Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Sudut Hati Tari Yang Terluka


__ADS_3

Hari terus berlalu, gosip tentang pertunangan sang putera pemilik pesantren telah tersebar hingga ke pelosok desa di mana para alumni dan wali santri berada, tapi tak ada satupun dari mereka mengetahui siapa gadis yang akan menikah dengan putera Abah dan Ummi yang terkenal akan kebrutalannya itu.


Desas desus berita tentang gadis yang akan menjadi menantu pemilik pesantren terbesar itu terus saja berhembus, ada yang mengatakan jika gadis itu salah satu santri yang ada di pesantren, ada pula yang mengatakan jika gadis yang akan menikah dengan Kafa adalah putri dari seorang kiyai besar ada pula yang mengatakan jika gadis itu adalah gadis yang datang dari kota, ada banyak gosip beredar tanpa tahu kebenarannya.


"Salma," lirih Tari, saat ini keduanya sedang duduk menikmati hari santai di halaman belakang pesantren, duduk berselojor di atas tikar plastik yang biasa di gelar para santri saat ingin menghabiskan waktu sambil menikmati semilir angin di halaman belakang pesantren.


"Apa?" sahut Salma singkat.


"Apa kamu sudah dengar gosip tentang gadis yang akan menikah dengan Mas Kafa?" Tari menjawab pertanyaan Salma dengan kembali bertanya.


"Dengar, memangnya kenapa?" Salma terlihat santai saat menjawab pertanyaan Tari, terlihat jelas di wajahnya tak ada sedikitpun keresahan yang tampak di wajahnya.


"Aku terkadang merasa lucu dengan semua gosip yang beredar, mereka sibuk berasumsi sendiri sedang yang bersangkutan malah santai di sini," ujar Tari seraya menerawang ke atas, menatap langit yang terlihat cerah dari sela-sela pepohonan.


"Aku sendiri terkadang merasa lucu juga merasa sedikit bersalah," sahut Salma.


"Merasa lucu juga sedikit bersalah bagaimana maksudnya?" Tari kini duduk bersila menghadap ke arah Salma yang masih santai duduk bersandar sembari meluruskan kaki di samping Tari.

__ADS_1


"Lucu saja, mereka berbicara seolah mereka tahu dan aku ngerasa sedikit bersalah karena permintaanku yang ingin identitasku di rahasiakan banyak orang yang berkata sok tahu dan bahkan rela berbohong demi terlihat dekat dengan keluarga Ummi dan Abah," Salma menjelaskan alasan dia mengatakan jika gosip yang dia dengar terdengar lucu.


"Kamu benar, mereka heboh sendiri sedang kamu di sini malah terlihat santai dan tak ada sedikitpun rasa bangga ataupun bahagia yang ku lihat," ujar Tari yang masih setia melihat ke arah Salma sambil memperhatikan ekspresi wajahnya.


"Sejujurnya aku juga masih ragu Tari, apa aku sudha mengambil keputusan yang benar atau malah sebaliknya, bagaimanapun Mas Kafa bukanlah orang biasa di tambah lagi sikapnya yang selalu menjengkelkan bahkan terkesan benci padaku semakin memperparah rasa ragu yang menyelimuti hatiku, seandainya jika perjodohan ini tak ada, aku akan jauh lebih tenang dan senang jika menikah dengan Ghozi saja," jujur Salma.


"Ukhhuk ... ukhuk ... ukhuk ...." Tari yang baru saja meneguk air dari botol yang ada di sampingnya langsung terbatuk setelah mendengar kejujuran Salma.


"Menikah dengan Ghozi? maksudnya bagaimana Salma? bagaimana kamu bisa berfikir demikian?" Tari langsung melontarkan pertanyaan setelah mendengar nama Ghozi di sebut.


"Beberapa waktu yang lalu, Ghozi meminangku, dan aku tak bisa menjawabnya hingga akhirnya dia tahu dengan sendirinya tentang perjodohanku dengan Kafa, sungguh sebenarnya saat itu aku ingin sekali menerimanya dan menjadi pendamping hidupnya, tapi aku tak bisa mengecewakan Ummi, aku sudah terlanjur menerima perjodohan itu dan tak mungkin membatalkannya," Salma menceritakan apa yang telah terjadi dia bercerita sedetail-detailnya tanpa ada yang di kurangi ataupun di tambahi.


"Tari!" panghil Salma saat melihat Tari hanya terdiam tanpa ekspresi dengan tatapan kosong menatap lurus ke depan.


"Hey Tari!!" Salma kembali memanggil Tari yang terdiam mematung dengan suara yang naik satu oktaf dari sebelumnya.


"Hm," sahut Tari singkat tanpa merubah posisi, dia menyahut panggilan Salma dengan posisi yang sama juga pandangan yang sama.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Salma menatap heran ke arah Tari sang sahabat yang kini terlihat sangat aneh, sikap dan ekspresi Tari berubah sejak Salma menceritakan jika Ghozi telah meminangnya.


"Tidak ada, aku tidak apa-apa," jawab Tari berusaha bersikap biasa saja di hadapan Salma meski sebenarnya hatinya tengah sakit dan terluka karena Ghozi yang dia suka ternyata sudah pernah meminang Salma yang artinya dia lebih menyukai Salma dari pada Tari.


"Jangan bohong kamu Tari! bibirmu memang bilang tidak apa-apa, tapi ekspresi wajahmu berkata lain, ceritakan saja kamu kenapa! jika aku bisa membantu maka aku akan membantumu," Salma masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Tari dan penyebab Tari hanya diam tanpa kata.


"Sudahlah Salma, kalau aku bilang tidak apa-apa, itu artinya memang tidak apa-apa, jadi jangan paksa aku!" tegas Tari yang tetap tidak ingin menceritakan apapun pada Salma.


Tari yang merasa jika dirinya tidak perlu menceritakan tentang perasaannya pada Ghozi memilih ubtuk diam dari pada harus berterus terang, karena menurut Tari cerita pada Salma pun akan percuma, hati hanya tuhan yang biaa membolak balikkannya tak ada satu makhluk pun yang bisa melakukan hal itu, jadi Tari lebih memilih mengadukan dan meminta juga menceritakannya pada sang pencipta dari pada bercerita pada sesama makhluk.


"Baiklah, tapi jika kamu butuh teman curhat atau seseorang yanv siap menampung air matamu, maka datanglah padaku!" ucap Salma dengan nada sok puitis.


"Kamu tenang saja, jika waktunya telah tiba maka aku akan menceritakam segalanya padamu dan kau harus benar-benar siap, karena ceritaku ini akan teramat panjang dan lebar," sahut Tari yang kini tersenyum ke arah Salma, meski senyum itu nampak sekali di paksakan Salma hanya bisa diam tak lagi bisa memaksa Tari untuk bercerita.


Kini Tari merebahkan diri menatap langit biru yang membentang indah nan jauh di sana, sungguh hidup ini penuh misteri, tak ada yang bisa menebak akan seperti apa kedepannya.


"Bagaimana rencana pertunanganmu besok? apa kamu sudah siap jika semua orang tahu identitasmu?" tanua Tari mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Siap atau tidak? apa yang akan terjadi maka tetap terjadi, sekeras apapun kita menghindar maka akan bertemu juga jika waktunya telah tiba," ujar Salma yang kini terlihat pasrah dengan apa yang akan terjadi.


__ADS_2