Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pasukan Lowo Bengi


__ADS_3

"Tumenggung Ludaka,


Kirim pasukan mu untuk menyelidiki keadaan sebenarnya lawan kita. Hanya menyelidiki. Jangan memancing perhatian lawan.


Sebelum kita mulai menyusun rencana, kita harus tahu bagaimana keadaan lawan yang akan kita hadapi. Usahakan besok pagi sudah ada berita yang aku harapkan", perintah Panji Watugunung pada Tumenggung Ludaka yang ahli dalam bidang penyusupan dan mata mata.


"Hamba laksanakan Gusti Pangeran", ujar Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Watugunung dan segera mundur dari serambi balai tamu Pakuwon Kunjang.


"Yang lain sambil menunggu berita dari Tumenggung Ludaka, aku minta bersiap siaga. Jangan lupa tingkatkan keamanan di sekitar tempat kita ini", ucap Panji Watugunung yang mendapat anggukan kepala dari para perwira yang mengiringi perjalanan nya.


Malam itu, Tumenggung Ludaka di temani Demung Rajegwesi bergerak menuju kearah selatan kota Tamwelang yang menjadi markas para prajurit Jenggala yang mulai bergerak menuju ke arah Daha.


Tumenggung Ludaka yang memiliki kemampuan ilmu meringankan tubuh melesat cepat diantara pepohonan diikuti Demung Rajegwesi yang memimpin 10 prajurit berkemampuan khusus yang dikenal sebagai Prajurit Lowo Bengi.


Bagian khusus dari pasukan Garuda Panjalu ini mengkhususkan diri pada ilmu mata mata dan penyusupan dengan senjata rahasia dan panah. Mereka melatih diri selama hampir tiga warsa mempelajari berbagai macam ilmu pertarungan jarak jauh. Meski belum setinggi ilmu Ludaka, tapi kemampuan beladiri mereka diatas rata rata para prajurit biasa.


Tumenggung Ludaka menghentikan langkahnya di sebuah pohon besar yang ada di barat perkemahan para prajurit Jenggala.


Rajegwesi yang menyusul di belakangnya, berdiri di samping Ludaka yang terus mengamati situasi.


"Bagaimana Ludaka?


Apa kau bisa memperkirakan jumlah mereka semua nya?", tanya Rajegwesi yang ikut menatap ke arah tanah lapang yang menjadi markas para prajurit Jenggala dengan suara lirih.


"Mereka terbagi menjadi dua bagian sama besar. Sisi Utara itu para prajurit perbekalan dan pejalan kaki, sedang sisi selatan merupakan prajurit berkuda.


Kau lihat tenda besar yang di tengah itu, Rajegwesi.


Itu pasti tenda pemimpin mereka", bisik Tumenggung Ludaka sambil menunjuk ke arah lapangan yang tak jauh dari tempat mereka mengintai.


"Apa yang sebaiknya kita lakukan Lu?


Apa kita tidak boleh melakukan sesuatu?", tanya Rajegwesi sambil menatap ke arah obor yang nampak menjadi pelita para prajurit Jenggala. Meski bulan mendekati purnama, namun karena mendekati musim penghujan, mendung tebal kerap menghalangi sinarnya.


"Perintah Gusti Pangeran, kita hanya mengamati saja, jangan melakukan tindakan apa-apa.


Sebab beresiko membuat keributan besar", bisik lirih Ludaka sambil terus menatap ke arah tanah lapang yang ada di timur mereka.


Saat mereka tengah mengawasi perkemahan para prajurit Jenggala, tiba tiba terdengar suara ranting kering yang terinjak kaki.


Kleeettthhekk!


Meski suara itu begitu pelan, tapi telinga Tumenggung Ludaka yang peka mampu mendengar nya.


"Sssttttt...


Ada yang kemari", ujar Ludaka sambil meletakkan telunjuk nya di depan mulut.


Rajegwesi mengangguk mengerti. Dua orang perwira tinggi prajurit Kadiri itu segera melesat turun dari atas pohon yang mereka panjat.


Begitu sampai di tanah, Ludaka segera memberi isyarat pada pasukan Lowo Bengi untuk menyebar ke samping kiri dan kanan mereka.


Rajegwesi segera memasang anak panah pada busurnya dan bersiap menembakkan senjata nya.


