
"Ini rumahku, jadi suka-suka aku mau ke mana, kenapa jadi kamu yang ribet," jawab Kafa acuh.
"Emang terserah kamu, tapi kenapa kamu mesti ikutan duduk di sini?" sahut Ghozi yang terlihat tidak ingin di temani oleh siapapun.
"Emang kenapa kalau aku duduk di sini?" tanya Kafa acuh, dia malah sengaja duduk di samping Ghozi yang sejak tadi duduk menikmati sinar mentari yang mencerahkan harinya saat ini.
"Ganggu," jawab Ghozi acuh.
"Sudahlah! nikmati aja apa yang ada! jangan banyak mengeluh ataupun protes karena apa yang kamu rasakan saat ini sudah menjadi takdirmu," ujar Kafa yang terlihat bersikap sok bijak di hadapan Ghozi.
"Harusnya yang ngomong kayak gitu itu aku Mas Kafa, karena saat ini yang mengalami kesulitan dan sedang berusaha keras melewati kesulitan itu Mas Kafa bukan aku," elak Ghozi dengan senyum yang terlihat menjengkelkan.
"Kata siapa kata-kata itu hanya untukku? Kamu juga harus mendapat kata-kata seperti itu agar bersemangat dalam menjalani masa jomblo tiada akhirmu itu," Kafa tak ingin kalah dengan Ghozi.
"Aku jomblo bukan karena tidak laku Mas Kafa, aku hanya sedang mencari yang terbaik di antara para gadis yang terlihat baik," Ghozi kembali beralasan agar dirinya tak kalah berdebat dengan Kafa yang selalu membahas kejomblohan yang saat ini tengah dia alami.
'Seandainya Salma tidak di jodohkan denganmu Mas Kafa, aku yakin saat ini bukan kamu yang menjadi suaminya, tapi aku,' batin Ghozi mulai mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan karena saat ini bukanlah saat yang telat untuk membahasnya, Salma sudah menhafi istri orang maka akan sangat tidak pantas jika Ghozi terus berangan-angan tentangnya.
"Ghozi!!" tegur Kafa saat melihat Ghozi justru terdiam seperti seseorang yang sesang melamun.
"Hm," sahut Ghozi yang tetlihat masih enggan untuk mengubah posisi ataupun menanggapi ucapan Kafa.
Sikap Ghozi memang terlihat seperti sahabat bukan lagi seperti santri dan putera pemilik pondok, keduanyaselalu bersikap seperti itu saat mereka tidak berada di lingkungan pesantren atau ketika keduanya sedang bersama dan tidak ada orang luar yang tahu, karena Ghozi akan terlihat tidak sopan jika bersikap begitu demi menjadi.
Salma berjalan mendekat ke arah dapur di mana Intan dan Mbok Sumik berada, Mbok Sumik melanjutkan perkerjaan yang tadi tertunda, sedangkan Intan hanya duduk diam di kursi meja makan yang berada tidak jauh dari dapur.
"Loh, Kenapa tidak membantu Mbok Sumik? kenapa duduk di sini Mbak?" tanya Salma sesaat setelah dia sampai di dapur.
"Aku nunggguin kamu, ngapain juga bantuin Mbok Sumik, males banget," jawab Intan seenaknya.
__ADS_1
'Jadi Intan ke sini karena di minta oleh Neng Salma, ngapain juga sih Neng Salma nyuruh Intan ke sini, bikin emosi saja,' batin Mbok Sumik.
Sejak pertama kali bertemu dengan Intan, Mbok Sumik tidak menyukainya, bukan karena Intan tudak cantik tapi sikap Intan yang sombong dan sok jadi Nyonya di rumah itu membuat Mbok Sumik tidak suka padanya, Intan sering sekali menyuruh Mbok Sumik seenaknya sendiri tanpa ada sopan santun.
"Katanya mau belajar masak, Mbak, kalau duduk di situ bagaimana bisa belajar?" ujar Salma.
"Tapi aku tidak mau membantu pembantu, dia kita gaji kan untuk melayani kebutuhan kita," jawab Intan santai.
"Mbok Sumik tolong kerjakan yang lain, biar aku dan Mbak Intan yang memasak." Pinta Salma yang langsung di laksanakan oleh Mbok Sumik.
"Sekarang tinggal kita berdua, ayo masak!" ajak Salma.
"Apa harus seorang wanita bisa memasak?" Intan terlihat masih ragu untuk memasak karena Intan memang tidak pernah memasak.
