Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Merasa Asing


__ADS_3

Ghozi telah kembali ke kamar dan beristirahat, kini giliran Kafa yang berjalan masuk ke dalam kamar, suasana di kamar begitu hening meski ada Salma yang tengah tertidur di sana, mau bagaimanapun Salma adalah bidadari bumi yang di kirim tuhan untuknya, meskipun terkadang sikapnya sering menjengkelkan, tapi Kafa tahu dengan pasti jika Salma termasuk orang yang sangat sabar dan memiliki segudang pengertian.


Entah apa yang mendorong Kafa untuk terus berjalan mendekat ke arah Salma dan duduk tepat di sampingnya, tepatnya duduk di kasur samping kepala Salma bersandar.


"Maaf," satu kata memiliki sejuta arti, Kafa mengatakannya seraya mencium pucuk kepala Salma yang terlihat sedang lelap dalam mimpi indahnya.


Kafa terus menatap wajah Salma yang terlihat begitu tenang saat ini, sepertinya dia memang sedang bermimpi, dan Kafa harap mimi itu indah.


"Semoga kau bermimpi dengan mimpi yang indah, agar kau mampu menghadapi kenyataan yang terkadang menyakitkan jiwa," lirih Kafa sambil terus menatap wajah Salma.


Salma yang tengah lelap dalam tidurnya kini merasakan sesuatu yang membuatnya semakin nyaman dan enggan untuk beranjak. Kafa yang tadi hanya duduk di samping Salma yang terlelap, kini berpindah tidur di samping Salma dan mulai memeluknya, menikmati aroma khas yang tercium dari tubuh Salma aroma yang bisa membuat Kafa merasa jauh lebih tenang hingga dia ikut terlelap dalam dunia mimpi yang indah.


"Eummmm, hoammm ...." Salma yang merasakan benda berat sedang menimpa perutnya kini mulai menggeliat dan berusaha melepaskan diri dari tangan yang melingkar di perutnya.


Tunggu!


Apa tadi?


Tangan? seketika Salma membuka mata lebar setelah menyadari jika ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya.


'Tunggu! bukankah tadi aku masih ada di mobil, kenapa sekarang aku ada di kasur? dan ini tangan siapa?' tanya Salma dalam hati, meski dia belum sepenuhnya sadar, tapi dia masih bisa mengingat hal yang menurutnya penting.


Dengan gerakan kilat Salma menoleh ke arah kanan di mana ada seseorang yang sepertinya terlelap dalam mimpi bersamanya.


"Mas Kafa," lirih Salma sangat lirih hingga tak terdengar oleh Kafa yang memang sedang terlelap dalam tidurnya.


'Kenapa Mas Kafa tidur di sini sambil memelukku? dan siapa yang memindahkanku?' batin Salma yang masih setia menatap lekat ke arah wajah Kafa yang yerpejam.

__ADS_1


'Kalau di lihat-lihat, Mas Kafa tampan juga,' Salma kembali membatin sambil menatap wajah tampan Kafa yang tidur tepat di sampingnya.


Cukup lama Salma memperhatikan wajah Kafa yang terlelap, hingga Kafa merasakan hembusan nafas seseorang menerpa wajahnya, hembusan nafas seseorang dengan aroma papermint yang samar tercium, Kafa sangat ingat jika tadi dirinya tidur sambil memeluk Salma kini mulai berfikir jika hembusan nafas yang tercium menerpa wajahnya adalah hembusan nafas Salma.


Perlahan tapi pasti Kafa membuka sedikit matanya mengintip siapa yang ada di hadapannya, meski Kafa sudah menduga jika itu Salma dia tetap ingin memastikan sendiri kebenarannya, dan ternyata benar, Salma sedang menatap lekat ke arah Kafa, melihat keadaan yang menguntungkan dirinya Kafa langsung membuka mata dan mengejutkan Salma.


"Kenapa? aku tampan bukan," ujar Kafa sambil membuka matanya lebar.


