Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Si Pembuat Onar


__ADS_3

**


Adipati Tunggaraja dan pasukannya segera memasuki istana Pakuwon Nangkan. Penjaga gerbang istana Pakuwon langsung berlari menuju ke dalam istana untuk memberi tahu bahwa ada tamu agung dari istana Kadipaten Bojonegoro yang datang ke tempa mereka.


Akuwu Nangkan, Mpu Ronggo setengah berlari menuju ke pintu gerbang istana Pakuwon untuk menyambut kedatangan Adipati Tunggaraja dan pasukannya.


"Selamat datang di Pakuwon Nangkan Gusti Adipati.


Hamba Ronggo memberikan hormat kepada Gusti Adipati dan segenap bawahannya", ujar Akuwu Nangkan sambil menyembah kepada Adipati Tunggaraja.


"Ya ya ya...


Aku terima penghormatan mu Mpu Ronggo, malam ini aku dan pasukan Bojonegoro ingin bermalam disini.


Siapkan tempat untuk kami terlebih untuk kedua saudara ku ini", perintah Adipati Tunggaraja pada Akuwu Mpu Ronggo sambil menunjuk Panji Watugunung dan ketiga istrinya.


Mpu Ronggo melirik kearah Panji Watugunung yang terlihat pucat wajah nya sebentar, kemudian menghormat pada Adipati Bojonegoro itu.


"Mpu Ronggo siap melaksanakan perintah Gusti Adipati".


Malam itu Panji Watugunung terus melakukan pemulihan diri di kamar peristirahatan nya dengan di temani Dewi Srimpi sedang Dewi Naganingrum dan Ratna Pitaloka berjaga jaga di sekitar tempat itu.


Panji Watugunung duduk bersila dengan kedua tangannya memegang kedua lututnya. Hawa panas berputar di dalam tubuhnya. Menyembuhkan setiap bagian tubuh yang semula sakit perlahan menjadi seperti sedia kala.


Menjelang tengah malam, keadaan tubuh Panji Watugunung sudah pulih seperti sebelumnya. Panji Watugunung memutar tangan kemudian melepaskan semedi dengan membuka matanya.


Ratna Pitaloka sudah tertidur di kursi dengan memeluk pedang nya, sementara Dewi Naganingrum tidur dengan bersandar pada daun pintu kamar.


Hanya Dewi Srimpi yang masih bertahan di sampingnya dengan menyeruput wedang jahe untuk mengusir dingin malam.


Panji Watugunung tersenyum penuh arti.


Perlahan lelaki itu menggendong Ratna Pitaloka dan menidurkan nya di ranjang, kemudian Dewi Naganingrum pun dia pindah ke samping Ratna Pitaloka.


Sementara itu Dewi Srimpi yang masih terjaga segera menyusul Panji Watugunung kearah tempat tidur. Setelah Panji Watugunung merebahkan tubuhnya, Dewi Srimpi segera mendekatkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di dada sang pangeran Daha.


Malam semakin larut. Suara burung malam bersahutan di antara ranting pohon yang gelap.


Suasana terasa begitu sunyi, jangkrik dan belalang terus bernyanyi dari balik rumah mereka masing-masing.


Pagi menjelang tiba.


Kokok ayam jantan bersahutan pertanda bahwa waktunya untuk memulai kehidupan baru. Nampak langit timur mulai memerah pertanda sang Surya sebentar lagi menyapa bumi.


Panji Watugunung menggeliat perlahan dari tidurnya. Saat dia membuka matanya, tiga wajah cantik istri nya sudah tersenyum melihat keadaan sang suami yang sudah pulih.


Dewi Srimpi segera meraba dahi sang suami, sudah tidak ada jejak demam disana.


Begitu duduk, Naganingrum segera mengulurkan secangkir wedang jahe pada sang suami.


"Akang Kasep,


Habis ini kita mau kamana?", tanya Naganingrum sambil tersenyum tipis.


"Aku ingin pulang ke Katang-katang, kangen dengan saudara saudara kalian yang ada di sana. Dan yang pasti, sebentar lagi Ayu Galuh juga melahirkan bukan?", jawab Panji Watugunung yang segera di sambut anggukan kepala dari semua istri nya.


"Sebaiknya kita berangkat pagi ini Kakang, kita tidak boleh berlama lama berada di sini.


Urusan Bojonegoro bukan masalah kita, walaupun aku masih terhitung kerabat dekat tapi aku sudah tidak ada ikatan apa apa dengan Kadipaten Bojonegoro.


Lagipula Bojonegoro itu wilayah Jenggala, Kakang juga tidak punya kekuasaan disini. Biarlah urusan Bojonegoro diselesaikan oleh orang Bojonegoro sendiri", ujar Ratna Pitaloka sambil tersenyum tipis.


Panji Watugunung mengangguk tanda setuju setelah mendengar ucapan Ratna Pitaloka. Mereka segera bersiap untuk berangkat melanjutkan perjalanan pulang ke Katang-katang.


Walaupun Adipati Tunggaraja memohon agar mereka membantu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di Bojonegoro, namun dengan tegas Panji Watugunung menolak nya.


