Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Perjalanan Ke Kota


__ADS_3

"Tidak ada, Aku tidak ingin apapun Mbak, yang terpenting Mbak hati-hati," jawab Sasa sambil menundukkan kepala menyembunyikan perasaannya yang tengah hancur.


"Mbak Tari jadi berangkat Sekarang?" tanya Sasa saat melihat Tari sudah rapi dengan satu tas ransel di punggungnya.


"Tentu saja, tapi Mbak mau ke ndalem menemui Ummi dulu sebelum pergi, memangnya ada apa Sasa?" tanya Tari yang kini berjongkok menyamakan tinggi badan Sasa yang memang imut seperti marmut.


"Tidak ada, Aku cuma mau bilang hati-hati ya Mbak! Sama selalu nungguin Mbak di sini." Ujar Sasa dengan ekspresi sedih yang terlihat jelas di wajahnya.


"Mbak akan hati-hati, Sasa tenang saja," sahut Tari yang mengerti dengan perasaan Sasa saat ini, perlahan Tari memeluk Sasa mencoba menyalurkan setiap rasa yang tengah keduanya rasakan.


"Sasa pasti akan kesepian di pesantren tanpa Mbak Tari," bisik Sasa yang masih betah memeluk Tari.


"Mbak gak bakal lama kok Sasa, dua atau tiga hari lagi Mbak pasti pulang," jawaban yang cukup menenangkan hati Sasa yang tengah gundah gulana.


"Aku Sayang Mbak Tari," Salma kembali mengungkapkan isi hatinya dari pada membalas ucapan Tari.


"Sudah sana kembali masuk! jaga diri baik-baik! jangan terlalu lama berdiri di sini! lebih baik istirahat di kamar," Tari memberi nasehat.


"Baiklah, Sasa balik ke kamar dulu ya Mbak." Pamit Sasa melangkah menjauh dari Tari kembali masuk ke dalam kamar.


"Assalamualaikum," ucap Tari yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Waalaikum salam, apa kamu sudah siap, Nak?" tanya Ummi saat melihat Tari datang dengan satu tas ransel yang sudah ada di punggungnya.


"Sudah, Ummi," jawab Tari dengan senyum yang mengwnbang di wajahnya.


"Bagqimaja dengan Ummi?" Tari balik bertanya pada Ummi yang kini tersenyum ke arah Tari.


"Sudah, ayo berangkat!" Ummi langsung berdiri meraih tangan Tari kemudian mengajaknya keluar dari rumah menghampiri Ghozi yang terlihat sedang memanaskan mesin mobil sambil mengelap mobil yang terlihat sedikit berdebu.

__ADS_1


"Apa sudah siap, Ummi?" tanya Ghozi saat melihat Ummi berjalan mendekat ke arahnya.


"Sudah, ayo cepatlah!" jawab Ummi yang langsung berjalan masuk ke dalam mobil dengan Tari yang terus berada di sampingnya.


Ghozi yang mengerti jika Ummi sudah sangat merindukan putera dan menantu kesayangannya itu ikut masuk ke dalm mobil dan segera melajukan mobilnya melewati jalanan yang terlihat sedikit lebih sepi dari biasanya.


"Ghozi," panggil Ummi setelah Ghozi melajukan mobilnya cukup lama.


"Iya, Ummi," sahut Ghozi sedikit mengalihkan perhatiannya ke arah Ummi melewati kaca spion yang berada di tengah.


"Tolong carikan Ummi tempat untuk beristirahat sejenak dan makan," jawab Ummi.


"Baik, Ummi," sahut Ghozi yang kini kembali mengalihkan pandangan menatap lurus ke depan dan sesekali melirik kiri dan kanan untuk melihat keadaan mencari tempat singgah yang menurutnya cukup nyaman dan untuk mereka beristirahat.


Mobil melaju dengan kecepatan yang begitu pelan mencari tempat yang pas hingga Ghozi kenjatuhkan pilihan pada lesehan pjnggir jalan yang terlihat bersih dan asri.


"Ummi, setuju Ghozi, tempatnya cukup indah dan kita bisa beristirahat di sana sebentar," jawaban yang cukup membuat Tari hanya bisa mengikutinya.