Salma langsung menutup mata menahan rasa malu karena tertangkap basah menatap wajah Kafa.


"Kenapa di tutup matanya?" Kafa kembali bersuara dan apapun yang dikatakan Kafa saat ini cukup membuat Salma malu.


Tanpa bisa mengatakan apa-apa Salma langsung menyingkirkan tangan Kafa dari perutnya kemudian berjalan cepat keluar dari kamar.


"Kamu mau ke mana Salma?" teriak Kafa yang tahu dengan pasti jika Salma masih asing dengan rumah yang saat ini mereka tempati, tapi Salma yang terlanjur malu tetap berlari keluar tanpa memperdulikan Kafa yang berteriak memanggilnya.


Salma terdiam mematung di depan pintu menatap sekeliling rumah, dia teramat bingung mau pergi ke mana?


"Ahhh kenapa aku tadi langsung pergi? kenapa pula aku pakek acara natap wajah Mas Kafa?" gerutu Salma merutuki dirinya sendiri yang memang salah.


Salma berada dalam dilema, jika dia masuk maka dia harus menyingkirkan rasa malunya tapi jika dia tetap berada di sana maka dia akan tersesat karena Salma sama sekali tidak tahu seluk beluk rumah yang saat ini dia tempati, rumah itu jauh lebih besar dari pada rumah Ummi yang ada di pesantren.


Salma terus terdiam menatap lurus ke depan, memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil saat ini? hingga pada akhirnya Salma memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar dan bertanya tentang rumah yang dia tempati saat ini, sekalian Salma ingin bertanya siapa yang memindahkannya ke kamar? padahal tadi Salma tidur di mobil.


Dengan langkah berat Salma kembali membuka pintu kamar Kafa dan mengintip ke dalam.


"Kenapa? bingung ya?" tanya Kafa dengan senyum jahil yang terlihat jelas di wajahnya, dan Salma hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Salma berjalan menunduk mendekat ke arah Kafa yang kini duduk bersandar di sandaran kasur.


"Apa ini rumah Mas Kafa di kota?" tanya Salma dengan kepala yang masih setia menunduk.


"Iya," jawab Kafa singkat, dia sengaja ingin melihat dan mendengar apa saja yang akan di tanyakan oleh Salma.


"Tadi siapa yang memindahkanku ke kamar ini?" Salma kembali bertanya.


"Menurutmu? siapa yang mau menggendongmu sampai ke kamar ini, naik tangga dan berjalan cukup jauh dari parkiran," jawab Kafa yang justru membuat Salma semakin bingung.


Salma tak lagi menjawab atau mengungkapkan praduga yang timbul di kepalanya, dia hanya bisa diam tanpa kata.


"Aku mau ke kamar mandi, di mana kamar mandinya?" dari pada memaksa Kafa untuk menjawab, Salma lebih memilih segera pergi dan menghindar dari Kafa.


"Kamu lihat ke depan! di sana ada pintu dan di situlah kamar mandinya," jelas Kafa.


Salma langsung berdiri berjalan menuju kamar mandi. Sedang Kafa tersenyum lucu melihat Salma yang salah tingkah sejak tadi.


"Aku yakin sebentar lagi Salma pasti akan keluar dari pintu itu," lirih Kafa dengan senyum di bibirnya dan tangan yang menyilang di dada.


Kafa terus menatap ke arah pintu kamar mandi, benar saja, baru satu menit Salma masuk kini dia kembali keluar.


"Mas Kafa!" panghil Salma mencoba menegur Kafa yang sedang serius menatap ponsel di tangannya.


"Hm," sahut Kafa singkat.


"Apa Mas Kafa tahi di mana koperku?" Salma terpaksa terus bertanya pada Kafa karena Salma sama sekali tidak tahu apa-apa, bahkan rumah yang sekarang di tempati benar-benar asing di mata Salma.

__ADS_1


__ADS_2