"Mbak Intan mau belajar memasak atau tidak?" Salma kembali bertanya mencoba meyakinkan Intan.
"Sudah jangan banyak berfikir! lebih baik sekarang kita mula belajar, lagi pula kapan lagi kita bisa belajar kalau tidak sekarang?" Salma terus saja merayu Intan dengan kata-kata, berharap Intan mau belajar memasak bersamanya, Salma yakin kegiatan baru bisa perlahan mengalihkan perhatian Intan agar dia tidak terus berfikir cara agar Kafa tetap berada di sisinya.
"Baiklah, aku akan mencobanya." Intan berdiri berjalan mendekat ke arah Salma.
"Kenapa kita harus repot-repot belajar memasak kalau ada pembantu yang bisa membantu memasak dan menyelesaikan segalanya?" tanya Intan merasa aneh dengan Salma yang memaksa nya belajar memasak.
"Terkadang, seorang suami juga ingin memiliki istri yang pintar memasak, karena masakan istri itu pasti akan terasa jauh lebih enak dan nikmat karena ada cinta dan kasih sayang di setiap sentuhan tangannya," Kelas Salma.
"Kenapa kamu bicara seperti seorang emak-emak yang lagi nyeramahin anaknya?" tanya Intan melihat Salma dengan pandangan aneh.
"Aku hanya ingin Mbak Intan belajar memasak itu aja kok gak lebih," bela Salma.
Intan hanya mengikuti apa yang di katakan oleh Salma.
__ADS_1
"Ishhh bau banget," keluh Intan saat dia mendapat tugas membersihkan ayam akan dia masak.
"Kenapa aku yang harus memasak sotonya? dan kamu masak jamur, harusnya aku yang masak jamur bukan aku," Intan kembali menggerutu sambil membersihkan ayam utuh yang akan dia masak.
"Sudahlah Mbak, mengeluh tidak ada gunanya, lagi pula itu cuma ayam bukan ikan," sahut Salma menggelengkan kepala secara perlahan melihat Intan yang terlihat jijik dengan ayam yang ada di hadapannya saat ini.
"Kenapa kalau ini ikan?" tanya Intan.
"Kalau ikan baunya jauh lebih tidak enak lagi," jawab Salma dengan senyum yang muncul di bibirnya, Salma benar-benar merasa terhibur dengan sikap dan ucapan Intan yang tak pernah berhenti mengeluh sejak pertama kali masuk dapur.
"Kalau begitu aku tidak akan memasak ikan," ujar Intan santai.
"Tapi ikan itu lebih enak dan lebih bergizi Mbak Intan," Salma tidak ingin kalah dengan Intan yang selalu mengeluh dengan apa yang dia kerjakan saat ini.
"Aku akan memesannya dari restauran jika memang sedang ingin makan ikan," Intan selalu punya jawaban tiap kali Salma berucap.
"Terserah Mbak Intan, intinya kalau mau suami betah dan semakin sayang pada istri Mbak harus bisa masak dan mengurus segala keperluan suami sendiri, karena suami akan merasa sangat bahagian jika punya istri yang perhatian dan pengertian," Salma tak lagi memaksa Intan, dia mengatakan apa yang menurutnya biaa membuat Intan kembali bersemangat.
"Aku akan mencobanya nanti," benar saja, Intan langsung bersemangat untuk mencoba.
Melihat sikap Intam membuat Salma semakin yakin jika Intan sebenarnya baik, sama seperti Tari yang dulu bersikap sama seperti Intan dan pada akhirnya Tari berubah. Kini Tari hidup jauh lebih baik dari dulu, Salma juga berharap Intan bisa seperti Tari yang berubah baik.
"Setelah ini ayamnya di apain Salma?" tanya Intan setelah merebus ayam yang tadi di bersihkan
"Kalau sudah matang nanti tinggal di goreng Mbak," jawab Salma.
"Loh, bukannya mau buat kuah? kenapa di goreng gak langsung di kasih bumbu aja?" Intan yang tidak pernah memasak sebelumnya kembali bertanya.
"Nanti Mbak Intan akan tahu alasannya, sekarang lebih baik Mbak ikuti saja apa kataku!" Salma merasa lelah jika harus menjelaskan satu persatu, dia memutuskan untuk meminta Intan menuruti apa yang di katakannya dari pada menjelaskan semuanya.
__ADS_1