Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Cukup Sudah


__ADS_3

Kafa terus diam, dia tidak banyak bicara pada Salma, meski sesekali Kafa menyahuti apa yang Salma katakan, tapi kini Kafa terlihat jauh lebih pendiam dari pada biasanya.


"Mas," lirih Salma.


Cukup sudah Salma tidak tahan lagi dengan apa yang di lakukan Kafa, diam dan tak mau mengajak bicara cukup membuat Salma bingung sekaligus lelah.


"Hm," sahut Kafa singkat dan dingin, sejak kejadian itu Kafa jauh lebih banyak diam dari pada berbicara, dia hanya berbicara jika itu sangat penting dan mendesak, selebihnya Kafa diam tanpa bahasa dan kata.


"Jangan bersikap seperti ini Mas! aku mohon, jika Mas Kafa seperti ini terus, bagaimana aku bisa memenangkan tantangan itu?" keluh Salma dengan wajah menelas yang membuat siapapun yang melihatnya merasa kasihan.


"Fikir saja sendiri! makanya kalau mau bertindak itu di fikirkan dulu! baik dan buruknya harus kau pertimbangkan!" Kafa kembali mengingatkan Salma atas kesalahan yang dia lakukan.


"Iya, iya, aku ngaku salah, tapi aku ngelakuin semua ini juga karena ingin hidup tenang bersamamu tanpa ada gangguan dari Intan," ujar Salma yang cukup membuat Kafa sedikit gemas karenanya.


"Mana ada seperti itu? masih ada banyak cara yang bisa di lakukan Salma, tidak harus dengan cara menjadikanku bahan taruhan seperti yang kau lakukan saat ini," ucap Kafa mencoba memberi pengertian pada Salma yang terlihat tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Kita harus menghadapi Intan dengan cara apa Mas? semuanya sudah aku lakukan dan hasilnya nihil, kita tak bisa menyingkirkan Intan," tutur Salma.


"Sebenarnya rencana yang pernah kamu utarakan itu cukup bagus untuk menyingkirkan Intan, tapi kenapa sekarang kamu nerima tantangan itu tanpa fikir panjang Salma?" Kafa masih saja terlihat tidak terima dengan keputusan yang di ambil oleh Salma.


"Mas, aku tudak ingin terlalu lama hidup dengan kebohongan, lagi pula mau sampai kapan kita bohong dan mempermainkan Intan? semakin cepat masalah ini di tangani kita bisa pulang ke pesantren lebih cepat Mas, jujur saja, aku rindu suasana di pesantren dan aku juga rindu kasih sayang Ummi yang sudah aku anggap sebagai Ibuku sendiri," Salma mengutarakan alasan dirinya menerima tantangan Intan yang sebenarnya bukanlah hal yang baik.


Kafa terdiam, dia sama sekali tidak memikirkan apa yang di fikirkan oleh Salma, Ummi, dia baru mengingat jika dia tidak busa terlalu lama di kota dan meninggalkan Ummi di pesantren sendirian, Kafa yakin jika saat ini Ummi pasti kesepian karena tidak punya teman untuk berbicara.

__ADS_1


"Mas maaf ya," Salma yang melihat Kafa diam seolah memikirkan apa yang di katakan Salma tadi, dia langsung mengambil kesempatan untuk meminta maaf.


"Bagaimana kalau kamu kalah nanti?" tanya Kafa, apa yang di katakan Salma memang ada benarnya, Kafa harus cepat pulang demi Ummi, dia tidak boleh terlalu lama di kota.


"Ajari aku Mas, dukung dan do'akan aku, jika semua itu sudah aku dapatkan maka aku yakin tidak akan kalah dalam bertandingnanti, karena ridhomu adalah ridhonya juga," ujar Salma mencoba meyakinkan Kafa agar dia mau mendukungnya untuk bertandibg dengan Intan.


Kafa kembali terdiam mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Salma.


"Mas," panggil Salma dengan nada lemah lembut.


"Huft," Kafa menghembuskan nafas kasar mencoba menguatkan diri sebelum dia mengatakan sesuatu.


