Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kebakaran Istana Daha


__ADS_3

Kaget Bajong dan Gombang mendengar rencana Mpu Rikmajenar. Mereka tidak bisa memikirkan dengan jalan apa atau bagaimana Mpu Rikmajenar bisa melaksanakan rencana itu.


"Ba-bagaimana mungkin kita membakar istana Daha, Gusti Mahamantri?


Pengawalan disana sangat ketat. Sembarang orang tidak bisa masuk ke tempat itu", tanya Bajong dengan penuh kebingungan.


"Bukan kau dan aku yang akan melakukannya, Jong..


Aku akan membayar orang untuk melakukan nya. Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Sekarang lakukan tugas yang ku berikan kepada mu. Bergegaslah, kita tidak punya banyak waktu", jawab Mpu Rikmajenar yang membuat Bajong dan Gombang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dua orang pesuruh Mpu Rikmajenar itu segera bergegas melakukan apa yang di perintahkan kepada mereka.


Mpu Rikmajenar segera berganti pakaian menjadi pakaian rakyat biasa. Tak lupa selembar kain hitam yang compang camping dia pakai menutupi kepalanya hingga wajah tua nya tak terlihat jelas oleh orang lain.


Kakek tua itu segera melompat ke atas kuda nya dan memacu hewan tunggangan itu kearah tenggara. Setelah melewati jalan besar Kotaraja Daha, Mpu Rikmajenar terus memacu kudanya menuju ke tenggara. Setelah melewati tapal batas kotaraja, Mpu Rikmajenar memasuki sebuah hutan kecil yang diapit oleh dua sungai kecil. Menyelusuri jalan setapak yang jarang di lewati manusia, akhirnya Mpu Rikmajenar sampai di sebuah perkampungan kecil yang hanya terdiri dari beberapa rumah.


Sebuah rumah kayu yang paling besar berada dekat tebing berbatu yang ada disisi timur perkampungan kecil itu. Mpu Rikmajenar menuju kesana. Kampung itu begitu sepi, tak terlihat ada tanda tanda kehidupan disitu. Semuanya terlihat lengang, namun sesungguhnya dari balik dinding rumah yang terlihat tanpa penghuni, belasan pasang mata mengawasi gerak-gerik Mpu Rikmajenar.


Sesampainya di rumah paling besar, Mpu Rikmajenar menghentikan kudanya. Dia langsung melompat turun dan mengikatkan tali kekang kuda pada batang pohon nangka yang ada di halaman rumah itu. Mpu Rikmajenar segera melangkah menuju ke arah pintu rumah.


"Grepaksenthe,


Keluar lah. Aku punya tugas penting untuk mu", ucap Mpu Rikmajenar segera.


Senyap, tak ada jawaban.


"Grepaksenthe,


Aku tahu kau di dalam. Keluarlah, sebelum tugas ini ku berikan pada orang lain", kembali Mpu Rikmajenar berteriak lantang.


Tak berapa lama kemudian, terdengar kunci pintu di lepas dan...


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!


"Siapa kau? Darimana kau tahu aku disini?", tanya seorang lelaki bertubuh kekar dengan bekas luka memanjang di bawah mata kirinya yang muncul dari balik pintu rumah. Lelaki berambut gondrong dengan jenggot lebat namun tidak berkumis itu menatap tajam ke arah Mpu Rikmajenar.


Belum sempat Mpu Rikmajenar menjawab, puluhan orang berpakaian serba hitam mengepung halaman rumah itu sambil membawa senjata yang terhunus.


Mpu Rikmajenar segera membuka tudung kain hitam compang camping yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Lelaki bertubuh kekar itu langsung mundur selangkah ke belakang usai melihat wajah Mpu Rikmajenar.


"Kau kau kawan Gusti Ranggawangsa?


