Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kejar Adipati Gandakusuma


__ADS_3

Dengan cepat, Senopati Sembu menghantamkan tapaknya yang sudah diliputi sinar biru pekat.


Segumpal sinar biru pekat berhawa dingin dan berbau busuk menyengat seperti bangkai manusia menerabas cepat kearah Panji Watugunung.


Siuuuttttt


Saat sinar mendekat, tubuh Panji Watugunung menghilang. Sinar biru pekat itu segera menghajar kuda tunggangan nya.


Blammmm!!


Terdengar bunyi ledakan keras dan kuda tunggangan Panji Watugunung langsung tewas dengan tubuh membusuk seperti bangkai.


Itulah kekuatan Ilmu Tapak Setan Mayat, ajian andalan Perguruan Gunung Selatan.


Sekejap mata, Panji Watugunung sudah berdiri 1 tombak di belakang kudanya saat Senopati Sembu menginjakkan kakinya ke tanah.


Hemmmm


"Rupanya kau orang Perguruan Gunung Selatan, perwira tua", ujar Panji Watugunung yang mengenali jurus Senopati Sembu yang baru dia keluarkan.


Hahahaha


Tawa Senopati Sembu menggelegar bagai gemuruh petir saat hujan.


"Bagus kalau kau tau,


Kau beruntung bisa mati ditangan ku, pemuda tengik. Sekarang bersiaplah untuk mati", ujar Senopati Sembu yang segera bersiap dengan kuda-kuda jurus andalan nya.


Setelah menjejak tanah dengan keras, Senopati Sembu melesat ke arah Panji Watugunung. Tangan kanan nya bersiap untuk memukul dada sang Pangeran Daha.


Ayunan pukulan tangan berhawa dingin mengancam nyawa, membuat Panji Watugunung segera berkelit menghindari sambil menyapu kaki perwira tinggi Paguhan itu dengan cepat.


Senopati Sembu segera menarik serangannya kemudian mundur selangkah, lalu memutar tubuhnya sambil menyikut ke arah dada.


Pertarungan jurus tangan kosong antara silat Padas Putih melawan silat Gunung Selatan berlangsung cepat dan sengit. Masing-masing mengeluarkan jurus kanuragan andalannya untuk mengalahkan lawannya.


20 jurus sudah dilewati, dan kelihatan bahwa Senopati Sembu mulai terdesak.


Senopati Paguhan itu menghantamkan pukulan kearah dada lawannya, namun Panji Watugunung segera menyongsong dengan tapaknya.


Blarrrrr


Ledakan keras terdengar dari benturan dua tenaga dalam. Senopati Sembu terdorong mundur 5 langkah sedang Panji Watugunung hanya bergeser sedikit ke belakang. Tangan kanan Senopati Sembu kebas dan ngilu, tanda tenaga dalam nya dibawah dua tingkat dari Panji Watugunung.


Dengan penuh amarah, pria paruh baya itu mencabut sebilah keris pusaka dari pinggang nya. Kemudian berlari cepat menuju Panji Watugunung.


Melihat lawan nya menyerang dengan senjata pusaka, Panji Watugunung segera meraih keris Kyai Naga Panjalu di pinggang nya.


Tusukan keris pusaka Senopati Sembu mengarah ke ulu hati Sang Pangeran Daha. Namun, Panji Watugunung menangkis tusukan itu dengan keris pusaka nya.


Tringgg


Pertarungan jarak dekat itu berlangsung menegangkan. Sabetan keris Senopati Sembu mengarah ke dada Watugunung, tapi pria itu bergegas berkelit menghindari sambil menyapu kaki sang perwira prajurit Paguhan.


Senopati Sembu melompat ke udara menghindari sabetan keris Panji Watugunung. Melihat lawan nya berhasil menghindar, dengan Ajian Sepi Angin nya, Panji Watugunung melesat cepat menghadang langkah sang pemimpin pasukan Paguhan yang hendak menjejak tanah. Kembali Keris Kyai Naga Panjalu di sabetkan pada dada Senopati Sembu.


Perwira tinggi prajurit Paguhan itu terkejut melihat serangan cepat dari Watugunung dan berusaha mundur namun ujung keris masih merobek dan melukai dadanya.


Senopati Sembu menggeram marah melihat luka melintang di dadanya.


"Bocah tengik,


Akan ku cincang tubuh mu!".


Setelah berteriak demikian, Senopati Sembu segera merapal Ajian Tapak Mayat Setan. Tangan kiri nya diliputi sinar biru pekat dan berbau busuk menyengat seperti bangkai manusia.


Melihat lawan nya sudah siap dengan ajian andalan nya, Panji Watugunung segera merapal Ajian Tameng Waja. Seketika sinar kuning keemasan melindungi seluruh tubuhnya.


Senopati Sembu segera melompat tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kiri nya kearah Panji Watugunung.


