Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pemindahan Pusat Pemerintahan Kerajaan Panjalu


__ADS_3

Grepaksenthe geram. Meski harus mati kali ini dia bertekad untuk membawa Senopati Narapraja mati bersamanya.


Sambil menahan sakit pada pinggangnya yang seperti mau pecah, Grepaksenthe berdiri tegak. Dia melepas topeng besi nya dan melemparnya ke tanah. Sebilah pedang pada tangan kanannya di tancapkan ke tanah. Kedua telapak tangan lalu menangkup di depan dada.


Sekejap kemudian asap putih tipis mengepul dari telapak tangan Grepaksenthe. Rupanya dia ingin menyerang Senopati Narapraja dengan seluruh tenaga dalam yang tersisa. Ajian Awan Putih andalan nya terus menciptakan asap dan hawa panas.


Senopati Narapraja waspada. Melihat pimpinan Perkumpulan Burung Hantu itu menyiapkan ajian andalan, perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera menyiapkan diri. Sinar biru keputihan tercipta di tangan kanannya akibat dari Ajian Geledek Sewu andalannya. Perlahan dia menggeser Keris Kyai Pamegat Nyawa ke pinggang sebelah kiri, berjaga-jaga jika dibutuhkan.


Grepaksenthe melesat ke arah Senopati Narapraja. Angin panas berseliweran mengikuti langkah sang pemimpin Perkumpulan Burung Hantu. Tangan kanannya terayun ke arah pemimpin pasukan Panjalu itu.


Whhhuuuggghhhh..


Senopati Narapraja pun segera melesat menyongsong Grepaksenthe. Tangan kanannya memapak serangan Grepaksenthe.


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan keras terdengar. Senopati Narapraja terdorong mundur beberapa langkah sedangkan Grepaksenthe terpental jauh ke belakang. Darah kehitaman muncrat keluar dari mulut Grepaksenthe. Pemimpin Perkumpulan Burung Hantu itu mengejang sesaat sebelum akhirnya diam tak bergerak lagi. Dia tewas seketika.


Sisa anggota Perkumpulan Burung Hantu yang berjumlah 5 orang melemparkan senjata mereka pertanda menyerah usai melihat Grepaksenthe tewas di tangan Senopati Narapraja. Dadhap Regol pun segera melempar pedang pendek nya.


Para prajurit Panjalu segera menangkap mereka dan mengikat dengan tali lalu menggelandang mereka menuju penjara Kotaraja Daha.


Sepanjang perjalanan ratusan penduduk yang tinggal di Kotaraja Daha melempari mereka sebagai bentuk pelampiasan kekesalan karena gangguan mereka selama ini.


Begitu memasuki penjara, Senopati Narapraja sendiri langsung menanyai mereka tentang siapa dalang dan kemana larinya Mpu Rikmajenar.


Dadhap Regol yang berhubungan langsung dengan Mpu Rikmajenar pun tidak tahu menahu kemana perginya lelaki tua itu karena mereka juga di tipu oleh Mpu Rikmajenar mengenai pembayaran upah.


Senopati Narapraja keluar dari penjara Kotaraja Daha dengan raut muka kusut usai menendang perut Dadhap Regol karena kesal tidak menemukan jawaban dari pertanyaan nya. Satu-satunya petunjuk mengenai pelarian Mpu Rikmajenar pun tak mampu menunjukkan arah pelarian sang pengkhianat negara.


Senopati Narapraja duduk di kursi kayu depan rumah kediamannya saat seorang prajurit menghadap pada nya.


"Mohon ampun Gusti Senopati. Hamba baru dari perbatasan Kotaraja Daha. Menurut seorang lelaki yang rumahnya di dekat tapal batas, pada malam kebakaran itu dia melihat kereta kuda mewah di kawal 6 orang meninggalkan Kotaraja kearah timur", lapor sang prajurit dengan cepat.


"Pasti itu kereta kuda si tua bangka keparat itu.


Tapi ke timur? Tidak mungkin dia ke Kadiri. Jelas sekali tidak mungkin.


