Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Menjemput Kafa


__ADS_3

Ummi benar-benar menasak banyak dengan bantuan para santri semua menu makanan telah matang tepat sebelum adzan maghrib berkumandang.


Semua santri berkumpul di aula sesuai dengan kamar mereka masihng-masing, setiap kamar rata-rata berisi dua puluh santri dan mendapat empat tampir untuk setiap kamar.


Menu tempe tahu dan terong goreng yang di campur bumbu pecel terasa begitu nikmat, apalagi di makan bersama dengan kerupuk sebagai pelengkap.


"Emmm, makan bersama seperti ini ternyata terasa begitu nikmat ya Mbak Ratna," celetuk Salma saat mereka makan dan hampir menghabiskan satu tampir makanan yang ada di hadapan mereka.


"Benar Salma, hal seperti inilah yang terkadang di rindukan para santri," jawab Ratna sambil tersenyum.


"Apalagi kalau gratis seperti ini, rasanya semakin mantap," sahut Tari yang masih sibuk mengunyah sisa makanan sambil berbicara.


"Habisin dulu yang ada di dalam mulut! kalau sudah baru ngomong Tari," Salma kembali mengingatkan Tari yang hanya senyum tanpa dosa melihat ke arah Salma.


Makan malam yang penuh kenikmatan terlewati dengan sebuah senyuman dan tawa yang sesekali terdengar menggema di teras asrama.


Mentari pagi mulai muncul menyinari indahnya dunia, suara dering ponsel mengusik telinga Ummi yang tengah duduk bersiap memakai hijab di depan cermin.


"Tumben pagi-pagi sudah ada yang menelfon," lirih Ummi sambil berjalan menuju nakas sambil menyahut ponsel yang tergeletak dan tengah berdering di sana.


"Kafa," seru Ummi dengan swnyum yang langsung melebar setelah melihat siapa yang menelfon.


"Assalamualaikum, pagi putraku," sapa Ummi, suaranya begitu renyah terdengar di telinga, membuat siapapun yang mendengar tersenyum karenanya.


"Waalaikum salam, Ummi," sahut Kafa dari seberang.


"Ummi senang mendapat telfon sepagi ini darimu, Nak," ucap Ummi mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Kafa juga senang bisa menelfon Ummi, sebenarnya Kafa mau memberi kabar kalau Kafa akan pulang hari ini, jadi suruh Ghozi menjemput Kafa sekarang Ummi!" pinta Kafa.


"Ummi?" Kafa kembali memanggil nama Ummi karena sang Ummi tak menyahuti ucapannya, Kafa hanya mendengar keheningan dari sebrang.

__ADS_1


"Eh, i~iya, Nak, Ummi akan segera menyuruh Ghozi untuk menjemputmu." Sahut Ummi yang tadi sempat tertegun mendengar ucapan Kafa yang ingin pulang hari ini juga.


"Baiklah, Kafa tunggu Ghozi di rumah." Ujar Kafa.


"Baiklah, Nak, Ghozi akan segera ke sana." Sahut Ummi.


"Assalamualaikum," pamit Kafa mematikan sambungan telfon tanpa menunggu jawaban Ummi.


"Waalaikum salam," lirih Ummi, dia tak peduli dengan apa yang di lakukan Kafa, yang penting saat ini Kafa akan pulang dan Ummi begitu bahagia karenanya.


Dengan langkah cepat dn lebar Ummi berjalan keluar rumah menuju halaman mencari Ghozi untuk memberitahukan kabar tentang kepulangan Kafa.


"Permisi Mas, apa kamu lihat Ghozi?" tanya Ummi pada seorang santri yang kebetulan lewat di halaman.


"Ghozi baru saja kembali ke pondok. Apa Ummi ada perlu?" jawab sang Santri dengan penuh ta'dhim.


"Iya, apa Ummi boleh minta tolong panggilkan Ghozi?" Ummi kembali bertanya.


"Boleh, Ummi, saya permisi dulu." Pamit Sang Santri melenggang pergi meninggalkan Ummi yang masih setia berdiri di teras sambil menunggu santri itu memanggil Kafa.


"Apa Ummi, manggil Ghozi?" tanya Ghozi yang baru saja sampai di teras rumah Ummi.


