Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Ummi Dan Abah


__ADS_3

"Kita tidak bisa tergesa-gesa untuk langsung menikahkan Kafa dengan Salma Ummi, mau bagaimanapun Abah tidak ingin terjadi sesuatu pada Salma, atau Salma malah menderita setelah menikah dengan Kafa, kita harus cari waktu yang tepat untuk menikahkan mereka, dan waktu itu bukan sekarang," jelas Abah yang sangat memahami sifat Salma.


Mendengar penjelasan Abah membuat Ummi terdiam, apa yang di katakan oleh Abah memang benar, Kafa bukanlah orang yang bisa di paksa.


"Terus kita harus bagaimana Abah?" tanya Ummi menatap sendu ke arah Abah yang kini malah memalingkan pandangannya dan mulai berfikir.


"Untuk saat ini kita biarkan saja semua mengalir apa adanya, kita tidak perlu memaksakan diri dulu, selama Kafa masih ada di sini dan tidak kembali ke kota, Abah yakin esok pasti akan ada jalan lain jika Salma memang jodoh Kafa," Abah memberi nasehat pada Ummi yang terlihat sendu dengan kata-kata dan senyuman manis yang selalu bisa membuat hati Ummi tenang.


Sungguh begitu indah rumah tangga yang di jalani Ummi dan Abah, keduanya selalu menenangkan hati satu sama lain di kala ada masalah, selalu saja ada yang menjadi air ketika salah satu dari mereka menjadi api.


"Terima kasih, Abah selalu bisa menenangkan hati Ummi saat Ummi merasa gundah dan gelisah," cicit Ummi yang kini duduk mendekat ke arah Abah dan merangkul pinggangnya juga menyandarkan kepala ke pundak Abah, tempat ternyaman untuknya bersandar dan berkeluh kesah.


"Sudah, jangan terlalu di fikirkan, ingat kita masih punya sang pencipta yang akan selalu menolong dan memberi penyelesaian di setiap masalah yang kuta hadapi, ingatlah! ada hikmah di setiap kejadian, Abah yakin Allah tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan kita Ummi, jika kita memang di uji melalui Kafa, maka itu artinya kita mampu untuk melewatinya," Abah kembali menenangkan Ummi yang masih setia bersandar di pundak Abah, sesekali tangan Abah mengusap lembut lengan tangan Ummi menyalurkan kekuatan batin agar sang Ummi tak lagi gelisah.


"Abah, benar, mungkin Ummi yang terlalu terbawa suasana hingga lupa jika semua yang terjadi pasti akan ada hikmahnya, dan Ummi yakin kita pasti bisa melewati semua ini, Ummi hanya berharap kalau semua akan indah dan bahagia pada akhirnya," untaian harapan terucap dari bibir Ummi, harapan yang selalu dia panjatkan di setiap do'a yang terucap, sebuah harapan mungkin bisa terwujud suatu saat nanti.


Abah tersenyum sambil terus mengusap lengan Ummi menikmati kebersamaan keduanya, mereka selalu terlihat romantis jika berada di dalam kamar.


"Ummi masih ingat betapa lucu dan menggemaskannya Kafa waktu kecil, dia adalah hadiah terindah dalam kehidupan dan rumah tangga kita, bayi laki-laki dengan senyuman manis yang sering terlihat, tingkah lucunya dulu selalu membuat kita tertawa, kecerdasan yang di miliki Kafa juga sering membanggakan kita, hingga ujian itu datang merubah segala yang kita miliki, kebahagiaan yang ada langsung sirnah seketika," ujar Ummi yang awalnya bercerita dengan senyum bahagianya, kini berubah menjadi sedih sendu.


"Ummi yang sabar! setiap kehidupan tak bisa terus bahagia, ada saatnya kita di uji dan kita harus terus bersabar dengan ujian yang di berikan, percayalah pasti ada hikmah di setiap ujian!" keduanya saling memeluk satu sama lain dengan tujuan saling menguatkan agar bersabar dalam melewati setiap ujian.

