
"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada istriku, dan aku tifak akan memintany ikut balapan," sahut Kafa tegas.
Sahutab Kafa sukses membuat Intan merasa sakit hati, meski awalnya dia hanya ingin memanfaatkan kelayaan Kafa, mendengar Kafa begitu melindungi Salma, sungguh saat ini Intan ingin berteriak mengungkapkan segala rasa yang berkecambuk dalam hatinya.
"Kamu mau menerimanya atau aku sendiri yang akan memberi pelajaran pada istri kesayanganmu itu," Intan tak mau kalah dengan Kafa, dia tidak ingin mengalah begitu saja, bagi Intan saat ini dia harus bisa memisahkan Kafa dan Salma dengan cara lain selain mengancam Kafa.
"Baiklah, aku mau bertanding melawanmu, tapi aku tidak ingin pergi dari Kafa, jadi kalau kamu bisa menang melawanku maka aku akan merelakan Mas Kafa menjadikanmu yang ke dua," sanggup Salma.
"Aku tidak setuju, bagaimana mungkin kamu bisa menjadikanku bahan taruhan Salma? aku ini suamimu, semudah itu kamu membagiku dengan dia," sela Kafa yang terlihat tidak rela dan tidak setuju dengan apa yang di katakan Kafa.
"Tenanglah Mas! aku yakin bisa mengalahkannya, Mas Kafa tenang saja," ujar Salma penuh percaya diri.
Kafa terdiam mendengar ucapan Salma yang terdengar mencoba menenangkannya, meski hati Kafa tak rela tapi dia tidak bisa melakukan apapun selain menuruti keinginan Salma.
Bukan hanya Kafa, Ghozi juga terlihat terkejut mendengar penuturan Salma yang sungguh mengejutkannya, Salma yanh selama ini dia kenal sebagai gadis yang selalu bersikap lembut dan baik sangat tidak mungkin bisa balapan dengan Intan yang memang sudah lama berkecimpung di dunia balap.
"Baiklah aku akan menantangmu balapan malam ini." Ujar Intan.
"Tidak bisa, aku butuh waktu untuk mempersiapkan segalanya, setidaknya beri aku waktu dua minggu untuk bersiap," Salma yang tidak pernah ikut balapan sebelumnya meminta waktu pada Intan agar Salma benar-benar siap untuk balapan melawan dirinya.
"Baiklah, aku akan memberimu waktu dua minggu untuk mempersiapkan diri, aku tunggu kasku di arena balap dua minggu lagi, biar Kafa yang jadi saksinya nanti," Intan menyanggupi apa yang di minta oleh Salma.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah setuju dengan apa yang kalian rencanakan, aku bukan piala ataupun bahan taruhan yang bisa kalian perebutkan, aku menolak semua ide gila ini," tegas Kafa berjalan meninggalkan Salma dan Intan juga Ghozi yang masih diam di tempat.
"Biar aku yang membicarakan semua ini dengan Mas Kafa,aku akan membujuknya agar menyetujui kesepakatan kita, tapi ingat Intan! kamu harus pergi sejauh mungkin dari kehidupan kami dan jangan pernah kembali!" Salma kembali mengingatkan kesepakatan yang telah di sepakati oleh keduanya.
"Kamu tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka ingkar atas apa yang aku ucapkan, dan apa yang kamu katakan tadi pasti aku penuhi jika kamu menang dariku," jawab Intan mencoba meyakinkan Salma.
"Ghozi!" panggil Salma.
"Iya, Neng Salma," jawab Ghozi yang sejak tadi berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.
"Kamu akan menjadi saksi kesepakatan ini, jadi kamu harus mengingatkan salahs atu dari kami jika ada yang melanggarnya," ujar Salma dengan pemuh ketegasan, Ghozi sampai tertegun melihat ketegasan Salma.
"Tap~," suara Ghozi terhenti karena Salma memberi isyarat meletakkan jari telunjuknya di bibir tanda jika Ghozi harus diam dan todak di perkenankan untuk membantah.
