Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Membasmi Pengacau Pakuwon Randu


__ADS_3

Sementara Panji Watugunung menghadang Iblis Rambut Perak, pasukan Garuda Panjalu bertarung dengan gagah berani.


Jarasanda yang bersenjata keris, sudah membantai lawan sedikit nya 2 orang. Tubuhnya yang basah kuyup tak menghalanginya bertarung sepenuh jiwa.


Gumbreg yang hampir dibokong musuh, di selamatkan Arimbi dengan anak panahnya.


Mereka bertarung dengan kompak dan saling membantu satu sama lain. Korban tewas berjatuhan dari kedua belah pihak.


Rajegwesi dan Laras terus mengincar musuh dengan anak panah mereka. Mereka melindungi kawan kawan mereka. Salah seorang musuh yang mengincar tempat mereka langsung di habisi Ludaka yang bergerak cepat dari jarak jauh.


Dewi Srimpi yang menghadapi Siluman Bunga Kenanga sangat mengandalkan ilmu meringankan tubuh nya. Di banding dua saudarinya, ilmu meringankan tubuh Siluman Bunga Kenanga adalah yang terbaik. Pertarungan mereka benar-benar sengit.


Setelah bertukar hampir 30 jurus, Siluman Bunga Kenanga mulai terlihat buru buru. Gerakan nya sedikit kacau, tidak seperti awal pertarungan.


Siluman Bunga Kenanga melesat cepat sambil mencakar dada Dewi Srimpi, membuat gadis bercadar hitam itu mundur selangkah, dan dengan gerakan memutar, melayangkan tendangan mengincar pinggang Siluman Bunga Kenanga.


Siluman Bunga Kenanga berguling ke tanah dan berusaha menyabet kaki Dwi Srimpi dengan kipas senjata nya. Dewi Srimpi segera menarik kakinya dan melempar jarum kecil beracun.


Whutttt


Kembali Siluman Bunga Kenanga berguling ke tanah menghindari serangan cepat dari Dewi Srimpi. Tubuh perempuan itu kotor bercampur tanah.


"Gadis tengik, siapa guru mu?", Siluman Bunga Kenanga geram. Kalau saja dia tidak cepat berguling ke tanah, nyawa nya pasti melayang di ujung jarum beracun itu.


"Tidak penting siapa guru ku, yang pasti dia lebih hebat dari mu", jawab Dewi Srimpi.


"Bedebah, ku bunuh kau".


Merasa di remehkan, Siluman Bunga Kenanga mulai mengumpulkan tenaga dalam nya. Kipas di tangan kanan nya berubah kemerahan, dan mengeluarkan bau wangi.


Perempuan itu mengibaskan kipasnya kearah Dewi Srimpi, angin dingin seperti pedang tajam melesat cepat menuju Dewi Srimpi yang segera mencabut pedang pendeknya yang berwarna biru, Pedang Kelabang Sewu.


Whussss..


Dewi Srimpi segera melompat ke udara, menghindari angin dingin dari kipas dan menyabetkan Pedang Kelabang Sewu bertubi-tubi kearah Siluman Bunga Kenanga.


Empat gelombang angin dingin dari pedang Dewi Srimpi segera menerabas kearah Siluman Bunga Kenanga. Perempuan genit itu pucat sambil melompat mundur dia mengibaskan kipasnya 2 kali.


Whus whussss...


Dharrr dharrr..


Dua ledakan keras terjadi saat serangan Siluman Bunga Kenanga berbenturan dengan angin dingin tenaga dalam dari Pedang Kelabang Sewu. Namun angin dingin tenaga dalam ketiga dan keempat dari pedang itu membuat Siluman Bunga Kenanga harus menjatuhkan diri ke tanah untuk menghindari.


Saat menghindari serangan angin terakhir, tiba tiba Dewi Srimpi sudah menyabetkan Pedang Kelabang Sewu mengincar pinggang Siluman Bunga Kenanga.


Crashhhh


Oughhh..


Tebasan pedang itu telak menyabet pinggang Siluman Bunga Kenanga. Tubuhnya limbung dan tewas dengan mata melotot menahan sakit. Dari mulut nya keluar buih putih.


Sementara itu, Panji Watugunung yang bertarung dengan Iblis Rambut Perak dengan kecepatan dan tenaga dalam tingkat tinggi.


Setelah bertarung puluhan jurus, nafas iblis tua itu mulai tidak teratur.


