Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Ancaman Intan


__ADS_3

"Sudah jangan bermuka masam seperti itu, dan kamu juga jangan khawatir! di sini sudah ada Kafa dan Tari yang menemani Salma," ujar Abah mencoba menenangkan hati Ummi yang terlihat gelisa.


"Baiklah, Ummi pulang dulu.! Assalamualaikum." Pamit Ummi untuk yang kesekian kalinya.


"Waalaikum salam," jawab Tari dan Kafa hampir bersamaan.


Setelah kepergian Ummi dan Abah Kafa berjalan keluar dari ruangan dan ternyata di luar ruangan Salma sudah ada Ghozi yang berdiri sambil mondar-mandir menunggu Kafa keluar dari kamar Salma.


"Ghozi, ada apa?" tanya Kafa menatap heran ke arah Ghozi yangterlihatbegitu khawatir.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Salma?" tanya Ghozi langsung pada intinya.


"Salma, dia tidak apa-apa, hanya kelelahan saja, dua atau tiga hari di rawat di sini juga bakal sembuh kok, kamu tenang saja," jawsb Kafa santai.


"Syukurlah jika memang seperti itu, aku titip tolong jaga dia dengan baik, dia sudah tidak punya siapapun selain kita," pesan Ghpzi yang membuat Kafa bingung sekaligus merasa aneh, temannya menitipkan calon istri yang memang harus di jaga oleh Kafa.


"Dia calon istriku jika kau lupa itu Ghozi, jadi sudah jadi kewajibanku untuk menjaganya dari segala macam bahaya, termasuk dari pembinor yang siap membawanya pergi," ujar Kafa dengan tatapan sinis yang sukses membuat Ghozi sadar jika saat ini Salma memang bukan miliknya.


"Maaf, aku lupa," lirih Ghozi seraya menunduk kemudian melangkah pergi meninggalkan Kafa yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Ghozi -Ghozi, kapan kamu sadar dan bisa melupakan Salma yang sebentar lagi pasti jadi istriku," lirih Kafa sambil memggelengkan kepala heran.


Drrrrtt ... dddrrrtt ... dddrrrrrtt ....

__ADS_1


Suara getar ponsel yang tersimpan di saku baju milik Kafa kini terdengar, membuat sang empu sedikit terkejut karenanya.


"Isshhh siapa sih ganggu aja," keluh Kafa sambil mengambil pinsel yang ada di sakunya kemudian melihat siapa penelfon yang sudah mengganggunya.


"Intan, kenapa lagi ni anak?" lirih Kafa menatap malas ke arah layar ponsel yang ada di tangannya saat ini.


Melihat Intan yang menelfon membuat minat Kafa menghilang, dia yang sejak awal memang malas kini terasa semakin malas hingga pada akhirnya Kafa memutuskan untuk membiarkan panggilan itu tanpa ada niat untuk meresponnya.


Nada getar panggilan telfon itu terhenti dan kembali berbunyi sesaat setelah mati.


"Astaga, kenapa dulu aku busa menerima gadis keras kepala plus ekstrim seperti Intan ya?" Terbesit sebuah tanya bernada penyesalan yang terdengar dari bibir Kafa, dengan gerakan malas dan terpaksa Kafa mengangkat sambungan telfonnya, tidak ada pilihan lain selain mengangkat sambungan telfon itu karena Intan akan terus menghubunginya jika Kafa tidak meresponnya.


"Hallo, kenapa?" ujar Kafa dengan nada ketus yang terdengar begitu jelas.


"Hay, Honey, jangan terlalu keras padaku! karena kau akan menyesal setelahnya," sahut Intan penuh percaya diri.


"Aku masih belum setuju untuk berpisah denganmu Kafa, dan selama aku belum setuju maka kita masih tetap sama seperti dulu, sepasang kekasih." Intan juga berbicara dengan penuh penekanan, dari nada bicaranya Kafa sangat yakin jika saat ini Intan sedang mabuk.


"Terserah apa katamu, bagiku hubungan kita sudah berakhir," Kafa yang malas berdebat dengan Salma memilih untuk mengatakan dengan jelas status mereka sekarang dari pada harus menjelaskan segalanya.


