Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Ghozi Dan Kafa


__ADS_3

"Salma adalah gadis yang membawa ketenangan di setiap langkahnya, dia selalu bisa membuat hati yang gundah jadi jauh lebih tenang, sikapnya yang kalem dan suaranya yang lembut dan wajahnya yang memiliki aura ketenangan mampu membuatku selalu tenang jika berada di sampingnya," puji Ghozi pada Salma, pujian yang di ucapkan oleh Ghozi mampu membuat Kafa sedikit merasa tenang karena gadis yang akan menikah dengannya benar-benar gadis yang tepat dan gadis yang baik untuk di jadikan seorang istri.


"Gadis yang kau puji itu calon istriku Ghozi," celetuk Kafa sedang Ghozi langsung terdiam mematung mendengar ucapan Kafa yang mengatakan jika Salma adalah calon istrinya, ucapan Kafa sukses membuat hati Ghozi teriris karenanya.


'Apa begini rasanya sakit tak berdarah yang sering di katakan oleh mereka yang pernah merasakan patah hati,' batin Ghozi.


"Sudah jangan banyak melamun! gadis bukan Salma saja di dunia ini, kalau Salma jadi jodohku, maka kamu pasti akan menemukan jodoh yang jauh lebih pas dan baik untukmu, tenang saja," sambung Kafa menenangkan hati Ghozi yang terlihat termenung setelah mendengar ucapan Kafa yang menyatakan kalau Salma calon istrinya.


"Aku sedang patah hati Mas Kafa, harusnya kamu tahu itu," sahut Ghozi dengan senyum yang di paksakan.


"Aku tahu, tapi satu hal yang aku tahu dengan pasti jika kamu pasti bisa melewati semuanya dengan baik, dan kamu bisa melupakan Salma dengan cepat." Kafa justru terlihat santai mendengar Ghozi patah hati.


"Aku akan melupakannya, tapi ingatlah! meski Mas Kafa sahabat dan putera dari guruku hal itu tidak akan mengubahku jika Salma tersakiti maka aku akan mengambilnya darimu." Tegas Ghozi yang cukup membuat Kafa terkejut dengan keberanian Ghozi berbicara setegas itu padanya.


"Sebesar apa perasaanmu padanya Ghozi?" tanya Kafa yang justru penasaran dengan perasaan yang di miliki oleh Ghozi untuk Salma, sebelumnya Kafa tidak pernah melihat ghozi memperjuangkan seorang gadis seperti sekarang, biasanya Ghozi memilih mengalah dari pada harus berebut dengan siapapun itu termasuk Kafa.


"Entahlah, tapi perasaan yang aku miliki saat ini jauh berbeda dengan perasaan yang pernah aku miliki untuk gadis lain, Salma memang berbeda Mas Kafa dan kamu beruntung mendapatkannya, maka aku harap kamu bisa menjaganya dengan baik," jawab Ghozi.


"Dan kamu harus melupakannya secepat mungkin sebelum kamu melakukan hal yang tak baik karena rasa cinta itu," Kafa mengingatkan Ghozi atas akibat yang akan terjadi jika fia tidak segera melupakan Salma.


"Jangan khawatir! aku tidak akan pernah melampaui batasku jika semua masih baik-baik saja," sahut Ghozi.

__ADS_1


Tak bisa di pungkiri jika jauh di dalam hati Kafa ada sedikit rasa aneh yang cukup menyakitkan saat tahu Ghozi memiliki rasa pada Salma, dan perasaan itu cukup besar juga cukup dalam yang membuat Kafa harus berhati-hati dalam memperlakukan Salma, tapi Kafa yang sudah lama mengenal Ghozi sangat yakin jika sahabatnya itu tidak akan melakukan hal yang tidak baik, dan Kafa yakin jika Ghozi tidak akan pernah merebut Salma darinya.


"Pelayan!" panggil Kafa seraya mengangkat satu tangan memberi isyarat agar sang pelayan yang sedang melintas tak jauh darinya berjalan mendekat ke arahnya.


"Iya, Tuan, ada yang bisa saya bantu? atau ada sesuatu yang ingin di pesan?" tawar sang pelayan dengan wajah yang di hiasi senyum ramah yang bisa membuat siapapun nyaman untuk menghabiskan waktu juga uang lebih lama dan lebih banyak di cafe itu.


"Pesanlah sesuatu agar kamu cepat move on!" titah Kafa.


"Apa kali ini kamu yang traktir?" tanya Ghozi sebelum memesan.


"Anggap saja aku mentraktirmu sebagai perayaan rencana pertunangan yang sudah di depan mata," jawab Kafa dengan senyum mengejek.


"Dasar kau, sudah tahu aku patah hati karenamu, sekarang masih saja berlagak sok tidak tahu apapun, dan berlagak seolah tak terjadi apapun" timpal Ghozi yang di balas sebuah senyuman oleh Kafa.


Ddrrrrttt ... dddrrrttt ... dddrrtttt ....


getar ponsel mengusik obrolan seru yang sedang terjadi, Kafa yang merasakan getaran itu langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Ummi, ada apa?" tanya Kafa santai tanpa rasa bersalah sedikitpun, sedang Ummi yang sejak tadi sudah muter-muter mencari keberadaannya kini tengah emosi.


"Kamu ke mana saja, Kafa?" tanya Ummi yang membuat Kafa ingat jika dirinya belum meminta izin pada Ummi untyk pergi meninggalkannya tadi.

__ADS_1


"Astaghfirullah, maaf Ummi, Kafa tadi lupa tidak izin sama Ummi," seru Kafa saat mengingat kesalahannya.


"Kamu di mana sekarang?" Ummi kembali bertanya.


"Kafa di cafe yang ada di depan butik, Ummi mau ke sana atau Kafa yang ke sana?" tawar Kafa berharap sang Ummi mau menyusul Kafa.


"Tunggu di sana!" titah Ummi dengan emosi yang sudah berkobar karena tadi.


"Baik," sahut Kafa seraya menyimpan kembali ponsel yang tadi dia pegang.


"Kenapa Mas Kafa?" tanya Ghozi yang kini juga sedang berada di depan Mas Kafa.


"Biasa Ummi, terlihat maha karya yang indah berjejer rapi di halaman dan teras rumah.


Ummi yang sejak tadi menemani Salma untuk memilih gaun dan mencari Kafa kini kembali mengikuti langkah Kafa menuju cafe yang ada di depan butik di mana Kafa dan Ghozi berada.


"Kafa!" panggil Ummi saat melihat Kafa justru duduk dengan santainya berhadapan dengan Ghozi.


"Ummi, kemarilah!" pinta Kafa melambaikan tangan memberi isyarat agar Ummi dan Salma berjalan mendekat ke arahnya.


Ummi yang mendapat isyarat untuk segera mendekat kini mulai berjalan masuk ke dalam cafe di ikuti Salma yang juga berjalan di belakang Ummi.

__ADS_1


"Sejak tadi aku mencarimu, kenapa pergi tidak bilang dan minta izin dulu?" seloroh Ummi saat dia sudah duduk si samping Kafa. Sedang Salma masih setia berdiri di samping Ummi.


"Duduklah, Salma!" titah Kafa yang mengerti etika dalam pesantren.


__ADS_2