
"Masya Allah, Sasa cantik sekali pagi ini," sapa Ummi, seperti biasa beliau menyapa Sasa dengan sedikit sanjungan yang bisa membuat Sasa tersenyum senang di pagi hari.
"Terima kasih, Ummi," jawab Sasa dengan senyum riang yang terlihat di wajahnya, tapi senyum itu langsung menghilang saat Sasaelihat ke arah Ghozi yang duduk di kursi meja makan dengan wajah datar.
"Mbak Tari!" lirih Sasa seraya menarik lengan tangan Tari.
"Iya, ada apa Sasa?" tanya Tari sedikit menunduk setelah mengerti jika saat ini Sasa ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Kenapa Mas Ghozi itu masih ada di sini Mbak?" tanya Sasa dengan nada dingin.
"Tentu saja Ghozi ada di sini, dia juga putera Ummi, Sasa," jelas Tari.
"Tapi aku tidak suka sama Mas Ghozi Mbak," jujur Sasa.
"Sasa, bukankah Mbak sudah pernah bilang kalau kita tidak boleh membenci orang lain, apa lagi jika kita membenci orang itu tanpa sebab yang pasti, hal itu tidak baik di lakukan Sayang," tutur Tari yang kini berjongkok menyamakan tinggi badan Sasa yang memang kecil.
"Tetap saja aku tidak menyukai Mas Ghozi," Sasa masih saja bersi keras tidak mau menuruti apa yang Tari bilang, baginya saat ini dia membenci Ghozi karena dia takut jika Ghozi mengambil Tari darinya.
"Kalau Sasa terus-terusan membenci orang tanpa sebab, itu berarti hati Sasa sudah terhasut oleh rayuan setan, dan Sasa tahu bukan kalau tempatnya setan itu di mana?" Tari masih mencari cara agar Sasa tidak terus-terusan mengatakan jika dirinya membenci Ghozi.
"Bukankah setan itu tempatnya di neraka ya Mbak?" sahut Sasa.
"Iya, tepat sekali," ujar Tari yang mulai merasa senang karena Sasa mulai mengikuti apa yang dia katakan.
"Kalau Sasa sudah tahu, terserah Sasa, mau ikut setan ke neraka atau menghilangkan rasa benci yang tak beralasan itu dan ikut malaikat ke surga," Tari yang merasa berhasil mempermainkan perhatiannya Sasa membuat hatinya bahagia.
Dengan langkah pasti Sasa dan Tari berjalan masuk beriringan menempati tempat duduk yang biasa mereka tempati sebelumnya.
"Mas Kafa kapan pulangnya? kenapa ada di sini terus?" tanya Sasa dengan nada dan ekspresi wajah polos yang mampu membuat siapapun menganggap dirinya lucu, tapi hal lain di rasakan oleh Ghozi, dia merasa kurang suka dengan kehadiran Sasa yang menempel seperti cicak di dinding pada Tari.
"Di sini sudah aku anggap seperti rumahku sendiri Sasa, kalaupun aku harus pulang maka aku akan pulang bersama istriku nanti," jawab Ghozi sambil melirik ke arah Tari yang kini menunduk malu setelah mendengar jawaban Ghozi.
Sedang Ummi yang tadi masuk ke dalam rumah setelah menyambut kedatangan Sasa kini baru kembali.
"Apa kalian menunggu Ummi?" tanya Ummi saat melihat ketiganya hanya duduk tanpa mengambil makanan.
"Benar Ummi, akan terasa kurang lengkap jika Ummi tidak ikut makan di sini," jawab Ghozi.
"Silahkan Ummi!" Tari menarik piring yang tadi berada agak jauh dari tempat Ummi duduk dan berdiri hendak mengambilkan makanan untuk Ummi seperti yang biasa dia lakukan.
"Ummi mau makan yang mana?" tawar Tari.
__ADS_1
"Sudah, duduk saja! Ummi akan mengambil sendiri makanan yang mau Ummi makan. Lebih baik kamu ikut makan bersama dengan kita," larang Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Tari yang langsung duduk kembali dan mulai memakan makanan yang baru saja selesai dia ambil, apa yanh di lakukan dirinya juga di lakukan oleh Sasa, dia makan dengan begitu lahapnya hingga tak ada sebutir nasipun di atas piring miliknya.
