
"Ampun Gusti Ganendra,
Kami juga tidak tahu apa apa dengan kejadian itu", ujar Setan Jenggot Putih sembari menata nafas agar tidak ketahuan berbohong.
Tapi dia keliru.
Mpu Ganendra adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu baca wajah. Sekecil apapun perubahan warna kulit yang terjadi pada orang yang di tanyai nya, dia akan langsung tahu.
Melihat perubahan warna kulit wajah Setan Kumis Putih dan pengaturan nafas yang dilakukan oleh Setan Jenggot Putih, Mpu Ganendra langsung tau bahwa mereka sedang berbohong.
Mpu Ganendra tersenyum sinis menatap wajah kedua pengawal pribadi Pangeran Rukmana itu.
"Dasar laknat,
Berani sekali kalian mencoba menipu ku. Sudah jelas kalian pelakunya, masih coba mengelabuhi", hardik Mpu Ganendra pada Sepasang Setan Putih.
Dua kakek tua itu saling berpandangan sejenak.
Setelah mengangguk pelan, mereka berdua segera melesat cepat ke arah Mpu Ganendra sambil menghantamkan lengan tangan mereka yang sudah di lindungi gelang baja.
Semua orang terkejut melihat kejadian itu.
Panji Watugunung dengan Ajian Halimun ajaran Ki Buyut Permana, langsung muncul tiba-tiba di hadapan Sepasang Setan Putih dan menghantam perut kedua kakek tua itu dengan kedua tangannya.
Bukkkkk
Karena kecepatan yang tidak bisa di ikuti mata biasa, Sepasang Setan Putih hanya bisa meraung saat hantaman Panji Watugunung telak menghajar perut mereka.
Dua kakek tua itu terpelanting ke belakang dan menyusruk tanah.
Melihat ulah dua pengawal pribadi nya itu, Pangeran Rukmana langsung naik pitam. Dia memang benci Adipati Tunggaraja tapi tidak dengan ayahnya.
Pangeran Rukmana melesat cepat menuju Sepasang Setan Putih dan mencabut kerisnya.
Setan Kumis Putih yang baru berdiri langsung di tikam oleh Pangeran Rukmana.
Jleppp!
Aarrgghhh
Setan Kumis Putih meraung keras. Tusukan keris Pangeran Rukmana langsung menembus ulu hati kakek tua itu. Setan Kumis Putih meregang nyawa dengan bersimbah darah.
Melihat kakaknya tewas, Setan Jenggot Putih segera menghantam bahu kiri Pangeran Rukmana. Putra kedua Mpu Ganendra yang tidak siap, langsung terjungkal ke depan Adipati Tunggaraja. Bahunya sakit sekali seperti ketiban batu besar.
Melihat itu, salah seorang punggawa Kadipaten Bojonegoro langsung mencabut pedang nya dan menebas tangan Setan Jenggot Putih segera.
Kakek tua itu terkejut melihat sabetan pedang mengancam tangan kanan nya, segera menggeser gelang baja nya untuk menangkis sabetan pedang.
Tranggg
Setan Jenggot Putih segera melompat ke arah Mpu Ganendra usai berhasil menangkis serangan punggawa Kadipaten Bojonegoro itu. Dia berusaha untuk menyerang paman Ratna Pitaloka itu dengan Ajian Tapak Setan Putih nya.
Kembali Panji Watugunung menghadang laju Setan Jenggot Putih dengan Ajian Halimun.
Deshhhhh
Tendangan keras kaki kanan nya membuat tubuh kakek tua itu terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk.
"Kenapa kau bernafsu untuk menyerang Mpu Ganendra, kakek tua?", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Setan Jenggot Putih.
Sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibir nya, Setan Jenggot Putih menyeringai lebar. Sambil perlahan berdiri, dia menatap tajam ke arah Mpu Ganendra.
"Dia sudah menghabisi banyak saudara seperguruan ku.
Guruku Maharesi Mpu Lingga, memerintahkan semua anggota Padepokan Bukit Gandarwa untuk mencari cara menghabisi Mpu Ganendra.