Ratna Pitaloka kemudian berbisik pada Adipati Tunggaraja.


"Aku tau tujuan mu menahan kami Adipati Tunggaraja.


Kau ingin memanfaatkan kepandaian kami dalam olah kanuragan untuk mengejar Rukmana bukan?", Ratna Pitaloka tersenyum tipis.


Adipati Tunggaraja langsung tersipu malu mendengar ucapan Ratna Pitaloka.


"Kangmbok Pitaloka memang pintar", ujar Adipati Tunggaraja sambil tersenyum kecut.


"Aku punya saran untuk mu.


Kau ambil Rara Wulan sebagai istri, maka selanjutnya Nyai Sati akan membantu mu mengejar Rukmana", usai berkata demikian Ratna Pitaloka segera bergegas mendekati Panji Watugunung.


Mata Adipati Tunggaraja langsung melebar mendengar saran dari Ratna Pitaloka. Seketika dia melirik ke arah Rara Wulan. Gadis itu cantik, tidak rugi bila menikahi nya sekaligus memperoleh bantuan berharga untuk menguatkan kedudukannya sebagai Adipati Bojonegoro.


Melihat Rara Wulan dan Nyai Sati hendak mengikuti langkah Panji Watugunung, buru buru Adipati Tunggaraja menghadangnya.

__ADS_1


"Nyai Sati,


Aku menyukai Rara Wulan. Bolehkah aku meminangnya untuk ku jadikan istri?", ucap Adipati Tunggaraja sambil tersenyum penuh arti. Nyai Sati terkejut mendengar ucapan Adipati Tunggaraja, begitu juga Rara Wulan. Mereka tidak menyangka bahwa seorang Adipati mengajukan permohonan pinangan kepada Rara Wulan.


Ratna Pitaloka yang sudah naik ke atas kuda nya, langsung mengedipkan sebelah matanya saat Adipati Tunggaraja melirik kearah nya.


Rombongan Panji Watugunung segera meninggalkan istana Pakuwon Nangkan menuju ke arah tepi Pakuwon Lwaram dengan menyusuri jalan di tepi sungai Bengawan Solo.


Kuda mereka terus berpacu.


Di tepi sebuah dermaga penyeberangan, mereka menyeberangi sungai Bengawan Solo dengan bantuan kapal besar dengan upah 1 kepeng perak per orang.


Usai menyeberang, mereka beristirahat sejenak untuk mengisi perut di sebuah rumah makan dan memberi rumput pada tunggangan mereka. Kemudian mereka terus memacu kudanya menuju ke arah selatan.


Diujung tenggara Pakuwon Lwaram yang merupakan wilayah Kadipaten Matahun, tepatnya di utara sungai Brantas mereka berhenti.


Matahari mulai memerah di ufuk barat pertanda tak lama lagi malam akan tiba.


Di sebuah wanua kecil yang memiliki dermaga penyeberangan, mereka berhenti di sebuah warung makan dekat dermaga.


"Seperti nya kita akan kemalaman Kakang jika memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan.


Sebaiknya kita mencari tempat peristirahatan di sekitar tempat ini", usul Ratna Pitaloka sambil menatap langit sore yang berwarna merah.


"Benar Dinda,


Sebaiknya bermalam disini saja. Coba kita tanya ke pemilik warung makan itu. Pasti dia tahu tempat yang bisa kita gunakan untuk bermalam", ujar Panji Watugunung yang segera melompat turun dari kudanya.


Ketiga istrinya segera mengikuti langkah sang suami.


Mereka bergegas menuju ke sebuah warung makan yang terlihat hendak menutup lapaknya.


"Permisi Kisanak,


Di sekitar tempat ini apa ada tempat untuk menginap?", tanya Panji Watugunung dengan sopan.


Lelaki paruh baya itu segera menatap ke arah Panji Watugunung dan ketiga istrinya dengan tatapan mata menyelidik. Setelah merasa yakin bahwa rombongan itu orang baik-baik, segera dia tersenyum.


"Di tempat ini, tidak ada penginapan kisanak. Tapi kalau kau mau menginap barang semalam, bisa di rumah ku tapi ya seadanya.


Bagaimana?", si lelaki paruh baya itu menawarkan jasa.


"Terimakasih atas bantuannya Kisanak. Jangan khawatir, kami pasti membayar biaya menginap nya", Panji Watugunung tersenyum lega.


Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera mengikuti langkah Ki Rampun dengan menuntun kuda mereka masing-masing.


Seorang wanita paruh baya sedang mengunyah sirih saat mereka tiba. Pandangan mata nya tertuju pada 3 gadis cantik dan seorang pemuda yang mengenakan caping dari anyaman bambu.


"Siapa mereka Kang Rampun?", tanya si wanita paruh baya sambil meludah akibat sirih dan pinang yang sedang di kunyah nya.


"Ini Nyi, mereka kemalaman di jalan. Kebingungan tempat menginap. Makanya mereka aku ajak kemari", jawab Ki Rampun sambil meletakkan keranjang bambu yang berisi beberapa barang dagangan warungnya yang tidak habis terjual. Pria paruh baya itu kemudian menyerahkan sekantong kecil kepeng perak dan perunggu yang merupakan hasil dagang mereka hari ini.