Ghozi menemukan mobil mengajak Tari dan Ummi mampir ke sebuah lesehan yang terlihat begitu asri dan rindang, meski berada di tepi jalan raya yang cukup besar, lesehan yang saat ini di hampir Tari dan Ummi benar-benar terlihat nyaman dan sejuk, ada banyak pohon yang tumbuh, di tambah bunga-bunga yang sengaja di tata terapi mungkin semakin memperlengkap keindahan lesehan tersebut.


"Ummi mau pesan apa?" tanya Ghozi saat melihat Ummi dan Tari sudah duduk dengan manisnya di hadapan Ghozi, ketiganya sudah seperti pasutri yang sedang jalan-jalan bersama sang Ibu.


"Mem, Ummi mau pesan gurami bakar saja, kamu mau pesan apa Tari?" Ummi melempar pertanyaan ke arah Tari setelah menjawab pertanyaan Ghozi.


"Aku juga sama kayak Ummi," jawab Tari.


"Baiklah, gurami bakar dua Mbak, dan satu kakap merah bakar, minumnya Ummi mau yang mana?" Ghozi memberikan satu menu ke arah Ummi di mana ada banyak gambar minuman yang terlihat begitu menggiurkan.


"Ummi lemon tea sama satu gelas air putih, kalau kamu mau pesan apa Tari?" Ummi kembali bertanya pada Tari.

__ADS_1


"es teh manis saja," jawab Tari.


Ghozi tersenyum menatap sekilas ke arah Tari yang justru terlihat cuek, sudah beberapa hari ini Tari sedikit mengabaikan Ghozi, meski Ghozi sudah berkali-kali mencoba mendekat tapi Tari memilih untuk menghindar.


Tati bukan gadis bodoh yang akan terus membiarkan Ghozi mengulur waktu, dia tidak akan terus-terusan menunggu tanpa kepastian, sedang Ghozi masih terus menggali informasi sedetail mungkin tentang kehidupan Tari sebelum mereka bertemu, hal itu sangat jauh berbeda dengan apa yang di lakukan oleh Ummi dulu.


Lima belas menit waktu yang di butuhkan ketiganya untuk beristirahat dan bergantian sholat.


"Apa sekarang kita lanjutkan perjalanan? atau Ummi masih mau istirahat lagi?" tanya Ghozi dengan sikap dan ucapan penuh kesopanan.


"Kita langsung berangkat saja, Ummi akan lanjut istirahat di mobil," jawab Ummi yang tadinya sedang menikmati udara sejuk sambil menyandarkan punggungnya kini duduk tegak kemudian berdiri melangkah bersama Tari mengikuti langkah Ghozi yang lebih dulu pergi.


"Bagaimana rasa masakannya Tari?" tanya Ummi sesaat setelah keduanya berada di dalam mobil.


"Enak Ummi," jawab Tari.


"Apa kamu suka masakan tadi?" Ummi kembali bertanya.


"Suka Ummi, Tari bukan tipe gadis yang pemilih soal makanan, asal bisa bikin perut kenyang Tari pasti akan memakannya," jawaban yang di tujukan pada Ummi tapi berefek pada Ghozi.


Senyum samar kini sedikit terlihat di wajah Ghozi yang masih setia menatap lurus ke depan, menyetir mobil penuh dengan kekonsentrasian, meski begitu telinga Ghozi menajam seperti silet yang baru saja di beli, apa yang Ummi dan Kafa tanyakan mampu di dengan dengan baik oleh Ghozi, meskipun dia terlihat cuek dan tidak dengar apapun, tapi telinganya mampu merekam segalanya.


Perjalanan terusan berlangsung hingga ketiganya sampai di rumah di mana Salma dan Kafa memulai hubungan mereka.


Ummi dan Tari teihat masih terlelap dalam dunia mimpi setelah kenyang dan merasa lelah Tari dan Ummi langsung tertidur tanpa memperdulikan apapun lagi.


"Ummi!" panggil Ghozi dengan suara lembut, tapi Ummi tak merespon ataupun merasa terganggu dengan panggilan Ghozi, sedang Tari langsung membuka mata mendengar suara indah Ghozi yang menggelitik di telinga.


"Apa sekarang kita sudah sampai?" tanya Tari.

__ADS_1


__ADS_2