Hari ini, aku yang akan mencabut nyawa nya", teriak Setan Jenggot Putih dengan lantang.
Usai berkata demikian, tangan kedua kakek itu segera mengepulkan asap putih dari ajian andalan nya Tapak Setan Putih.
Kakek tua itu segera melompat ke arah Mpu Ganendra sambil menghantamkan tangan kanan nya ke arah bahu Mpu Ganendra.
Namun lagi dan lagi, Panji Watugunung segera menghadang gerakan nya.
"Tak jera juga kau rupanya kakek tua", ucap Panji Watugunung yang segera merapal Ajian Waringin Sungsang ajaran Warok Suropati.
Sinar hijau kebiruan Panji Watugunung langsung mengikat tubuh Setan Jenggot Putih yang sejengkal lagi mencapai tujuan nya.
Rasa sakit mulai menyerang seluruh urat nadi di tubuh Setan Jenggot Putih. Kakek tua itu meraung-raung kesakitan.
Seluruh orang di tempat itu nampak terkejut melihat Panji Watugunung mengeluarkan puncak ilmu kanuragan nya. Jika Ajian Brajamusti bersifat menghancurkan secara langsung, maka Ajian Waringin Sungsang perlahan menghisap dan menghancurkan daya hidup seseorang.
Tubuh Setan Jenggot Putih mulai keriput dan menghitam. Saat Ajian Waringin Sungsang mencapai puncak, Panji Watugunung segera menghantam tubuh Setan Jenggot Putih dengan keras.
__ADS_1
Bukkk
Blammmm!!!
Tubuh Setan Jenggot Putih meledak dan hancur menjadi debu. Pangeran Rukmana yang sedang terluka dalam, terbelalak matanya. Andai saja di warung makan tempo hari Panji Watugunung bertindak, bukan tidak mungkin dia yang akan tewas seperti itu.
Maharesi Mpu Astagina tersenyum tipis melihat kejadian itu. Kemudian meminta semua orang untuk berkumpul di serambi kediaman nya.
Setelah semua duduk bersila di serambi kediaman Maharesi Mpu Astagina, Sang Acharya Pertapaan Waruga itu membuka percakapan.
"Ganendra,
Katakan pada ku. Ada masalah apa sehingga Padepokan Bukit Gandarwa begitu bernafsu untuk mengambil nyawa mu?", tanya Mpu Astagina pada Mpu Ganendra yang duduk di sebelah nya.
Hemmmm
Bekas Adipati Bojonegoro itu menghembuskan nafas panjang nya.
"Dulu,
Padepokan itu membuat kekacauan di wilayah perbatasan Kadipaten Bojonegoro dan Pakuwon Lwaram. Aku dan Akuwu Lwaram bekerja sama menghancurkan mereka hingga nyaris tak tersisa. Namun Guru besar mereka, Maharesi Mpu Lingga sedang bersemedi di Kucur Pitu, selamat dari penyerbuan kami.
Dia kemudian memindahkan Padepokan Bukit Gandarwa ke selatan Kadipaten Bojonegoro yang menjadi sengketa perbatasan antara kami. Alhasil baik Bojonegoro maupun Lwaram tidak menyentuh wilayah itu karena ego kami.
Aku tidak menduga bahwa setelah sekian lama dendam mereka kepada ku tak pernah padam", ujar Mpu Ganendra sambil mengelus jenggotnya yang memutih.
"Mereka harus di hilangkan dari muka bumi ini Ganendra,
Itu sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk mencegah mereka berbuat kerusakan di muka bumi", Maharesi Mpu Astagina menatap wajah Mpu Ganendra sambil tersenyum tipis.
"Saya mengerti Maharesi,
Tunggaraja,
Dengarkan aku. Kawal secara pribadi Ratna Pitaloka sampai ke batas wilayah Kadipaten Bojonegoro saat Kangmbok mu ingin pulang ke Panjalu", perintah Mpu Ganendra sambil menatap wajah Adipati Tunggaraja yang dari tadi hanya diam saja.