Kenapa kau kemari?", tanya si lelaki bertubuh kekar yang bernama Grepaksenthe, bekas orang suruhan Ranggawangsa yang bertugas untuk melakukan pekerjaan kotor, mengenali Mpu Rikmajenar. Setelah kematian Ranggawangsa, orang orang ini beralih pekerjaan menjadi perampok dan pencuri yang mengganggu ketentraman masyarakat pinggiran Kotaraja Daha. Gerakan mereka yang cepat di dukung ilmu meringankan tubuh yang tinggi menyulitkan bagi para prajurit Panjalu untuk menangkapnya. Tambah lagi mereka tidak pernah menetap di satu tempat lebih dari sepekan. Mpu Rikmajenar tahu, bahwa tempat ini adalah tempat utama persembunyian mereka dari kejaran para prajurit Panjalu.


"Jangan banyak tanya.


Aku kemari ada tugas besar untukmu. Kalau berhasil, upahnya 200 kepeng emas. Kau bersedia?", ujar Mpu Rikmajenar sambil merogoh balik bajunya dan mengeluarkan dua kantong kain berisi 100 kepeng emas. Tangan kakek tua itu menimang-nimang kantong kain berwarna hitam di tangan kanannya.


Mata Grepaksenthe langsung melebar ketika mendengar kata 200 kepeng emas. Itu jumlah yang besar, cukup untuk hidup selama 1 surya sengkala bagi kelompok nya. Mata lelaki bertubuh kekar itu terus melirik ke arah kantong kain berwarna hitam di tangan Mpu Rikmajenar.


"Tu-tugas apa yang kau berikan ha?


Jangan main-main dengan ku, kakek tua!", ujar Grepaksenthe setengah mengancam pada Mpu Rikmajenar.


"Sederhana saja.


Aku ingin kau membakar istana Daha besok malam", ucap Mpu Rikmajenar segera. Mendengar ucapan itu, mata Grepaksenthe langsung melotot.


"Kau gila ya kakek tua. Itu sama saja cari mati. Aku tidak mau mati konyol", hardik Grepaksenthe dengan cepat.


"Bagaimana bisa mati konyol? Prabu Jayengrana tidak ada, hanya ada perempuan dan anak-anak. Apa kau sudah kehilangan nyali mu, Grepaksenthe?", ucap Mpu Rikmajenar sambil tersenyum lebar.


Grepaksenthe nampak jelas berpikir keras tentang hal ini. Segala sesuatu harus dipikirkan masak-masak. Saat Grepaksenthe sedang berpikir, seorang lelaki kurus dengan mata juling mendekat.


"Terima saja Lurah e,


Dengan uang itu setidaknya kita bisa hidup terjamin untuk waktu yang lama", ujar si lelaki bertubuh kurus bermata juling itu dengan penuh harap. Dia adalah Dadhap Regol, orang kepercayaan Grepaksenthe.


Hemmmm..


"Baik, aku terima tugas itu tapi dengan syarat", ucap Grepaksenthe sembari membuka lebar jemari tangan kanannya. Jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya mengisyaratkan angka.


"Apa syarat nya? Cepat katakan!", Mpu Rikmajenar mulai tak sabar menunggu jawaban Grepaksenthe.


"Aku minta 300 kepeng emas sebagai bayaran nya. Kalau tidak mau, cari saja orang lain yang mau mengerjakannya", ujar Grepaksenthe sambil bersedekap di depan dada.


"Dasar serakah!


Baik, aku terima syarat mu. Tapi aku hanya membawa 100 kepeng emas sebagai uang muka. Yang 200 sisanya bisa kau ambil di rumah ku setelah tugasmu selesai", ucap Mpu Rikmajenar sembari melemparkan dua kantong kain hitam berisi 100 kepeng emas kearah Grepaksenthe.

__ADS_1


Grepaksenthe segera menangkap dua kantong kain berisi kepeng emas yang di lempar kepada nya. Segera dia membuka tali pengikat kantong untuk melihat isinya. Mata Grepaksenthe langsung bersinar melihat puluhan kepeng emas di dalam kantong kain itu.


"Akan ku tagih kekurangannya selepas aku selesaikan tugas ku. Siapkan saja kepeng emas nya", ujar Grepaksenthe sambil memasukkan kantong kepeng emas itu ke balik bajunya.


