
"Istriku tidak akan pernah kalah darimu, jika memang takdir memaksanya untuk kalah aku akan tetap memilih dirinya dan kamu tidak akan pernah dapat apapun darimu," sela Kafa yang mulai geram dengan apa yang di katakan oleh Intan.
Sedangkan Intan hanya tersenyum kecut mendengar apa yang di katakan oleh Kafa, sejenak dia berfikir memang benar, dia tidak akan dapat apapun sekalipun menang dari Salma, jika Kafa memang tak memiliki cinta untuknya sejuta kali Salma memaksa, maka dia tetap tak akan pernah punya apapun untuk di dapat.
Tanpa ada kata Salma melangkah meninggalkan Salma dan Kafa yang masih saja betah berdiri di tempatnya.
"Aku harap dia sadar dan mengerti dengan apa yang aku katakan," ujar Kafa sambil menatap lekat ke arah Intan yang perlahan menghilang di balik kerumunan para pemuda pemudi.
"Apa tempat ini yang kamu datangi setiap malam, Kafa?" tanya Ummi melihat sekeliling, ada banyak pemuda pemudi yang berkumpul dan yang paling membuat Ummi terkejut, di sana tidak ada satupun gadis yang memakai hijab, sungguh di sayangkan.
"Iya, Ummi," jawab Kafa.
"Apa mereka tidak punya baju yang jauh lebih pantas dari apa yang mereka pakai saat ini?" Ummi kembali bertanya.
"Apa yang mereka pakai merupakan style yang memang sedang di gandring para remaja Ummi, Apa lagi di tempat seperti ini, pakaian seprtiitu sudah biasa," ujar Salma yang mengerti maksud dari pertanyaan Ummi.
"Ummi merasa miris melihat semua ini, seandainya mereka bisa sepertimu Salma, balap seperti ini pasti tidak akan pernah ada," lirih Ummi mengungkapkan harapan yang tidak akan pernah terwujud.
Denting jam terus berputar hingga saat pertandingan tiba, kini Salma sudah siap duduk di atas motor dengan Kafa yang ada di sampingnya, dan Intan juga berada tepat di sebelah Salma, dia sudah siap dengan motornya.
__ADS_1
Salman hanya bisa diam menyaksikan teman dan sepupunya kini malah bertanding seperti saat ini, dia yang tidak tahu jika Salma sudah menjadi istri Kafa beranggapan jika Kafa memang bersalah dan Intan harus memperjuangkan cintanya, seandainya saja Salma tahu yang sebenarnya dia pasti tidak akan pernah mengizinkan ataupun membiarkan Intan menantang Salma.
"Satu, dua, tiga, go!!!!"
Salma dan Intan mulai mengelas dan melajukan motor mereka sekencang mungkin menyusuri jalan yang sudah menjadi kesepakatan mereka, Salma yang memang pernah menjadi pembalap sebelumnya kini terlihat begitu santai tapi penuh keseriusan, dia melaju dengan sangat kencangnya mendahului Intan yang awalnya masih berada beberapa jengkal di belakangnya.
Sedang Intan yang melihat kemampuan Salma merasa terkejut, dia tidak menyangka jika Salma sang gadis pesantren bisa mengendarai motor sebaik saat ini, Intan salah telah meremehkan kemampuan Salma, dan dia harus serius menghadapinya saat ini.
Intan yang tadi terlihat santai pemuh percaya diri , kini semakin mempercepat laju motornya hingga dia bisa menyusul Salma yang masih serius mengendarai motor keberuntungan milik Kafa, keduanya terlihat saling menyalip, terkadang Salma yang berada di depan kadang pula Intan yang berada di depan, hingga di garis finis keduanya berada di posisi sejajar yang artinya keduanya seri.
"Sayang!" panggil Kafa yang langsung berlari menghampiri Salma yang baru saja mematikan mesin motornya.
"Bagaimana ini Mas? aku dan Intan seri, Apa kita harus bertanding lagi?" tanya Salma dengan mimik wajah kecewa dia berucap sambil menundukkan kepala.
"Sudahlah, jangan di fikirkan lagi! yang penting kamu sudah berusaha, masalah hasil itu urusan belakangan," Kafa tak ingin melihat Salma bersedih, sebisa mungkin dia berusaha menghibur Salma yang terlihat kecewa.
"Ta~" suara Salma terpotong karena kehadiran Ummi dan yang lain.
"Ternyata menantu Ummi serba bisa, sungguh Ummi tidak menyangka kamu sehebat itu Salma, selain baik dan lemah lembut kamu juga bisa tangguh seperti tadi, sungguh Ummi bangga padamu," puji Ummi merasa begitu bangga dengan menantu yang sudah dia anggap seperti puterinya sendiri itu.
__ADS_1
"Tapi Salma tidak menang Ummi," keluh Salma sambil menundukkan kepala tanda jika dirinya saat ini sedang kecewa dengan apa yang di hasilkan.
"Menang atau kalah tidak akan pernah jadi masalah untuk Ummi, karena bagaimanapun hasilnya, kamu tetap akan menjadi satu-satunya menantu Ummi sampai kapan pun," ujar Ummi dengan suara yang sengaja di katakan agar Intan bisa mendengar apa yang Ummi katakan.
"Kamu tenang saja Salma, Mas Kafa dan Ummi lebih memihakmu dan menyayangimu apa adanya, jadi kamu tidak perlu khawatir jika dia datang, karena di hati Ummi dan Mas Kafa kamu satu-satunya milik mereka," Tari yang mengerti jika saat ini Ummi sedang memberi ketegasan jika tak ada cela untuk Intan masuk dan menjadi anggota keluarga Ummi.
Intan terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Tari dan Ummi yang seolah memberi penekanan jika dia tidak di terima di keluarga itu, meski ucapan itu tidak di katakan secara langsung tapi Intan bukan orang bodoh yang tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Ummi.
Intan berdiri turun dari motor balap yang sering membawanya berdiri di tempat para juara. Intan berjalam mendekat ke arah Salma yang sedang di kerumuni oleh keluarga Kafa yang terlihat masih mendukung dan menyemangati Salma.
"Ternyata kemampuannya boleh juga," ujar Intan yang kini berdiri tepat di hadapan Salma.
"Terima kasih, kemampuanmu juga bagus Intan, aku tidak menyangka jika kamu bisa melakukannya sebaik ini," Intan yang tak bisa mengelak jika kemampuan Salma2 memang bagus, dia terlihat begitu terkejut bercampur kagum pada Salma, seorang santri yang memiliki kemampuan seperti yang di miliki Salma, sangat sulit menemukan gadis sehebat Salma di era modern seperti saat ini.
"Semua orang pasti bisa melakukannya jika dia punya kemauan Intan, dan aku tak sehebat yang kamu fikirkan, ada satu kelemahan yang tak bisa aku hilangkan dan aku yakin jika kelemahan itu kamu juga memilikinya, karena semua orang pati punya kelemahan itu," ucap Salma dengan penuh keyakinan.
"Kelemahan apa yang kamu maksud?" tanya Intan dengan penuh rasa penasaran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Aku masih belum bisa menerima poligami ataupun perselingkuhan dalam rumah tanggaku," tekan Salma tanpa ada keraguan sedikit pun dia menjelaskan segalanya di hadapan Intan.T
__ADS_1