
"Dia bukan asisten rumah tangga Intan," sahut Ummi seraya berjalan mendekat ke arah Salma dan memeluk pundaknya.
"Maaf, aku kira dia asisten rumah tangga yang bertugas memasak di sini," ucap Intan segera mengklarifikasi ucapannya yang salah.
"Dia adalah santri teladan, kesayangan Ummi, dan Salma juga Tari sudah Ummi anggap seperti putri Ummi sendiri," jelas Ummi memperjelas status Salma di hadapan Intan yang terlihat diam dengan ekspresi terkejut.
Salma hanya tersenyum kikuk mendapat perlakuan sebaik sekarang dari Ummi, dia juga diam mematung sama seperti Intan, hanya saja Salma terlihat tak enak hati melihat ekspresi Intan.
"Maaf Ummi, Intan tidak tahu," sesal Intan.
"Salma! airnya sudah mendidih dan ayam di dalamnya terlihat sudah matang, apa kamu tidak mau memasukkan sayurnya?" sela Tari yanf merasakan suasana canggung mulai menyeruak di dalam ruangan.
Entah mengapa tindakan Tari kali ini benar dan sangat membantu Salma, tanpa membalas ucapan Tari, Salma berjalan mendekat ke arah kompor untuk menyelesaikan masakannya, dan Ummi kembali menyelesaikan pekerjaannya sedang Intan kembali duduk dengan tenang di kursi meja makan tanpa kata, dia hanya diam memperhatikan ketiga wanita yang tengah memasak di hadapannya.
Cukup lama acara memasak berlangsung hingga membuat Intan yang memang hampir tidak pernah menyentuh peralatan dapur kini mulai merasa jengah dan bosan.
"Ummi, Intan kembali ke kamar dulu ya." Pamit Intan.
"Iya, kamu tunggu saja di kamar! nanti biar Tari memanggilmu jila semuanya sudah siap." Jawab Ummi, meski hatinya sempat jengkel karena Salma sang calon menantu pilihannya di bilang seperti asisten rumah tangga, tapu tetap saja Intan merupakan tamu di pesantren.
"Terima kasih, Ummi, maaf merepotkan," ucap Intan sebelum pergi.
"Tidak apa-apa, Nak, kamu tenang saja," sahut Ummi sebelum Tari benar-benar pergi.
__ADS_1
Intan tersenyum begitu manis mendengar ucapan Ummi yang begitu lembut dan menyejukkan hati, dengan langkah Pasti Intan berjalan menuju kamar yang telah di persiapkan untuknya.
'Siapa gadis ini?' batin Abah,
Saat ini Intan yang telah sampai di teras rumah Ummi langsung pergi menuju kamar tanpa memperhatikan Abah yang batu saja turun dari mobil dan sedang memperhatikan keberadaannya.
Abah kembali berjalan masuk ke dalam rumah dengan rasa penasaran yang kini menguasai dirinya, langkah Abah begitu lebar mencari keberadaan Ummi yang pasti bisa menjawab segala rasa penasaran dalam dirinya.
"Assalamualaikum, Ummi!" ucap Abah sesaat setelah masuk ke dalam rumah.
Tak ada yang menyahuti salam Abah, suasana di rumah terlihat begitu sepi seperti tak ada kehidupan membuat Abah heran, biasanya Ummi akan selalu menunggu atau menyambutnya di ruang keluarga dan segera berjalan cepat mendekat ke arahnya saat Abah datang.
"Ummi!" Abah kembali memanggil nama Ummi dengan nada sedikit keras berharap Ummi menyahutinya.
"Iya, Abah," akhirnya suara lembut bak sutera sang pemilik hati kini terdengar membuat hati yang tadi gelisah mencari keberadaannya kini mulai merasa lega.
"Kamu dari mana saja Ummi? Abah memanggilmu lebih dari satu kali, tapi kamu tidak ada," tanya Abah membuat Ummi sedikit merasa bersalah.