__ADS_1


"Ummi pergi ke dapur dulu Abah, jika kita terus begini kasihan Salma dan Tari, mereka akan memasak dan menyiapkannya sendiri," pamit Ummi tersenyum ke arah Abah yang juga ikut tersenyum kemudian mencium kening Ummi.


"Bersabarlah! semua pasti akan bahagia pada akhirnya, entah kebahagiaan itu datang saat kita di dunia atau di akhirat, yang terpenting jangan pernah bosan untuk bersabar." Pesan Abah.


"Iya, Abah, Ummi akan terus bersabar untuk melewati semuanya," sahut Ummi sambil tersenyum kemudian berjalan menjauh keluar dari kamar menuju dapur untuk menemui Salma dan Tari.


Ummi terus berjalan menuju dapur di mana Salma dan Tari masih sibuk menyelesaikan menu masakan yang akan mereka makan nanti.


"Maaf ya, Ummi kelamaan, kalian jadi masak sendiri," ujar Ummi dengan senyum dan wajah jauh lebih cerah dari sebelumnya.


"Tidak apa-apa Ummi, hanya masak segini bukan masalah bagi kami," jawab Tari.


"Kami senang bisa membantu Ummi," kali ini suara Salma terdengar begitu lembut dan semakin meyakinkan Ummi untuk menjadikannya menantu.


"Harusnya kami yang berbicara seperti itu, Ummi, kami beruntung bisa bertemu malaikat tak bersayap seprti Ummi," ujar Salma.


"Benar itu Ummi, bagi kami Ummi sudah seperti malaikat bumi yang tak memiliki sayap, malaikat yang menjadi penolong dalam kehidupan sulit yang harus kami lewati," sahut Tari yang sukses membuat Ummi terharu, tanpa terasa lelehan air mata jatuh di pipi Ummi.


"Ummi kenapa menangis? apa kita salah bicara?" tanya Salma yang langsung mematikan kompor dan berjalan mendekat ke arah Ummi.


"Tidak, kalian memang gadis yang baik, Ummi hanya terharu mendengar setiap ucapan kalian," ujar Ummi.

__ADS_1


"Kami berkata apa adanya Ummi, karena bagi kami Ummi memang penolong, jika kami tak bertemu Ummi mungkin sekarang kami masih belum mengerti arti kehidupan dan kami juga tidak akan tahu tentang islam sedalam sekarang," ujar Tari.


Ketiganya saling tersenyum setelah saling memuji dan bersyukur, sungguh kehidupan indah yang selalu bisa membuat siapa saja bahagia.


"Makanannya sudah siap, Ummi, kami permisi duly." Pamit Salma.


"Loh kalian mau ke mana?" sahut Ummi saat mendengar Salma berpamitan.


"Kami mau mandi dulu Ummi." Jawab Tari.


"Kalian mandi di kamar mandi dapur saja! kalau mandi di pesantren kelamaan, setelah itu kita makan bersama." Titah Ummi.


Ummi memang sangat sering mengajak Tari dan Salma makan bersama di rumah Ummi, karena hal itulah ada banyak yang beranggapan jika Salma dan Tari merupakan saudara Ummi, padahal sebenarnya bukan.


"Terima kasih, Ummi, tapi kami harus ke asrama dulu. Mau ambil baju ganti." Ucap Salma.


"Baiklah, Ummi juga mau siap-siap, cepat ambil baju sana!" titah Ummi.


Salma dan Tari tersenyum manis sambil mengangguk kemudian pergi berlalu meninggalkan dapur menuju asrama untuk mengambil baju ganti.


"Alhamdulillah ya Salma, kehidupan kita sekarang jauh lebih baik, meskipun aku gak tahu harus bagaimana ke depannya, tapi aku bersyukur, kita tidak kesusahan seperti dulu," ucap Tari.

__ADS_1


"Iya, Tari, aku bersyukur banget, dulu kita harus kerja keras demi sesuap nasi, tak jarang kita masih bingung mau makan apa besok, tapi di sini kita tidak perlu mikir makan apalagi kita juga dapat ilmu yang insya allah aku yakini bermanfaat untuk kehidupan kita ke depannya." Sahut Salma dengan senyum bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.


__ADS_2