Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Aku Mau Makan Kamu


__ADS_3

"Kita turun di restaurant yang ada di persimpangan jalan!" Kafa kembali memberi perintah setelah melihat mobil yang di tumpanginya sudah sampai di persimpangan jalan.


"Baik, Mas Kafa," jawab Arif yang saat ini menjadi sopir.


Salma yanh tertidur cukup lama mulai terbangun setelah mendengar suara Kafa dan merasakan gerakan kakinya.


"Apa kita sudah sampai Mas?" tanya Salma yang mulai menegakkan badan memperhatikan sekelilingnya.


"Belum, kamu tidur saja!" jawab Kafa.


"Aku sudah cukup tidurnya, kalau kelamaan nanti yang ada makin pusing kepalaku Mas," tutur Salma.


"Kalau tidak mau tidur lebih baik diam, jangan banyak tingkah!" ujar Kafa yang cukup membuat Salma terkejut mendengarnya.


'Siapa juga yang banyak tingkah? perasaan dari tadi aku diam aja,' batin Salma yang kembali merasa aneh dengan sikap Kafa tapi tak bisa bicara, Salma hanya bisa mengusap dadanya mencoba memperluas rasa sabar yang dia miliki.


Mobil terus melaju hingga sampai di parkiran restauran yang Kafa maksud.


"Kita sudah sampai Mas Kafa," tutur Arif tanpa berani turun sebelum mendapat perintah dari Kafa.


"Turunlah! kita akan makan dulu sebelum pulang ke rumah," jawab Kafa, semua orang mulai keluar dari mobil sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Kafa, bagaimanapun keadaannya Kafa tetap menjadi orang yang paling di patuhi dan di segani saat ini.


"Kalian bisa memilih duduk di manapun yang kalian mau, nanti aku yang akan membayarnya." Ujar Kafa sesaat setelah semua orang sudah siap berdiri di depan meja tanpa bisa membalasnya.


"Terima kasih Mas Kafa," ucap Mbok Sumik yang baru saja turun.


"Mas Kafa tidak ikut bergabung dan makan bersama kami?" tanya Ghozi.


"Tidak, aku ingin makan berdua bersama isteriku," jawab Kafa enteng tanpa beban.


"Dasar bucin," lirih Ghozi, entah mengapa kali ini Ghozi merasa jengah dengan sikap Kafa, sejak di pantai tadi Kafa selalu saja bersikap seperti seseorang yang baeu jatuh cinta dan tidak pernah mengenal cinta sebelumnya.


"Kamu bilang apa Ghozi?" tanya Kafa, samar-samar dia mendengar apa yang di katakan oleh Ghozi.

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Kafa dengan ekspresi wajah kaku tanpa peduli dengan apa yang di rasakan Kafa, Ghozi berjalan santai mencari tempat duduk yang menurutnya paling nyaman, di ikuti Arif dan Mbok Sumik yang berjalan di belakangnya.


"Kenapa kita tidak makan bersama mereka?" tanya Salma merasa tidak enak hati karena sikap Kafa.


"Untuk kali ini aku hanya ingin makan berdua denganmu, jadi jangan protes ataupun meminta sesuatu yang bisa membuatku marah!" jawab Kafa tak terbantahkan.


"Kenapa harus berdua di saat seperti ini? bukankah makan bersama-sama itu jauh lebih baik dari pada harus makan berdua saja," gumam Salma sambil memutar bola mata jengan, Kafa memang suka seenaknya sendiri dan hal itu tak bisa di pungkiri oleh siapapun.


"Sudah jangan menggerutu! nikmati apa yang ada dan syukuri Apapun yang kau dapatkan hari ini," ujar Kafa yang tak ingin ada perdebatan ataupun perselisihan saat mereka sedang menikmati waktu berdua.


Salma terdiam tanpa bisa bicara, apa yang di katakan Kafa memang benar, dia harus bersyukur atas apapun yang dia dapat hari ini, Cinta harta dan tahta yang dulu begitu mustahil di dapatkan kini sudah berada dalam genggamannya, kehidupan yang tak pernah di bayangkan sebelumnya kini sudah menjadi kenyataan, Salma sang gadis penjual sosis bakar bersama Ibunya kini sudah menjadi Salma menantu dari Abah, kiyai yang cukup tersohor dan istri Kafa yang punya sejuta cinta untuk dia curahkan pada Salma. Senyum indah menghiasi wajah Salma yang kini sedang menikmati aneka masakan seafood, swnyum indah menatap sang suami yang terlihat begitu tampan, perasaan aneh mulai menyelinap masuk ke dalam hati saat Salma mengingat semua hal yang dia lalui bersama dengan Kafa sang suami.


"Jangan menatapku terlalu lama!" larang Kafa, sebenarnya Kafa merasa tidak nyaman di pandang lekat oleh Salma, bukan tidak nyaman tapi lebih tepatnya salah tingkah, bagaimanapun Kafa juga manusia, sepintar-pintarnya dia menyembunyikan setiap rasa yang bergejolak dalam hatinya, tetap saja Kafa akan salah tingkah saat dia di pandang oleh Salma, wanita yang kini menguasai hatinya.