"Hemmmm,


Menginap disini boleh tapi harus bayar", ujar wanita paruh baya sambil menatap ke arah Panji Watugunung dan ketiga istrinya.


Naganingrum segera merogoh kantong bajunya kemudian mengulurkan 4 kepeng perak kepada perempuan tua itu.


"Ini cukup kan Nyai?", tanya Naganingrum sambil tersenyum.


Mata perempuan tua yang bernama Nyai Sagopi itu langsung melebar melihat kepeng perak di tangan Dewi Naganingrum.


"Ya ya ya.. Cukup cukup..


Mari silahkan masuk nisanak.


Waginten, Sulami..


Siapkan tempat tidur untuk mereka", perintah Nyai Sagopi pada dua pekerja nya itu.


Dua gadis muda itu segera mengangguk dan bergegas menuju serambi depan rumah Ki Rampun. Mereka menggelar tikar dari daun pandan sebagai alas tidur untuk Panji Watugunung dan ketiga istrinya.


Malam itu setelah makan malam seadanya, mereka beristirahat serambi depan yang sudah di siapkan untuk tempat tidur mereka.


Pagi hari tiba.


Panji Watugunung memakai baju pengembaraan nya dengan di bantu Dewi Srimpi yang sudah lebih dulu berdandan.


Ratna Pitaloka yang baru selesai mandi, juga mulai berganti baju, sementara itu Dewi Naganingrum mulai mengikat buntalan kain berisi baju baju ganti yang dia pakai selama perjalanan.


Usai mereka berempat selesai bersiap, Nyai Sagopi mengantarkan sarapan pagi untuk mereka. Meski hanya ketela rambat goreng, pisang rebus dan wedang jahe tapi itu cukup untuk memberikan tenaga pada mereka.


Saat mereka asyik menikmati makanan pagi, Waginten salah satu pekerja di warung makan milik keluarga Ki Rampun, berlari masuk ke serambi kediaman Nyai Sagopi. Wajah nya terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Ada apa Waginten?


Kenapa kau pulang pagi pagi begini?", tanya Nyai Sagopi pada pekerja nya itu.


"I-itu Nyai, di dermaga Bakung ada orang mengamuk.


Sudah di kepung banyak orang tapi dia tetap menang Nyai. Saya takut Nyai", ujar Waginten sambil memucat wajah nya.


Panji Watugunung dan ketiga istrinya saling berpandangan sejenak kemudian mereka menyelesaikan makan pagi nya dengan cepat.


"Nyai Sagopi,


Kami berterima kasih atas bantuannya. Kami mohon pamit untuk meneruskan perjalanan", ujar Panji Watugunung segera.


"Iya, berhati-hati lah dalam perjalanan. Semoga selamat sampai di rumah", jawab Nyai Sagopi kemudian.


Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera keluar dan melepaskan ikatan pada tali kekang kudanya di kandang. Mereka segera melompat ke atas kuda mereka masing masing menuju ke Dermaga Wanua Bakung.


Seputar dermaga penyeberangan penuh dengan orang. Mereka berkerumun dari jarak yang cukup jauh. Panji Watugunung dan ketiga istrinya yang baru sampai, segera melompat turun dari kudanya kemudian mengikat tali kekang kudanya pada geladakan di salah satu warung yang ada di samping dermaga.


Seorang lelaki muda berbadan besar tengah bertarung dengan dua orang jagoan yang dipanggil oleh kepala keamanan dermaga.


Si lelaki berbadan besar dengan segera menghindar dari sabetan pedang salah satu jagoan yang bertubuh ceking. Melihat lawan berhasil menghindar, si jagoan bertubuh gempal mengayunkan pedangnya mengincar leher si pembuat onar.


Lelaki bertubuh besar itu melompat ke udara sambil menyepak bahu si jagoan badan gempal.


Deshhhhh


Jagoan bertubuh gempal itu langsung terjungkal sementara si pembuat onar mendarat dengan sempurna di belakangnya. Laki-laki muda itu kemudian berlari menuju ke jagoan bertubuh ceking sambil mengayunkan pedangnya.


Sreeetttttt


Si jagoan bertubuh ceking berusaha untuk menangkis namun karena kalah tenaga, dia sampai terdorong mundur menahan sabetan pedang si pembuat onar. Laki-laki muda itu lantas menendang perut si jagoan ceking dengan keras.


Bukkkkk


Oughhh


Si jagoan ceking terjengkang ke belakang. Dia segera berdiri dan menjauh dari si pembuat onar dengan memegangi perutnya yang sakit.


Si laki laki muda bertubuh besar itu menyeringai lebar sambil mengacungkan pedangnya kearah para penonton di sekitar dermaga penyeberangan sungai Brantas itu.


"Ayo siapa lagi yang ingin babak belur?


Cepat maju sini", teriak si pembuat onar itu dengan sombongnya.


Dari kerumunan penonton yang ada di situ, terdengar suara keras yang membuat semua orang menoleh ke arah nya.


"Aku"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁😁😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2