"Iya, Kafa baru saja menghubungi Ummi, dia bilang mau pulang sekarang dan memintamu menjemputnya." Jawab Ummi.


"Alhamdulillah, kalau begitu Ghozi berangkat sekarang saja untuk menjemput Kafa, bagaimana apa Ummi setuju?" sahut Ghozi dengan penuh semangat.


"Tentu saja kamu harus berangkat sekarang, berangkatlah! jangan lupa hati-hati!" ujar Ummi dengan senyum yang terlihat jelas di wajahnya.


"Kalau begitu Ghozi pamit dulu Ummi." ujar Ghozi.


"Tunggu!" cegah Ummi.

__ADS_1


"Ada apa Ummi?" tanya Ghozi dengan ekspresi bingung melihat Ummi yang mencegah langkahnya.


"Ini bekal untukmu di perjalanan, ingatlah untuk selalu berhati-hati!" Ummi memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk bekal Ghozi di perjalanan.


"Terima kasih, Ummi, Ghozi berangkat dulu." Pamit Ghozi setelah mengambil uang yang di sodorkan oleh Ummi, Ghozi menerima uang itu karena perjalanan menuju rumah yang di tinggali oleh Kafa memiliki jarak cukup jauh dari pesantren dan Ghozi butuh bensin untuk sampai di sana.


Dengan langkah pasti dan ringan penuh rasa lega yang kini di rasakan Ghozi, dia melangkah masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakannya.


Ghozi merasa senang karena sahabat yang sudah lama meninggalkan rumah kini akan kembali, dia berharap Kafa sudah sadar dan kembali seperti dulu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang mengingat jika dia akan segera bertemu dengan Kafa.


"Assalamualaikum," ucap Ghozi setelah sampai di depan rumah yang di tinggali oleh Kafa, rasanya sudah sangat lama Ghozi tak menginjakkan kaki di rumah yang saat ini dia datangi.


"Waalaikum salam, eh ada Mas Ghozi, silahkan masuk Mas!" Sahut Mbok Sumik yang sangat mengenal sosok Ghozi karena sebelum menjadi asisten rumah tangga di rumah Kafa, Bik Sumik adalah juru masak teman Mbok Yem di pesantren.


"Terima kasih Mbok, saya ke sini di suruh Ummi untuk menjemput Mas Kafa, apa orangnya ada?" tanya Ghozi.


"Oh, Mas Kafa ada di kamarnya, sejak kemarin sepertinya dia juga bersiap-siap Mas, tunggu di sini! biar Bibik panggilkan dulu." Pamit Bik Sumik melenggang pergi menuju kamar Kafa yang terletak di lantai dua.


Ghozi kini duduk di sofa ruang tamu menunggu Kafa datang, hatinya ikut merasa bahagia karena dengan kedatangan Kafa Ummi dan Abah yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri akan senang karenanya.


"Sudah lama menunggu?" suara Kafa yang sidah cukup lama tak di dengar oleh Ghozi kini terdengar menggema di ruang tamu.


"Tidak, aku baru saja datang, bagaimana kabarmu?" sahut Ghozi.


"Aku baik, kamu tenang saja, ku tidak akan mati hanya karena seorang wanita," ujar Kafa sambil tersenyum ringan.


"Tapi kamu sudah pergi meninggalkan pesantren hanya karena seorang wanita, jika kau lupa itu," sahut Ghozi mengingatkan penyebab kepergian Kafa.


"Ha ha ha, hidup itu perlu suasana baru untuk melupakan kenangan lama Ghozi, karena kenangan menyakitkan itu perlu sedikit usaha untuk menyamarkannya, meskipun tak akan pernah bisa sirnah," ucap Kafa.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan bahas kenangan yang menyakitkan! tidak ada gunanya yang penting sekarang kita harus segera pulang karena Ummi sudah menunggumu dengan sejuta rindu di pesantren," Ghozi yang tak sabar ingin melihat kebahagiaan yang pasti terpancar di wajah sang Ummi mengajak Kafa untuk segera pulang.


"Baiklah, ayo pulang!" sahut Kafa yang sudah siap dengan satu koper di tangan kirinya.


__ADS_2