Apalagi setelah beberapa kali benturan tenaga dalam, bisa di lihat bahwa tenaga dalam pemuda itu sebanding dengan Pangeran Alas Larangan, salah satu tokoh dunia persilatan aliran hitam yang di takuti.


"Bangsawan tengik, sebutkan nama mu? Dan siapa guru mu?", teriak Iblis Rambut Perak.


"Baiklah biar kau tidak mati penasaran.


Nama ku Watugunung, asal ku dari Padepokan Padas Putih. Dunia persilatan mengenalku dengan sebutan Pendekar Pedang Naga Api", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum.


"Jadi kau yang sudah membunuh Setan Geni?


Bagus, hari ini akan ku balaskan dendam nya".

__ADS_1


Iblis Rambut Perak segera mencabut pedang nya. Sebuah pedang besar berwarna keperakan. Iblis tua itu segera menyabetkan pedang nya, cahaya perak dengan angin dingin menderu menerabas cepat kearah Panji Watugunung.


Whuttt..


Panji Watugunung segera melompat ke udara sambil bersalto dua kali dan mencabut Pedang Naga Api nya. Kemudian meluncur turun mengincar kepala iblis tua itu.


Iblis Rambut Perak melompat ke samping dan mengincar pinggang Watugunung dengan Tapak Kilat dari tangan kiri nya. Panji Watugunung menyambut datangnya serangan Tapak Kilat dengan Tinju Guntur nya.


Blarrrrr!!


Suara keras benturan dua tenaga dalam tingkat tinggi, membuat semua orang agak menjauhi area pertarungan mereka. Panji Watugunung terdorong 1 tombak ke belakang dan Iblis Rambut Perak terdorong 2 tombak.


Iblis tua itu terbatuk-batuk kemudian, saat tangan nya mengusap mulut nya, darah segar ternyata ikut keluar bersama batuk.


'Bedebah ini rupanya berilmu tinggi, aku tidak boleh terlalu lama bermain dengan nya, kalau tidak nyawaku bisa melayang', batin Iblis Rambut Perak.


Iblis tua itu mulai mengumpulkan semua tenaga dalam nya, tangan nya mulai mengeluarkan asap putih dan pedang nya bersinar putih keperakan. Iblis Rambut Perak bermaksud menghabisi Panji Watugunung dengan ilmu andalan nya, Pedang Pencabut Roh.


Panji Watugunung segera menata tenaga dalam nya, seketika tubuh nya di selimuti cahaya kuning keemasan. Ajian Tameng Waja di padukan tingkat akhir Ajian Guntur Saketi. Tangan kiri dari telapak tangan hingga dada kiri Panji Watugunung di selimuti cahaya putih kebiruan seperti petir bercampur warna kuning keemasan.


Iblis Rambut Perak melompat ke udara dan membabatkan pedang kearah Panji Watugunung. Tangan kanan Watugunung yang memegang Pedang Naga Api menangkis sabetan pedang dari Iblis Rambut Perak.


Trang...


Cleshhhh..


Benturan 2 pedang berbeda hawa menimbulkan gelombang kejut kuat. Kedua orang itu sama sama terdorong ke belakang, namun Panji Watugunung segera melesat mengejar Iblis Rambut Perak.


Iblis tua yang tak siap di serang, hanya menyabetkan pedang kearah pinggang.


Watugunung tidak berusaha menghindar dari sabetan pedang Iblis Rambut Perak.


"Mati kau!", teriak Iblis Rambut Perak sambil tersenyum penuh kemenangan, namun senyum nya segera memudar berganti keterkejutan saat pedangnya tak mampu merobek kulit Panji Watugunung.


Saat itulah, Panji Watugunung menghantam dada kanan Iblis Rambut Perak dengan pukulan Guntur Saketi.


Blammmm


Langkir yang melihat Iblis Rambut Perak tewas seketika melompat hendak kabur. Namun sebuah pisau terbang melayang cepat dan menangkap tepat di lehernya. Dewi Anggarawati yang dari tadi hanya menonton, menyeringai dari kejauhan.


'Enak saja mau kabur'


Sisa anak buah Iblis Rambut Perak melompat kabur meninggalkan arena pertarungan. Ada beberapa yang lolos, namun sebagian besar tewas di arena pertempuran.


Hujan mereda saat pertarungan sengit itu berakhir.


Landung memeriksa keadaan pertarungan dan menemukan dua orang anak buah Iblis Rambut Perak masih hidup meski dalam kondisi luka luka. Ludaka memeriksa kondisi markas, selain beberapa peti harta, tidak ada lagi orang yang tersisa.