"Aku akan berubah menjadi badut yang gendut jika makan sebanyak ini setiap hari," celetuk Sasa setelah menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya.
"Kamu tidak akan seperti badut jika makan sebanyak ini terus, tapi kamu akan menjadi Sasa yang cubby, lucu dan menggemaskan jika terus-terusan makan seperti ini," sahut Tari sambil mencubit sayang pipi Sasa yang mulai menggembung.
"Ishh jangan di cubit Mbak! nanti cantiknya luntur," keluh Sasa yang sukses membuat Ummi yang sejak tadi diam memperhatikan keduanya tertawa karenanya.
"Sasa yang cantik, lebih baik Sasa cepat-cepat berangkat sebelum terlambat," sela Ummi.
"Siap, Ummi," jawab Sasa penuh semangat.
"Ummi, aku berangkat duli." Pamit Sasa mencium punggung tangan Ummi dengan kedua tangannya.
"Mbak Tari aku sekolah dulu ya. Hati-hati di sini sendirian dan jangan dekat-dekat dengan Mas Ghozi ya Mbak! Sasa pergi sekolah dulu." Kali ini Sasa berpamitan pada Tari sebelum akhirnya dia pergi keluar dari dapur meninggalkan semua orang yang sedang geleng-geleng kepala melihat sikap Sasa.
"Iya, kamu juga harus hati-hati! sekolah yang bener," pesan Tari untuk Sasa yang hanya mengangguk sebagai jawaban untuk Tari.
"Sasa terlihat semakin lengket padamu, dia seperti tidak mau jauh darimu Tari," ujar Ummi saat melihat betapa Sasa menyayangi Tari.
"Daddy Sasa pernah bilang pada Ummi, wajah Ibu kandung Sasa mirip denganmu, dan sifatmu yang lembut juga perhatian membuat Sasa merasa kalau kamu sudah seperti Ibunya sendiri," tutur Ummi.
"Aku hanya merasa kasihan pada Sasa Ummi, dia masih kecil tapi sudah di tinggal Ibunya," ujar Tari.
"Kamu benar, Sas sungguh tidak beruntung, dia tidak bisa mendapatkan kasih sayang seorang Ibu di usianya yang masih kecil," sahut Ummi.
Ghozi yang berada di antara kedua wanita yang sedang membicarakan Sasa hanya diam sambil terus berharap dia bisa mendapat lebih banyak informasi mengenai Sasa.
"Jika Daddy Sasa memintamu menjadi Ibunya bagaimana Tari?" tanya Ummi, dia sengaja ingin tahu reaksi Ghozi jika mendengar Tari di minta menikah dengan orang lain.
"Maksud Ummi bagaimana?" tanya Tari yang justru tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Ummi.
"Maksud Ummi, bagaimana kalau Daddy nya Sasa memintamu menikah dengannya dan menjadi Ibu Sasa?" tanya Ummi sambil melirik ke arah Ghozi yang langsung tersedak setelah mendengarnya.
"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...." Ghozi yang sedang memasukkan makanan dan baru mengunyahnya langsung terbatuk mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Ummi.
"Minum dulu! lain kali hati-hati kalau makan! pelan-pelan saja, jangan terburu-buru!" spontan Tari seraya memberikan satu gelas air minum ke arah Ghozi.
Tari terlihat begitu panik saat melihat Ghozi tersedak dan batuk-batuk karenanya, dan apa yang terjadi tidak luput dari perhatian Ummi, dia kini tersenyum manis menatap ke arah Ghozi dan Tari yang terlihat begitu romantis tanpa mereka sadari.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ghozi?" tanya Ummi yang semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Tari dan Ghozi.
"Aku hanya terkejut saja Ummi," jawab Ghozi yang berusaha menutupi kebenaran dalam hatinya.
