
Sejak kemarin suasana pesantren begitu riuh dan sibuk, Ummi yang begitu antusias menyiapkan segala keperluan untuk acara pertunangan yang terlihat begitu meriah, ruang tamu yang awalnya terlihat sepi kini lebih ramai dengan dekorasi yang di siapkan oleh Ummi, meski sudah berkali-kali Kafa menolak tapi Ummi tetap kekeh dengan pendiriannya, dia ingin mengumumkan pada semua orang yang dia kenal dekat dan keluarga siapa gadis yang akan menjadi calon menantunya itu, dekorasi indah menghiasi dinding yang kini bertuliskan Kafa dan salma sungguh pesta pertunangan yang cukup meriah telah siap.
"Ummi, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Salma saat melihat dekorasi yang ada di ruang tamu.
"Putera Ummi hanya satu dan Ummi tak ingin melewatkan peristiwa penting ini begitu saja, karena pesta ini hanya akan terjadi satu kali dalam hidup Ummi, jafi tak ada satu orangpun yang boleh protes atas apa yang telh Ummi lakukan dan siapkan untuk kalian!" tegas Ummi tak terbantahkan.
"Nikmati saja apa yang ada! jangan terlau banyak mengeluh ataupun protes!" suara Kafa begitu tajam terdengar di telinga Salma dan apa yang di ucapkan Kafa sukses membuat Salma merasa jengkel.
'Astaghfirullah, apa aku harus mendengarkan mulut tajam itu setiap hari? apa aku sanggup?' batin Salma menatap pedih ke arah Kafa.
Kafa yang melihat tatapan sedih dari sorot mata Salma berjalan mendekat kemudian berbisik, "Jangan menatapku penuh kepedihan seperti itu! aku tidak suka," bisik Kafa dengan nada tegas penuh penekanan.
Salma hanya bisa diam mendengar bisikan Kafa, sungguh saat ini dia ingin sekali lari dan membatalkan acara pertunangan yang sebentar lagi akan di mulai, tapi niat itu di urungkan setelah melihat sang Ummi yang tersenyum senang menyambut para saudara yang baru saja datang.
"Salma!" panggil Ummi saat melihat Salma diam menatap ke arahnya.
"Iya, Ummi," sahut Salma seraya berjalan mendekat ke arah Ummi.
Ummi memperkenalkan Salma pada semua saudaranya, satu persatu saudara Ummi bersalaman dan memperkenalkan diri pada Salma calon menantu Ummi yang selama ini di rahasiakan.
__ADS_1
"Kamu sudah ada di sini, ngomong-ngomong orang tua kamu ke mana?" tanya salah satu saudara Ummi.
"Kedua orang tuaku sudah meninggal, dan aku sebatang kara," jawab Salma penuh ketegaran yang tergambar jelas di wajah Salma.
"Astaghfirullah, maaf Salma, saya tidak punya maksud apa-apa," ucap saudara Ummi yang kini menunjukkan ekspresi penuh rasa bersalah yang tergambar dengan jelas di wajahnya.
"Tidak apa-apa, memang begini adanya saya, jadi saya tidak masalah dengan pertanyaan yang di ajukan tadi," ujar Salma.
Saudara Ummi tersenyum menanggapi ucapan Salma yang begitu lembut menenangkan hati, saudara Ummi kini mengerti apa yang membuat Ummi memilih Salma sebagai calon menantunya meski dia bukan berasal dari keluarga kiyai atau putri pemilik pesantren, tapi keanggunan dan kelembutan yang memancar dari dalam diri Salma menjadi daya tarik dan kelebihan tersendiri untuk Ummi.
Acara pertunangan yang di tunggu-tunggu oleh sebagian besar keluarga Ummi kini telah di mulai, Kafa dan Salma berdiri di antara Ummi dan Ummi memasangkan cincin tanda pengikat di jemari manis Salma sebagai wakil dari Kafa sang putera.