"Baik, akan ku tunggu hasil pekerjaan mu", Mpu Rikmajenar segera memasang kain hitam compang camping sebagai tudung kepala nya. Kakek tua itu segera menuju ke tempat kudanya tertambat lalu menjalankan kudanya meninggalkan tempat itu. Para pengepung nya langsung membuka jalan agar Mpu Rikmajenar bisa lewat. Setelah Mpu Rikmajenar menghilang di rimbunnya pepohonan hutan kecil itu, Grepaksenthe langsung memanggil tangan kanannya.


"Dadhap Regol,


Pergilah ke pasar. Beli seekor kambing untuk kita makan besar. Malam ini kita berpesta hahahaha...", ucap Grepaksenthe sembari tertawa terbahak bahak.


Semua orang anggota Perkumpulan Burung Hantu ikut tertawa mendengar omongan pemimpin mereka.


Malam itu mereka berpesta dengan menyembelih kambing besar. Puluhan jun arak dan kendi tuak mereka habiskan untuk bersenang-senang.


Di kediaman Mpu Rikmajenar, Bajong dan Gombang nampak sibuk mengikat buntalan kain berisi beberapa lembar kain sutra dari China. Lalu mereka meletakkan buntalan kain itu diatas beberapa peti yang di tata dalam kereta kuda.


Dua pengalasan Mahamantri Mpu Rikmajenar itu terus bekerja dengan giat sampai larut malam.


Pun Mpu Rikmajenar terus menata jalur pelarian nya dengan menghubungi beberapa orang kenalan nya agar bisa sampai masuk ke wilayah Jenggala. Karena peperangan yang di menangkan oleh Panji Watugunung dulu, batas Panjalu dan Jenggala bukan lagi Kali Aksa. Tapi jauh ke timur hingga Wanua Lawor dengan Kali Lawor sebagai batas alam antara Panjalu dan Jenggala.


Pergerakan Mpu Rikmajenar yang diam-diam nyaris tidak menimbulkan kecurigaan apapun di kalangan para pejabat tinggi Istana Daha.


Hari berganti hari. Suasana wilayah Kotaraja Daha tenang dan damai. Semua orang bekerja sesuai dengan pekerjaan mereka masing-masing tanpa ada masalah yang mengganggu.


Senja mulai menghilang berganti malam yang gelap. Bulan hampir separuh menggantung di atas kepala.


Dari arah tenggara kota Dahanapura, puluhan orang berpakaian hitam-hitam bergerak dalam bayangan gelap malam. Tubuh mereka yang ringan dan lincah terus bergerak cepat diantara bayangan bangunan para penduduk Kotaraja Daha.


Mereka terus bergerak menuju ke istana Daha.


Saat mendekati tembok istana dari sudut selatan, mereka berhenti untuk melihat keadaan. Setelah tidak melihat para prajurit Panjalu berpatroli, 8 orang berpakaian serba hitam langsung berjajar membelakangi tembok. 8 orang lainnya segera berlari ke arah 8 orang yang berjajar, mereka melenting tinggi ke atas tembok istana Daha usai menginjak telapak tangan kawan mereka sebagai tumpuan.


Begitu mendarat di atas tembok istana dan memastikan keadaan aman, mereka segera mengulurkan tali tambang kepada teman mereka yang ada di luar tembok istana. Gerakan mereka begitu ringan dan lincah hingga tidak menimbulkan suara sama sekali.


Di dalam istana Daha, Dewi Anggarawati mondar-mandir di depan kamar tidur nya. Entah kenapa ada sesuatu yang membuat pikiran Permaisuri Pertama Panji Watugunung itu tidak tenang. Wandansari sang abdi setia yang baru saja menidurkan Panji Tejo Laksono buru-buru mendekat ke arah Dewi Anggarawati.


"Mohon ampun Gusti Permaisuri,


Ada apa dengan Gusti Permaisuri? Sedari tadi hamba lihat Gusti Permaisuri mondar-mandir terus di sini", tanya Wandansari dengan penuh hormat.


"Aku tidak tahu Wandansari. Perasaan ku tidak enak sejak tadi sore. Seperti nya akan terjadi sesuatu yang buruk, tapi aku tidak tahu itu apa", jawab Dewi Anggarawati dengan gelisah.