"Tidak semudah itu untuk lepas dariku selama aku masih menginginkan hubungan ini Honey, ingatlah! satu minggu lagi kamu harus kembali ke kota, jika tidak, Aku dan Kakak sepupuku juga seluruh gengnya akam datang ke pesantrenmu dan bisa aku pastikan akan terjadi kekacauan di sana, dan kamu akan malu karena hal itu." Ancam Intan.


Kali ini ancaman yang di layangkan oleh Intan terdengar begitu nyata dan sungguh-sungguh, Kafa hanya bisa diam mendengar ancaman yang di katakan oleh Intan, bagi Kafa saat ini Salma sembuh lebih dulu baru dia akan memikirkan Intan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan kembali ke kota, tapi tidak minggu depan," ujar Kafa.


"Tidak apa-apa, aku akan memberimu perpanjangan waktu sampai sepuluh hari ke depan, mau atau tidak kamu terap harus kembali sepuluh hari ke depan, tidak ada toleransi atau perpanjangan waktu lagi." Tegas Intan tak terbantahkan, suara Intan yang biasanya terdengar lembut dan manja kini terdengar tegas dan sadis, sungguh Kafa telah salah memilih kekasih di masa lalu.


"Baik, aku akan ke kota sepuluh hari ke depan, tapi kamu dan saudaramu juga gengnya jangan pernah menginjakkan kaki di pesantrenku!" Kafa yang tidak memiliki pilihan lain langsung menyetujui apa yang Intan perintahkan, dalam fikirannya saat ini hanya satu, Salma harus sembuh dulu, setelah itu Kafa baru memikirkan hal lainnya.


"Oke Honey, aku tunggu kamu di sini, miss you," suara lembut bernada manja menjadi penutup sambungan telfon Intan dan Kafa saat ini.


'Aku sungguh menyesal pernah pergi dari pesantren dan terjebak dengan hubungan yang ternyata membawaku ke dalam kesulitan,' batin Kafa, kini dia menunduk mengingat segala kesalahan yang pernah dia lakukan, bagaimanapun semua yang terjadi saat ini buah dari apa yang pernah dia tanam di hari sebelumnya.


"Mas Kafa!" panggil Tari seraya berjalan mendekat ke arah Kafa yang masih setia duduk di kursi tunggu sambil menundukkan kepala.


"Ada apa Tari?" sahut Kafa sambil mengangkat kepala menoleh ke arah Tari yang berdiri di samping Kafa.


"Aku mau sholat, apa Mas Kafa bisa jagain Salma di dalam?" tanya Tari.


"Kenapa tidak sholat di dalam saja? bukankah tempatnya cukup untuk shplat?" Kafa menjawab pertanyaan Tari dengan pertanyaan lain.


"Tari lupa tidak bawa mukenah tadi, jadi mau sholat di mushollah, biasanya di sana di sediakan mukenah," Tari memberitahukan alasannya untuk sholat di mushollah.


"Baiklah, kamu pergi saja, biar aku yang jagain Salma." Kafa yang tidak memiliki pilihan akhirnya menuruti apa yang Tari minta.


Tari berjalan menuju mushollah sedang Kafa masuk ke dalam kamar, pertama kali Kafa masuk, tatapannya tertuju pada Salma yang terlelap dalam mimpinya, wajahnya terlihat begitu tenang dan damai.

__ADS_1


'Tidak buruk juga, jika dia jadi istriku anakku tidak akan terlalu jelek karena ku lihat dia juga tidak jelek-jelek amat, hanya saja mulutnya terkadang bikin telinga panas.' Batin Kafa sambil menatap lekat ke arah Salma yang maaih saja terlelap.


Kafa masih saja menatap Salma, ada banyak hal yang terfikirkan dalam benaknya, apakah Salma bisa menghadapi hal buruk yang mungkin akan terjadi sepuluh hari ke depan, dan akankah Salma masih bisa menerimanya jika dia tahu kalau Intan masih saja belum bisa lepas darinya, fikiran Kafa saat ini sungguh terasa begitu berat, karena itulah setelah puas menatap Salma, Kafa memilih merebahkan diri di atas tempat tidur yang sudah di sediakan mencoba menenangkan fikirannya dan mulai menjelajah dunia mimpi yang mungkin bisa membuatnya sedikit lebih tenang.


__ADS_2