
"Apa kamu membenci Umik barumu?" tanya Salma.
"Tidak, aku tidak membencinya karena apa yang terjadi adalah takdirku, aku hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk menerima kehadirannya yang tiba-tiba," Izkil kembali menjawab pertanyaan Salma dengan jujur.
"Apa alasanmu hingga kamu butuh waktu lebih lama untuk menerima semuanya Izkil?" Salma semakin tertarik dan penasaran dengan cerita yang di ceritakan oleh Khizkil.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu, aku hanya bisa berdo'a kepada yang maha kuasa, dan berkuasa membolak balikkan hati manusia agar membalikkan hatiku dan membuatku bisa menerima semua yang telah terjadi.
"Bersabarlah, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua yang terjadi dengan baik, dan kamu pasti bisa menerima Umik barumu suatu saat nanti, semua hanya soal waktu, kamu hanya perlu bersabar!" Salma mencoba menguatkan hati Khizkil yang terlihat rapuh.
"Berbicara itu jauh lebih muda dari pada melakukannya, ada banyak orang yang busa berkata bersabarlah dengan begitu mudahnya, tapi dia tidak tahu bagaimana sulitnya menerapkan kesabaran. itu dalam kehidupan sesungguhnya," ujar Khizkil.
"Kamu salah Khizkil, aku bukan termasuk orang yang seperti itu, seandainya kamu tahu bagaimana sulitnya kehidupanku maka kamu akan jauh merasa bersyukur atas apa yang kamu miliki saat ini," tutur Salma.
"Bagaimana aku bisa tahu? cara kamu menerapkan kesabaran itu jika kamu tidak cerita apapun padaku." Ujar Khizkil mencoba memancing gadis yang ada di hadapannya agar dia ikut bercerita.
__ADS_1
"Awalnya kehidupanku baik-baik saja, aku punya Ayah yang bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji yang cukup besar, aku juga punya Ibu yang selalu menemaniku selama dua puluh empat jam, kasih sayang, mainan, aku punya segalanya waktu itu, hingga suatu hari saat aku mulai mengerti segalanya, tuhan lebih menyayangi Ayah, beliau di panggil untuk menghadap kepangkuannya, kau tahu saat itu duniaku terasa hancur, pupus sudah semua kebahagiaan yang selama ini aku miliki," Salma berhenti bercerita, dia menunduk menyembunyikan air mata yang kini mulai menetes membasahi pipinya.
"Setelah itu apa yang terjadi?" Khizkil yang mendengar cerita Salma mulai tertarik dan bertanya kelanjutannya.
"Kau tahu, hidupku berubah seratus delapan puluh derajat, Ibuku yang awalnya hanya Ibu rumah tangga biasa kini harus mencari pekerjaan, awalnya beliau menjadi buruh cuci hingga menjadi asisten rumah tangga di jalani demi menghidupiku yang yang masih sekolah, hingga aku lulus SMP, ku putuskan untuk tidak melanjutkan pendidikanku karena aku ingon membantunya, kami beralih dari asisten rumah tangga kami mencoba peruntungan dengan berjualan makanan, dan saat kami mulai bangkit dari keterpurukan lagi-lagi Tuhan lebih sayang Ibuku, beliau di tabrak dan akjirnya harus pergi menyusul Ayah, alhasil aku tinggal seorang diri, karena aku tak memiliki saudara kedua orang tuaku juga tidak pernah cerita apapun tentang saudara mereka jadi, aku fikir kedua orang tuaku sama sepertiku yang tidak punya saudara dan aku sebatang kara," Salma menghirup udara dalam kemudian melepaskannya perlahan mencoba mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan ceritanya.
"Maaf, aku tidak menyangka jika hidupmu begitu berat, aku salut dengan kesabaran yang kamu miliki hingga kamu bisa bertahan sampai sekarang," ujar Khizkil menatap kagum ke arah Salma yang justru masih setia menunduk dengan air mata yang tidak mampu dia tahan.
"Aku menceritakan apa yang aku alami bukan untuk kamu kasihani atau apalah itu, aku hanya ingin kamu mengambil hikmah dan menjadi pribadi yang sabar juga ku harap kamu bisa menerima Umik Wardah sebagai Umik baru kamu, ingatlah Izki! semua yang terjadi pada setiap manusia adalah hal yang terbaik untuknya, jadi cobalah untuk menerima segalanya dengan penuh kesabaran." Ujar Salma dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya membuat pesona Salma semakin kuat.
"Jangan memuji seorang hamba terlalu tinggi! karena aku tetaplah seorang manusia biasa, aku hanya seorang hamba yang masih memiliki segudang salah dan sejuta dosa," Salma yang tak ingin di puji akhirnya mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Dan aku mengagumi hamba ciptaan tuhan sepertimu," ungkap Izki seraya memandang Salma dengan penuh kekaguman.
"Khem," deheman seorang pria mengusik Salma dan Izki yang masih asyik mengobrol di taman bunga.
__ADS_1
'Mas Kafa, ngapain dia ke sini?' batin Salma menatap heran ke arah Kafa yang berdiri tegak di hadapannya saat ini setelah Salma menoleh ke arah belakang.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Izki yang kini terlihat berwajah dingin dan tegas, ekspresi wajah Izki saat ini sangat jauh berbeda dengan ekspresi yang di tunjukkan pada Salma sebelumnya. Keramahan dan senyum yang selalu menghiasi wajah Izki seolah sirnah entah pergi ke mana.
"Harusnya aku yang bertanya, kamu ngapain di sini bersama seorang gadis?" bukannya menjawab Kafa malah balik bertanya.
"Bukan urusanmu! aku di sini mau sama siapa tidak ada hubungannya denganmu," sahut Izki dengan ekspresi ketus.
"Kata siapa tidak ada hubungannya denganku, kamu salah Khizkil, gadis yang saat ini ada di hadapanmu itu adalah calon istriku, apa pantas jika calon istriku sedang berduaan denganmu?" ujar Kafa seraya menatap tajam ke arah Salma.
"Maaf, tadi aku hanya ingin berjalan-jalan menghilangkan rasa bosan dan aku tidak sengaja bertemu dengan Khizkil yang ternyata saudaramu, anak dari Umik Wardah," Salma mengucapkan kata maaf dengan kepala yang tertunduk, sungguh saat ini dirinya memang salah karena telah berduaan dengan seorang pria tanpa ada orang lain, jika saja ada orang yang kurang suka padanya maka bisa di pastikan akan ada gosip miring yang akan beredar.
"Kamu ngapain minta maaf Salma? kamu tidak salah, dan jangan meminta maaf atas kesalahan yang tidk kamu perbuat, lagi pula sejak tadi kita tidak melakukan hal buruk sedikitpun," sela Khizkil yang tidak terima jika Salma meminta maaf karena dia merasa jika Salma tidak bersama.
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan Izki? jika ada orang lain yang melihat kalian berdua di sini sedang di halaman depan sesang ada acara, apa yang akan di fikirkan oleh mereka, bagaimana bisa kamu bilang tidak bersalah," Kafa mulai berdebat dengan Izki.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa menjadi calon istrinya Salma? orang bermulut pedas seperti dia tidak pantas mendapatkanmu yang berhati lembut," Izki tak menggubris ucapan Kafa, dia malah berbicara sesuatu yang sukses membuat Kafa meradang, tatapan mata Izki yang selalu menatap kagum ke arah Salma sukses membuat hati Kafa terbakar.