Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Petuah Calon Mertua


__ADS_3

Seluruh nayaka praja Kadipaten Seloageng seketika riuh mendengar jawaban dari Dewi Anggarawati..


Bukan hanya Tejo Sumirat sang Adipati Seloageng, tapi juga para pembesar istana kadipaten Seloageng yang merasa takjub.


Dewi Anggarawati melirik ke arah Panji Watugunung yang tetap tenang namun ada senyum tipis disana.


"Saketi, antar Panji Watugunung ke keputran. Aku ingin calon mantu ku mendapat pelayanan terbaik", titah sang Adipati


"Sendiko dawuh Gusti Adipati"


Bekel Saketi memberikan hormat kepada Adipati Seloageng.


"Mari Den Mas saya antar ke keputran".


"Saya mohon diri Gusti Adipati" ujar Panji Watugunung sambil menghaturkan sembah.


Lalu kedua orang itu mundur dari Bangsal Pisowanan Kadipaten Seloageng.


"Dinda Dewi,


ajak putri ku ke keputren. Nanti aku menyusul kesana"


"Baik Kangmas Adipati", Nararya Candradewi segera berdiri dan memberikan hormat kepada suaminya.


"Anggarawati, ayo ikut ibu ke keputren"


"Anggarasari,


Anggarasasi, kalian juga ikut ibu"


Ketiga putri Kadipaten Seloageng itu menghaturkan sembah pada Adipati Tejo Sumirat, lantas mengikuti langkah ibu mereka menuju keputren.


"Senopati Sancaka,


perintah kan semua prajurit kadipaten Seloageng untuk bersiaga.


Menjelang penentuan batas, aku rasa keadaan akan semakin memanas.


Perintahkan kepada semua Akuwu di wilayah Seloageng untuk berjaga-jaga, curigai semua orang tak dikenal.


Karna Paman Patih Lodaya sedang sakit, untuk sementara semua tugas ku serahkan padamu" titah sang Adipati Tejo Sumirat tegas


"Sancaka mengerti Gusti Adipati", ujar Senopati Sancaka


"Tumenggung Ajisanta, perketat pengamanan di sekitar kadipaten Seloageng.


Dan semua pembesar kadipaten Seloageng, aku minta semua tidak mengendurkan penjagaan, sebab situasi seperti ini.


Bubarkan pisowanan, aku kembali ke istana Kadipaten Seloageng"


"Sendiko dawuh Gusti Adipati" , ucap semua orang yang hadir di pisowanan.


Adipati Tejo Sumirat lalu melangkah menuju istana Seloageng di iringi para dayang.


Pria gagah penguasa Kadipaten Seloageng itu langsung bergegas ke keputren.


Sementara Nararya Candradewi, dan ketiga putri nya sudah di dalam kaputren , berbicara mengenai pengalaman Dewi Anggarawati selama 3 purnama hidup di luar kadipaten Seloageng.


Candradewi antusias mendengar cerita putri bungsu nya. Ekspresi wajah nya berbeda beda, mulai geram, sedih, lega, dan bahagia tanpa memotong cerita Dewi Anggarawati.


Tejo Sumirat di depan pintu keputren, langkah nya terhenti saat mendengar cerita Dewi Anggarawati. Dia menguping pembicaraan Candradewi dan Anggarawati. Terdengar suara Anggarawati bahagia, saat menceritakan berbagai petualangan dengan Panji Watugunung, tak ayal membuat Tejo Sumirat urung masuk kaputren, langsung berbalik menuju keputran.


Sementara di keputran, Panji Watugunung sedang duduk bersila di lantai serambi keputran. Bekel Saketi sudah pergi setelah mengantar.


Panji Watugunung bersila melatih tenaga dalam nya untuk mencapai tingkat tertinggi.


Aura kemerahan tampak menyelimuti tubuh pemuda tampan itu.


Tejo Sumirat sudah sampai di pintu masuk keputran, penjaga gapura langsung memberi jalan untuk sang Adipati. Begitu memasuki serambi keputran, Tejo Sumirat tertegun. Aura kemerahan tanda penguasa Pedang Naga Api memancar terang dari Panji Watugunung.


Tejo Sumirat tau itu. Sebagai murid awal Padepokan Padas Putih, Pedang Naga Api adalah pusaka ampuh impian semua pendekar termasuk dirinya. Namun dia tidak mampu mencabut Pedang Naga Api dari sarungnya.


Bisa mengendalikan Roh Naga Api sudah bisa dikatakan sebagai jagoan dunia persilatan.


Ehmmmm


Ehemmmm


Tejo Sumirat sengaja mengeraskan suara batuk agar Panji Watugunung menghentikan semedi.


Dan benar, begitu Panji Watugunung membuka matanya, aura kemerahan menyusut dan menghilang.

__ADS_1


Melihat siapa yang datang, Watugunung segera bangkit memberikan hormat.


"Maafkan saya Gusti Adipati, saya tidak mendengar kedatangan Gusti Adipati"


"Sudah, jangan terlalu kaku saat bersama ku.


Ayo duduk", ucap Adipati Tejo Sumirat.


Mereka lalu duduk berhadapan.


"Langsung saja, kau mencintai putri ku?"


Uhuk uhuk


Panji Watugunung langsung tersedak nafas mendengar ucapan seorang Adipati Seloageng.


"Cinta tidak?", kembali Adipati Seloageng itu bertanya.


"Ampuni saya Gusti Adipati, saya memang menyukai Dewi Anggarawati namun untuk bilang cinta saya masih perlu waktu mencari jawaban nya" , Panji Watugunung tegas.


