
Panji Watugunung menuju ruang besar di penginapan di sertai ketiga selir cantik nya.
Bekel prajurit Pakuwon Watugaluh diikuti 20 prajurit Pakuwon sudah menunggu kedatangan Panji Watugunung.
"Maafkan saya mengganggu pagi anda Tuan Pendekar Pedang Naga Api. Saya Setyaka. Bekel prajurit Pakuwon Watugaluh memberi hormat untuk tuan Pendekar", ujar Setyaka, membungkuk hormat kepada Panji Watugunung.
"Tidak usah seperti itu Ki Bekel. Ada urusan apa kau mencari ku?".
"Saya diutus Akuwu Hangga Amarta, untuk mengundang Pendekar Pedang Naga Api ke Pakuwon Watugaluh", ujar Bekel Setyaka sopan.
"Lalu, ada kepentingan apa Akuwu Watugaluh mencari ku? Aku tidak ada urusan dengan Pakuwon Watugaluh", sahut Panji Watugunung.
"Begini tuan Pendekar, cucu Akuwu Watugaluh yang bernama Dewi Tunjung Biru dalam perjalanan pulang dari Padepokan Padas Putih telah di culik. Menurut berita yang kami dapatkan, mereka berasal dari Perguruan Kalajengking Biru dari Alas Lor", tutur Ki Setyaka menjelaskan.
Kalajengking Biru sebuah perguruan aliran hitam yang cukup di segani. Anggota mereka lebih dari 500 orang dengan kepandaian beladiri tinggi di sertai pengetahuan racun keji.
Pemimpin mereka, Dewi Kalajengking Biru adalah salah satu dari sepuluh jagoan aliran hitam di era Kahuripan.
Hemmmm
"Mereka perguruan racun Ki Bekel, kalau kita tidak memiliki kemampuan soal racun, melawan mereka sama dengan cari mati", ujar Watugunung di sertai anggukan ketiga gadis di belakang nya.
"Soal itu kami mengetahui, sudah ada ahli racun yang akan ikut menyelamatkan Dewi Tunjung Biru jika tuan Pendekar bersedia membantu", jawab Ki Setyaka.
"Baiklah, kita temui dulu Ki Akuwu dan aku ingin melihat sampai sejauh mana persiapan nya", Watugunung berdiri di ikuti ketiga selirnya, dan Bekel Setyaka . Mereka lalu berangkat menuju istana Pakuwon Watugaluh.
Sesampainya di istana Pakuwon Watugaluh, Panji Watugunung segera disambut langsung oleh Akuwu Hangga Amarta. Lelaki sepuh berambut putih itu masih terlihat gagah meski usianya tak lagi muda.
"Selamat datang di Pakuwon Watugaluh, tuan Pendekar Pedang Naga Api. Mari silahkan duduk", ujar Akuwu Watugaluh.
"Terimakasih Ki Kuwu atas sambutan nya, saya merasa terhormat di undang oleh Ki Kuwu Hangga Amarta", jawab Watugunung sopan.
Setelah semua duduk di kursi, pelayan segera menyajikan makanan dan minuman untuk mereka.
Usai bersantap, mereka lalu berbicara tentang rencana penyelamatan Dewi Tunjung Biru.
"Apa rencana Ki Kuwu selanjutnya", tanya Watugunung setelah Akuwu Watugaluh menjelaskan semuanya.
"Saya ingin menyelamatkan nyawa cucu saya tuan Pendekar, apapun resiko nya siap saya tanggung. Saya sudah menyurati Mpu Wanabaya di Padas Putih. Tapi sampai saat ini, pembawa berita belum juga kembali.
Saya semakin takut dengan nasib yang menimpa Dewi Tunjung Biru", jawab Akuwu Watugaluh dengan tatapan sendu.
"Begini Ki Kuwu, Kalajengking Biru itu perguruan racun. Kalau kita kesana tanpa persiapan, sama saja pengen mati konyol.
Kalau Ki Kuwu memiliki pendekar atau tabib ahli racun, itu akan sangat membantu upaya. yang Ki Kuwu lakukan", ujar Panji Watugunung .
"Saya mengerti tuan Pendekar, saya sudah menyewa seorang pendekar yang juga seorang tabib untuk membantu", ujar Akuwu Watugaluh, lalu memanggil salah satu prajurit Pakuwon Watugaluh.
"Panggil Dandaka kemari"
Tak berapa lama, prajurit itu kembali bersama seorang lelaki paruh baya berpakaian serba putih.
"Ini dia tuan Pendekar, perkenalkan ini Dandaka atau lebih dikenal dengan julukan Tabib Putih", kata sang Akuwu Watugaluh.
Kakek yang di panggil Tabib Putih segera membungkuk hormat kepada Akuwu Watugaluh dan Panji Watugunung.
"Saya Dandaka. Orang orang biasa nya menyebut saya Tabib Putih. Mohon ijin untuk bergabung bersama menyelamatkan Gusti Putri Tunjung Biru"
__ADS_1
Panji Watugunung segera meneliti Tabib Putih dengan seksama. Melihat tampilan nya seusia gurunya Mpu Sakri. Tapi raut wajahnya segar seperti berusia 40 an.
"Hanya ini atau masih ada lagi Ki Kuwu?",tanya Watugunung.
"Sementara hanya dia tuan Pendekar, Tapak Malaikat dan Dewi Kipas Besi masih dalam perjalanan kesini", jawab Akuwu Watugaluh.