Apa yang terjadi di ruang tamu Ummi menyebabkan kehebohan di dalam pesantren baik itu pesantren putra maupun putri, banyak dari mereka yang tidak menyangka jika calon istri dari Kafa adalah Salma yang notabennya santri baru, bahkan sebagian besar santri mengira jika Salma itu saudara Ummi karena kedekatan yang terjalin sejak pertama kali Salma datang ke pesantren.
"Selamat ya Salma," satu persatu saudara Ummi memberi ucapan selamat pada Salma yang di sambut dengan senyuman manis olehnya.
"Terima kasih," sahut Salma.
Acara terus berjalan hingga acara puncak dan berakhir dengan lancar, Salma berjalan kembali menuju asrama setelah seluruh acara selesai.
__ADS_1
"Kenapa semuanya menatapku seperti itu? dan kenapa mereka menghindar Tari?" tanya Salma saat melihat sebagian besar santri yang berada di samping jalan yang di lewati Salma menatap dirinya dengan tatapan yang berbeda-beda, ada yang menatap Salma dengan kagum, ada pula yang menatapnya dengan penuh kebencian, ada pula yang menatapnya penuh tanda tanya, kini Salma menjadi pusat perhatian sebagain besar para santri.
"Mereka semua iri melihat kamu yang di pilih Ummi sebagai calon menantu, meski aku tahu banyak yang bilang jika Kafa bukan putera yang baik bahkan terkenal brutal, tapi aku tahu dengan pasti jika banyak orang yang menginginkan posisimu saat ini," tutur Tari pada Salma.
"Karena hal inilah aku sempat meminta Ummi untuk merahasiakan identitasku sebelum kami resmi menjadi suami istri, tapi Ummi tetap bersi keras memperkenalkanku saat acara pertunangan, semoga saja ke depannya lebih baik dan sikap mereka tidak berubah, juga tak ada gosip yang akan mengganggu ketenanganku sebagai santri selama satu bulan ini," ujar Salma seraya mengatakan berbagai harapannya pada Tari.
"Amin, semoga saja, aku pun berharap demikian Salma," sahut Tari, meski awalnya Tari sempat cemburu pada Salma karena Ghozi pernah meminangnya, tapi Tari mampu menyembunyikannya hinhha Salma tidak pernah tahu tentang kecemburuannya itu.
Keduanya berjalan menuju kamar dengan Salma yang masijh memakai gaun yang tadi dia gunakan dalam acara pertunangan, dan benar saja semua mata langsung tertuju pada Salma yang baru saja datang, tatapan yang tadi di terima Salma kini kembali dia terima.
"Sudah, jangan di hiraukan! kita langsung ke kamar saja." Ajak Tari seraya menggandeng lengan Salma untuk masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang sukses membuat perasaan Salma campur aduk karenanya.
"Masya allah, aku tidak menyangka jika calon Mas Kafa ternyata dirimu Salma," celetuk Ratna sesaat setelah Salma masuk ke dalam kamar.
Salma hanya tersenyum menanggapi ucapan Ratna yang ada di hadapannya. Ratna menatap kagum ke arah Salma karena gadis di hadapannya ini tetap bersikap biasa saja bahkan menyembunyikan identitasnya jika dirinya calon menantu dari pemilik pesantren, andai saja jika yang ada di posisinya orang lain, maka bisa di pastikan jika gadis itu akan pamer juga berlagak sombong atau bahkan memanfaatnkan statusnya untuk kepentingannya sendiri, tapi apa yang di lakukan oleh Salma sangatlah jauh dati gadis kebanyakan.
"Apa sekarang kita juga harus memanggilmu dengan sebutan Neng Salma?" tanya Ratna dengan senyum yang mengembang di pipinya.
"Jangan Mbak Ratna! panggil saja aku seperti sebelumnya, lagi pula aku juga belum resmi jadi istri Mas Kafa, aku masih calonnya Mbak, jadi panggil saja aku seperti biasanya Mbak Salma manggil aku," larang Salma yang tak ingin panggilan Ratna padanya berubah hanya karena dia kini menjadi calon menantu Ummi.
__ADS_1