"Maaf Abah, Ummi belum selesai nyiapin makan untuk kuta nanti di dapur, makanya Ummi tidak menyahuti Abah karena Ummi tidak mendengarnya." Jelas Ummi dan Abah hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Sudahlah, tidak apa-apa," jawab Abah.
"Ayo Bah, Ummi siapkan air mandi dan baju ganti untuk Abah," ucap Ummi dengan senyum yang mengembang membuat siapapun senang menatapnya.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan Ummi untuk menyambut, menyiapkan air dan baju ganti setiap kali Abah baru pulang dari berpergian.
Ummi berjalan mendagului Abah memberi isyarat agar Abah mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti baju, dengan telaten dan sabar Ummi menyiapkan segala kebutuhan Abah hingga beliau selesai dengan urusannya.
"Ummi mau ke mana?" tanya Abah saat melihat Ummi hendak pergi dari kamar setelah Abah selesai dengan segala urusannya.
"Ummi mau kembali ke dapur Abah, ada apa? apa ada sesuatu yang Abah inginkan?" sahut Ummi masih dengan senyum manis di bibirnya.
"Duduk di sini dulu Ummi!" pinta Abah dengan senyum yang juga ikut mengembang di bibirnya.
"Ada apa Abah?" Ummi yang heran melihat Abah menyuruhnya duduk saat pekerjaan di dapur belum selesai langsung duduk sesuai permintaan Abah sang suami.
"Tadi Abah melihat seorang gadis keluar dati rumah ini memakai bajumu, siapa gadis itu Ummi?" tanya Abah.
Mendengar pertanyaan Abah yang menanyakan Intan sukses membuat Ummi bingung, bagaimana dia harus menjelaskan siapa sebenarnya Intan dan apa tujuannya datang, Ummi refleks menunduk dengan raut wajah yang berubah sedih, apa yang di lakukan Ummi membuat Abah bingung.
"Kenapa Ummi? apa ada masalah?" sergah Abah sambil memegang pundak Ummi dan semakin mengikis jarak di antara keduanya. Abah berusaha mendapatkan penjelasan tanpa melihat raut wajah Ummi yang sedih.
"Jelaskan pelan-pelan! Abah pasti akan menerima penjelasan Ummi dengan baik!" kata-kata yang selalu bisa meyakinkan Ummi untuk mengatakan segala hal yang terjadi, dan Ummi tidak perlu khawatir ataupun ragu untuk mengatakan segalanya saat Abah sudah berkata demikian, karena bisa di pastikan seratus persen Abah tidak akan marah meski hal terburuk sekalipun sedang terjadi jika sudah berkata seperti itu.
Ummi sedikit menjauh kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Gadis itu dari kota Abah, dia datang untuk menemui Kafa dan meminta restu pada kita, dia mengaku sebagai kekasih Kafa, putera kita," jelas Ummi dengan air mata yang mulai meleleh membasahi pipi putih mulus milik Ummi.
"Astaghfirullah, apa saja yang sudah di lakukan oleh Kafa selama ini?" lirih Abah yang juga menghirup udara dlam kemudian menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Apa kamu tidak tahu tentang hubungan mereka sebelumnya? bukankah selama di kota kamu sudah menyuruh dua orang kepercayaan kita untuk menjaga dan mengawasi setiap gerak gerik Kafa dan melaporkannya padamu," tanya Abah.
"Mereka memang sering menceritakan tentang gadis kota itu, selama ini Kafa memang sering pergi dan gadis itu sering datang membawa makanan ke rumah Kafa, tapi kata Bik Sumik, Kafa hanya berteman dengannya, Intan nama gadis itu, dia sering sekali meminta barang mahal pada Kafa itu kata Fikri, awalnya Ummi biasa saja hingga saat ini Ummi baru menyadari jika Kafa harus segera kita nikahkan dengan Salma sebelum hubungan keduanya semakin dalam, Ummi tidak setuju jika Kafa menikah denga Intan Abah," Ummi menjelaskan segala yang dia rasakan dan inginkan pada Abah tanpa rasa ragu sedikitpun.