
Melihat ekspresi wajah Kafa yang terus saja menatap tajam ke arah Tari cukup membuat Salma khawatir.
"Tari!" panggil Salma seraya memberi isyarat agar Tari bisa diam dan menghentikan tawanya.
"Sorry, aku keceplosan, Maaf ya Mas Kafa," alasan klasik yang selalu terucap dari bibir Tari.
Tatapan mata Kafa mulai berubah setelah mendengar permintaan maaf yang terucap dari bibir Tari, dia beranjak duduk di samping Ghozi.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" Kafa mulai mengintrogasi kedua gadis yang berstatus santri di pesantren yang di kelolah oleh kedua orang tuanya.
Meski Kafa sering bersikap seenak hatinya, tapi dia merasa jika memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik pesantren yang di kelolah oleh Ummi dan Abahnya.
"Kita sedang jalan-jalan Mas Kafa, menghilangkan kejenuhan," jawab Tari santai, di wajahnya tak sedikitpun terlihat ekspresi takut ataupun bingung dia malah terlihat sangat santai seperti berbicara dengan temannya sendiri.
"Apa kalian tidak tahu aturan pesantren?" Kafa kembali bertanya setelah mendengar jawaban Tari yang begitu ringan seringan kapas.
"Tahu, kita itu santri yang patuh, iya kan Salma?" ujar Tari sambil melempar pertanyaan pada Salma yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara Tari dan Kafa.
"Hmmm, iya," jawab Salma singkat.
"Jika kalian tahu peraturan pesantren dan kalian juga termasuk santri yang patuh, kenapa kalian ada di sini?" Kafa terus saja bertanya.
"Kan sudah aku bilang tadi, kita jalan-jalan menghilangkan kejenuhan, memangnya ada yang salah dengan apa yang kita lakukan?" Tari mulai greget mendengar pertanyaan-pertanyaan Kafa yang membingungkan.
"Kalian tahu peraturan di pesantren bukan, berarti kalian tahu jika seorang santri di larang keluar dari area pesantren apa lagi sampai jalan-jalan keluar seperti kalian," Kafa mulai menjelaskan alasan dirinya terus bertanya seolah mengintrogasi seseorang yang melakukan kesalahan.
"Kami tahu Mas Kafa, tapi peraturan itu terjadi jika kami tidak dapat izin dari Ummi ataupun Abah, berbeda dengan kami saat ini, Ummi sudah memberi izin pada kami untuk keluar area pesantren dan kembali nanti sore," jelas Tari.
Mendengar penjelasan Tari membuat Kafa terdiam seribu bahasa, sedang Ghozi yang sejak tadi diam memperhatikan keduanya kini sedang berusaha keras menahan tawa karena kesalah fahaman yang terjadi pada Kafa.
__ADS_1
"Maaf jika Mas Kafa merasa terganggu ataupun tidak suka jika kami berada di sini, dan maaf juga jika sikap kami merugikan Mas Kafa ataupun pesantren yang Ummi kelola, kami akan segera pergi setelah makanan ini habis." Ucap Salma, entah mengapa dia justru merasa tak enak hati dan terus meminta maaf.
"Kenapa kita harus minta maaf Salma? bukankah kita tidak salah, lagi pula kita sudah dapat izin dari Ummi, untuk apa kita minta maaf?" sifat Tari yang suka ceplas-ceplis mulai kambuh dan hal itu sukses membuat Salma jengkel.
"Diamlah Tari!" seru Salma.
Mendengar ucapan Salma membuat Tari terdiam, bukan karena dia takut pada Salma, tapi Tari mengalah karena dia tahu jika Salma melakukan hal yang benar.
"Ghozi! selesaikan pembayarannya! sekalian punya mereka, aku tunggu di mobil." Titah Kafa kemudian melenggang pergi meninggalkan cafe dengan langkah lebar.
"Isshhh, kenapa langsung pergi sih?" keluh Tari sambil menatap ke arah Kafa yang sudah keluar dari cafe.
