ujar Pangeran Alas Larangan yang segera meninggalkan tempat itu.
Dari kejauhan, Dewi Kenanga menatap asap tebal membumbung tinggi ke udara. Mata perempuan cantik itu memerah. Dia segera memacu kudanya menuju ke dermaga penyeberangan sungai Brantas. Tujuan nya hanya satu.
Menemui Panji Watugunung di Kadiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis kelanjutan cerita ini 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏
__ADS_1