
Kafa memang terkenal dengan sikap dingin, tapi loyalitasnya terhadap teman dan kepintarannya dalam melajukan sepeda motor tak lagi bisa di hiraukan ataupun di pungkiri.
"Honey, kita ke mall dulu ya, aku udah gak sabar pengen beli baju yang kemarin ku lihat," rengek Intan.
Saat ini Kafa dan Intan sedang duduk di mobil, Kafa yang sebenarnya malas untuk keluar rumah meminta sopir untuk mengantar mereka.
"Fik! kita ke mall dulu!" titah Kafa yang duduk di samping Fikri sang sopir pribadi.
"Siap, Den Kafa," sahut Fikri.
Mobil berputar arah, tadi mereka berencana pergi ke rumah Salman teman Kafa, Salman yang tinggal seorang diri sama seperti Kafa membuat semua teman-temannya bebas datang dan pergi juga menginap di sana, rumah Salman sering di jadikan base came untuk sekedar berkumpul atau merencanakan strategi yang akan di gunakan saat ada pertandingan balap.
Intan merupakan sepupu dari Salman, keduanya sama-sama tinggal sendiri, jika kedua orang tua Salman ada di luar negeri, maka berbeda dengan Intan, Ayah Intan telah pergi dari dunia ini karena sebuah kecelakaan, sedang sang Ibu bekerja entah di mana, yang Intan tahu Ibunya itu akan pulang satu bulan sekali untuk melihat dan memberinya jatah.
"Ayo, Honey!" ajak Intan dengan ekspresi tak sabar yang tergambar jelas di wajahnya, sejak mengenal Kafa dan menjadi kekasihnya Intan merasa memiliki segalanya, pacar yang tampan dan juga tajir, Kafa sudah seperti mesin ATM bagi Intan, dia bisa mewujudkan apapun yang di inginkan olehnya, meski terkadang Intan juga merasa jenuh dengan sikap dingin Kafa, tapi bagi Intan semua itu tak lagi jadi masalah selama kekasihnya itu bisa memenuhi semua yang dia inginkan.
"Honey! lihatlah baju itu bagus banget, aku pengen," Intan kembali merengek.
Tanpa banyak bicara ataupun membalas rengekan yang keluar dari mulut Intan, Kafa langsung berjalan mendekat dan mengambil satu baju yang di minta oleh Intan.
"Kamu yakin mau beli baju ini?" tanya Kafa sebelum memberikan baju yang dia pegang.
__ADS_1
"Iya, bajunya bagus Kan Honey," jawab Intan dengan mantap.
"Lihatlah! baju ini bolong dan kurang bahan, kaku gak takut masuk angin saat memakainya?" Kafa kembali bertanya meyakinkan Intan dengan baju yang dia inginkan.
"Honey, ini itu namanya tren atu mode, sekarang lagi hits banget baju model seperti ini," Intan kembali menjawab keraguan yang terlihat di wajah Kafa.
"Baiklah, kita beli baju ini." Kafa yang tak begitu mempermasalahkan gaya berpakaian Intan memilih untuk langsung membayar baju yang di inginkan oleh Intan, hampir setiap hari ada saja barang yang di beli oleh Intan.
Sebenarnya Ummi tahu tentang Intan yang selalu meminta banyak hal pada Kafa puteranya itu, karena Ummi sering sekali mendapatkan informasi itu dari Bibik ataupun Fikri sopir yang merupakan orang suruhan Ummi.
'Ummi, hari ini Intan meminta baju lagi pada Den Kafa,' Satu pesan chat berhasil di kirim oleh Fikri.
Ummi hanya bisa mengelus dada dan berdo'a agar putera semata wayangnya itu segera sadar dan kembali seperti dulu lagi.
"Honey, setelah ini kita mau pergi ke mana lagi?" tanya Intan sambil menenteng tiga buah paperbag berisi baju yang baru saja di belikan oleh Kafa.
