Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Teman SMP


__ADS_3

"bukan urusanmu Kevin, aku mau menikah kapan dan dengan siapa kamu tidak perlu tahu, karena kamu bukan siapa-siapa," ujar Salma dengan ada kaktus dan nada sedikit tinggi dia berucap.


"Setidaknya kita pernah menjadi teman Salma, seharusnya kamu beritahu aku,"saut Kevin yang terlihat masihkah ingin tahu kapan salma menikah.


"Aku mohon padamu pergilah! Aku tidak ingin diganggu ataupun mengganggumu," sekali lagi sama teriakan karena untuk menjelaskan apapun kepada Kevin yang memang bukan siapa-siapa menurutnya sedang Kaffa berdiri menahan emosi sebenarnya ia ingin sekali mengajar Kevin yang tak kunjung pergi dari hadapannya, tapi tangan sama yang memeluk erat dengan Kafa mengurungkan niat bapak untuk terus memukul Kevin yang terlihat lancang dan keras kepala.


"Iwan! "Teriak Kafa.


"Iya, Tuan, "saat seorang karyawan yang berlari ke arah Kafa.


"Usir dia!"kafa memerintahkan Iwan untuk mengusir Kevin yang masih berdiri di depan Kafa dengan tegaknya.


"Diam kamu! Memangnya apa hakmu untuk mengusirku? Aku jauh lebih berkuasa darimu kalau kamu macam-macam padaku, maka aku akan memanggil saudaraku kau tahu saudaraku dalam manajer di supermarket ini, "Kevin mengatakan semuanya dengan nada tinggi dan ekspresi wajah congkak yang membuat siapapun yang melihatnya geram dan ingin mengajarnya.


"Panggil saudaramu aku ingin tahu siapa saudaramu itu?" tantang Kafa yang terlihat semakin emosi setelah mendengar Kevin mengatakan jika saudaranya adalah manajer di supermarket ini.


Kevin yang sejak dulu memang memiliki sifat sombong langsung menuruti tantangan yang diberikan oleh Kafa, dia mengeluarkan benda pipih dari saku celananya menemukan beberapa tombol untuk menelepon seseorang yang kafa tahu dengan pasti jika orang yang dia telfon adalah orang yang tadi dia maksud.


"Kak, kemarilah! Ada yang menggangguku, aku butuh bantuanmu," ujar Kevin sesaat setelah dia memencet tombol di ponselnya itu.


Kevin menatap sini sekarang Kaffa, dengan wajah congkak dia berdiri tegak di hadapan Kafa menunggu saudara yang tadi dia telepon datang.


Lima menit berlalu, datanglah Ridwan yang memang ditunjuk oleh abah agar menjadi manajer di supermarket milik Abah itu.


Ridwan yang tadi berjalan dengan sombongnya kini mulai terkejut dan sedikit menunduk melihat Kafa berdiri di hadapan Kevin.


"Ada apa Kevin?" tanya Ridwan menatap aneh ke arah Kevin yang masih berdiri dengan sombongnya menatap sinis ke arah kafa.

__ADS_1


"Dia menggangguku Kak, kau harus memberinya pelajaran!" jawab Kevin.


Ridwan tak sekarang melaksanakan apa yang diminta oleh Kevin dia justru diam dan tercengang dengan ekspresi terkejut.


"Kenapa kau diam saja kak?" Tanya Kevin dan ekspresi wajah penasaran dia menetap sang kakak yang hanya diam dengan ekspresi wajah terkejut di hadapannya.


"Kevin siapa yang kamu maksud? Aku harus memberi pelajaran pada siapa?" Bukannya langsung melaksanakan apa yang diinginkan oleh Kevin, Ridwan malah balik bertanya dengan ekspresi wajah takut dan terkejut yang bercampur jadi satu.


"Dia," Kevin menunjuk Kafa memberitahu sang Kakak siapa yang harus dia beri pelajaran.


"kamu gila ya, aku tidak mungkin memberi pelajaran padanya, seharusnya kamu yang aku bari pelajaran kamu Kevin," ujar Ridwan saat dia tahu siapa orang yang kali ini diganggu oleh Kevin.