"Tapi Romo, kenapa harus saya sendiri yang mengawal Kangmbok Pitaloka?", tanya Adipati Tunggaraja dengan nada tidak suka.
"Hah?!
Kenapa aku harus punya anak bodoh seperti kalian berdua? Dewata benar benar menghukum ku..
Dengar Tunggaraja,
Jika menurut hukum Kitab Kutara Manawa Dharma, seharusnya Kakang Gajendra yang menjadi Adipati Bojonegoro. Dengan demikian Ratna Pitaloka lebih berhak atas singgasana Kadipaten Bojonegoro dari pada kau.
"Ja-jangan Romo. Baiklah akan aku kawal Kangmbok Pitaloka sampai perbatasan Bojonegoro", ujar Adipati Tunggaraja dengan cepat.
Mendengar jawaban Adipati Tunggaraja, Pangeran Rukmana langsung tersenyum tipis. Sebuah gagasan segera melintas di kepala nya.
Siang itu Adipati Tunggaraja segera memerintahkan kepada seorang punggawa Kadipaten Bojonegoro yang mengawal nya untuk mempersiapkan sepasukan kecil prajurit Bojonegoro dengan jumlah sekitar 300 prajurit untuk mengiringi langkah sang Adipati mengawal Ratna Pitaloka dan Panji Watugunung.
Sedangkan Pangeran Rukmana diam diam mengirim sebuah pesan lewat merpati surat ke pemimpin pasukan pendekar yang dipersiapkan nya untuk memberontak.
Malam itu Ratna Pitaloka terus berbincang hangat dengan sang kakek, karena besok dia akan pulang ke Panjalu.
Pagi tiba dengan rintik hujan gerimis wilayah Pertapaan Waruga. Usai gerimis mereda, Rombongan Panji Watugunung berpamitan pada Maharesi Mpu Astagina. Nyai Sati dan Rara Wulan tidak jadi melanjutkan perjalanan ke kota Kambang Putih karena ada sesuatu yang harus dilakukan di Perguruan Bukit Wadang. Mereka memilih mengikuti rombongan Panji Watugunung menuju selatan.
Ratna Pitaloka segera memeluk tubuh tua kakek nya itu sesaat sebelum dia melompat ke atas kuda nya. Perlahan mereka meninggalkan tempat itu.
Maharesi Mpu Astagina terus menatap ke arah rombongan Panji Watugunung yang di kawal Adipati Tunggaraja dan pasukan Bojonegoro sampai mereka menghilang di tikungan jalan.
Setelah setengah hari perjalanan, mereka sampai di tapal batas wilayah Kadipaten Bojonegoro. Tak disangka, dari arah depan muncul sekitar 200 orang pendekar berpakaian serba hitam. Mereka adalah orang-orang Padepokan Bukit Gandarwa yang mendukung Pangeran Rukmana.
Seorang kakek tua berjenggot panjang dan berpakaian layaknya seorang pertapa dengan kain putih melintang di dadanya berdiri di depan orang orang itu. Sebuah tongkat berwarna hitam dengan ukiran aneh ada ditangan kanan kakek tua itu. Dialah Maharesi Mpu Lingga, salah satu dari sekian banyak tokoh golongan sesat yang memuja Batari Durga, dengan upacara pengorbanan darah nya.
"Berhenti kalian!", teriak Maharesi Mpu Lingga sambil mengibaskan tangannya yang menimbulkan angin kencang menyapu kearah Rombongan Panji Watugunung dan Adipati Tunggaraja.
Kuda kuda langsung meringkik keras dan menghentikan langkah nya saat angin menerpa.
"Hai Resi Tua,
Ada urusan apa kau menghentikan langkah kami? Apa kau sudah tidak sayang dengan nyawa mu?", teriak seorang tumenggung muda yang ada di samping Adipati Tunggaraja.
