Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Melawan Dua Macan


__ADS_3

Dewi Anggarawati tersenyum manis begitu Panji Watugunung bangun.


Segera dia mengantar gendok tanah liat berisi air hangat untuk cuci muka Watugunung.


"Cuci muka dulu kakang, pagi pagi jangan marah marah".


Hemmmm...


Panji Watugunung bergegas bangkit dari tempat tidur nya, dan segera mencuci muka. Sensasi hangat meresap ke pori pori wajah nya, wajah Watugunung memerah. Segera dia mengelap wajah nya dengan kain bersih di samping nya.


"Kakang, apa rencana kakang Watugunung hari ini?? ", Anggarawati mendekati sang pujaan hati.


"Kita harus kembali ke Padepokan Padas Putih secepatnya Dinda, kemarin kita tertunda karena masalah Tunjung Biru. Sekarang kita tidak boleh menunda lagi", Watugunung berdiri. Anggarawati ikut berdiri.


Dengan cepat, Anggarawati memeluk tubuh Panji Watugunung dan mencium pipi nya.


"Kakang Watugunung, aku merindukan mu".


Belum sempat Panji Watugunung menjawab, Anggarawati sudah berlari keluar kamar.


'Gadis nakal', batin Panji Watugunung seraya tersenyum.


Selepas mandi, Panji bergegas ke tempat makan sambil menggendong buntalan kain pakaian nya.


Ratna Pitaloka, Sekar Mayang, Dewi Anggarawati dan Kakek Sima serta cucu nya Ratri sudah menunggu untuk sarapan.


Karena tidak menemukan penjual kuda di kota kecil Lantir, terpaksa kuda Dewi Anggarawati yang merupakan kuda terbaik menjadi tunggangan kakek Sima dan cucunya. Sedangkan dia berkuda bersama Panji Watugunung.


Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka cemberut sedangkan Dewi Anggarawati tersenyum bahagia.


Mereka berenam memacu kuda tunggangan nya meninggalkan kota kecil Lantir.


Menjelang tengah hari, perjalanan mereka di kejutkan oleh dua pria yang berlari ketakutan keluar dari sebuah perkampungan kecil.


"Hey ada apa??", teriak Ratna Pitaloka.


Dua orang pria gemetar badannya.


"Itu itu ada orang bertarung di rumah makan. Mereka sudah menghancurkan rumah makan kami".


"Kakang Watugunung, bagaimana kalau kita lihat kesana?", Sekar Mayang memotong pembicaraan.


"Jangan jangan kesana, berbahaya. Kudengar mereka dari perguruan Macan Alas", sahut salah satu pria itu.


Hemmmm


Panji Watugunung mendengus panjang.


Macan Alas salah satu perguruan aliran hitam yang cukup di segani. Meski tak sebesar Kalajengking Biru dan Gunung Kematian, mereka memiliki kemampuan beladiri tangguh.


Pemimpin mereka Macan Wulung termasuk 10 jagoan dunia persilatan aliran hitam.


"Ayo kita lihat", Sekar Mayang memukul kuda nya. Panji Watugunung dan yang lainnya mengikuti di belakangnya.


Sementara dua orang pria tadi memilih melanjutkan pelariannya.


4 orang sedang bertarung di halaman rumah makan. Dua orang berpakaian hitam dan kuning seperti corak kulit harimau berhadapan dengan dua orang lelaki dan perempuan yang berpakaian serba putih.


Sebagian besar rumah makan sudah hancur berantakan. Sepertinya pertarungan mereka berimbang.


Penonton yang melihat dari jarak jauh. Sekitar 30 tombak dari tempat pertarungan. Sekar Mayang melompat turun dari kudanya dan menambatkan kuda nya diantara kerumunan penonton yang hadir. Panji Watugunung dan yang lainnya juga sama.


"Kakang, kita sudah cukup bermain main dengan mereka, golongan hitam seperti mereka pantas kita kirim ke neraka", ujar wanita berbaju putih berusaha menahan sesak di dada. Sepertinya dia terluka dalam.


"Iya adik, penjahat seperti mereka tidak pantas dibiarkan hidup", ujar lelaki berbaju putih sambil menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. Beberapa sudut bajunya robek bekas cakaran.


"Hahahaha, banyak bicara. Kau pikir Dua Macan dari Alas Angker takut dengan kalian", salah seorang lelaki berbaju hitam dan kuning memutar mutar tongkat pendek yang ujungnya berbentuk seperti cakar harimau dari besi.