Hyang Widhi Wasa selalu melindungi kita semua", ujar Wandansari sembari tersenyum mencoba untuk menenangkan kegelisahan Dewi Anggarawati.


Dewi Naganingrum yang tengah hamil besar pun keluar dari kamar tidur nya. Sedari tadi perasaan Putri Prabu Darmaraja itu pun tidak nyaman.


Melihat Dewi Anggarawati dan Wandansari sedang berbincang di depan kamar tidur mereka, perempuan cantik itu mendekati mereka.


"Ayeu naon Teh Anggarawati?


Naha tacan keneh mondok (Kenapa masih belum tidur)?", tanya Dewi Naganingrum segera. Wandansari yang bingung dengan omongan Naganingrum, langsung balik bertanya.


"Mondok? Apa maksud nya Gusti Permaisuri Ketiga?", Wandansari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maksud Eneng mah, kenapa belum tidur atuh Ceu", jawab Dewi Naganingrum sambil tersenyum simpul.


"Aku tidak tahu Naganingrum. Perasaan ku tidak enak sejak tadi sore. Kau sendiri kenapa masih keluyuran malam malam begini? Kau itu sedang hamil tua Naganingrum, sebentar lagi melahirkan. Jaga kesehatan mu baik-baik", ujar Dewi Anggarawati sembari menatap ke arah Dewi Naganingrum.


Perempuan cantik asal Tanah Pasundan itu segera tersenyum simpul. Dia tahu Dewi Anggarawati sayang kepada nya hingga berkata demikian.


"Eneng mah bingung mau ngajelasin nya kumaha Teh Anggarawati..


Perasaan Eneng sama dengan Teh Anggarawati mah, saprak sonten rarasan abdi henteu raos Teh", jawab Dewi Naganingrum segera.


Hemmmmmm


"Berarti kau sama dengan ku Naganingrum. Aku juga tidak nyaman dengan perasaan ini", ujar Dewi Anggarawati sambil memijat pelipisnya.


Saat mereka masih asyik mengobrol, Ratna Pitaloka yang sedang hamil muda mendekati mereka. Meski belum terlalu terlihat, tapi perut Ratna Pitaloka sudah kelihatan membuncit.


"Ada apa ini? Kenapa kalian masih kumpul kumpul? Ini waktu nya beristirahat", tanya Ratna Pitaloka sambil berjalan mendekati mereka.


"Lha Kangmbok Pitaloka sendiri kenapa masih di luar kamar? Kangmbok Pitaloka itu sedang hamil muda, tidak baik terlalu sering kena udara malam", Dewi Anggarawati balik bertanya pada Ratna Pitaloka, sang Selir pertama.


"Di kamar gerah Anggarawati. Aku sejak tadi sudah mencoba untuk tidur tapi tidak bisa", ujar Ratna Pitaloka sembari mengelus perutnya yang mulai membesar.


Sementara itu para anggota Perkumpulan Burung Hantu sudah menyebar ke beberapa titik. Menggunakan panah berapi, mereka mulai menjalankan tugas dari Mpu Rikmajenar.

__ADS_1


Shhhrriinggg shriingg!!


Puluhan panah berapi langsung melesat cepat kearah atap bangunan istana yang terbuat dari ijuk aren dan alang-alang kering. Perlahan api mulai membakar atap bangunan istana Daha. Para anggota Perkumpulan Burung Hantu terus melesakkan panah berapi mereka ke beberapa titik yang terbuat dari kayu dan bahan yang mudah terbakar.


Seorang prajurit penjaga istana yang melihat itu langsung berteriak lantang.


"Ada penyusup! Istana di bakar! Awas api!", teriak sang prajurit sambil berlari menuju ke arah kentongan yang ada di dekat pos penjagaan nya.


Thong thongg thonggg...


Istana Daha langsung geger. Titir kentongan bertalu-talu mengagetkan semua orang di dalam istana Daha. Tak terkecuali Dewi Anggarawati, Dewi Naganingrum dan Ratna Pitaloka yang tengah mengobrol di depan kamar tidur Dewi Anggarawati.


