Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Memutuskan Hubungan


__ADS_3

"Intan, kemarilah! kita sedang memasak," jawab Ummi menahan segala rasa yang berkecambuk dalam dirinya.


Meski saat ini Ummi tengah merasa kecewa bercampur sedih, tapi Ummi harus tetap bersikap baik dan mengambil keputusan yang bijak dengan terus menghormati dan menerima Intan dengan baik sebagai tamu di rumahnya.


"Memasak ya Ummi," ucap Intan dengan nada penuh keraguan yang terdengar jelas di telinga Ummi dan yang lain, raut wajah Intan yang tadi terlihat biasa saja kini mulai terlihat bingung.


"Iya, kenapa? apa ada masalah?" tanya Ummi sambil melihat keraguan di mata Intan.


"Ti~tidak, Ummi, hanya saja ~" ucapan Intan menggantung.


"Hanya kenapa?" sahut Ummi seolah mendesak Intan untuk berkata jujur.


"Maaf, Ummi, Intan tidak pernah memasak sebelumnya," jawab Intan jujur.


Jawaban Intan sukses membuat Ketiga wanita yang ada di dapur terkejut, bagaimana bisa gadis sebesar Intan tidak pernah memasak.


"Benarkah?" celetuk Tari yang tak bisa menahan diri untuk tidak ikut berbicara.


Seperti biasa Salma hanya bisa memberi isyarat agar Tari fiam dan tak lagi ikut bicara saat Ummi sedang berbicara dengan orang lain.


"Sorry, aku kelepasan, habis gemes banget denger ucapan dia," bisik Tari yang hanya bisa di dengar oleh Salma dan dirinya.


"Kebiasaan kamu," lirih Salma.


"Iya, aku belum pernah memasak sebelumnya, biasanya ada seseorang yang memasak untukku, jangankan memasak masuk ke dalam dapur pun jarang kecuali jika aku benar-benar terhimpit baru aku pergi ke dapur," jujur Intan.


"Baiklah, tidak apa-apa, kamu ke sini mau apa?" kini Ummi mulai mengerti jika tamunya itu datang ke dapur bukan untuk membantu dirinya memasak.

__ADS_1


"Emm, Intan lapar Ummi, makanya Intan datang ke sini. Intan bingung mau ke mana? sedangkan Intan baru sampai di sini tidak tahu warung ataupun restauran yang buka di mana," jawab intan.


Ummi yang mendengar jawaban Intan merasa bersalah, bagaimanapun juga Intan tamu di rumahnya dan Ummi akan sangat berdosa jika membiarkan tamunya kelaparan. Tanpa menyahuti ucapan Intan lagi Ummi langsung berjalan menuju lemari penyimpanan makanan dan memberikannya pada Intan.


"Apa kamu mau makan biskuit ini dulu sebelum makan?" tawar Ummi sambil menyodorkan satu toples biskuit dari tangannya ke arah Intan.


"Mau Ummi, maaf, aku merepotkan Ummi," jawab Intan seraya mengambil satu toples biskuit yang di berikan oleh Ummi.


Intan berjalan menuju meja makan kemudian duduk manis di kursi meja makan itu. Sedang Ummi dan yang lain melanjutkan acara memasak mereka.


"Intan!" panggil Kafa.


"Kafa," sahut Intan dengan mata berbinar, sejak tadi dia memang menunggu kedatangan Kafa yang tak terlihat.


"Aku ingin bicara padamu, ikutlah denganku!" titah Kafa.


Tanpa menjawab ataupun menanggapi ucapan Kafa, Intan yang sejak tadi mang menunggunya langsung berjalan mengekor ke mana Kafa melangkah. Kafa mengajak Intan ke teras ruang keluarga di mana tempat itu terlihat sangat sepi.


"Apa? pulang? dan jangan berharap kamu kembali, maksudnya apa coba?" sungut Intan yang mulai merasakan perasaan yang tak enak.