Ki Saketi yang menerima laporan, segera mendatangi dua anak buah Iblis Rambut Perak yang terluka.


"Katakan, dimana lagi markas kalian?".


"Bunuh saja kami, kami tidak akan buka mulut", teriak salah satu anak buah Iblis Rambut Perak. Matanya berkilat marah namun dia tidak berdaya.


"Mau mampus masih banyak tingkah", Ludaka yang geram, segera menikam anak buah Iblis Rambut Perak yang ditanyai. Orang itu tewas setelah pedang pendek Ludaka menembus jantung nya.


"Katakan pada kami, atau nasibmu akan sama seperti dia", teriak Ludaka sambil memegang pedang pendek nya yang berlumuran darah.


Anak buah Iblis Rambut Perak yang ketakutan akhirnya memberitahukan beberapa lokasi persembunyian mereka di seputar Pakuwon Randu.


"Seret dia ke Pakuwon Randu, masukkan ke penjara", perintah Ki Saketi pada 2 orang prajurit pakuwon Randu yang langsung menyeret anak buah Iblis Rambut Perak itu.


Meski beberapa orang anggota pasukan Garuda Panjalu terluka, namun mereka masih selamat. 20 prajurit Pakuwon Randu tewas akibat pertempuran itu. Sedangkan sebagian besar anak buah Iblis Rambut Perak meregang nyawa.


"Kuburkan mayat mayat saudara kita yang gugur di pertempuran ini, sedangkan mayat mayat pengacau kumpulkan jadi satu di rumah besar itu dan bakar seluruh tempat ini agar tidak menjadi sarang gerombolan pengacau lagi", perintah Panji Watugunung yang segera di laksanakan semua prajurit.


Gumbreg yang mengurus perbekalan, segera mengumpulkan harta yang ada di rumah besar.

__ADS_1


Saat melongok pedang besar milik Iblis Rambut Perak, Gumbreg langsung mengambil nya.


'Lumayan, bisa untuk tambahan kekuatan',batin Gumbreg sambil menimang pedang besar itu.


Selesai mengubur mayat mayat prajurit yang tewas dan membakar markas itu, pasukan Garuda Panjalu pulang ke Pakuwon Randu.


Sesampainya di istana Pakuwon, 4 orang tabib istana Pakuwon Randu di bantu beberapa orang dayang sibuk mengobati para prajurit yang terluka.


Usai berganti baju Panji Watugunung di dampingi Dewi Anggarawati dan Sekar Mayang serta Ratna Pitaloka memasuki bangsal paseban Pakuwon Randu. Ki Saketi dan Dewi Srimpi mengekor di belakangnya. Akuwu Mpu Kebi menyambut kedatangan mereka.


"Selamat atas kemenangan Gusti Panji, Kebi mengucapkan terima kasih atas bantuannya", ucap Mpu Kebi sambil menghormat.


"Jangan senang dulu Ki Kuwu, masih ada yang harus di selesaikan", potong Panji Watugunung segera.


"Maksud Gusti Panji bagaimana? Kebi tidak mengerti", Mpu Kebi kebingungan.


"Ada beberapa markas kecil di seputar Pakuwon Randu. Kalau mereka tidak di bersihkan, takut nya mengganggu di lain hari"


Selanjutnya, selama sepekan kemudian pasukan Garuda Panjalu di pecah menjadi dua bagian. Menyisir setiap tempat yang di tunjukkan anak buah Iblis Rambut Perak. Pertempuran kecil yang terjadi, membuat pasukan Garuda Panjalu semakin terkenal.


Telik sandi dari Jenggala mulai melaporkan kejadian tersebut pada pimpinan aliansi aliran hitam.


Iblis Bukit Jerangkong selaku pemimpin aliansi aliran hitam, memerintahkan kepada Alas Larangan dan Gunung Kematian untuk segera mengurangi kegiatan pengumpulan dana perang lewat perampokan di wilayah Panjalu.


Namun, sebagian besar anak buah Alas Larangan dan Gunung Kematian memilih tetap merampok harta benda penduduk, karna sudah terbuai dengan kenikmatan yang mereka dapatkan.


Setelah membersihkan wilayah pakuwon Randu, Panji Watugunung dan pasukannya bergerak cepat menuju Pakuwon Kunjang.


Dua pasang mata menatap kedatangan pasukan Garuda Panjalu di perbatasan Pakuwon Kunjang.


"Rupanya mereka sudah sampai disini"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


😁😁


__ADS_2