Suara langkah kaki itu semakin mendekat dan terus mendekat. Setidaknya ada tiga atau empat orang yang sedang berjalan mendekati Rajegwesi dan Ludaka.


Dari kegelapan malam, muncul 6 orang lelaki tampak mendekati mereka. Gerakan mereka begitu pelan nyaris tanpa suara.


Saat mereka sudah dalam jangkauan senjata, Ludaka segera melempar dua pisau kecil kearah mereka.


Shinggg...!!


Shinggg!!!


Bersamaan dengan itu, Rajegwesi dengan cepat menarik busur panah nya.


Shrrrinnngggg!!


Anak panah melesat cepat kearah bayangan hitam yang merupakan prajurit telik sandi dari Jenggala.


Creeppp creeppp!!


Jleepppp!


Ougghhh!


Terdengar suara rintihan kesakitan dari para prajurit telik sandi Jenggala. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kepulangan mereka setelah memata-matai perbatasan Kunjang akan mendapat sambutan senjata rahasia.


Tiga orang prajurit telik sandi Jenggala langsung roboh setelah senjata Ludaka dan Rajegwesi menembus tubuh mereka.


Tiga orang yang tersisa segera mencabut pedang mereka masing-masing. Namun belum genap 2 langkah mereka maju, sepuluh anak panah melesat cepat kearah mereka.


Shrrrinnngggg!!


Shrrrinnngggg...!!


Creeppp creeppp creeppp!!


Saat mereka hendak berteriak kesakitan, Ludaka dan Demung Rajegwesi sudah bergerak cepat untuk membekap mulut mereka.


Usai memastikan lawan mereka tewas, Rajegwesi dan Ludaka meletakan tubuh para telik sandi Jenggala itu perlahan agar tidak menimbulkan suara.


Tumenggung Ludaka dan Demung Rajegwesi langsung bergerak perlahan diantara kegelapan pepohonan yang tumbuh di tepi sungai kecil yang menjadi batas wilayah Panjalu dan Jenggala.


Mereka sangat berhati-hati dalam bergerak karena khawatir masih ada yang tersisa dari para prajurit telik sandi Jenggala.


Kurang lebih 500 depa dari tempat mereka membantai telik sandi Jenggala tadi, muncul lagi puluhan orang orang yang membawa obor.


Ludaka segera memberi isyarat pada Rajegwesi untuk segera berlindung.


Suasana tegang kembali menyelimuti hati para Pasukan Lowo Bengi.


"Kakang,


Kau sangat hebat. Bisa membuat para warga Wanua Mangku membantai pedagang Padelegan.


Dengan ini pasti pasukan Kunjang akan bergerak ke Tamwelang. Kita bisa membantai mereka jika sampai disini", ujar seorang bayangan hitam pada seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal. Lelaki berkumis tebal itu lah yang memancing pertikaian antara pedagang Padelegan dengan warga Wanua Mangku.

__ADS_1


"Hahahaha..


Tentu saja itu mudah. Para warga wanua itu semuanya orang bodoh. Mudah sekali menghasut mereka.


Dengan ini sebentar lagi tujuan Gusti Senopati Jambuwana akan terpenuhi", ujar si lelaki bertubuh gempal itu sambil tertawa terbahak-bahak.


Bayangan bayangan hitam itu terus bergerak tanpa menyadari bahwa nyawa mereka dalam bahaya.


Saat mereka mencapai jarak tembak dari senjata rahasia Pasukan Lowo Bengi, Rajegwesi segera menarik busur panah nya sekuat tenaga.


Shrrrinnngggg!!!


Anak panah Rajegwesi langsung melesat cepat kearah si lelaki berkumis tebal itu dan menghajar dadanya tembus punggung.


Jleepppp


Aughhhh


Teriak si lelaki berkumis tebal itu dengan keras. Karena cukup jauh dari perkemahan para prajurit Jenggala, suara mereka tidak akan terdengar.


Sringg sringg!!


Puluhan senjata rahasia melesat cepat kearah para bayangan hitam itu dari Tumenggung Ludaka dan pasukan Lowo Bengi nya.


"Kita di sergap!", teriak seorang lelaki bertubuh bogel dengan kepala plontos.


Creeppp creeppp creeppp!!


Aaarrghhh!


Tiga bayangan hitam yang tidak siap, langsung roboh saat senjata rahasia yang berupa pisau kecil dan jarum besar menembus tubuh mereka.


