
"Aku tidak lihat apapun Salma, Tadi aku cuma lihat foto Kafa saat kecil dan kau tahu fotonya itu lucu banget, dia lagi pakai kerudung astaga, entah apa yang sebenarnya terjadi saat itu sampai Mas Kafa pakai kerudung kayak cewek," tutur Tari.
Untung saja Tari mengingat satu foto yang dia yakini jika foto itu milik Mas Kafa, dia sedang duduk di pangku Ummi dengan sangat gemasnya Kafa memakai kerudung sedang tersenyum manis ke arah kamera.
"Mas Kafa pasti terlihat begitu lucu saat itu," sahut Salm tanpa ada rasa curiga ataupun ingin tahu kebenarannya dia terlihat tidak peduli.
"Tentu saja dia sangat lucu dan menggemaskan, ahh kalau saja aku ada di sana saat itu bisa aku pastikan kalau aku akan mencubit pipi gemulnya itu," seru Tari dengan semangat yang berapi-api.
"Dan sayangnya kamu masih belum lahir saat itu," sahut Salma dengan swnyum yang terlihat jelas di wajahnya.
"Dan Kamu memang benar soal itu," jawab Tari sambil cekikikan mengingat ucapan Salma yang memang benar adanya.
Salma yang merasa telah kenyang kini kembali merebahkan diri meninggalkan dunia nyata yang penuh dengan kepahitan menuju alam mimpi yang mungkin akan indah saat ini.
"Astaga, dia malah molor lagi, lebih baik aku ikut tidur saja." Ujar Tari ketika melihat Salma telah lelap dalam dunia mimpi, Tari berjalan menuju kasur yang berada tidak jauh dari tempat Salma tidur, kasur yang memang sengaja di persiapkan untuk oramg yang menunggu paaien.
Siang terus berlalu dan kini berganti malam yang mulai nampak gelap, tapi kegelapan itu sedikit lebih indah dengan gemerlap cahaya lampu yang mulai menyala satu persatu.
Kafa yang sejak tadi merasa jenuh karena duduk diam tanpa aktifitas apapun di depan kamar ruang inap milik Salma kini memilih berjalan-jalan menikmati semilir angin yang berhembus dengan cahaya lampu yang terlihat begiti terang menerangi setiap jalan, dan gemerlap lampu yang menyala di rumah-rumah terlihat jelas dati balkon, kebetulan ruangan Salma berada di lantai dua dan Kafa bisa melihat pemandangan rumah yang ada di sekitar rumah sakit, Kafa berada di balkon depan ruangan yang berada paling ujung.
"Bagaimana caranya aku bisa melawan Intan, dan apa aku bisa membut gadis itu sadar jika dia dan aku tidak berjodoh?" gumam Kafa saat mengingat ancaman yang di utarakan oleh Intan.
__ADS_1
"Ummi," sambung Kafa mengingat jika dia harus meminta izin pada Ummi untuk kembali ke kota.
Kafa yang baru mengingat niatnya itu langsung merogoh saku bajunya kemudian mengambil ponsel yang sudah berada di sana sejak pagi tadi.
Tut ... tut ... tut ....
Suara sambungan telfon terdengar, nada suaranya seirama dengan detak jantung Kafa yang mulai terdengar begitu keras, meski Kafa merasa khawatir jika Ummi tidak memberinya izin tapi dia tetap harus mencoba karena ancaman yang di berikan Intan bukan omong kosong, Intan akan nekat datang bersama dengan para pasukannya dan bisa di pastikan akan ada keributan besar yang akan terjadi di pesantren jika apa yang di ucapkan Intan itu benar adanya.
"Assalamualaikum, Ummi," ucap Kafa sesaat setelah nada sambung ponsel di angkat oleh Ummi.
"Waalaikum salam, ada apa Kafa? apa semuanya baik-baik saja?" sahut Ummi yang terdengar begitu khawatir setelah mendapat telfon dari Kafa.
"Tidak ada apa-apa, Ummi," jawab Kafa jujur.