Hemmmm


"Aku suka kejujuran mu, bocah.


Hehehehe, benar benar anak adi Gunungsari.


Aku tidak memaksa mu untuk mencintai putri bungsu ku. Karna hati memang tidak bisa dipaksa. Tapi aku juga tidak bisa melepaskan janji dari perjodohan dengan adi Gunungsari" jelas Tejo Sumirat.


'Lah apa bedanya coba dengan tetap memaksa perasaan ku' batin Panji Watugunung.


"Kau paham maksud ku bocah bagus?"


"Saya mengerti Gusti Adipati"


"Pintar, dengan ini kuanggap kau menerima perjodohan ini. Mulai sekarang sampai nanti Dewi Anggarawati adalah tanggung jawab mu"


Hahhhh...


'Dasar mertua licik' gerutu Watugunung dalam hati.


"Ingat pesan ku. Kau boleh bersama dengan wanita lain. Kau boleh punya selir. Tapi kalau sampai kau membuat anak ku menderita, akan ku pastikan kau lebih sengsara", pesan Tejo Sumirat.


"Saya mengerti Gusti Adipati", Watugunung mengangguk tanda mengerti.


"Mohon maaf Gusti Adipati, setelah mengantar Dinda Anggarawati, saya bermaksud mengunjungi orang tua saya di Gelang-gelang,


Mohon Gusti Adipati menginginkan"


Hemmmm


"Ku ijinkan, tapi dengan syarat..."


"Apa syarat nya Gusti Adipati?? " , tanya Panji Watugunung.


"Antar surat ku ke adi Gunungsari, ajak juga Anggarawati. perkenalkan dia sebagai calon istri mu"


Panji Watugunung berpikir sejenak


"Baiklah Gusti Adipati, saya bersedia menerima syarat nya"


"Hahahaha bagus, aku suka dengan bocah penurut seperti mu.


Kau boleh pergi ke Gelang-gelang setelah sepekan tinggal disini.


Kau pikir aku ini tidak kangen dengan putri bungsu ku? Mau main kabur saja hahahaha"


Tejo Sumirat tertawa terbahak-bahak bahagia.


'Pantas saja guru menyebutnya si gemblung"


batin Panji Watugunung sambil melirik ke arah Tejo Sumirat yang masih tertawa.


Sore harinya, Dewi Anggarawati sudah mandi dan berdandan cantik layaknya seorang putri bangsawan.


Dengan langkah terburu buru, Dewi Anggarawati menuju ke arah keputran.


Sudah seharian, dia tidak melihat Panji Watugunung. Rasa rindu menyeruak di dadanya. Memang selama 3 purnama, hampir setiap waktu dia dekat dengan pemuda itu.


Di arah gapura kamar peristirahatan, nampak seorang dayang sedang membawa nampan berisi beberapa macam makanan.


"Tunggu dayang,

__ADS_1


mau di bawa kemana makanan ini?"


"Ampun Gusti Putri, ini untuk Den Mas yang ada di dalam keputran", jawab sang dayang


"Sini biar aku yang antar"


"Tapi Gusti Putri, hamba nanti kena hukuman"


"Kalau ada yang menghukum mu, laporkan pada ku", potong Anggarawati.


Sang dayang mengalah, dan berbalik menuju dapur keputran.


Dengan hati hati, Anggarawati membawa masuk nampan ke arah serambi keputran.


Dan meletakkan nampan ke atas meja serambi.


"Kakang...


Kakang Wugunung, kakang...." , panggil Anggarawati celingak-celinguk mencari Panji Watugunung.


Panji Watugunung baru selesai mandi, mendengar suara Anggarawati melangkah masuk ke serambi keputran.


"Ada apa Dinda mencari ku?"


Anggarawati tersenyum menoleh ke arah Panji Watugunung, segera berlari dan memeluk tubuh lelaki itu.


"Dinda Anggarawati, ini di istana. Jangan seperti ini"


"Masa bodoh. Aku pengen peluk Kakang"


semakin erat pelukan hangat dari Anggarawati


'Dasar anak Tejo Sumirat, bapak sama anak sama saja'


"Dinda, itu apa?", ujar Panji Watugunung menunjuk nampan diatas meja.


"Ah iya lupa. Itu makanan untuk mu Kakang"


Anggarawati melepaskan pelukannya, dan mengambil nampan makanan.


"Ayo makan kakang"


**


Ratna Pitaloka terus menggebrak kuda nya ke arah barat, di susul Sekar Mayang tak kalah cepat nya.


Mereka sudah melewati Pakuwon Watugaluh, bermalam di penginapan, lalu pagi mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju barat ke arah gelang-gelang..


Menjelang sore hari, mereka memasuki hutan kecil di perbatasan Pakuwon Lantir dengan wilayah Bandar.


Saat itu mereka menjalankan kuda mereka dengan pelan karna langit mulai kemerahan pertanda malam segera tiba.


Begitu memasuki tengah hutan, ada nyala api unggun. Pelan saja mereka mendekati.


Sringg...


Sebuah pisau kecil melesat ke arah Ratna Pitaloka.


Angin dingin dari lemparan pisau kecil membuat Ratna Pitaloka tersadar dan melompat turun dari kudanya


"Kurang ajar, siapa berani membokong ku"


Tiba tiba satu suara menjawab


"Seharusnya kami yang bertanya, ada apa kalian petang hari ke hutan?


Mau merampok kami?


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2