Kau panggil bekel mu kemari, cepat!", perintah Senopati Narapraja dengan cepat. Si prajurit segera menghormat lalu mundur dari hadapan sang perwira tinggi prajurit Daha. Tak berapa lama kemudian dia kembali dengan seorang lelaki bertubuh gempal yang merupakan bekel prajurit yang bertugas melakukan pencarian.


"Pancatnyono,


Suruh orang-orang mu menyisir arah menuju ke Kadiri hingga pertigaan Wanua Pajarakan. Tanyakan kepada penduduk sekitar apakah ada kereta kuda mewah dengan 6 orang pengawal melintasi jalan mereka saat kebakaran tadi malam", perintah Senopati Narapraja segera.


"Sendiko dawuh Gusti Senopati", jawab Bekel Pancatnyono sambil menghormat pada Senopati Narapraja. Lelaki bertubuh gempal itu segera mundur dari tempat itu kemudian melakukan apa yang di perintahkan oleh Senopati Narapraja.


**


Saat semua prajurit Panjalu kebingungan melacak jejak pelarian Mpu Rikmajenar, rombongan kereta kuda Mpu Rikmajenar telah melewati Kali Aksa yang menjadi tapal batas Pakuwon Bedander dengan Pakuwon Sambi. Pakuwon Sambi sendiri merupakan hasil dari peperangan Panji Watugunung usai mengalahkan pasukan Jenggala tempo hari. Hingga banyak sekali orang orang Pakuwon Sambi yang sebenarnya masih berpihak pada Jenggala walaupun Akuwu Sambi, Rakryan Sangguh sudah menyatakan kesetiaannya kepada pemerintah Panjalu. Daerah ini di masukkan ke dalam wilayah Kadipaten Seloageng agar bisa terus diawasi oleh Adipati Tejo Sumirat.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos menepuk punggung kudanya pelan. Orang yang dia tunggu telah terlihat memasuki wilayah Wanua Uling yang ada di timur Kali Aksa.


"Mohon maaf, apakah ini Gusti Mpu Rikmajenar dari Daha?


Saya Purwaka, utusan Mpu Sogatan", ujar si lelaki berkepala plontos itu dengan sopan.


"Syukurlah akhirnya bertemu dengan utusan dari Kakang Mpu Sogatan.


Benar aku Mpu Rikmajenar, ayo sekarang tunjukkan jalan ke arah Singhapura. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan saudara ku", jawab Mpu Rikmajenar sambil tersenyum lega.


"Tapi Gusti Mpu Rikmajenar terlihat lelah, apa tidak sebaiknya beristirahat lebih dulu?", tawar Purwaka dengan sopan. Memang wajah tua Mpu Rikmajenar terlihat kuyu dan letih. Semalaman dia memang tak tidur karena terus memacu kuda untuk sampai di Singhapura secepat mungkin.


"Tidak perlu. Nanti sesudah memasuki wilayah Kadipaten Singhapura kita beristirahat.


Sekarang cepat kau tunjukkan jalan nya", Mpu Rikmajenar menatap wajah Purwaka yang kebingungan dengan omongan Mpu Rikmajenar.


Takut mendapat marah, Purwaka segera menjalankan kudanya diikuti oleh rombongan Mpu Rikmajenar. Mereka terus bergerak cepat ke timur. Menjelang tengah hari, rombongan Mpu Rikmajenar telah sampai di tapal batas Jenggala dan Panjalu, di Wanua Lawor.


Purwaka segera membawa mereka ke dermaga penyeberangan Wanua Lawor. Sebuah kapal besar menjadi alat penghubung antara Kadipaten Singhapura dan Kadipaten Seloageng. Dengan di bantu Purwaka, para pengawal pribadi Mpu Rikmajenar memindahkan peti peti harta yang di bawa Mpu Rikmajenar ke dalam perahu penyeberangan karena tidak mungkin membawa kereta kuda. Hanya kuda saja yang mereka bawa hingga meninggalkan kereta mewah itu di tepi dermaga penyeberangan.


Perlahan perahu penyeberangan itu meninggalkan dermaga menuju ke seberang sungai Brantas.


Mpu Rikmajenar menghembuskan nafas lega. Kini dia merasa bebas dari kejaran Panji Watugunung karena telah keluar dari wilayah Panjalu.