Hyaaaaaaaaatttt!!!


Sinar biru pekat berbau busuk bergulung-gulung menerjang kearah Panji Watugunung.


Dhuarrrr


Ledakan keras terdengar dari benturan dua ajian andalan ini. Senopati Sembu menyeringai lebar melihat ajian andalan nya telak menghantam Panji Watugunung.


Dengan bermaksud memenggal kepala Panji Watugunung, dia melesat turun sambil menyabetkan kerisnya kearah leher sang pemimpin pasukan Daha.

__ADS_1


Traanggg


Saat keris pusaka Senopati Sembu menyentuh kulit leher Panji Watugunung yang masih terbungkus asap akibat ledakan dahsyat tadi, keris itu seperti membentur logam keras.


Senopati Sembu melotot seketika saat melihat Panji Watugunung sedang tersenyum kearahnya. Tangan kiri Watugunung yang sudah diliputi sinar putih kebiruan dari Ajian Guntur Saketi langsung menghantam dada kanan Senopati Sembu.


Blammmm!!


Dada kanan Senopati Sembu langsung bolong tembus punggung nya. Senopati Sembu mendelik sesaat kemudian tewas. Setelah tubuh nya jatuh ke tanah, dengan cepat Panji Watugunung menebas leher Senopati Sembu dengan sebilah pedang dari prajurit Daha yang telah tewas.


Crashhhh


Tubuh Senopati Sembu terpisah dengan kepala nya. Segera dia menjambak rambut kepala Senopati Sembu dan mengangkat ke atas sambil berteriak lantang.


"Hentikan perang!


Senopati Paguhan sudah tewas!"


Mendengar suara keras Panji Watugunung yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi, membuat seluruh pasukan dari dua kelompok yang bertarung berhenti bergerak. Semua orang menoleh ke arah Panji Watugunung yang berdiri tegak sambil mengangkat kepala Senopati Sembu yang berlumuran darah.


Bekel Wratsangka segera meletakkan tombaknya diikuti oleh Demung Kandaga. Seluruh prajurit Paguhan segera meletakkan senjatanya.


Namun Demung Gempi yang tidak terima atas kematian sahabat nya segera melompat ke arah Panji Watugunung sambil menusukkan pedang nya. Warigalit yang sedang bersiaga, langsung melempar Tombak Angin nya menyongsong Demung Gempi.


Creeppp


Oughhh


Demung Gempi terpental ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dia tewas dengan Tombak Angin menancap di dada nya.


"Ayo siapa lagi yang ingin bertarung?", tantang Warigalit sambil menatap tajam ke arah prajurit Paguhan yang sudah berlutut. Mereka semua menunduk, tanpa bersuara.


Senopati Narapraja segera mendekati Panji Watugunung.


"Selanjutnya bagaimana Gusti Pangeran?", tanya Senopati Narapraja segera.


"Kau urus mereka, aku ada urusan penting sejenak.


Kakang Warigalit, ayo ikut aku", usai berkata demikian, Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda dari seorang prajurit kemudian menggebrak kuda kearah kota Kadipaten Paguhan. Warigalit segera mengikuti langkah sang adik seperguruannya.


Sementara itu, di istana Kadipaten Paguhan terjadi keributan saat pasukan Daha yang di pimpin oleh Ludaka berhasil mendobrak pintu gerbang istana.


"Celaka Gusti Adipati,


"APAAA???!!


Bagaimana mungkin bisa mereka menyerang kemari sedang belum ada kabar tentang perang di Setubanda?", Adipati Gandakusuma terkejut mendengar ucapan Patih Nala Gupita.


"Pasukan Daha hanya sedikit yang menyerang kemari Gusti Adipati, tapi jumlah mereka lebih banyak dari pasukan kita yang menjaga istana Kadipaten", lapor Patih Nala Gupita.


Tiba tiba Adipati Gandakusuma teringat ucapan Mpu Sukra kemarin. Andai saja dia mendengar ucapan penasehat nya itu, pasti dia tidak kebingungan seperti sekarang ini. Penyesalan memang selalu datang belakangan.


"Mari Gusti,


Kita mundur dari istana mumpung pasukan kita masih mampu bertahan meski tidak terlalu lama", ujar Patih Nala Gupita dengan penuh ketakutan.


Setelah menghela nafas panjang, Adipati Gandakusuma segera mengikuti langkah Patih Nala Gupita. Gandakusuma dan keluarga nya melarikan diri lewat gerbang barat istana Kadipaten dengan diiringi 50 prajurit.


Pertarungan sengit terjadi di dalam istana Paguhan. Sekuat tenaga para prajurit Paguhan mempertahankan istana namun mereka kalah jumlah dan kemampuan beladiri. Satu persatu para prajurit Paguhan tewas berjatuhan.