"Begini Ummi, Kafa mau meminta sesuatu dari Ummi, apa boleh?" ragu-ragu Kafa mengatakan apa yang dia rasakan.
"Kamu mau minta apa dari Ummi, Kafa?" bukannya menhawab tapi Ummi malah kembali bertanya pada Kafa.
"Kafa mau minta izin Ummi untuk kembali ke kota," jawab Kafa.
"Apa?? kembali ke kota? apa Ummi tidak salah dengar?" sahut Ummi yang terdengar begitu terkejut setelah Kafa mengutarakan niatnya.
__ADS_1
"Tidak Ummi, Kafa serius, Kafa akan kembali ke kota sepuluh hari ke depan," jawab Kafa.
"Berapa hari kamu di sana?" tanya Ummi pada intinya.
"Kafa masih tidak tahu akan berapa hari berada di sana Ummi, tapi yang jelas kepergian Kafa saat ini tidak akan lama seperti yang dulu," jawab Kafa jujur, dia memang tidak tahu akan berapa lama berada di kota karena masalah yang akan dia selesaikan Kafa tidak tahu pasti kapan akan selesai.
"Beri Ummi waktu untuk berfikir, besok Ummi akan memberitahukanmu keputusan Ummi kamu bisa pergi atau tidak," jawaban Ummi benar-benar membuat Kaf resah dan gelisah, bagaimana jika sang Ummi tidak memberikannya izin, apakah Kafa bisa menghadapi ataupun merubah rencana Intan.
"Ummi, ada sesuatu yang harus Kafa selesaikan di sana, jadi Kafa harap Ummi mau memberikan izin agar Kafa bisa pergi," Kafa yang masih belum bisa mengatakan alasannya pergi kini mulai memohon tanpa memberitahukan yang sebenarnya terjadi.
"Besok Ummi akan putuskan, saat ini lebih baik kamu fokus menjaga Salma agar dia cepat sembuh," jawab Ummi.
"Baiklah, Kafa tunggu izin dari Ummo besok dan Kafa sangat berharap jika Ummi mau memberi izin untuk Kafa pergi," pasrah sudah, Kafa tidak lagi bisa memaksa Ummi untuk langsung setuju, baginya saat ini yang terpenting Kafa harus mencari cara agar bisa melawan Intan.
"Bagus, Ummi titip Salma, jaga dia dengan baik, seperti kamu menjaga Ummi." Pesan Ummi sebelum akhirnya dia menutup telfonnya.
"Tentu Ummi, Kafa pasti akan jaga Salma dengan baik," jawab Kafa.
"Bagus, hati-hati di sana! Ummi tutup dulu telfonnya." Ummi kembali berpesan kemudian dia benar-benar menutup sambungan telfonnya.
"Semoga saja Ummi memberi izin tanpa banyak bertanya tentang masalah yang harus aku selesaikan itu," untaian harapan keluar dari bibir Kafa menandakan betapa berharapnya dia mendapat izin dari sang Ummi.
__ADS_1
"Ghozi benar, pergi bukanlah solusi yang terbaik, harusnya aku tetap di pesantren dan menyembuhkan luka ini dengan mendekatkan diri kepada sang pencipta dati pada harus lari dan mencari pelampiasan lain yang pada akhirnya merugikan diriku sendiri." Kafa kembali bergumam, entah sudah berapa kali dia mengatakan kata penyesalan yang hanya bisa dia ucapkan tanpa bisa dia perbaiki, apa yang sudah terjadi tidak akan bisa di hapus karena waktu tidak akan pernah bisa berjalan mundur, seperti halnya jarum jam yang akan terus berjalan ke kanan tanpa bisa. berbalik arah ke kiri.
Apa yang telah terjadi akan menjadi pelajaran di masa mendatang, jika kejadian itu buruk tapi jika yang terjadi adalah kebaikan maka bukan masalah yang akan dia dapat melainkan sebuah kenikmatan hidup yang pasti akan datang.