"Sepasang Sriti Perak, hari ini ku habisi kalian", seorang dari lelaki yang berjuluk Dua Macan melesat cepat menyambar ke arah lelaki Sepasang Sriti Perak atau Sriti Lanang..


Sriti Lanang mencabut pedang putih nya, menangkis gesit.


Tringgg..


Bunga api tercipta dari benturan dua senjata.


Gerakan Sriti Lanang yang lincah, membuat serangan Macan Kuning, salah satu dari Dua Macan, menghajar udara hampa.


Melihat serangan Macan Kuning gagal, Macan Ireng merangsek maju. Sriti Lanang yang terkejut di keroyok melompat mundur.


"Adik, gunakan jurus formasi Sepasang Sriti Perak untuk menghadapi dua bedebah ini".

__ADS_1


Sriti Wadon segera bersiap. Setelah menjejak tanah, Sepasang Sriti Perak menyongsong serangan Dua Macan.


Gerakan yang lincah dan cepat dari Sepasang Sriti Perak benar benar menyulitkan Dua Macan dari Alas Angker. Bahkan pedang dari Sriti Lanang berhasil melukai dada Macan Kuning meski tidak terlalu parah.


Macan Kuning mendengus dingin dan mundur tombak di ikuti Macan Ireng.


Setelah memandang Macan Ireng, dan melihat anggukan kepala Macan Ireng, Macan Kuning mengumpulkan tenaga dalam tingkat tinggi dan mengalirkan pada cakar. Macan Ireng pun sama. Lalu mereka melesat bersama menyerang Sepasang Sriti Perak.


"Adik, hati hati mereka menggunakan jurus andalan nya", teriak Sriti Lanang yang mendapat anggukan kepala dari Sriti Wadon.


Benturan pedang dan cakar bertenaga dalam menciptakan ledakan keras.


Sepasang Sriti Perak terlempar ke belakang dan merasakan sakit luar biasa pada dada. Sriti Wadon malah muntah darah kehitaman.


Sedangkan Dua Macan masih bisa bertahan meski dada mereka sesak dan dari sudut bibirnya darah merah mengalir.


Melihat Sepasang Sriti Perak tak berdaya, seringai kejam menghiasi wajah Macan Kuning.


"Hari ini Dewa Yama berpihak pada ku. Dengan tangan ku, akan ku antar kau ke neraka", Macan Kuning melesat cepat menuju Sriti Wadon.


Wanita itu pasrah saat cakar besi Macan hendak menyambar kepalanya.


Tiba tiba sebutir kerikil melesat menghantam dada Macan Kuning. Pria seram berambut gimbal itu terlempar dua tombak dan menghantam tanah akibat hantaman batu kecil bertenaga dalam tinggi. Macan Kuning muntah darah.


"Kurang ajar!! Siapa berani membokong saudara ku?


Keluar kau keparat!"


Macan Ireng mendelik tajam kearah penonton pertarungan. Satu persatu orang mundur. Tinggal rombongan Panji Watugunung. Ratna Pitaloka yang dari tadi gemas melihat pertarungan, nampak memainkan batu kecil di tangan nya.


"Jadi kau gadis tengik pelakunya,


Urusan mu apa mencampuri pertarungan ku ha??", Macan Ireng geram.


"Aku cuma tidak suka saja melihat orang yang tidak berdaya masih kalian serang", ujar Ratna Pitaloka santai sambil terus memainkan batu.


"Bedebah!!


Maju kau biar kuantar kau bersama 2 Sriti tengik itu ke alam baka", Macan Ireng semakin gusar.


Ratna Pitaloka menoleh ke arah Panji Watugunung.


Mendengar suara Panji Watugunung, Ratna Pitaloka tersenyum.


Ratna Pitaloka melempar batu kecil nya ke arah Macan Ireng sambil mencabut Pedang Bulan Kembar nya dan langsung melesat cepat. Ajian Sepi Angin tingkat 5 nya benar membuat dirinya seolah terbang.


Semua orang terkejut tak terkecuali Sepasang Sriti Perak.


'Gila gerakan nya cepat sekali", batin Sriti Lanang sambil berpandangan dengan Sriti Wadon.