Yang lain berupaya menangkis senjata rahasia itu dengan pedang mereka masing-masing.


Dengan cepat, Tumenggung Ludaka melesat ke arah bayangan hitam yang muncul di hadapannya sambil mencabut pedang pendek nya. Para prajurit Lowo Bengi langsung ikut menerjang maju saat melihat pimpinan mereka bergerak.


Rajegwesi segera melompat tinggi ke udara dan melesat turun sambil menarik busur panah nya.


Whuuuuttt


Jleepppp!!


Aarghh


Seorang bayangan hitam kembali roboh saat anak panah Rajegwesi menghajar dadanya.


Diantara kegelapan malam terjadi pertarungan hidup mati antara mereka.


Tumenggung Ludaka langsung menyabetkan pedang pendek yang kearah dada si bayangan hitam yang ada di depannya.


Whuuussshh


Si bayangan hitam segera menangkis serangan Ludaka dengan pedangnya.


Tranggg!!!


Deshhhh...


Ougghhh!


Pria itu terhuyung ke belakang. Dadanya sesak seperti dihantam balok kayu besar.


Melihat lawan nya mundur, Tumenggung Ludaka terus memburu nya. Pedang pendek nya terayun cepat mengincar leher lawan.


Sang bayangan hitam kembali menangkis sabetan pedang pendek Tumenggung Ludaka. Namun Ludaka yang sudah mengetahui kelemahan lawan, segera mendengkul perut sang lawan.


Bukkkkk


Aaarrghhh


Lawan Ludaka menjerit saat tendangan dengkul nya menghantam perut. Si bayangan hitam menekuk tubuh nya karena merasakan sakit luar biasa. Dengan cepat Tumenggung Ludaka menusukkan pedang pendek nya kearah leher si bayangan hitam.


Crreepppp!


Aaarrghhh!!!


Tusukan pedang Ludaka langsung memutus batang tenggorokan si bayangan hitam. Pria itu roboh dengan bersimbah darah. Dia tewas seketika.


Rajegwesi yang menggunakan busur panah nya menangkis sabetan pedang lawan dengan pegangan busur yang terbuat dari baja.


Tringgggg!!


Tangan kiri Rajegwesi segera mencabut pisau besar yang tersimpan di pinggangnya dan dengan cepat menusuk perut lawan nya.


Jleepppp!!


Aauuggghhhh!!


Lawan menjerit keras saat pisau besar Rajegwesi menusuk perutnya. Setelah Rajegwesi mencabut pisau besar nya dari perut, sang lawan roboh tersungkur ke tanah.


Para prajurit Lowo Bengi yang lain juga berhasil membunuh lawan mereka masing-masing.


Saat satu orang mencoba untuk kabur meski terluka parah, Rajegwesi segera meraih anak panah di punggungnya dan dengan cepat menembakkan anak panah itu segera.


Whuuuuttt


Crreepppp!!


Si bayangan hitam yang mencoba untuk melarikan diri itu langsung roboh dengan punggung tertusuk anak panah Rajegwesi.


Untuk menghindari kejadian serupa, Pasukan Lowo Bengi langsung menusukkan pedang mereka ke masing-masing mayat prajurit telik sandi Jenggala.


Setelah memastikan bahwa semua lawan tewas, Tumenggung Ludaka segera memberi isyarat kepada Rajegwesi dan pasukan Lowo Bengi untuk meninggalkan tempat itu.


Mereka bergerak dengan hati hati di balik gelapnya malam di hutan perbatasan wilayah Panjalu dan Jenggala. Saat hampir tengah malam mereka memasuki wilayah Panjalu.


Tumenggung Ludaka, Demung Rajegwesi dan pasukan Lowo Bengi nya lalu bergerak cepat menuju ke arah istana Pakuwon Kunjang yang menjadi markas besar prajurit Daha yang dipimpin oleh Panji Watugunung.

__ADS_1


Di sisi lain wilayah Panjalu, tepatnya di wilayah Anjuk Ladang Utara.


Pasukan Daha yang dipimpin oleh Senopati Narapraja dan Maitreya berkemah di tepi hutan wilayah Pakuwon Manik.


Di tenda besar yang ada di tengah perkemahan, Senopati Narapraja sedang duduk berhadapan dengan para perwira tinggi prajurit Daha.