"Intan, maaf, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, lebih baik kita akhiri saja semua dosa yang telah kita lakukan selama ini, maaf jika apa yang aku katakan padamu sudah menyakiti hati, karena kita berbeda dan perbedaan itu tidak akan bisa di satukan Intan," jelas Kafa panjang lebar.


Kafa yang sejak tadi berdiam diri di dalam kamar memikirkan segala hal yang telah di ucapkan oleh Ummi, Kafa sadar jika selama ini dia cukup bersyukur sang Ummi masih mau menerimanya dengan segala hal buruk yang sudah dia lakukan. Kafa berfikir mungkin inilah saatnya dia kembali ke pesantren dan memulai hidup baru.


"Jika aku tidak mau bagaimana?" ujar Intan dengan air mata yabg susah mengalur dan emosi yang dia tahan.


"Kamu harus mau Intan! karena kita gak mungkin bisa bersatu," ujar Kafa.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti, kita bisa bersatu atau tidak? tapi yang aku tahu saat ini kamu tetap milikku dan tidak ada satu orangpun yang bisa memisahkan ataupun menjauhkanku darimu," Intan terlihat begitu tegas dengan tekad yang kuat, dia terlihat sangat terobsesi dengan Kafa.


Mendengar semua ucapan Intan cukup membuat Kafa tercengang, ternyata Intan jauh lebih keras dari yang dia bayangkan, jika Kafa terkejut karena sikap Intan yang tiba-tiba berubah maka sangat berbeda dengan Intan yang kini berdiri melenggang pergi meninggalkan Kafa setelah memberi pesan.


"Kafa, ingatlah! aku bukan gadis yang bisa di permainkan, jadi jangan pernah memutuskan hubungan sepihak karena aku tidak akan pernah tinggal diam jika di campakkan tanpa sebab seperti ini." Hardik Intan kemudian pergi meninggalkan Kafa yang terlihat masih syok dengan sikap Intan.


'Aku salah memilih dan memutuskan,' batin Kafa menatap lekat ke arah Intan yang semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya.


"Ummi, apa Intan boleh membantu?" tanya Intan yang ternyata berjalan menuju dapur setelah mengusap air mata agar tak terlihat oleh Kafa.


"Silahkan! apa kamu bisa memotong sayuran ini?" Ummi mempersilahkan Intan untuk membantu dan bertanya lebih dulu apakah Intan bisa memotong sayur atau tidak.


"Pasti bisa Ummi, tapi ajari dulu bagaimana caranya?" jawab Intan.


Dengan telaten Ummi mengajari Intan untuk memotong sayur sop yang akan mereka masak, hari ini Ummi ingin memasak sop ayam untuk Kafa dan Abah.


"Terima kasih Ummi," ujar Intan dengan senyum yang di buat semanis mungkin, sedang Tari yang melihat sikap Intan yang selalu mencari perhatian Ummi hanya menatapnya jengah tanpa berkomentar karena Salma sudah berkali-kali mencegahnya agar tidak sampai mengeluarkan kata-kata ajaibnya.


"Salma!" panggil Ummi.


"Iya, Ummi," sahut Salma menghentikan aktifitasnya menggoreng ikan pendamping sop ayam yang akan mereka buat.


"Ini sopnya. Langsung kamu masak saja!" titah Ummi sambil memberikan satu baskom sayur yang sudah siap di masak.


Salma yang sudah pintar memasak langsung mengambil baskom dari tangan Ummi dan memasaknya sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Ummi.


"Kamu pintar sekali memasak, kamu sudah lama ya bekerja di sini?" tanya Intan dengan entengnya tanpa ada beban, Intan menyangka jika Salma dan Tari adalah pembantu yang di gaji di rumah Ummi.

__ADS_1


Salma terdiam mematung mendengar pertanyaan Intan, sungguh dia tidak menyangka jika gadis di hadapannya bisa bertanya demikian.


'Apa wajahku sudah seperti asisten rumah tangga ya?' batin Salma, sedang Tari langsung menoleh ke arah Intan setelah mendengar pertanyaan Intan, dan Ummi yang mendengar juga ikut terkejut dan reflek menoleh ke arah Intan juga.


__ADS_2