
Sesuai tradisi yang berlangsung, Tari berjalan dengan langkah yang pasti menuju ke ruangan di mana Ghozi dan yang lain sedang duduk setelah membaca do'a.
Semua mata tertuju pada Tari yang saat ini terlihat seperti seorang puteri raja, wajahnya yang tidak pernah berhias kini terlihat begitu cantik meski dengan dandanan sederhana yang cukup membuatnya pangling.
"Apa ini benar-benar kamu Tari?" lirih Ghozi menatap takjub ke arah Tari yang saat ini sudah berada tepat di hadapannya.
Tari hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ghozi yang terdengar begitu lucu di telinganya.
Kebahagian begitu terasa di ruangan yang menjadi saksi bisu acara akad nikah Tari dan Ghozi.
"Setelah ini siapkan semua baju dan barang yang akan kamu bawa pulang! begitu juga denganmu Ghozi, siapkan semuanya! Umik tunggu kalian di mobil," titah Umik.
Malam yang semakin larut terasa berbeda hari ini, jika biasanya malam itu terasa sunyi dan sepi, kini justru sebaliknya, riuh tangis beberapa teman dekat Tari terdengar terutama suara tangis Sasa yang begitu histeris mendengar Tari akan pergi dan mungkin tidak akan tinggal di kamar itu lagi.
"Mbak Tari jangan pergi! aku ikut Mbak Tari," rengek Sasa.
__ADS_1
"Maaf, Sasa, Mbak harus pergi," ujar Tari yang sebenarnya tak tega juga melihat Sasa yang histeris seperti saat ini, cukup lama Sasa histeris dan tak ada yang bisa menghentikannya, hingga Ummi memutuskan menghubungi Daddy Sasa agar dia mau menemui Sasa yang masih histeris di tempatnya.
"Sasa, diamlah! sebentar lagi Daddy Datang." Suara dan tatapan tajam Daddy Sasa cukup membuatnya diam, meski dengan berat hati Tari harus pergi dan meninggalkan Sasa dan pesantren juga orang-orang yang sebenarnya sudah Tari anggap seperti saudara dan orang tuanya sendiri.
"Ummi, Abah, Salma dan Mas Kafa, daya pamit dulu, mohon maaf jika ada kesalahan yang pernah aku lakukan, baik itu di sengaja atau tidak, saya mohon Maaf," pamit Tari sebelum dia pergi meninggalkan pesantren.
"Hati-hati anakku, semoga hidupmu akan jauh labih indah dan membahagiakan di tempat yang baru," sahut Ummi.
"Aku pasti akan merindukannya, Tari," kali ini Salma yang memberi salam hangat perpisahan pada Tari.
"Ummi titip Tari, Ghozi, Umik, tolong jaga dia dengan baik," pinta Ummi sebelum mereka benar-benar pergi.
"Tari akan ann bersamaku Ummi," jawab Umik.
"Aku akan bertanggung jawab atas dirinya dan kebahagiaannya, Ummi," kali ini Ghozi yang menjawab.
__ADS_1
Mereka pergi menuju pesantren di mana Tari akan memulai hidupnya yang baru di tempat yang baru pula.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Umik yang sejak tadi melihat Tari diam tanpa kata.
"Aku baik, Umik," jawab Tari tanpa merubah tempat duduknya.
"Jangan pernah sungkan denganku, sekarang kamu sudah menikah dengan puteraku dan itu artinya kamu sudah jadi puteriku, jadi anggap aku seperti Ibu kandungku, sama seperti kamu menganggap Ummi," pinta Umik.
"Iya, Umik," jawab Tari yang perlahan mendongakkan wajah melihat ke arah depan.
Semua berakhir dengan penuh kebahagiaan, Tari menikah dengan Ghozi dan hidup bahagia, sedang Salma juga hidup bahagia bersama Kafa yang begitu menyayangi dirinya dan calon anak mereka.
Sungguh perbuatan baik akan mendapat balasan yang baik pula, begitu juga dengan apa yang di lakukan Tari dan Salma, semuanya berujung baik dan membawa kebahagiasn untuk keduanya.
Tamat.
__ADS_1