Sepasang mata menatap kepergian Mpu Rikmajenar. Melihat arah perginya perahu, orang itu kemudian melompat ke atas kuda nya dan menggebrak hewan tunggangan nya ke arah Kota Kadipaten Seloageng.


**


Panji Watugunung terus memacu kudanya diikuti oleh Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti dan para prajurit Panjalu di belakang nya.


Mereka telah menyebrangi Sungai Wulayu, lalu berbelok ke selatan menuju Kadipaten Anjuk Ladang.


Tanpa berbelok ke arah kota Kadipaten, pasukan Panjalu terus bergerak cepat menuju selatan. Setelah melewati Pakuwon Berbek, Panji Watugunung dan para prajurit Panjalu terus menuju ke selatan.


Di sebelah dermaga penyeberangan Sungai Brantas, pasukan Panjalu berhenti. Seharian berkuda membuat mereka lelah. Perjalanan panjang mereka benar-benar menguras tenaga. Mereka beristirahat sejenak sebelum menyeberangi sungai Brantas di dermaga.

__ADS_1


Kepala keamanan dermaga yang melihat kedatangan Panji Watugunung langsung berjongkok dan menyembah pada Raja Panjalu itu.


"Sembah bakti hamba Gusti Prabu Jayengrana", ucap sang kepala keamanan dermaga penyeberangan dengan penuh hormat.


"Hemmmmmm..


Bangunlah.. Persiapkan kapal kapal besar untuk menyeberangkan para prajurit. Usahakan secepat mungkin karena aku ingin cepat sampai ke istana Daha", perintah Panji Watugunung segera.


Kepala keamanan dermaga penyeberangan itu tidak segera menjawab. Dia gelisah memikirkan kata kata yang tepat untuk menjawab perintah Panji Watugunung. Kegelisahan itu terlihat oleh Raja Panjalu itu.


"Kau kenapa? Ada masalah dengan perintah ku?", Panji Watugunung menatap ke arah kepala keamanan dermaga penyeberangan.


"Mohon ampun Gusti Prabu Jayengrana. Hamba hanya bingung mau menjawab. Apakah Gusti Prabu tidak tahu apa yang baru saja terjadi di istana Daha?", tanya sang kepala keamanan dermaga dengan mimik wajah ketakutan.


"Apa maksud mu? Apa yang terjadi dengan istana Daha?", Panji Watugunung meninggi nada suara nya.


"Semalam istana Daha di bakar orang Gusti Prabu", jawab sang kepala keamanan dermaga tak berani mengangkat kepalanya.


Bagai petir menyambar di siang bolong, jawaban sang kepala keamanan dermaga membuat Panji Watugunung dan seluruh pengikutnya terlonjak kaget.


APAAAAAA???!!!!!!!


Panji Watugunung segera merapal Ajian Halimun lalu menggenggam tangan kedua istrinya. Sebentuk sinar kehijauan membungkus tubuh Panji Watugunung dan kedua istrinya. Tak lama kemudian mereka menghilang


ZZZRRRRRRRRTTTTTHHHHH!!!


Senopati Warigalit yang melihat kejadian itu langsung mendekati sang kepala keamanan dermaga untuk menanyakan lebih lanjut tentang berita itu.


Panji Watugunung muncul di tengah-tengah puing-puing bangunan istana Daha yang hangus terbakar. Amarah Raja Panjalu itu langsung menggelegak.


Tiba tiba saja ...


Hooooaaaarrrrggghhh!!!


Kulit Panji Watugunung berubah warna menjadi merah kemudian tubuh nya mulai membesar dan terus membesar. Sebagai pemilik Ajian Triwikrama, amarah adalah kunci utama keluar nya ajian penghancur peradaban itu. Saat amarah tak tertahankan lagi, maka dengan sendirinya sang pemilik ajian akan berubah menjadi raksasa merah yang mengerikan.


Mata Butha Agni memerah menatap puing bangunan istana yang hancur. Dengan murka nya, Butha Agni mencabut pohon beringin di tengah alun-alun istana Daha dan melemparkannya ke arah sisa bangunan istana yang masih berdiri.