Ratna Pitaloka segera menebas leher prajurit Paguhan yang menghalangi jalan nya.


Crashhhh..


Sang prajurit langsung tewas tersungkur dengan leher nyaris putus. Segera Ratna Pitaloka berlari menuju balai paseban Kadipaten Paguhan untuk berkumpul dengan istri Panji Watugunung yang lain.


"Bagaimana Mayang? Apa Gandakusuma ada di dalam keputran?", tanya Ratna Pitaloka sambil menyarungkan kembali pedangnya.


"Tidak ada Kangmbok, keputran Paguhan kosong. Tidak ada orang disana", jawab Sekar Mayang seraya mengusap peluh di keningnya.


Tak berapa lama kemudian, Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum juga datang dengan menyeret seorang dayang istana.


"Di ruang pribadi Adipati juga tidak ada Kangmbok Pitaloka", ujar Dewi Srimpi menatap wajah Ratna Pitaloka.


"Kita bisa menanyai dayang ini. Lamun anjeunna embung nyarios, sok kita hajar saja dia Ceu", ancam Dewi Naganingrum sambil melotot ke arah dayang istana Kadipaten Paguhan itu.


Mendengar ancaman dari Naganingrum, dayang istana itu menggigil ketakutan.


"Ampun.. ampuni hamba Gusti..

__ADS_1


Hamba hanya mendengar, Gusti Adipati menuju ke Pakuwon Purwa. Mohon ampun, tolong saya jangan dibunuh", si dayang istana berlutut di hadapan mereka.


Ludaka yang baru sampai, langsung menghadap pada Ratna Pitaloka.


"Istana Paguhan sudah kita kuasai Gusti Selir, para prajurit yang menyerah sudah kita kumpulkan di Kepatihan. Para dayang, pekatik, dan istri para pembesar istana yang tidak ikut kabur sudah kita satukan di Katumenggungan", lapor Ludaka segera.


"Jangan ada yang menjarah harta benda dari istana ini, aku mau istana ini tetap utuh", perintah Ratna Pitaloka sambil menatap ke arah para prajurit Daha yang ada disana.


Dari gerbang utara istana kadipaten Paguhan, Panji Watugunung dan Warigalit berkuda dengan cepat menuju ke arah bangsal paseban.


"Dinda sekalian,


Kalian tidak apa apa?", tanya Panji Watugunung usai melompat turun dari kudanya.


"Kami tidak apa apa Kakang, tapi Adipati Gandakusuma berhasil melarikan diri", ujar Ratna Pitaloka yang segera di iyakan dengan anggukan kepala dari para istri Panji Watugunung yang lain.


"Akang Kasep, menurut dayang eta, Paman Gandakusuma teh kabur ke Pakuwon Purwa", Naganingrum angkat bicara seraya menunjuk seorang dayang yang duduk bersimpuh di lantai bangsal paseban.


Hemmmm


"Benar begitu??", tanya Panji Watugunung sambil memandang kearah sang dayang istana.


"Iya Gusti iya. Hamba mendengar sendiri ucapan Adipati Gandakusuma", jawab sang dayang sambil menunduk.


Gumbreg yang datang dengan menyeret seorang prajurit Paguhan yang mukanya babak belur di hajar Gumbreg, langsung ikut bicara.


"Menurut si kampret penjaga ini, Adipati Gandakusuma melarikan diri lewat gerbang barat istana Gusti Pangeran Panji", Gumbreg langsung melempar sang prajurit ke hadapan Panji Watugunung.


Dari gerbang utara, gemuruh langkah kaki kuda terdengar saat Panji Watugunung dan keempat istrinya sedang menanyai dayang istana dan prajurit penjaga gerbang.


Senopati Lokananta dan Tumenggung Janadi datang dengan 500 prajurit Kalingga. Mereka segera bergegas menuju ke arah bangsal paseban Kadipaten Paguhan.


"Kebetulan kau datang, Senopati Lokananta.


Aku serahkan kepada mu istana Kadipaten Paguhan. Urus para tawanan dan harta benda disini", ujar Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Senopati Lokananta menghormat pada Panji Watugunung.


"Tumenggung Janadi,


Kau ikut aku bawa 500 pasukan mu", Panji Watugunung menoleh kearah Tumenggung dari Kalingga itu.


"Hamba siap melaksanakan tugas", Tumenggung Janadi segera menghormat.


Panji Watugunung kemudian menatap keempat istrinya dan para perwira pasukan Garuda Panjalu.


"Kakang Warigalit, Ludaka, Lawana, dan kau Gumbreg..


Kalian juga ikut. Kita kejar Adipati Gandakusuma sampai ketemu.


Hidup atau mati"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️, dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Jangan lupa kasih rate lima bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 agar author terus semangat menulis yah


Selamat membaca kak 🙏🙏🙏🙏😁😁


__ADS_2