
"Assalamualaikum, Ummi," panggil Ghozi sesaat setelah masuk ke dalam rumah.
Saat ini Ummi sedang membungkus peyek kacang pesanan Kafa yang akan dia bawa ke kota nanti bersama Salma yang baru saja masuk dan bergabung bersama Ummi.
"Waalaikum salam, Ghozi, masuklah!" sahut Ummi mempersilahkan Ghozi masuk ke dalam ruang keluarga.
"Ada apa, Nak?" tanya Ummi setelah Ghozi mendekat.
"Ummi, saya mau meminta izin," jawab Ghozi sambil menundukkan kepala menunjukkkan rasa ta'dhimnya pada Ummi yang notabennya guru Ghozi.
"Izin untuk apa Ghozi?" Ummi kembali bertanya karena permintaan yang di ajukan oleh Ghozi tidak bisa di mengerti olehnya.
"Saya mau meminta izin untuk pulang Ummi," jawab Ghozi tanpa mengurangi rasa ta'dhimnya.
"Tumben sekali kamu meminta izin saat tidak ada acara apapun, apa semuanya baik-baik saja Ghozi?" Ummi kembali bertanya setelah mendapat penjelasan alasan Ghozi datang dan meminta izin padanya, memang terasa sangat aneh bagi Ummi jika Ghozi meminta izin pulang saat ini, biasanya Ghozi akan izin pulang jika ada acara seperti haflah atau acar besar lain di pesantrennya, Ghozi akan pulang karenadia harus membantu kedua orang tuanya untuk mempersiapkan acara nya.
"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja Ummi, hanya saja Umik menelfon dan meminta saya untuk pulang beberapa hari," Ghozi kembali menjelaskan alasan kepulangan dirinya yang mendadak seperti saat ini.
"Alhamdulillah jika semuanya baik-baik saja, Ummi akan izinkan kamu pulang karena Ummi yakin jika Umik mu sudah memintamu pulang, itu artinya ada hal penting yang harus kamu selesaikan di sana," Ummi yang sangat hafal dengan kepribadian Ghozi dan keluarganya akhirnya memberi izin Ghozi untuk pulang.
"Kamu mau izin berapa hari Ghozi?" sambung Ummi memastikan berapa lama Ghozi akan pulang.
"Kalau saya izin pulang selama tiga hari bagaimana Ummi? apa boleh?" tanya Ghozi dengan wajah ragu penuh harap yang terlihat jelas di wajahnya.
"Boleh, tapi ingat Ghozi! tiga hari jangan lebih!" Ummi mengingatkan Ghozi agar dia kembali tepat waktu.
__ADS_1
"Baik, Ummi," jawab Ghozi dengan mantap dan meyakinkan.
"Kalau begitu saya pamit pulang Ummi, assalamualaikum," sambung Ghozi berpamitan pada Ummi dan sejenak tersenyum ke arah Salma kemudian berjalan keluar meninggalkan Salma dan Ummi. Tapi langkahnya terhenti karena Ummi memanggil Ghozi.
"Tunggu Ghozi!" cegah Ummi yang sukses membuat langkah Ghozi terhenti.
"Ada apa Ummi?" Ghozi berhenti melangkah dan berjalan kembali mendekat ke arah Ummi.
"Bawa ini! dan titip salam untuk Umikmu," pesan Ummi pada Ghozi yang kini berdiri menghadap ke arahnya.
"Terima kasih Ummi, nanti Ghozi pasti sampaikan kiriman salam dari Ummi pada Umik," ujarUmmi dengan senyum yang terlihat menghiasi wajah teduhnya.
"Hati-hati di jalan Ghozi!" Ummi kembali berpesan swbelum akhirnya Ghozi benar-benar pergi meninggalkan rumah Ummi.
"Iya, Ummi," sahut Ghozi kemudian melenggang pergi meninggalkan Ummi.
"Iya, Ummi," jawab Salma seraya mengendalikan diri agar Ummi tidak curiga jika Salma menyembunyikan rasa ketertarikannya pada Ghozi yang masih tersisa di hatinya.
"Kenapa jadi melamun? apa ada yang mengusikmu?" tanya Ummi sambil menatap lekat ke arah Salma yang kini tersenyum manis ke arahnya.