Brrruuuaaaaakkkkh!!


Munculnya raksasa merah menggemparkan seluruh Kotaraja Daha. Mereka rata rata penganut Hindu aliran Waisnawa yang percaya bahwa munculnya raksasa merah yang mengamuk adalah adanya ketidakbenaran dalam tata laku dunia. Para penduduk Kotaraja Daha langsung bersujud sambil mengucapkan mantra puja Dewa Wisnu.


Dewi Anggarawati, Ayu Galuh, Dewi Naganingrum, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang yang mendengar adanya raksasa merah saling berpandangan sejenak lantas sekuat tenaga berlari menuju ke arah istana Daha. Mereka tahu raksasa merah yang sedang mengamuk itu adalah puncak kemarahan Panji Watugunung.


"Kangmas Prabu Jayengrana,


Hentikan amarah mu Kangmas! Apa Kangmas Prabu ingin menghancurkan seisi kota Dahanapura?


Hentikan Kangmas Prabu, aku mohon!", teriak Dewi Anggarawati dengan penuh kesedihan.


Butha Agni segera menoleh ke arah suara Dewi Anggarawati. Raksasa merah itu segera berjalan mendekati mereka bertujuh. Perlahan dia berjongkok di depan ketujuh istri nya.


"Ini penghinaan untuk kerajaan Panjalu, Dinda..


Tak akan aku maafkan! Hooooaaaarrrrggghhh!!", jawab Butha Agni dengan lantang.


"Aku mengerti apa yang tengah kau rasakan Kangmas Prabu..


Tapi lihatlah, aku dan keluarga mu semua masih selamat", ujar Dewi Anggarawati sambil mengangguk.


Butha Agni membuka kedua telapak tangannya. Dewi Anggarawati, Ayu Galuh, Dewi Naganingrum, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti segera melangkah ke telapak tangan Butha Agni. Lalu raksasa merah itu berdiri.


"Lihat lah Kangmas Prabu, penduduk Kotaraja Daha masih menghormati mu, masih menyembah mu..


Hancur nya istana ini masih bisa kita bangun kembali. Aku mohon padamu Kangmas Prabu, jangan luapkan amarah mu.


Lihat lah para rakyat Panjalu", bujuk Dewi Anggarawati sambil menangkupkan kedua tangan nya di depan dada. Para istri Panji Watugunung yang lain pun juga melakukan hal yang sama.


Butha Agni mengedarkan pandangannya ke sekeliling Kotaraja Daha. Para penduduk Kotaraja semuanya menyembah pada padanya. Butha Agni mengangguk mengerti. Perlahan dia menurunkan ketujuh istri nya di samping puing bangunan istana Daha.


Kemudian Butha Agni menangkupkan kedua tangan di depan dahi dan berjongkok menyembah pada Hyang Widhi Wasa. Perlahan tubuh Butha Agni mengecil dan terus mengecil hingga kembali ke wujud Panji Watugunung.


Ketujuh istri Panji Watugunung segera mendekati sang suami dan bersamaan memeluk tubuh sang Raja Panjalu.


Tangis haru tanda kebahagiaan pecah di antara mereka.


"Maafkan aku, Istri ku semuanya..


Seharusnya aku lebih bisa menahan amarah ku agar tidak menjadi malapetaka yang lebih besar lagi", ujar Panji Watugunung segera.


"Siapa pun orangnya pasti akan murka Kangmas Prabu, jika melihat kejadian seperti ini. Aku sangat mengerti itu.


Sekarang mari kita ke Kepatihan. Mapatih Jayakerti menampung kami disana", ucap Dewi Anggarawati dengan lembut.


Mereka semua segera melangkah keluar dari puing-puing bangunan istana. Di depan gapura istana, Mapatih Jayakerti bersujud kepada Panji Watugunung.

__ADS_1


"Mohon jatuhkan hukuman mati untuk hamba Gusti Prabu.. Jayakerti lalai menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban istana Daha" , ujar Mapatih Jayakerti sambil membenamkan wajahnya dalam dalam, tak berani menatap ke arah Panji Watugunung.