"Celaka!


Wandansari cepat bangunkan Pangeran Tejo Laksono. Aku akan membangunkan Ayu Galuh. Cepat!", perintah Dewi Anggarawati sambil berlari menuju ke kamar Ayu Galuh. Tanpa basa-basi, Dewi Anggarawati segera mendobrak pintu kamar Ayu Galuh yang tengah tertidur bersama Mapanji Jayawarsa.


Bruakkkk..


Ayu Galuh langsung terbangun mendengar pintu kamar tidur nya di dobrak. Perempuan cantik itu langsung berlari menuju ke arah pintu. Melihat kedatangan Dewi Anggarawati dengan raut muka panik, Ayu Galuh langsung bertanya.


"Ada apa ini Kangmbok Anggarawati? Kenapa kau dobrak pintu kamar ku?", Ayu Galuh menatap wajah Dewi Anggarawati.


"Jangan banyak tanya. Cepat kau gendong Pangeran Jayawarsa.


Istana Daha kebakaran", teriak Dewi Anggarawati dengan cepat. Mendengar jawaban itu, Ayu Galuh langsung pucat. Permaisuri Kedua Panji Watugunung itu segera melesat ke arah ranjang dan menggendong Mapanji Jayawarsa lalu bergegas keluar dari kamar mengikuti langkah Dewi Anggarawati.


Di luar kamar tidur Dewi Naganingrum, Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka yang membawa Pedang Bulan Kembar nya telah berkumpul. Melihat semua istri Panji Watugunung sudah ada, Dewi Anggarawati langsung memimpin mereka untuk menyelamatkan diri. Mereka segera bergegas menuju lorong istana yang menuju pintu keluar.


Api terus berkobar membakar bangunan istana Daha. Ratusan prajurit penjaga di bantu orang orang dari Kepatihan berupaya memadamkan api yang menyala berkobar cepat karena hembusan angin selatan.


Sebuah kayu penyangga atap bangunan roboh dan mengarah ke atas para istri Panji Watugunung yang tengah berlari. Ratna Pitaloka yang paling belakang melihat itu dengan cepat menghantamkan tangan kanannya yang berwarna kemerahan karena Ajian Tapak Dewa Api.


Blllaaammmmmmmm!!


Kayu penyangga atap langsung hancur berkeping keping menyebarkan serpihan kecil. Dewi Anggarawati yang melihat kejadian itu, segera menarik tangan Ratna Pitaloka karena atap bangunan di belakang nya mulai runtuh. Mereka segera berlari cepat kearah gapura.


Mapatih Jayakerti segera melompat ke arah lorong pintu yang menghubungkan tempat tinggal istri Panji Watugunung.


Melihat para istri Panji Watugunung tengah berlari ke arah gapura istana, Mapatih Jayakerti menarik nafas lega. Di bantu beberapa prajurit, Mapatih Jayakerti mengawal mereka hingga keluar dari dalam istana Daha.


Keadaan istana Daha sungguh kacau balau. Ratusan prajurit bahu membahu mengeluarkan barang berharga termasuk singgasana Kerajaan Panjalu. Api terus membesar dan melahap sebagian besar bangunan istana yang terbuat dari kayu.


Dari kejauhan, Mpu Rikmajenar menatap sinis ke arah istana Daha yang terbakar. Dia segera menggebrak kereta kuda nya yang membawa istri dan seorang putri nya menuju ke arah timur. Dengan di kawal oleh Bajong dan Gombang serta 4 pengawal setia nya, Mpu Rikmajenar terus menjalankan kereta kuda nya dengan cepat. Wajah pria sepuh itu menyeringai lebar sambil bergumam lirih,


"Jayengrana,


Terimalah hadiah perpisahan dariku".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bonus chapter untuk para penggemar setia BNL ya 😁😁😁

__ADS_1


Semoga selalu terhibur dengan kehadiran Panji Watugunung dan ketujuh istri nya..


Salam sehat selalu 🙏🙏🙏


__ADS_2