"Kita ke rumah Sulaiman. Nanti malam ada pertandingan dan aku harus nyusun strategi," jawab Kafa dengan ekspresi datar.
"Wah, nanti malam kamu mau tanding, pas banget, aku bakal pakai baju ini untuk menyemangatimu nanti," ujar Intan penuh semangat, dia selalu senang saat Kafa bertanding karena Kafa hampir tak pernah kalah dan dia tak pernah mau menerima uang taruhan dari hasil balapan yang dia lakukan, alhasil uang itu masuk ke dompet Intan sang kekasih.
"Kita ke rumah Salman!" titah Kafa sesaat setelah masuk ke dalam mobil. Kafa memang berpacaran dengan Intan, tapi dia sama sekali tak per nah menyentuh ataupun mengizinkan Intan menyentuhnya, meski Kafa bersikap brutal tapi dia maaih menjaga batasan dan hukum yang sudah dia pelajari dulu, semua yang dia lakukan saat ini hanya semata-mata untuk mengalihkan rasa sakit yang masih begitu terasa di hatinya.
__ADS_1
"Baik, Den," sahut Rifki yang langsung melajukan mobilnya menuju rumah Salman, Rifki yang sering mengantar Kafa tak lagi bertanya dia hanya perlu terus melajukan mobilnya hingga sampailah di sebuah rumah di perumahan elit dengan gerbang yang menjulang tinggi menandakan betapa megahnya desain rumah itu.
"Hay bro, akhirnya loe dateng juga," sapa Salman saat melihat Kafa masuk ke dalam rumah.
"Gue haus, loe ada minum gak?" sahut Kafa.
"Noh, anak-anak lagi have fun, minum di ruang keluarga, loe gabung aja sama mereka!" jawab Salman sambil tersenyum.
"Gue gak suka minuman setan, pembantu loe mana? gue mau jus jeruk," ucap Kafa datar.
"Ha ha ha ha, sudah gue duga, loe bakal nolak," Salman tertawa mendengar penolakan Kafa, tapi dua tak pernah protes ataupun memaksa kafa untuk ikut minum-minuman beralkohol yang suka di minum teman-temannya yang lain, yang terpenting bagi Salman, kafa mau terus bertanding sudah cukup, karena dengan begitu Salman bisa mendapatkan pamor dan uang tambahan jajan.
"Ba***t Loe, gue haus, loe jadi ngasih gue minum apa kagak?" sahut Kafa.
"Loe langsung gabung aja sama yang lain, biar gue yang pesenin minuman loe ke Bibik." Salman berjalan menuju dapur menemui sang pembantu meminta jus jeruk yang di pesan Kafa. Sedang Intan sejak tadi sudah berhambur pergi bergabung dengan teman-temannya yang lain untuk ikut menikmati minuman setan yang sangat di hindari oleh Kafa.
"Jangan minum terlalu banyak Intan! aku gak bakal bantuin kamu pulang jika nanti kamu teler di sini," Kafa yang merasa malas untuk melarang gadis yang berstatus kekasihnya itu agar menjauhi minuman yang bisa menghilangkan akal, Kafa lebih memilih untuk mengingatkannya agar tak minum terlalu banyak, karena percuma saja mengingatkan Intan, dia tidak akan mau mendengarkan kata-katanya.
"Tenang saja Honey! malam ini aku mau nyemangatin kamu. Jadi aku gak bakal minum banyak biar bisa tetep sadar sampai nanti malam kamu tanding," jawab Intan sambil meminum satu gelas kecil air yang sudah dia tuang.
Kafa kembali berbincang dengan Salman tentang strategi yang akan mereka gunakan nanti malam. Dia hanya bisa berdiskusi dengan Salman karena hanya dia yang saat ini sadar, sedang fikiran temannya yang lain sudah melayang jauh ke atas awan.
__ADS_1