"Baiklah, kali ini aku mengalah, aku akan ajarkan kamu tapi tidak sekarang, lebih baik sekarang kita istirahat saja." ujar Kafa.


Malam semakin larut, hawa dingin mulai terasa merasuk ke dalam raga, Kafa memilih mengalah berdamai dengan keadaan, meski dirinya tak suka di jadikan bahan percobaan tapi apalah daya, penjelasan Salma sangat masuk akal, Intan harus segera di singkirkan sebelum terlambat dan Ummi juga butuh kehadiran dirinya.


"Aku akan marah padamu kalau kamu terus menyiksaku seperti ini," jawaban yang sungguh membuat Salma bingung, dia merasa tidak pernah menyiksa siapapun termasuk Kafa.


"Kapan aku menyiksa Mas Kafa? sejak tadi aku hanya meminta maaf tanpa menyentuh tubuh Mas Kafa." Bela Salma yang merasa tidak pernah menyiksa ataupun menyakiti Kafa sejak tadi.


"Wajah gemas yang kamu tunjukkan saat ini membuatku tersiksa, adik kecilku yang sejak tadi tertidur pulas kini terbangun karena melihat wajahmu yang menggenaskan itu," ujar Kafa yang cukup membuat Salma bingung karenanya.


"Adik kecil siapa? perasaan Mas Kafa tidak punya adik, lagi pula di sini gak ada anak kecil," ucap Salma semakin bingung dengan prnjelasan Kafa yang membuatnya cukup bingung.

__ADS_1


Kafa meraih tangan Salma yang sedang berdiam di atas kakinya, tanpa kata Kafa langsung membimbing tangan Salma menemui adik kecil yang Kafa maksud.


"Astaghfirullah," spontan Salma sambil menarik tangannya yang tadi di tarik Kafa.


"Dasar mesum!!" Salma langsung tidur menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya hingga hanya kepalanya saja yang terlihat. Sedang Kafa tersenyum lucu melihat tingkah sang istri yang menurutnya sangat lucu.


"Biarin, mesum sama istri sendiri bukanlah hal yang aneh dan menimbulkan dosa, kita malah dapat pahala karenanya." Ujar Kafa yang kini malah menempel dan memeluk Salma dengan begitu eratnya.


"Mas, jangan gini!" protes Salma.


"Kenapa gak boleh? kamu gak suka kalau aku peluk?" tanya Kafa mengerutkan dahi merasa aneh dengan protes yang Salma layangkan.


"Bukan begitu Mas, aku engap plus sesak juga kalau kamu meluknya terlalu erat seperti ini," Salma mengatakan penyebab dirinya protes.


"Oh, aku kira kamu tidak suka, kalau terlalu erat bilang! jangan main protes gitu!" ujar Kafa yang langsung melonggarkan pelukannya.


"Jangan berfikir buruk terus tentangku Mas, aku bukan istri yang suka melawan suami," ujar Salma dengan nada sedikit meninggi karena merasa Kafa selalu menebak buruk tentangnya.


"Iya, Sayang, maafin aku," ujar Kafa sambil menciumi leher Salma yang kini justru menggeliat karena terasa geli.


"Sudahlah Mas, tidak apa-apa, lebih baik kita tidur sekarang! sudah larut malam tidak baik kalau kita terus mengobrol," Salma yang tak ingin melanjutkan perbincangan yang mulai terasa mengkhawatirkan memilih untuk mengakhirinya.


"Baiklah, selamat tidur Sayang, mimpi indah," bisik Kafa seraya mencium pelan rambut Salma yang tergerai indah di hadapannya.

__ADS_1


Malam yang tadinya terasa tegang kini berubah menjadi romantis dan semakin syahdu setelah keduanya saling mengungkapkan rasa dan menyelesaikan segala perselisihan yang terjadi.


Rembulan yang bersinar terang menghiasi malam dengan bintang yang bertaburan memberikan pemandangan indah yang jarang di terlihat oleh indra mata, sungguh malam indah bagi kedua insan yang sedang jatuh cinta dan di mabuk asmara.


__ADS_2