Sedangkan Kakek tua Sima dan cucunya Ratri saling pandang dan berkata pelan "Ajian Sepi Angin".


Di serang dua senjata sekaligus Macan Ireng mendengus kesal. Dengan cepat dia menangkis batu, namun tiba tiba Ratna Pitaloka sudah di depannya dengan menyabet lehernya.


Macan Ireng pucat segera menunduk, namun lagi lagi Ratna Pitaloka melompat ke atas kepala Macan Ireng dan menendang punggung lelaki berkumis tipis itu..


Bukkkk..


Macan Ireng menyusur tanah dengan keras. Bajunya kotor dan rumput masuk ke mulutnya.


"Tak kusangka ada macan doyan rumput", ejekan Ratna Pitaloka membuat darah Macan Ireng mendidih.


"Bangsat!


Ku bunuh kau", Macan Ireng segera berdiri dan dengan cepat menyambar pinggang Ratna Pitaloka dengan cakarnya.


Gerakan jurus Pedang Bulan Kembar nya anggun, membuat semua serangan Macan Ireng sia sia.


Melihat Macan Ireng tak berhasil mendaratkan cakaran nya meski sudah lebih dari 10 jurus di keluarkan, Macan Kuning diam diam mencabut pisau kecil dari pinggang nya.


Saat Ratna Pitaloka melenting mundur menghindari sabetan cakar, Macan Kuning melempar pisau kecil berwarna hitam kearah punggung Ratna Pitaloka.


Desiran angin dingin dirasakan oleh Ratna Pitaloka namun tidak ada ruang menghindar.


Saat kritis itu, sebuah pisau terbang melayang memapak pisau hitam dari Macan Kuning.


Trang..


Pisau hitam Macan Kuning mencelat jatuh sedang pisau terbang melayang kembali ke tuan nya.


"Mau membokong kau kucing dapur?", ucap Anggarawati tersenyum sinis.

__ADS_1


"Putri manja, dia bagian ku", Sekar Mayang melesat sambil melempar selendang es nya.


Kebutan angin dingin menusuk tulang merangsek ke arah Macan Kuning.


Wushhhh


Sreeetttttt..


Macan Kuning yang sudah terluka dalam sebelumnya tak bisa cepat menghindar, memilih menangkis dengan cakar besi nya. Angin dingin es menghantam cakar besi keras, dan mendorong tubuh Macan Kuning terpental 2 tombak ke belakang.


Belum sempat berhenti akibat benturan tenaga dalam, Sekar Mayang sudah melesat di belakang tubuh Macan Kuning, sedikit berjongkok. Lalu menyapu kaki Macan Kuning dengan tendangan melingkar kaki kanan.


Desshhh..


Macan Kuning terpelanting, belum sempat menyentuh tanah kebutan angin dingin Selendang Es menghajar dada Macan Kuning.


Tubuh anggota Padepokan Macan Alas itu terlempar ke tanah dan tak bergerak lagi. Macan Kuning tewas dengan tubuh membeku.


Phuihhh


"Ku kira hebat ternyata cuma kucing dapur"


Sekar Mayang melesat ke arah Panji Watugunung dan rombongan nya.


Melihat Macan Kuning tewas, nyali Macan Ireng ciut seketika.


Setelah memikirkan jalan kabur, Macan Ireng menyerang Ratna Pitaloka dengan cepat. Ratna Pitaloka melompat ke udara.


Macan Ireng melihat celah langsung melompat hendak kabur. Melihat lawannya berniat lari, Ratna Pitaloka segera menyabetkan Pedang Bulan Kembar nya dengan cepat.


'Jurus kelima___Pedang Kembar Pencabut Nyawa'


Hiyattttt...


Dua sinar kekuningan bersilangan menerabas cepat menghajar pinggang Macan Ireng.


Oughhh..


Hanya itu yang terdengar sesaat kemudian.


Macan Ireng tewas dengan pinggang nyaris putus.


Sepasang Sriti Perak berusaha berdiri tegak.


Mereka berdua tersenyum sambil berkata,


"Terimakasih atas bantuan pendekar"


Ratna Pitaloka menoleh ke arah mereka, dan n


berkata,


"Sesama aliran putih, wajib saling membantu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nah ini, sesama manusia wajib saling membantu ya..


Kalau bantuan readers untuk author?


Sedekah like, vote dan komentar nya yak.


Agar author terus semangat menulis.


Thanks for reading 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2