Ummi sangat mengenal Ghozi, karena Ghozi sudah dia anggap seperti puteranya sendiri sejak lama, bagaimana sikap Ghozi saat bertemu dengan orang yang dia benci ataupun yang dia cintai sudah Ummi hafal tanpa perlu di beri tahu.
"Benarkah?" sekali lagi Ummi bertanya mencoba meyakinkan Ghozi atas jawaban yang dia berikan.
"Tentu saja Ummi, mana berani Ghozi berbohong pada Ummi," jawab Ghozi.
"Baguslah,"ujar Ummi.
Beliau masih terlihat biasa saja meski sebenarnya hatinya masih ragu dengan apa yang di katakan oleh Ghozi.
Makan pagi di penuhi drama telah berlalu, seperti biasa Tari akan mengambil jemuran yang sudah kering di siang hari seperti saat ini, dia mengambil beberapa baju yang kemarin di jemur, cuaca yang tidak menentu terkadang membuat jemuran miliknya tidak kering.
"Tari!" Panggil Ghozi yang sengaja datang untuk menemuinya.
"Iya, ada apa Ghozi?" sahut Tari, sejenak menghentikan aktifitasnya melipat baju, seperti biasanya Tari akan langsung melipat baju milik Ummi di atas tempat duduk yang cukup lebar terbuat dari kayu.
"Sejak kapan kamu dekatdengan Sasa?" tanya Ghozi mencoba mengorek informasi dari Tari sendiri tentang siapa Sasa sebenarnya.
"Dia santri baru, belum genap setahun ada di sini," jawab Tari.
"Apa kamu sudah pernah bertemu dengan Daddy nya Sasa?" Ghpzi kembali bertanya dengan ekspresi wajah gelisah yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kenapa kamu bertanya tentang Daddy nya Sasa?" bukannya menjawab Tari malah balik bertanya.
"Jawab saja pertanyaanku Tari!" sahut Ghozi yang terdengar memaksakan.
"Jika aku tidak mau menjawab bagaimana?" Tari terdengar seperti seseorang yang sedang menantang Ghozi.
"Aku hanya ingin memastikan jika gadis yang ingin aku temui dan ku jadikanteman hidup masih setia menungguku di sini," jujur Ghozi, dia masih saja belum bisa mengatakan dengan jelas apa makaud dari setiap ucapannya.
"Gadis itu masih menunggumu Mas, tapi entah sampai kapan dia mampu menunggu, karena menunggu tanpa kepastian adalah hal yang paling bodoh yang pernah dia lakukan," sahut Tari seraya mengambil baju yang sudah rapi dia lipat, Tari sengaja mengatakan semuanya kemudian pergi secepat mungkin agar Ghozi bisa berfikir dan sadar, jika hatinya tidak bisadi permainkan ataupun di suruh menunggu terlalu lama.
Ghozi terdiam mematung mendengar ucapan Tari yang begitu mengena di hatinya, mungkin benar apa yang di katakan Tari, menunggu tanpa kepastian adalah hal paling bodoh yang pernah di lakukan olehnya, siapa yang mau menunggu tanpa ada kepastian? jika bukan karena cinta yang tulus dari dalam hati maka hal itu tidak akan pernah di lakukan oleh seorang gadis.
"Aku juga mencintaimu Tari, tapi aku masih menunggu waktu yang tepat untuk memintamu pada Ummi, jujur Tari, aku masih belum siap menikah untuk sekarang," gumam Ghozi.
Bagi Ghozi menikah itu bukan hal yang mudah ada tanggung jawab besar yang harus di pikul, apa lagi jika dia mengingat latar belakang Tari yang berasal dari keluarga broken home, akankah Umiknya bisa menerima Tari dengan sepenuh hati? sungguh saat ini Ghozi sedang dilema, jika dia terus diam tanla melakukan apapun, Ghozi khawatir Tari akan menyerah dan menerima laki-laki lain, di tambah Sasa yang terlihat begitu dekat dengan Tari, Ghozi khawatir jika Tari akan luluh dan menerima Daddy nya Sasa karena Sasa tak bisa lepas darinya.
__ADS_1