Mata kakek tua itu mendelik marah kearah tumenggung muda. Sebuah sinar ungu pekat tercipta dari ujung jari telunjuk Maharesi Mpu Lingga dan saat jari itu diarahkan ke tumenggung muda, sinar ungu pekat melesat bagai kilat menembus dahi sang tumenggung muda.
Plassshh!
Dahi sang tumenggung muda langsung bolong tembus belakang kepala. Punggawa Kadipaten Bojonegoro itu langsung jatuh dari kudanya dan tewas seketika.
"Banyak omong!
Ada lagi yang mau mampus seperti dia?", teriak Maharesi Mpu Lingga yang membuat seluruh orang menjadi pucat pasi kecuali Panji Watugunung yang tersenyum dari balik capingnya.
__ADS_1
"Maaf pertapa,
Aku ingin bertanya kepada mu. Mengapa kau menghentikan langkah kami?", tanya Panji Watugunung dengan sopan.
"Nah begini kan enak di dengar.
Pemuda bercaping, aku suka dengan sikap mu yang terdidik.
Yang bernama Ratna Pitaloka dan Watugunung bisa melanjutkan perjalanan. Yang lain tetap tinggal di sini", Maharesi Mpu Lingga menatap tajam ke arah pasukan Bojonegoro. Adipati Tunggaraja yang kemampuan beladiri nya tidak terlalu tinggi, langsung ciut nyalinya.
"Apa maksudnya itu, pertapa? Apa ada yang memerintahkan kepada mu untuk melepaskan Ratna Pitaloka dan Watugunung", tanya Panji Watugunung dengan sopan santun.
Hahahaha
"Seorang pangeran meminta ku untuk menghabisi nyawa semua orang kecuali dua orang itu tadi", tawa Maharesi Mpu Lingga terdengar keras.
"Jadi kalian suruhan Rukmana?", tanya Adipati Tunggaraja dengan penuh ketakutan.
"Kalau benar, kau mau apa ha?", hardik Mpu Lingga pada Adipati Tunggaraja.
Penguasa Bojonegoro itu langsung terdiam seketika. Melihat tumenggung nya di bunuh dengan mudah, bukan hal yang sulit bagi kakek tua itu untuk membunuhnya.
Di tengah ketegangan yang dirasakan oleh semua orang, Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya dan mendekati kakek tua itu segera.
"Maaf pertapa,
Kalau hanya aku dan Ratna Pitaloka yang di bebaskan, aku tidak bisa menerima tawaran mu. Keempat perempuan itu adalah keluarga ku.
Jika kau hanya melepaskan aku dan Ratna Pitaloka, maka seumur hidup aku akan di cap sebagai anak yang tidak berbakti. Aku minta lepaskan kami berenam, dan yang lain terserah kepada mu", tawar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Perintah nya hanya Ratna Pitaloka dan Watugunung. Yang lain aku tidak bisa melepaskan", ujar Maharesi Mpu Lingga seraya melotot ke arah Panji Watugunung.
"Kalau begitu jangan salahkan aku bertindak diluar batas, pertapa.
Aku akan membela keluarga ku, meski harus mengorbankan nyawa ku sendiri", Panji Watugunung segera bersiap-siap untuk bertarung.
Maharesi Mpu Lingga langsung melompat sambil mengayunkan tongkatnya ke arah Panji Watugunung.
Whhuuuugghh
Panji Watugunung segera berkelit menghindari gebukan tongkat yang mengincar kepala nya. Pertarungan beda kepentingan itu segera berlangsung di perbatasan Kadipaten Bojonegoro.
Dewi Naganingrum langsung melompat ke arah seorang pendekar botak yang mengayunkan sebuah senjata berbentuk cakar dengan tiga ujung runcing.
Whussss
Naganingrum berkelit gesit lalu mengarahkan cakar tangan nya pada bahu si pendekar botak.
Sraaaaakkkkkk!!
Bahu si pendekar botak langsung robek saat cakar Naganingrum mengoyak kulit dan dagingnya.
"Sok atuh, hayu maju..
Biar eneng cakar, supaya kau jadi singkong cincang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