
Kafa tersenyum lucu melihat Salma terlelap dalam tidurnya, Salma terlihat seperti bayi yang tak memiliki dosa, wajahnya begitu tenang dan menenangkan, entah apa yang sedang terjadi dalam mimpinya hingga dia terlihat begitu tenang saat ini.
Kafa telah selesai memarkirkan mobil karena mereka telah sampai di parkiran, tapi Kafa tak ada niat untuk membangunkan Salma yang tertidur, rasanya begitu sayang jika harus melewatkan pemandangan indah di pagi hari ini, biasanya Salma akan bangun lebih dulu setiap pagi, karena itulah Kafa mempergunakan kesempatan itu sebaik mungkin.
"Cantik," lirih Kafa seraya terus memperhatikan wajah Salma yang masih saja terlelap meski mobil yang dia tumpangi tak lagi bergerak.
Kafa terus menatap lekat ke arah Salma, perlahan tapi pasti tangan yang sejak tadi sudah memberontak ingin menyentuh pipi mulus milik Salma kini perlahan terangkat dan mulai menyentuh pipi merah yang sejak tadi menggodanya.
"Bagaimana aku bisa berpaling jika kamu terlihat begitu sempurna seperti ini Salma? jangankan untuk menolak menjauh pun aku tidak mampu, kamu memang sempurna bukan hanya wajah, tapi juga sifat dan sikapmu apalagi kepribadianmu yang begitu lembut, sungguh aku sudah jatuh dalam pesonamu Salma," Kafa terus saja memuji Salma yang perlahan mulai terusik dengan sentuhan yang di berikan Oleh Kafa.
"Euhhh ...." lenguh Salma, menggeliat pelan mencoba mengumpulkan segala kesadaran yang yang harusnya sudah berkumpul.
Apa yang di lakukan Salma sukses membuat Kafa terkejut, dia langsung menjauhkan diri dari wajah Salma hingga terbentur kaca pintu mobil saking kagetnya.
"Auuuu ... aghh ...." keluh Kafa merasakan kepala bagian belakangnya berdenyut merdu.
"Eh Mas Kafa kenapa?" tanya Salma yang baru bangun langsung mendekat ke arah Kafa dan reflek memegang tangan Kafa karena melihat Kafa kesakitan.
"Yang sakit kepalaku Salma, kenapa yang kamu pegang tanganku?" ujar Kafa tersenyum manis ke arah Salma, rasa sakit yang tadi dia rasakan mendadak hilang setelah Salma memegang tangannya.
"Maaf, aku reflek tadi," jawab Salma.
"Kenapa di lepas?" tanya Kafa saat Salma melepas pegangan tangannya.
"Katanya yang sakit bukan tangan tapi kepala, jadi buat apa aku pegang tangan Mas Kafa, kan tidak ada gunanya juga," jawab Salma.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu pijit kepalaku!" titah Kafa mendekatkan kepalanya ke arah Salma.
Salma langsung memijit kepala Kafa dengan gerakan lembut penuh kehati-hatian, Kafa yang awalnya merasa denyutan kini benar-bebar hilang, rasa sakit itu hilang tidak tersisa setelah Salma memijatnya.
"Sudah, kepalaku sudah terasa lebih baik, ayo turun!" ucap Kafa setelah merasa jauh lebih baik, kepalanya terasa lebih ringan dan tidak lagi merasa sakit.
"Ternyata kamu pintar juga memijat," sambung Kafa setelah keduanya turun dari mobil.
"Benarkah? wah berarti aku punya bakat juga memijat," sahut Salma.
"Kali ini aku setuju denganmu," ucap Kafa menyetujui apa yang Salma katakan.
"Kalau aku buka jasa pijat bagaimana ya? mungkin akan ada banyak orang yang datang dan aku punya kerjaan baru," cicit Salma.
Kafa langsung menghentikan langkahnya saat mendengar Salma mengatakan hal yang sukses membuat Kafa terbakar api cemburu.
"Kenapa berhenti?" tanya Salma polos.
"Coba saja buka jasa pijat, akan aku bakar bangunan sekalian sama orang yang datang untuk pijat," ucap Kafa.
Salma bergidik ngeri saat mendengar ucapan Kafa yang begitu menyeramkan, bagaimana bisa Kafa melakukan hal semengerikan itu.