"Sudahlah Paman Jayakerti,


Yang penting semua nya selamat. Kita ke Kepatihan dulu untuk menentukan langkah apa yang harus dilakukan ke depannya.


Tolong kumpulkan semua pejabat istana di Kepatihan", titah Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar Mapatih Jayakerti dengan cepat.


Setelah mengeluarkan perintah, Panji Watugunung bersama ketujuh istri nya melangkah menuju ke Kepatihan Daha.


Kedatangan Panji Watugunung disambut dengan suka cita para abdi dalem dan dayang istana yang untuk sementara berdiam di Kepatihan, menunggu keputusan dari Panji Watugunung.


Usai membersihkan diri dan berganti baju, Panji Watugunung menerima pisowanan para pejabat istana Daha beserta para perwira tinggi prajurit seperti Senopati Narapraja dan Senopati Warigalit di serambi Kepatihan.


Satu persatu para pejabat istana Daha memberikan laporan kepada Panji Watugunung mengenai pekerjaan mereka. Selanjutnya para perwira tinggi prajurit Panjalu pun menyampaikan berita berita yang mereka miliki.


Sampai pada giliran Senopati Narapraja, perwira tinggi itu segera menyembah pada Panji Watugunung.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Mengenai pelarian Mpu Rikmajenar, sedikit banyak dari laporan para prajurit yang hamba sebar, semua petunjuk mengarah ke Kadipaten Seloageng.


Hamba tidak tahu apakah Seloageng hanya sebagai daerah yang di lewati atau menjadi tempat persembunyian dari Mpu Rikmajenar", lapor Senopati Narapraja sambil menghormat pada Panji Watugunung.


Hemmmmmm...


"Keparat bau tanah itu benar-benar licik..


Senopati Narapraja, terus cari jejak pelarian Mpu Rikmajenar sampai ketemu. Dia tak akan ku ampuni.


Dengarkan aku,


Mungkin banyak diantara kalian yang belum tahu bahwa dalang dari semua peristiwa yang terjadi di istana Daha akhir akhir ini adalah Mpu Rikmajenar", mendengar ucapan Panji Watugunung semua pejabat istana Daha langsung terperangah seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Mungkin kalian tidak akan percaya dengan apa yang baru aku katakan, tapi semua bukti dan pengakuan dari Akuwu Cempaka, adalah bukti kuat dari kebusukan Mpu Rikmajenar.


Sekarang yang sama pentingnya untuk keluarga istana. Aku akan tetap membangun kembali istana Daha sebagai peninggalan dari Gusti Prabu Samarawijaya.


Namun mungkin ini sudah menjadi takdir dari Sang Hyang Tunggal bahwa untuk selanjutnya pemerintahan Kerajaan Panjalu akan di jalankan dari Istana Katang-katang di Kadiri", titah Panji Watugunung yang membuat seluruh pejabat istana dan para perwira tinggi prajurit Panjalu berjongkok pada Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu Jayengrana".


Mulai hari itu, pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu bergeser ke timur, ke wilayah Kadiri. Seluruh atribut istana termasuk singgasana Kerajaan Panjalu di pindahkan ke Kadiri.


**


Adipati Tejo Sumirat merengut mendengar laporan telik sandi yang dia tugaskan untuk memata-matai wilayah perbatasan dengan Jenggala.


"Apa kau yakin dia orangnya?", tanya Adipati Seloageng itu sambil mengelus jenggotnya yang mulai memutih.


"Benar Gusti Adipati, hamba melihat dengan mata kepala hamba sendiri orang itu meninggalkan kereta mewah berukir lambang istana Daha di tepi dermaga penyeberangan yang menuju ke arah Singhapura", jawab sang telik sandi dengan penuh keyakinan. Adipati Tejo Sumirat langsung mengelus jenggotnya sebelum berbicara.


"Baiklah,


Akan ku laporkan ini langsung pada Nakmas Prabu Jayengrana".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih kepada semua reader setia BNL hingga saat ini hingga BNL masuk rangking vote 😁😁😁😁


Salut kepada saudara ku semuanya, semoga tetap terhibur dengan kehadiran BNL.


Salam hangat dari author 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2