"Tidak ada Ummi, Salma hanya sedang membayangkan hidup di kota, sebelumnya Salma hampir tidak pernah ke sana Ummi." Jawab Salma.
"Kamu tenang saja, Kafa pasti akan menjagamu di sana, jika terjadi sesuatu kamu bisa mengatakannya padaku!" Ummi mencoba menenangkan Salma yang terlihat gelisah.
"Iya, Ummi," Salma tak lagi bisa berkata apa-apa setelah mendengar perkataan sang Ummi yang terdengar begitu meyakinkan itu.
__ADS_1
Semua rempeyek kini sudah terbungkus rapi dan siap untuk di bawa esok hari, Salma memilih untuk pergi ke asrama berpamitan dengan Taru dan yang lain.
"Tari," lirih Salma, sebenarnya Salma merasa begitu berat untuk pergi meninggalkan Tari sang sahabat sendirian di pesantren, tapi Salma tak lagi punya pilihan selain mengikuti keinginan Kafa yang sekarang memang sudahsah menjadi suaminya itu.
"Iya, kenapa Salma?" sahut Tari dengan senyum yang terlihat jelas si wajahnya, Tari terlihat begitu senang saat Salma mengunjunginya.
"Maaf," satu kata yang meluncur indah dari mulut Salma tanpa Tari tahu alasan Salma mengatakannya.
"Maaf untuk apa?" ekspresi wajah senang dan senyum di wajah Tari mendadak menghilang tanpa jejak, yang ada saat ini wajah bingung Tari terlihat jelas di wajahnya.
"Mas Kafa mengajakku untuk pergi dan tinggal di kota untuk sementara, maaf, akuharus pergi dan meninggalkanmu sendirian di sini, aku tidak bisa menolaknya meski aku menginginkannya, aku tidak bisa melawan Mas Kafa untuk tetap tinggal di sini Tari," Salma langsung menunduk denganlelehan air mata yang mengalir tanpa di perintah, sedang Tari hanya terdiam menatap kosong ke depan. Tari sangatterkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Salma, selama ini Tari berada di pesantren karena mengikuti jejak Salma dan menemaninya, tapi sekarang Salma harus pergi meninggalkan dirinya.
"Tari," Salma kembali memanggil Tari karena tidak mendapat jawaban darinya.
"Eh, iya Salma," Tari berusaha sekuat mungkin agar terlihat tegar dan baik-baik saja di hadapan Salma, Tari tidak ingin Sahabatnya itu sedih atau terus-terusan memikirkan dirinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Salma mendongak dan memperhatikan ekspresi wajah Tari yang kini terlihat biasa saja.
"Kamu tenang saja Salma, aku bukan bayi yang harus kamu khawatirkan dan aku bisa jaga diri di sini, justru seharusnyakamu yang berhati-hati berada di tempat asing bukanlah hal yang mudah, selalu waspada dan jaga sikap selama di sana," kini giliran Tari yang mengingatkan Salma, dia berusaha sebisa mungkin terlihat tegar dan biasa saja di hadapan Salma, baginya Salma bukan hanya seorang sahabat tapi juga seorang saudara yang harus dia jaga perasaannya.
"Aku akan selalu mengingat pesanmu Tari, do'akan aku di sana," sahut Salma, keduanya kini saling mengeluarkan air mata mengingat kebersamaan yang sudah mereka lewati bersama, setiap tawa dan air mata yang dulu pernah ada, kini Salma harus pergi meski sementara tetap saja Salma tidak tahu kapan dia akan kembali.
"Sudah, jangan tangis-tangisan gak jelas begini! lebih baik sekarang kamu kembali ke rumahmu dan bersiaplah untuk berangkat besok!" Tariyang tak ingin Salma kembali melihat kesedihannya memilih untuk menyuruh Salma kembali ke rumahnya.
"Kamu mengusirku Tari?" sahut Salma yang merasa terusir dengan perkataan Tari.
__ADS_1
"Aku tidak mengusirmu, aku hanya memintamu kembali ke rumaj untuk mempersiapkan barang yang akan kamu bawa besok, bukankah kamu belum bersiap?" Tari menjelaskan maksud dari ucapannya barusan.
"Kamu bener juga ya," lirih Salma.