"Neng Salma!" panggil Ghozi mencegah langkah Salma yang akan pergi menuju kamarnya.
"Iya, ada apa Ghozi?" sahut Salma menghentikan langkahnya menoleh ke arah Ghozi yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa tidak sebaiknya Neng Salma menolak tantangan Intan? bukankah tantangannya tidak masuk akal, dan Mas Kafa juga tidak menyetujui kesepakatan yabg kalian lakukan," Ghozi mencoba menggoyahkan keyakinan Salma untuk melanjutkan tantangan yang sudah di sepakati, tapi Salma yang sudah memiliki tekat yang bulat tak ingin berdebat lagi.
"Aku hanya meminta do'a padamu, dan aku juga butuh dukunganmu Ghozi, hanya ini satu-satunya cara agar Intan benar-benar pergi dari kehidupan kami," jelas Salma yang mengerti kekhawatiran yang ada dalam diri Ghozi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Neng Salma kalah? apa Neng Salma rela membagi Mas Kafa dengan Intan?" Ghozi masih berusaha tanpa ada kata menyerah.
"Aku pasti menang Ghozi, jangan pernah khawatir dengan keadaanku! dan jangan meragukan kemampuanku! aku tak selemah yang kau lihat," ujar Salma yang cukup membuat Ghozi tercengang karenanya.
"Kamu yakin Salma?" sekali lagi Ghozi berusaha meyakinkan Salma.
"Apa tatapan wajahku masih kurang meyakinkan Ghozi? tenanglah aku pasti menang," Kafa menepuk pelan pundak Kafa mencoba menguatkan hati Ghozi agar dia tidak lagi gelisah.
Salma berjalan dengan penuh keyakinan menaiki satu per satu anak tangga yang ada di hadapannya meninggalkan Ghozi yang terlihat masih bingung menatap ke arahnya.
'Aku seperti melihat orang lain dalam diri Salma, apa dia benar-benar Salma? atau Salma yang asli sedang di sembunyikan oleh sesuatu, apa Salma kesurupan ya?' batin Ghozi menatap ke arah Salma yang saat ini terlihat jauh berbeda dengan Salma yang biasanya terlihat lemah lembut.
Jika Ghozi masih merasa heran dengan perubahan yang terjadi dalam diri Salma, hal itu sangat berbeda dengan Kafa yang kini duduk merenung di balkon kamarnya, fikiran Kafa sedang melayang jauh membayangkan apa yang akan di lakukan oleh Salma sang istri, mana mungkin Salma bisa menang melawan Intan yabg sudah terbiasa balapan, sedang Salma tidak pernah balapan sebelumnya, sungguh Kafa tidak bisa menikahi Intan dan menjadikannya yang kedua, atau melihat Salma perlahan pergi meninggalkannya, Kafa sudah mencintai Salma dan dia tidak mau kehilangan cintanya untuk yang kedua kalinya, cukup Bella yang berkhianat, jangan sampai Salma ikut-ikutan pergi meninggalkannya.
Salma masuk ke dalam kamar yang terlihat sepi tak berpenghuni, Kafa sama sekali tak terlihat di sana, hanya ada angin yang masuk melewati cela pintu yang menjurus ke balkon kamar.
"Mas Kafa!" panggil Salma dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.
"Mas!" sekali lagi Salma mencoba mencari keberadaan Kafa yang sama sekali tak terdeteksi hingga panca indra Salma menatap lurus ke arah di mana ada cahaya dan angin yabg menelusup masuk.
"Apa mungkin Mas Kafa sedang berada di balkon ya?" gumam Salma menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Salma berjalan perlahan mencari keberadaan Kafa yang sama sekali tak terlihat, Kafa berharap agar Salma tak meneruskan apa yang sudah di sepakati oleh Intan dan Salma, bagi Kafa Salma sudah jadi ratu yang hanya ada di singgah sana dan tak pantas untuk di suruh.