
"Maaf," Salma kembali mengucapkan kata maaf sembari bangun dari posisi rawan yang saat ini dia rasakan.
Keadaan seketika menjadi canggung, Salma merasa sangat malu dengan apa yang telah terjadi, dia langsung berdiri kemudian berlari menuju kamar mandi. Sedang Kafa masih dia mematung dan duduk merasakan detak jantungnya yang tengah berpacu dengan kerasnya.
'Kenapa rasanya seperti pertama kali jatuh hati pada Bella ya?' batin Kafa sambil menempelkan tangan tepat di dadanya.
Berbedadengan Kafa yang terus merasakan rasa yang aneh, Salmajustru merasa sangat malu dengan apa yang baru saja terjadi, pasalnya apa yang terjadi barusan adalah kesalahan Salma.
"Bodoh, kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu?" lirih Salma sambil menoyor pelan kepalanya sendiri merutuki sikap bodohyang dia lakukan tadi.
Tok ... tok ... tok ....
Kafa merasa resah dan mulai mengetuk pintu mencoba mengetahui keberadaan Salma di dalam kamar mandi, apakah dia baik-baik saja atau malah sebaliknya.
"Salma, apa kamu masih di dalam?" bukannya bertanya dengan benar Kafa malah menanyakan sesuatu yang terdengar konyol, Salma tentu masih berada di dalam karena pintu kamar mandinya masih terkunci dengan sempurna.
"Iya, tunggu sebentar!" sahut Salma yang langsung melakukan apa yang seharusnya di lakukan sejak tadi secepat kilat kemudian perlahan membuka pintu di mana Kafa sudah berdiri menunggunya.
"Maaf kalau aku terlalu lama di kamar mandi," lirih Salma tapi masih di dengar oleh Kafa.
Kafa tak mengatakan sepatah katapun, dia hanya berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
'Huft, dia bersikap seolah tak terjadi apapun, padahal jantungku udah dag dig dug dan malu banget gara-gara kejadian tadi,' batin Salma mengomel tanpa bisa dia tahan, sikap Kafa masih saja dingin di hadapan Salma meski sebenarnya dia sedang menyembunyikan sesuatu yang sedang terjadi dalam dirinya.
Subuh penuh tragedi telah berlalu kini Kafa dan Salma duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh.
"Mas Kafa kalau pagi minum kopi atau teh?" tanya Salma.
Sebenarnya sejak tadi Salma berniat untuk pergi keluar kamar menuju dapur membuat minum untuk Kafa, tapi niatnya di urungkan setelah dia sadar jika dirinya tidak tahu minuman apa yang biasa di minum atau minuman kesukaan Kafa, sekuat tenaga Salma mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
__ADS_1
"Buatkan aku kopi! tapi jangan terlalu manis," jawab Kafa yang kini malah sibuk memperhatika n ponsel yang menyala.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Salma berdiri melenggang pergi meninggalkan Kafa keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Kafa.
Salma memang belum mencintai Kafa, tapi dia harus berusaha menjadi suami yang baik, itu wajib hukumnya karena Salma kini sudah mengerti kewajiban seorang istri.
"Huft, lama-lama bisa jantungan aku kalau terus berdekatan dengan Salma, dasar jantung dan hati tidak bisa di ajak kompromi," gumam Kafa seraya melempar kasar ponselnya ke atas kasur, sejak tadi Kafa hanya mengalihkan perhatiannya agar dia bisa mengendalikan diri untuk tidak mengikuti irama jantung dan kata hati yang tak sejalan dengan logika.
Cinta memang aneh dan sulit untuk di tebak, kapan dia datang dan pada siapa cinta itu berlabuh kita tak akan pernah bisa mengendalikannya, karena sejatinya rasa cinta itu bukan kita yang mengatur tapi takdir tuhanlah yang menentukan.
Salma berjalan perlahan menuju dapur hingga langkahnya terhenti karena suara Ummi memanggilnya.
"Salma!" panggil Ummi.
"Iya, Ummi," sahut Salma menghentikan langkahnya kemudian berbalik menoleh ke arah Ummi yang berdiri tepat di belakangnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ummi dengan senyum yang masih terlihat.