"Mas Kafa serius?" bukannya diam Salma malah kembali bertanya.
"Coba saja jika kamu tidak percaya!" tantang Kafa yang kini berwajah menyeramkan, moodnya benar-benar hancur setelah mendengar ucapan Salma, membayangkan Salma memijat orang lain bisa membuat Kafa seemosi ini, bagaimana jika apa yang di katakan Salma menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Mas Kafa marah?" Salma terus saja bertanya, kali ini wajah Salma terlihat begiu polos tanpa dosa, Salma terlihat seperti anak kecil yang memang tidak tahu jika Kafa sedang emosi.
"Menurutmu?" Kafa menatap lekat ke arah Salma menunjukkan emosi yang kini sedang dia rasakan.
"Maaf, kalau ada ucapanku yang menyinggung ataupun menyakiti perasaan Mas Kafa, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu," ujar Salma sambil menundukkan kepala menyesali sesuatu yang belum dia sadari.
"Jangan pernah berniat untuk membuka jasa pijat, jangankan niat membayangkannya saja jangan!" larang Kafa.
Kini Salma mengerti alasan kenapa Kafa marah, dia memilih mengangguk dengan wajah penuh penyesalan yang dia tunjukkan ke arah Lafa dari pada harus berdebat yang pada akhirnya dirinya yang pasti kalah.
"Apa kita masih mau di sini atau mau mulai belanja?" tanya Salma saat melihat Kafa diam mematung dan tidak bergerak.
"Ayo!" ajak Kafa berjalan sambil meraih tangan Salma dan mengenggamnya.
Salma merasa aneh dengan sikap Kafa saat ini, Kafa jauh lebih lembut dan tadi terlihat jelas jika Kafa sedang cemburu, saat ini Kafa juga menggenggam tangannya, sungguh Salma merasa Kafa bernar-benar berubah, setelah menyadari apa yang telah terjadi dalam diri Kafa membuat senyum manis muncul di wajah Salma.
"Mbok Sumik menulis apa saja?" tanya Kafa, tapi Salma tidak menjawab apa yang di tanya oleh Kafa.
"Salma!" Kafa sekali lagi memanggil Salma yang tetap saja tidak menjawabnya.
"Hey!" Kafa langsung terdiam menghentikan langkahnya, sedangkan Salma masih saja beejalan, akhirnya Kafa memutuskan menarik tangan Salma hingga dia jatuh ke dalam pelukan Kafa.
"Auuu," keluh Salma sambil mengusap keningnya yang tertabrak pundak Kafa yang kokoh.
"Isshhh Mas Kafa kenapa tarik-tarik? sakit tahu," Salma kembali mengeluh karena merasakan sakit di keningnya.
"Maaf, kamu aku panggil sejak tadi gak jawab-jawab," ujar Kafa.
"Aku tidak pernah berbohong padamu Salma," Kafa mencoba meyakinkan Salma.
"Maaf," ucap Salma yang merasa bersalah karena tidak menyahuti panggilan Kafa.
"Sudahlah, jangan meminta maaf terus! sekarang lebih baik kamu lihat apa saja yang di tulis sama Mbok Sumik," titah Kafa yang langsung di turuti oleh Salma.
"Mbok Sumik meminta kita membelikan bumbu dapur," ucap Salma.
"Baiklah ayo ke bagian bumbu dapur!" ajak Kafa menggandeng tangan Salma menuju tempat bumbu dapur berada.
Salma dan Kafa menghabiskan banyak waktu untuk memilih beberapa bahan masakan, keduanya terlihat begitu harmonis, kKafa berjalan di samping Salma sambil mendorong troli dan Salma memilih barang yang ingin dia beli.
"Jangan lupa beli jamur!" Kafa mengingatkan Salma yang sejak tadi membeli bahan masakan tapi belum juga mengambil jamur dan bahan untuk membuat jamur crispy sesuai dengan apa yang di inginkan oleh Kafa.
"Astaghfirullah aku lupa, Ghozi juga meminta buatkan soto tapi aku belum mengambil bahannya," lirih salma tapi masih bisa di dengar oleh Kafa.
Salma berjalan tanpa menoleh ke arah Kafa yang diam tak bergerak.
