Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Mimpi Kafa


__ADS_3

"Kafa!" panggil Abah.


"Iya, Abah, ada apa?" jawab Kafa.


"Abah ingin bicara, ikutlah dengan Abah!" titah sang Abah.


Kafa yang mendengar perintah sang Abah langsung mengekor di belakangnya, mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah menuju ruang kerja sang Abah.


"Duduklah!" titah Abah setelah sampai di ruang kerja yang biasa di gunakan Abah untuk menyimpan dan mengerjakan segala pengeluaran juga pemasukan keuangan di pesantren.


Kafa hanya menuruti apa yang Abahnya perintahkan tanpa membalas ucapannya ataupun bertanya untuk apa dirinya di panggil ke ruang kerja.


"Siapa gadis yang baru saja pergi, Kafa?" Abah mulai mengintrogasi.


"Dia Intan Abah, teman dekat Kafa di kota," jawab Kafa.


"Teman dekat atau kekasihmu?" Abah yang sedikit greget dengan jawaban Kafa langsung bertanya pada intinya.


"Di ~" Kafa tak bisa meneruskan kata-katanya karena dia yakin sang Abah pasti akan marah kalau Kafa menjawab jujur jika Intan adalah kekasihnya.


"Jawab Kafa!" benar saja, suara Abah penuh dengan penekanan dan terdengar sedikit keras dari sebelumnya, meski Abah tidak pernah membentak tapi nada suara yang menekan cukup membuat siapapun takut untuk melawannya.


"Maaf, Abah, dia kekasihku, tap~" Kafa akhirnya berkata jujur, percuma juga berbohong karena Ummi sudah tahu yang sebenarnya, cepat atau lambat Abah juga akan tahu tentang kebenaran yang di sembunyikan.

__ADS_1


"Sudah sejauh mana hubunganmu dengannya?" Abah kembali bertanya memotong ucapan Kafa.


"Kekasih hanyalah status Abah, aku tidak pernah melakukan apapun dengannya bahkan Kafa tidak pernah berpegangan tangan sekalipun," jelas Kafa.


"Abah tidak tahu apa saja yang sudah terjadi di sana, tapi satu hal yang Abah tahu jika pacaran bukanlah hal yang baik karena di dalamnya tak ada faedah kecuali hal-hal yang menjurus pada Zina, bukankah kau sudah memahami hal itu, Kafa?" tanya Abah.


"Iya, Abah, maaf," ujar Kafa.


"Selama ini aku diam melihat kebrutalan sikapmu, aku juga diam saat kamu lebih memilih hidup bebas di luar sana dari pada tinggal di pesantren, kau tahu kenapa Abah hanya diam?" Abah mulai mengutarakan segala rasa yang selama ini dia pendam, dan Kafa hanya bisa menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Abah.


"Abah diam karena Abah yakin jika bekal ilmu yang sudah Abah berikan padamu sudah lebih dari cukup untuk membekali setiap langkahmu agar kamu tetap berada di jalan yang benar,tapi kenyataannya berbeda, ternyata Abah salah besar," ujar Abah dengan ekspresi penuh kekecewaan.


"Maaf," hanya satu kata yang bisa di ucapkan oleh Kafa.


"Maafmu harusnya bukan kau ucapkan padaku, tapi maaf yang baru saja kau katakan seharusnya kau tujukan pada sang pencipta, dia yang memberimu kehidupan bukan Abah, karena sejatinya kewajiban Abah hanya mendidik dan menunjukkan mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah padamu, jika kamu sendiri memilih jalan yang salah maka bukan dengan Abah kamu berurusan," Abah mulai mengeluarkan kata-kata bijak yang dia harap bisa membuka hati dan fikiran Kafa sang putera.


Mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Abah membuat Kafa menunduk, dia sadar dengan semua kesalahan yang telah di lakukan olehnya.


Flashback On ....


Sehari sebelum kepulangan Kafa yang tiba-tiba, saat itu malam terlihat mendung dengan petir yang terus bersahutan, seharusnya malam ini Kafa bertanding bersama Salman, tapi cuaca seolah tak mengizinkannya pergi.