"Salma mau ke dapur, Ummi," jawab Salma yang ikut tersenyum karena melihat senyum Ummi yang terpampang jelas di wajahnya.
"Apa Kamu mau buatin Kafa minum?" tebak Ummi.
"Benar Ummi, Salma mau buatin Mas Kafa Kopi," jawab Salma.
"Ikut Ummi! biar Ummi ajarkan bagaimana cara membuat kopi yang di sukai Kafa," Ummi langsung menggenggam tangan Salma dan mengajaknya berjalan menuju dapur.
"Kafa biasanya suka minum koli dengan satu sendok gula dan satu sendok kopi, tidak terlalu manis juga tidak terlalu pahit, dan kamu jyga tahu Kafa suka sekali rempeyek, selebihnya dia makan apapun yang ada kecuali udang, Kafa sangat alergi dengan udang meskipun udang itu sudah di olah menjadi bahan masakan atau bumbu, tubuh Kafa tetap tidak akan bisa menerimanya masuk," jelas Ummi.
"Terima kasih sudah memberi tahu Salma Ummi," beo Salma yang sejak tadi hanya mengikuti langkah Ummi.
__ADS_1
"Salma, setelah sarapan nanti datanglah ke kamar Ummi! ada sesuatu yang harus Ummi bicarakan denganmu sebelum kamu dan Kafa pergi nanti," pinta Ummi.
"Baik, Ummi, tapi saat ini Salma mau ke kamar dulu memberikan kopi ini," pamit Salma yang di jawab Ummi dengan anggukan kepala dan belaian lembut di kepala Salma.
Salma yang merasa sudah selesai membuat kopi segera berpamitan untuk kembali ke dalam kamar memberikan kopi yang sudah dia buatkan dengan petunjuk dari Ummi.
"Mas Kafa, ini kopinya." Salma meletakkan secangkir kopi tepat di atas meja kotak di depan sofa di mana Kafa duduk.
"Terima kasih, setelah ini siapkan baju ganti untukku!" sahut Kafa yang juga memberikan perintah untuk Salma.
"Baik, Mas Kafa," jawab Salma.
Salma tetap melakukan apa yangd di perintahkan Kafa yang kini sudah menjadi suaminya, meskipun dalam hati Salma masih ada keraguan untuk menyentuh baju, terutama benda sakral berbentuk segitiga milik Kafa tapi Salma tetap mengambilnya.
"Baju gantinya aku letakkan di atas kasur," ujar Salma melangkah pergi menuju kamar mandi kemudian berjalan menuju dapur untuk membantu Mbak Mila memasak di dapur. Meski sebenarnya Salma sudah di larang untuk membantu di dapur tapi dia tetap membantunya. Salma beralasan jika saat ini dia ingin memasak sebelum pergi ke kota.
"Mas Kafa!" lirih Salma.
"Hm," sahut Kafa acuh tanpa menoleh ke arah Salma yang sejak tadi memanggilnya.
"Ayo sarapan! sudah di tunggu Ummi di dapur," ajak Salma.
Seperti biasa Kafa tak bersuara, dia berdiri menyimpan ponsel yang sejak tadi menemaninya kemudian berjalan mengikuti langkah Salma menuju dapur.
"Wahh pengantin barunya udah dateng, sini gabung!" sambut Ummi dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Kafa hanya menggeleng heran melihat Ummi yang selalu saja bertindak berlebihan menurutnya.
Ummi mengambilkan nasi untuk Abah, dan Salma juga melakukan hal yang sama, sedangkan di meja makan masih ada Tari yang duduk sendiri melihat kedua pasangan sedang melakukan hal romantis menurutnya.
"Kamu kenapa cemberut Tari?" tanya Ummi saat dia melihat ekspresi wajah Tari.
__ADS_1
Sejak Salma menikah Ummi meminta Tari menggantikan tugas Salma untuk membantunya memasak dan ikut makan bersama seperti yang di lakukan Salma dan Tari mengiyakan permintaan Ummi, sejak itulah Tari berada di meja makan dan makan bersama keluarga Ummi yang lain.