"Memangnya kenapa kalau langsung pergi, Tari?" tanya Ghozi dengan ekspresi penasaran yang tergambar jelas di wajahnya.
" Harusnya itu dia minta maaf dulu setelah menuduh aku dan Salma, bukannya malah pergi seenaknya gitu," jawab Tari.
Ghozi tersenyum mendengar jawaban Tati yang menurutnya memang benar, tapi Kafa bukanlah orang yang mudah meminta maaf, jadi Tari tidak akan mudah mendengar kata maaf dari Kafa.
"Tidak apa-apa, aku pergi dulu. Kafa pasti sudah menunggu. Dan kalian tenang saja jangan fikirkan ucapan Kafa! dia hanya salah faham," pesan Ghozi sebelum akhirnya pergi meninggalkan keduanya.
"Tanang saja, kami bukan tipe orang yang suka mikir kok," ujar Tari.
Ghozi hanya tersenyum kemudian pergi menyusul Kafa, begitu pula dengan Salma yang hanya tersenyum manis ke arah Ghozi yang sudah tak terlihat.
"Mas Kafa itu pasti malu, iya kan Salma?" celetuk Tari saat Kafa dan Ghozi telah pergi.
"Sudah, jangan bahas dia! mau malu apa tidak, semua itu bukan urusan kita," Salma yang mengerti jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah Kafa menghentikan ucapan Tari sebelum semuanya semakin panjang.
"Kamu bener juga, ngapain kita bahas dia, lebih baik kita bahas apa yang akan kita lakukan setelah ini sebelum waktu yang di berikan Ummi habis," Tari yang sangat mengerti maksud dari ucapan Salma kini mulai mengalihkan pembicaraan dan membahas hal lain yang mungkin akan jauh lebih indah.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pergi ke mall?" usul Salma.
"Mall, mau ngapain Salma?" sahut Tari yang bingung dengan jawaban Salma.
"Jalan-jalan lah, emang kita mau apa lagi ke sana." Ujar Salma enteng.
"Idih gaya amat kamu jalan-jalan ke Mall, emang kamu punya uang buat jalan-jalan ke sana?" tanya Tari.
"Emang kita harus punya uang dulu kalau mau ke sana?" Salma balik bertanya.
"Ya haruslah! kalau gak punya uang kita bisa apa di sana?" ujar Tari.
"Jalan-jalan, kita jalan aja di sana sambil lihat-lihat barang. Emang di mall di wajibkan beli apa? enggak Kan?" tutur Salma.
Mendengar penuturan Salma membuat Tari terdiam, dia terus berfikir tentang mall yang di ucapkan oleh Salma.
"Tari!" panggil Salma mencoba menyadarkan Tari yang terlihat terdiam tanpa ada kata.
"Hm," sahut Tari singkat.
"Kenapa kamu diam?" tanya Salma bingung melihat Tari yang hanya diam.
"Aku cuma lagi mikir aja, apa lebih baik aku ikuti aja saran kamu, atau kita pergi ke tempat lain?" jawab Tari.
"Astaghfirullah, cuma jalan-jalan aja harus di fikirin segala, sudah kita ke mall aja! jangan terlalu di fikirkan!" Salma langsung berdiri mengajak Tari keluar dari cafe dan segera berangkat ke mall sesuai dengan rencana yang sudah tersusun di kepalanya.
"Eh mau ke mana? duduk dulu! serabiku belum habis, mubazir," ujar Tari seraya menarik tangan Salma agar kembali duduk di hadapannya.
"Makanya ayo cepetan habisin! waktu kuta jalan-jalan itu tidak lama, cuma makan satu porsi serabi aja lama banget kamu," ujar Salma dengan ekspresi sedikit kesal melihat tingkah Tari yang sejak tadi mirip anak kecil.
__ADS_1
"Iya, iya, sabar sedikit kenapa sih, buru-buru amat," sahut Tari kemudian menghabiskan satu porsi serabi di hadapannya yang tadi tinggal setengah.