
"Kamu sedang apa di sini Ghozi?" tanya Ummi yang kebetulan sedang lewat di halaman belakang rumah.
"Aku hanya menikmati suasana di sini Ummi, sudah lama aku tidak ke sini jadi kangen," jawab Ghozi.
"Kangen sama suasana di sini atau kangen sama orang yang biasa kamu temui di sini?" tanya Ummi.
Melihat sikap Ghozi akhir-akhir ini membuat Ummi yakin jika ada cinta di antara kedua putera puterinya itu, Ummi akan sangat bahagia jika apa yang dia duga menjadi kenyataan.
"Ummi bisa saja," sahut Ghozi yang kini menundukkan kepala merasa malu pada Ummi.
"Bagaimana kabar di kota Ghozi?" Ummi yang melihat Ghozi duduk sendirian memilih untuk menemaninya dan bertanya sedikit tentang keadaan Kafa dan Salma di kota.
"Alhamdulillah semuanya baik Ummi, tapi ada satu kabar yang mungkin akan membuat Ummi terkejut setelah mendengarnya," jawab Ghozi yang membuat Ummi penasaran dan langsung menajamkan telinga karena ingin tahu berita apa yang akan Ghozi sampaikan.
"Ceritakan saja Ghozi! apa yang akan membuatku terkejut?" pinta Ummi dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran.
"Intan menantang Neng Salma untuk adu balap di jalan," Ghozi yang merasa perlu menceritakan segalanya langsung memberitahukan Ummi rentang tantangan yang di berikan oleh Intan.
"Apa??? balapan??" sahut Ummi yang terkejut karena apa yang di ceritakan Ghozi benar-benar membuat sport jantung.
"Iya, dan Neng Salma menerima tantangan itu, Ummi," Ghozi kembali meyakinkan Ummi tentang balapan yang dia maksud.
"Bagaimana Salma bisa melawan dan memenangkan tantangan itu, terus reaksi Kafa bagaimana Ghozi? apa dia menyetujui tantangan Intan?" Ummi kembali bertanya.
"Awalnya Mas Kafa terlihat menolak, tapi Neng Salma yang bersi keras ingin tetap balapan dan melawan Intan membuat Mas Kafa tak bisa apa-apa, tapi Ummi, setelah aku perhatikan, sepertinya Neng Salma punya kemampuan untuk balapan," jelas Ghozi.
"Benarkah? Salma yang lembut seperti itu bisa balapan, kamu jangan bercanda Ghozi! mana mungkin Salma bisa balapan," ungkap Ummi yang tidak percaya dengan cerita Ghozi.
"Awalnya aku juga tidak percaya Ummi, tapi setelah Mas Kafa cerita sendiri kalau Neng Salma memang bisa balapan akhirnya aku percaya, bahkan Mas Kafa sendiri yang melatih Neng Salma untuk balapan," Ghozi kembali menceritakan apa yang dia tahu agar Ummi semakin yakin jika Salma bisa mengendarai motor balap.
Ummi terdiam setelah mendengar cerita Ghozi, sungguh beliau tidak menyangka kalau Salma yang begitu lembut bisa mengendarai motor balap.
__ADS_1
"Ummi," panggil Ghozi dengan suara lirih saat melihat Ummi hanya diam menatap kosong ke arah depan.
"Kapan mereka akan bertanding?" tanya Ummi dengan ekspresi tak terbaca.
"Kalau gak salah seminggu atau dua minggu ke depan, aku kurang tahu pastinya," jawab Ghozi yang memang tidak begitu tahu dengan pasti kapan keduanya akan bertanding, meskipun dia sudah mendengar berapa lama Intan memberi waktu untuk Salma.
"Nanti kalau kamu sudah kembali ke kota, dua hari sebelum pertandingannya berlangsung, hubungi Ummi!" titah Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Ghozi.
"Astaghfirullah, Ummi sampai lupa, Ghozi tolong jemput Abah di stasiun, hari ini Abah akan pulang." Ummi mengatakan apa yang tadi ingin dia sampaikan.
"Jam berapa, Ummi?" tanya Ghozi.
"Nanti siang jam satu," jawab Ummi.
"Baiklah, untuk lembar ujian yang harus Ghozi periksa di mana Ummi?" Ghozi yang baru ingat jika dia kembali ke pesantren untuk membantu Ummi yang kekurangan tenaga pengajar saat ujian seperti sekarang.