"Baiklah, kita tunggu semua berkumpul dulu Ki Akuwu, baru kita pikirkan langkah selanjutnya, masalah ini tidak bisa dianggap remeh. Bukan karena saya takut, tapi menghadapi Kalajengking Biru kita harus benar benar siap", ujar Panji Watugunung seraya berdiri, " Kami mohon diri dulu ki Kuwu,kami berjanji membantu karna Dewi Tunjung Biru saudara seperguruan kami".
Usai menghormat, Panji Watugunung dan ketiga selir nya kembali ke penginapan.
"Akuwu Watugaluh apa tidak salah orang menyewa mereka? Sepertinya mereka takut pada Kalajengking Biru", ujar salah satu pengawal pribadi Akuwu Watugaluh.
"Kalau bicara hati hati, mereka Pendekar muda yang sedang naik daun. Kau mau di bantai seperti 4 Setan dari Gunung Kematian? Jagoan sakti seperti mereka saja tak berdaya lawan mereka", sahut seorang prajurit lain nya.
Keesokan harinya nya,
Tapak Malaikat, Dewi Kipas Besi, Tabib Putih dan Akuwu Watugaluh sudah berkumpul saat Panji Watugunung dan ketiga gadis nya datang bersama Ki Bekel Setyaka.
Tapak Malaikat adalah seorang pendekar bertubuh gempal dengan kulit hitam dan mata yang tajam. Dewi Kipas Besi adalah pemimpin aliran putih kecil Perguruan Kipas Besi.
Setelah saling memperkenalkan diri, Panji Watugunung mulai bertanya pada Akuwu Watugaluh.
"Apa rencana Ki Kuwu setelah kami siap berangkat?".
"Saya berencana untuk membawa 300 orang prajurit Pakuwon Watugaluh terlatih tuan Pendekar, sisa nya biar menjaga keamanan di Pakuwon. Selain Bekel Setyaka, saya juga membawa 2 wakil Bekel untuk membantu", jawab Akuwu Watugaluh menjelaskan.
"Menurut berita, Kalajengking Biru beranggota 500 orang namun sebagian besar menyebar membentuk cabang di beberapa tempat Ki Kuwu, yang di pusat hanya Dewi Kalajengking Biru, 2 murid utama, dan 6 sesepuh dengan sekitar 200 anggota", timpal Tapak Malaikat.
"Namun dengan adanya tokoh utamanya, kita tidak bisa meremehkan begitu saja tuan Tapak Malaikat. Mereka ahli racun terkenal di golongan hitam", potong Dewi Kipas Besi,
Hemmmm
"Kita memang tidak boleh gegabah,
Maaf Ki Kuwu apa tidak ada informasi tentang bagaimana letak Perguruan Kalajengking Biru? Itu sangat membantu kita bila ingin menang dalam penyerbuan ini", tanya Watugunung penasaran.
"Ada tuan Pendekar, menurut berita perguruan mereka berpagar kayu besar dan ada 3 pintu masuk. Letak nya di tengah Alas Lor, pohon nya tinggi tinggi dan hanya ada 2 jalan masuk lewat sisi selatan dan barat", sahut Akuwu Watugaluh.
Hemmmm
"Terus kapan kita berangkat Ki?", tanya Tabib Putih yang dari tadi diam saja.
"Besok tuan Tabib, hari ini semua perbekalan dan kuda sedang di siapkan".
"Baiklah, karna sudah sepakat kami kembali ke penginapan lebih dahulu. Besok pagi kami sudah sampai di sini saat kita berangkat, kami mohon diri", Panji Watugunung dan ketiga gadis nya segera membungkuk hormat dan meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh.
Dewi Kipas Besi, Tabib Putih dan Tapak Malaikat memang bermalam di Pakuwon jadi mereka tetap di tempat.
"Jadi dia pendekar muda yang terkenal itu?", tanya Tapak Malaikat pada Dewi Kipas Besi.
Mereka memang kawan lama.
"Iya, menurut berita mereka baru saja menghabisi 4 Setan dari Gunung Kematian. Kau tau sendiri kemampuan mereka seperti apa", ujar Dewi Kipas Besi.
"Hemm, lalu siapa gadis gadis cantik yang mengiringi nya?",tanya Tapak Malaikat penasaran.
"Menurut berita, mereka berasal dari tempat berbeda-beda tapi memiliki kemampuan yang tak bisa diremehkan. Dengar dengar, Setan Pendek tewas di tangan gadis berpedang kembar tadi", Dewi Kipas Besi menjelaskan.
__ADS_1
Tapak Malaikat manggut-manggut saja.
Sementara itu, Panji Watugunung dan ketiga gadis nya sudah sampai di penginapan.
"Dinda Anggarawati, pemberian Ki Ajar Panitih masih kau simpan?", tanya Watugunung.
"Masih Kakang, kalau kita butuh tinggal ambil saja", jawab Anggarawati.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang penasaran dengan omongan mereka berdua.
Mereka memburu Dewi Anggarawati dan setengah berbisik Sekar Mayang bertanya,
"Memang apa pemberian itu?"
"Hanya obat", jawab Anggarawati santai.
"Memang obat apa?", kini giliran Ratna Pitaloka yang tanya.
Merasa kesal, Dewi Anggarawati segera menjawab,
"Obat kuat"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Hahahaha nah loo..
Jangan suka kepo..
Happy reading guys,
semoga sehat selalu.
Thanks for reading my novel 🙏🙏😁😁*
__ADS_1