"Silahkan di minum, Den!" ujar Bik Sumik yang selalu setia menemani dan menyiapkan segala kebutuhan Kafa.

__ADS_1


"Terima kasih, Bik," jawab Kafa sambil mengambil satu gelas susu hangat yang tergeletak di meja, entah mengapa saat ini Kafa tiba-tiba ingin meminum susu hangat, dulu saat kecil Ummi tidak pernah absen untuk membuatkannya susu hangat sebelum dia tidur.


Fikiran Kafa tiba-tiba tertuju pada sang Ummi, rasa rindu yang dulu entah ke mana kini mulai dia rasakan, rindu akan kehadiran dan kelembutan sang Ummi membuat Kafa sadar jika dia sudah terlalu lama pergi dan tak pernah kembali bahkan sekalipun Kafa tak pernah berkunjung ke sana.


"Bagaimana kabar Ummi di sana?" lirih Kafa sambil menatap langit yang masih saja gelap dengan cahaya kilat yang sesekali terlihat menyambar.


Kafa terus merenung menatap langit sambil mengingat semua yang telah terjadi, setiap kenangan dan setiap hal yang membuat tawa juga air mata kini terngiang di benak Kafa hingga malam semakin larut dan tak terasa segelas susu hangat yang Bik Sumik berikan telah habis tak tersisa setetespun.


Rasa kantuk kini mulai menyerang menguasai diri Kafa, perlahan dia berjalan menuju kasur king size yang terlihat begitu nyaman, merebahkan diri dan mulai berkelana menuju dunia mimpi, dunia yang selalu memberi kejutan entah itu kejutan indah atau malah sebaliknya.


Kafa yang terlelap kini mulai berasa di dunia mimpi, awalnya terlihat begitu gelap gulita tanpa cahaya, dengan hati yang di penuhi rasa bingung Kafa terus melangkah tapi langkah Kafa seolah tak berujung, jalan yang dia lalui seperti tak ada ujungnya di tambah suasana gelap yang mencekam, hingga suara lembut sang Ummi terdengar menuntunnya, memberitahu arah mana yang harus Kafa ambil.


Dengan langkah pasti dan penuh keyakinan, Kafa melangkah sesuai instruksi yang di berikan oleh suara Ummi hingga setitik cahaya terlihat di ujung jalan, betapa bahagia dan lega hati Kafa saat melihat cahaya di ujung jalan, dia berlari menghampirinya tapi apa yang Kafa lihat mampu membuat seluruh tenaga dan kebahagiaan yang di rasakannya saat ini runtuh.


Kafa melihat Ummi yang telah terbujur kamu dengan kain kafan yang sudah membalut tubuhnya, ada banyak orang mengaji di sekeliling Ummi dan Kafa hanya diam mematung dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya, rasa sakit, hancur dan rasa kehilangan segalanya termasuk semangat hidup kini tengah bercampur aduk di hati Kafa, perasaan yang mampu membuat siapapun ingin mengakhiri hidupnya.


"Ummi!!!" tetiak Kafa dengan air mata yang sudah mengalir deras seperti air terjun, sungguh ini pertama kalinya Kafa merasa begitu hancur, rasanya jauh lebih sakit dari pada rasa sakit yang dia rasakan saat dia tahu jika dirinya di khianati oleh Nabila.


'Brug'


"Astaghfirullah," lirih Kafa saat dia sadar jika apa yang di alaminya barusan adalah mimpi.


Mimpi paling buruk sepanjang hidupnya, saat ini Kafa terduduk di lantai setelah jatuh dari atas kasur, dia terdiam mematung mengingat mimpi yang baru saja dia alami, jika apa yang di alaminya dalam mimpi benar-benar terjadi dan Kafa tidak ada di samping Ummi, maka dia akan menyesal seumur hidupnya, karena hal itulah Kafa memutuskan untuk pulang dan menemui sang Ummi juga melihat keadaannya di pesantren, sebuah mimpi yang mampu membuat hati Kafa tergerak untuk kembali ke pesantren.

__ADS_1


__ADS_2