"Lembar ujiannya sudah Ummi siapkan di kamarmu sendiri, di sana juga ada jadwal kelas yang harus kamu jaga saat ujian," Ummi menjelaskan apa yang perlu Ghozi ketahui.
"Baiklah, kamu bisa ke kamar sekarang, tapi ingat jam satu nanti kamu harus sampai di bandara, kasihan Abah kalau harus menunggumu," pesan Ummi.
"Siap, Ummi," sanggup Ghozi dengan penuh semangat dan keyakinan.
Ghozi melangkah meninggalkan Ummi yang masih setia duduk di tempatnya, menatap kosong ke arah depan menikmati sinar mentari yang mulai terasa hangat.
Jika Ghozi dan Ummi sedang membicarakan kejadian di kota, maka berbeda dengan Salma yang menikmati sinar mentari pagi, tidur terlentang di kursi tidur yang ada di tepi kolam.
Rasa pegal menguasai tubuh Salma, semalam Kafa memeluknya dengan sangat erat, sedang Salma tak bisa menolak ataupun melayangkan protes pada Kafa, semua yang terjadi dan dia rasakan saat ini karena taruhan yang dia setujui.
"Mas Kafa benar-benar tidak melepaskanku semalam, tubuhku terasa pegal dan tulang seperti mau copot," gerutu Salma sambil memijat pelan lengannya.
__ADS_1
"Neng Salma sakit? apa Neng bersedia kalau Mbok pijitin?" suara Mbok Sumik yang tiba-tiba terdengar cukup mengejutkan Salma yang saat ini sedang memejamkan mata dengan bibir yang terus komat kamit.
"Mbok Sumik, sejak kapan Mbok ada di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Mbok Sumik, Salma malah balik bertanya.
"Baru saja, kebetulan Mbok mau ngecek kebersihan kolam dan tidak sengaja melihat juga mendengar Neng Salma mengeluh tadi," jawab Mbok Sumik.
"Sebenarnya badanku sakit semua Mbok, tapi aku masih datang bulan, mungkin besok sudah selesai, bagaimana kalau besok malam saja? Mbok mau kan pijitin aku besok malam?" tanya Salma.
"Tentu saja, Neng Salma bisa minta di pijitin sama Mbok kapanpun yang Neng mau," jawab Mbok Sumik dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Terima kasih, Mbok," ucap Salma.
"Iya, sama-sama Neng," jawab Mbok Sumik melenggang pergi meninggalkan Salma yang kembali memejamkan mata menikmati hangatnya sinar mentari.
Pagi yng cerah bagi mereka yang sedang menikmati harinya dengan keadaan baik-baik saja.
"Mbok Sumik!" panggil Kafa yang baru saja turun dari kamarnya dan melihat Mbok Sumik sedang berjalan menuju dapur.
"Iya, Mas Kafa, ada yang bisa Mbok bantu?" sahut Mbok sumik menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kafa.
"Apa Mbok liat Salma di mana?" tanya Kafa.
"Neng Salma sedang berjemur di tepi kolam Mas," jawab Mbok Sumik.
"Mbok, buatkan dua teh hangat dan camilan dan antarkan ke tepi kolam!" titah Kafa yang langsung berjalan menuju kolam renang untuk menemui Salma.
"Istriku terlihat seperti bule yang sedang berjemur di pagi hari," celetuk Kafa berjalan semakin mendekat ke arah Salma yang langsung duduk setelah mendengar suara Kafa.
"Mas Kafa, kenapa ada di sini? bukannya tadi bilang mau ke tokoh," tanya Salma menatap heran ke arah Kafa yang justru menemuinya di tepi kolam. Padahal tadi Kafa sudah berpamitan akan pergi ke tokoh untuk mengecek barang.
"Ke tokohnya nanti saja, aku tiba-tiba rindu padamu dan ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu pagi ini," jawab Kafa yang kini sudah tidur di kursi panjang yang tadi di pakai Salma, meletakkan kepalanya tepat di atas pah* milik Salma. Sedang Salma duduk dengan kaki yang menggelantung ke bawah.
__ADS_1
"Mulai deh ngegombal," sahut Salma yang sangat hafal dengan kebiasaan baru sang suami, yaitu menggombal tidak jelas.
"Aku memang merindukanmu, Sayang, dan aku tidak pernah berbohong padamu, karena rinduku itulah aku berjalan ke mari dan membatalkan rencanaku untuk pergi ke tokoh," ujar Kafa, sebenarnya dia berkata jujur pada Salma, Kafa tidak sedang berbohong ataupun menggombal tentang rindunya itu.