Ada Senopati Ringkasamba dari Kurawan, Senopati Koncar dari Anjuk Ladang, Tumenggung Jayadipa dari Lasem dan Tumenggung Sumala dari Muria. Senopati Maitreya yang menjadi pemimpin Pasukan Garuda Panjalu Utara juga hadir bersama Tumenggung Wiguna dari Daha.


Senopati Narapraja mengelus kumis tipis nya sambil menatap ke arah para perwira tinggi prajurit yang ada dihadapannya.


"Kakang Narapraja,


Bagaimana rencana kita untuk menaklukkan para prajurit Jenggala itu?


Apa sudah kau pikirkan cara untuk mengalahkan mereka?", tanya Senopati Maitreya yang menatap wajah Narapraja dengan seksama.


"Aku ingin besok kita memakai wyuha Garuda Nglayang, Adhi Maitreya..


Mendengar laporan para telik sandi, sebagian besar pasukan Jenggala adalah para prajurit pejalan kaki jadi mereka tidak akan bisa bergerak cepat.


Karena itu, aku ingin memakai wyuha Garuda Nglayang dengan kau memimpin di sayap kanan sedangkan Senopati Ringkasamba memimpin pasukan di sayap kiri.


Di tengah aku akan memimpin, sedang yang menjadi kepala Garuda adalah Senopati Koncar dari Anjuk Ladang.


Untuk ekor Garuda Nglayang, biar Tumenggung Sumala dari Muria. Tumenggung Jayadipa akan membantu ku di tengah bersama Tumenggung Wiguna dari Daha.


Apa ada usulan lain yang perlu aku dengar?", Senopati Narapraja menatap ke para perwira tinggi prajurit itu.


"Siasat perang Gusti Senopati sudah bagus, jika ada perubahan wyuha lawan, kita juga harus bersiap menyambut serangan mereka.


Seandainya ada hal semacam itu, apa yang akan Gusti Senopati lakukan?", tanya Senopati Ringkasamba dari Kurawan.


"Kemungkinan besar jika berubah, mereka akan menggunakan wyuha Wukir Segara. Kalau mereka memakai itu, maka kita tinggal memajukan kepala Garuda Nglayang menjadi Wyuha Vajra dengan tiga ujung tombak.


Apa kalian sudah mengerti?", Senopati Narapraja memandang sekelilingnya.


"Kami mengerti Gusti Senopati", ujar para perwira tinggi prajurit Daha.


Malam itu mereka benar-benar mempersiapkan diri sebaik baiknya untuk menghadapi pasukan Jenggala esok pagi.


Malam segera berganti pagi. Suara kokok ayam jantan bersahutan menjadi pertanda bahwa pagi telah tiba.


Para prajurit Daha segera menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke medan perang hari itu.


Senopati Narapraja sudah memakai pakaian perang nya. Senopati Panjalu itu nampak gagah dengan baju perang khas negeri Panjalu. Begitu keluar dari tenda yang menjadi tempat bermalam nya, para perwira tinggi prajurit Daha sudah menunggunya. Para prajurit Panjalu pun telah bersiap dengan senjata terhunus di tangan mereka masing-masing.


Senopati Narapraja memandang wajah para bawahan nya.


"Saudaraku sekalian,


Hari ini kita akan melakukan perang melawan Jenggala. Pasti akan jatuh korban dari kita. Tapi demi negeri tercinta ini, darah dan nyawa kita persembahkan untuk melindungi tanah air kita dari orang orang yang ingin menguasainya.


Mari,


Kita kalahkan pasukan Jenggala!", teriak Senopati Narapraja dengan lantang.


Sorak sorai para prajurit Jenggala bergemuruh mendengar ucapan Sang pemimpin pasukan.


Bende perang segera berbunyi nyaring mengiringi langkah kaki kuda para prajurit Panjalu pagi itu.


Saat matahari sepenggal naik, mereka telah sampai di padang rumput yang akan menjadi ajang pertempuran mereka.


Di sisi Utara, para pasukan Jenggala yang dipimpin oleh Senopati Udawara tampak sudah menunggu kedatangan para prajurit Panjalu.


Senopati Udawara menyeringai lebar melihat kedatangan para prajurit Panjalu. Dengan sinis dia meludah ke tanah.


"Para prajurit Panjalu,


Hari ini kalian akan ku musnahkan!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2