"Mas Kaf~" suara Salma terhenti dan tak lagi terdengar saat dia menoleh ke arah samping dan tidak lagi melihat Kafa di sampingnya.
"Loh, kenapa Mas Kafa malah diam di situ?" tanya Salma saat melihat kebelakang dan terlihat Kafa sedang berdiri menatapnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Kenapa kamu ribut membelikan pesanan Ghozi? pesananku saja belum kamu belikan," ujar Kafa dengan ekspresi datar yang masih setia menempel di wajahnya.
__ADS_1
"Maaf Mas, aku tidak bermaksud apa-apa, sekarang kita beli jamur dulu." Ajak Salma.
Kafa hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat sikap Salma yang terlihat lebih perhatian dengan Ghozi dari pada dengan dirinya.
"Mas Kafa mau jamur yang mana?" tanya Salma dengan senyum manis di bibirnya mengangkat dua jenis jamur ditangannya.
"Ambil saja keduanya!" jawab Kafa.
"Baiklah, keduanya memang enak jika di masak," ucap Salma memasukkan kedua jenis jamur tadi ke dalam troli.
"Kita beli ayam sebentar ya Mas, setelah itu kita beli snack untuk di rumah," ujar Salma penuh semangat berjalan beriringan di samping Kafa.
Berbelanja kali ini terasa begitu menyenangkan karena Kafa berbelanja bersama Salma sang istri, waktu berjalan begitu cepat hingga keduanya melupakan sang waktu.
Ddddddrrrtttt ... dddrrrtt ... dddrrrttt ....
Getar ponsel mengejutkan Kafa yang sedang asyik memilih camilan untuk dirinya di rumah.
"Mbok Sumik," lirih Kafa menatap nama yang tertera di dalam ponselnya.
Tanpa banyak berfikir Kafa langsung menggeser gambar yang berwarna hijau.
"Iya, ada apa Mbok?" tanya Kafa tanpa memberi kesempatan pada Mbok Sumik yang sebenarnya ingin mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Mas Kafa pulang jam berapa?" tanya Mbok Sumik.
"Entahlah Mbok, memangnya ada apa?" jawab Kafa mengerutkan dahi bingung, Mbok Sumik tidak biasanya menelfon dan bertanya kapan dia akan pulang seperti saat ini.
"Mbok mau masak nunggu bahan yang di beli Mas Kafa," jawab Mbok Sumik.
"Memangnya di rumah tidak ada bahan sama sekali ta Mbok?" tanya Kafa yang heran dengan penuturan Mbok Sumik.
"Ada Mas Kafa, kalau cuma masak nasi goreng masih ada," jawab Mbok Sumik.
"Terus kenapa tidak masak nasi goreng saja untuk sarapan Mbok Sumik dan Ghozi?" Kafa kembali bertanya.
"Mbok fikir masaknya sekalian nunggu Mas Kafa dan Neng Salma pulang, terus makannya bareng," ujar Mbok Sumik.
"Tidak usah nunggu aku dan Salma, nanti kita sarapan di luar. Mbok Sumik dan Ghozi sarapan dulu saja!" titah Kafa.
"Kenapa Mas?" tanya Salma yang baru saja kembali setelah mengambil ayam yang letaknya lebih jauh dari Kafa berada.
"Tidak ada apa-apa, lanjutkan saja! kamu mau beli apa lagi?" jawab Kafa yang enggan menjelaskan siapa yang menelfonnya tadi.
"Aku sudah selesai memasak, sekarang lebih baik kita cepat pulang sebelum hari semakin siang," ujar Salma.
"Kenapa mesti cepat-cepat? santai saja," sahut Kafa.
"Aku lapar Mas Kafa, kasihan Mbok Sumik juga kalau nunggu kita kelamaan," tutur Salma.
"Kamu tenang saja, Mbok Sumik sudah aku kabari dan kita bisa cari makan di jalan," ujar Kafa santai.
__ADS_1
"Terserah Mas Kafa kalau emang kayak gitu, tapi sekarang kita ke kasir saja, soalnya semua barang yang ingin di beli sudah terbeli semuanya," Salma yang merasa sudah membeli semua bahan yang di butuhkan memilih mengajak Kafa ke kasir dari pada harus muter-muter lagi karena Salma sudah lelah dan lapar.