"Kenapa? apa Mas Kafa tidak suka kalau aku tatap?" sahut Salma semakin dalam menatap Kafa.


"Kalau kamu terus menatapku seperti itu, bisa-bisa aku lepas kendali," bisik Kafa.


"Lepas kendali bagaimana maksudnya Mas?" tanya Salma yang tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Kafa, Salma juga ikut berbisik membalas ucapan Kafa.


"Ishh, Mas Kafa gak asyik," ucap Salma yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Salma memalingkan wajah melihat ke arah lain dan sungguh beruntung, mata Salma melihat seorang laki-laki tampan berkulit putih dengan paras wajah yang mirip seperti orang korea.


"Masya allah sungguh indah ciptaanmu," lirih Salma dengan tatapan yang masih setia menatap ke arahnya.


"Kafa yang mendengar ucapan Salma langsung menoleh ke arah yang sama, mencari objek yang di lihat dan di kagumi oleh Salma.


"Khem," Kafa berdehem setelah mendapati seorang laki-laki berparas rupawan duduk di sudut ruangan.


Suara deheman Kafa tak di hiraukan oleh Salma, dia tetap menatap lurus ke sudut ruangan dengan mata berbinar, dulu Salma pernah mengagumi idol korea meskipun hanya sebentar kemudian rasa kagum itu hilang tetap saja Salma merasa senang saat melihat laki-laki yang rupawan seperti idol korea idolanya dulu.


Kafa mulai jengkel melihat sikap Salma, dengan gerakan cepat dan pelan Kafa menyenggol kaki Salma dengan harapan Salma segera mengalihkan pandangannya dan tak lagi melihat ke arah laki-laki itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah, apaan ya? masak ada kucing di tempat semewah ini," ucap Salma yang langsung menunduk mencari kucing yang dia kira berjalan melewati kakinya.


"Kok gak ada?" ucap Salmadengan ekspresi heran yang terlihat helas di wajahnya.


"Kucingnya di sini, bukan di bawah," sahut Kafa yang semakin jengkel dengan Salma yang mengira dirinya seekor kucing.


"Mana kucingnya?" tanya Salma dengan penuh semangat dan wajah polos yang terlihat jelas di wajahnya.


"Aku kucingnya, puass," jawab Kafa dengan tatapan dingin mengintimidasi.


"Mas Kafa kenapa jadi sewot begitu?" Salma kembali bertanya dengan ekspresi wajah polos yang membuat siapapun genas melihatnya.


"Aku yang menendang kakimu, dan aku juga yang kamu kira kucing," jelas Kafa.


"Ya maaf, mana aku tahu kalau Mas Kafa yang nendang, salah sendiri nendang-nendang kakiku, siapa suruh nendang, kayak gak punya kegiatan lain aja," ucap Salma dengan ekspresi wajah penuh penyesalan dengan harapan rasa jengkel Kafa akan hilang.


"Lagian punya mata jelalatan, apa kamu masih kurangpunya suami se tampan aku, masih aja mantengin laki-laki lain," Kafa menjelaskan sumber rasa jengkel yang dia rasakan.


"Astaghfirullah, jadi Mas Kafa jengkel cuma gara-gara aku liatin oppa korea itu," ujar Salam yang masih saja terlihat biasa saja tanpa ada dosa.


"Cuma kamu bilang, Salma istriku tersayang, ingatlah! memandang sesuatu yang belum halal bagimu bukanlah hal yang baik, dan apa yang kamu lakukan barusan termasuk zina mata yangs seharusnya kamu hindari, bukan malah kamu kerjakan dan kamu bilang cuma lihat, sudah ada yang halal masih saja mandang yang haram," Kafa kembali menjelaskan apa yang menurutnya perlu di jelaskan.


"Iya, iya maaf, lain kali aku gak bakal ngelakuin hal itu lagi, Mas Kafa juga ngapain ngelarang aku mandeng wajah Mas Kafa tadi, aku jadi lihat yang lain kalau lihat punyaku sendiri dilarang," bela Salma.


"Permisi Mas, Mbak, silahkan di makan!" seorang pelayan menyediakan beberapa menu yang tafi sempat di pesan oleh keduanya.


"Iya, terima kasih Mbak," jawab Salma membalas senyum pelayan restauran yang terlihat begitu ramah.


"Sudah, jangan marah-marah lagi! lebih baik sekarang kita nikmati apa yang ada di hadapan kita ini!" Ujar Salma yang tak ingin meberuskan perselisihan yang sebenarnya memang dia yang salah.


Kafa tak lagi menimpali ucapan Salma, dia lebih memilih untuk mengikuti ajakan Salma menikmati makanan seafood yang tadi sudahdia pesan.


"Mas Kafa mau makan ini atau yang ini?" tanya Salma mencoba meluluhkan hati Kafa yang diatahu pasti masih jengkel dengan apa yang terjadi, Salma berharap Kafa bisa melupakan atau paling tidak memaafkan dirinya atas apa yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


"Aku mau makan kamu." Jawab Kafa yang langsung mengambil satu lobster berukuran besar yang ada di hadapannya.


__ADS_2