"Kenapa jadi aku yang harus diberi pelajaran kak? sejak tadi dia yang mengganggu hubungan aku, kenapa kau jadi marah padaku? bukannya memarahi dia kenapa kau malah membentakku?" Saat Kevin yang merasa jika saat ini sang kakak Ridwan bersikap aneh di hadapannya biasanya Ridwan akan memarahi ataupun mengusir siapapun yang berani berurusan dengan Kevin di supermarket itu.


"Maafkan Adik saya, Tuan, sungguh saya tidak tahu jika orang yang dia maksud adalah Tuan," ujar Ridwan dengan wajah penuh penyesalan dia berucap.


"Jika bukan aku, apa yang akan kamu lakukan Ridwan?" sahut Kafa ya kini justru penasaran dengan apa yang ingin di katakan oleh Ridwan.


"Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, Tuan, tidak kurang dan tidak lebih;" jawab Ridwan.


"Sudahlah, percuma aku bicara sama kamu, yang penting saat ini kamu harus mengajari adik kesayanganmu itu, belajarlah menghargai orang lain dan jangan pernah muncul di supermarket ini!" Kafa yang merasa malas untuk terus meladeni Ridwan dan Kevin memilih untuk memberi mereka peringatan kemudian melenggang pergi meninggalkan keduanya.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Kafa sesaat setelah keduanya berada sedikit menjauh dari kerumunan.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Mas," sahut Salma dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Jangan tersenyum seperti itu! aku masih marah padamu," ujar Kafa yang sebenarnya memang masih jengkel pada Salma, Kafa juga masih memendam seribu tanya dalam hatinya.

__ADS_1


"kenapa Mas Kafa jadi marah padaku?" tanya Salma merasa aneh dengan pernyataan yang kau berikan barusan.


"Siapa laki-laki itu, Salma?" Kafa mulai mengungkapkan apa yang terpendam dalam hatinya.


"Siapa? Kevin?" Salma mencoba mencari tahu siapa laki-laki yang dimaksud oleh Kafa.


"Ya," jawab Kafa.


"Dia bukan siapa-siapa Mas, dia hanya teman SMP yang menyebalkan yang selalu menggangguku dulu, "jelas Salma.


"Kenapa dia terlihat menyukaimu Salma? "Kaffa kembali bertanya.


"Suka bagaimana maksudmu mas? Sejak dulu yang namanya Kevin itu selalu menggangguku mas dia tidak pernah berhenti menjahili dan membuatku jengkel Mas, "tutur Salma.


"Aku melihat dari tatap matanya padamu Salma dia sepertinya menyukaimu," Kafa menjelaskan alasan dirinya mengatakan jika Kevin menyukai Salma.


"Aku tidak pernah peduli dengan Kevin, yang aku tahu dia hanyalah seorang teman yang selalu menggangguku dulu kamu jadi aku mohon Mas jangan bahas dia lagi, cukup kejadian tadi membuatku jengkel, Mas," sahut Salma.


Salma terlihat jauh lebih kejam dari pada Kafa saat ini seharusnya Kafa yang marah tapi malah sebaliknya Salma yang terlihat marah dan terganggu dengan apa yang dikatakan oleh Kafa.


"Kenapa jadi kamu yang marah padaku Salma?" Tanya Kafa menatap sama penuh dengan rasa heran, seharusnya dia yang marah kenapa malah jadi sebaliknya.


"Aku tidak suka Mas Kafa bilang jika Kevin menyukaiku ataupun sebaliknya, karena aku tidak pernah punya hubungan apapun dengan Kevin jangankan menyukainya melihatnya saja sudah membuatku jengkel," jelas Salma.


"Aku hanya ingin memastikan juga apa yang aku duga tidak benar-benar terjadi," Kafa kembali menjelaskan apa alasan dirinya terus bertanya tentang perasaan Salma dan perasaan Kevin.


"Kevin adalah temanku sewaktu SMP, dia adalah orang yang paling aku benci dan paling ingin aku hindari di dunia ini, aku tidak pernah mencintainya ataupun menyukainya sedikitpun dan perasaanku itu tidak pernah berubah sampai saat ini," Salma kembali menegaskan apa yang sebenarnya terjadi karena dia tidak ingin Kafa berpikiran buruk tentangnya ataupun tentang Kevin yang baru saja menyapa dirinya.

__ADS_1


__ADS_2