Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Cerita Salma part 1


__ADS_3

Motor berjalan dengan kecepatan sedang, melaju melewati jalan raya yang terlihat begitu lenggang, di temani semilir angin sepoi yang terasa dari dedaunan yang bergerak karena tertiup angin.


"Kalau sudah sah begini, rasanya jauh lebih tenang di bandingkan berboncengan dengan pacar yang belum ada ikatan suci," ucap Kafa dengan suara keras agar Salma yang duduk di belakang bisa mendengar apa yang dia katakan.


"Bener, Mas, rasanya jauh lebih tenang," sahut Salma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Salma semakin memper erat pelukannya menikmati hangatnya punggung sang suami, punggung yang akan selalu ada untuknya.


"Kita mau ke mana Mas?" tanya Salma saat Kafa berbelok dengan kecepatan yang mulai berkurang.


"Kita ke cafe dekat sawah yang ada di ujung jalan. Di sana terasa sejuk dengan pemandangan indah yang cukup menyejukkan mata, selain itu makanan yang ada di sana rasanya begitu enak," jawab Kafa.


Salma hanya tersenyum mendengar jawaban Kafa, dalam hatinya hanya ada rasa syukur yang tak terhingga karena mendapatkan suami sebaik Kafa.


"Suasananya sejuk ya Mas, meski panas tapi anginnya sepoi-sepoi," ucap Salma sambil memperhatikan sekeliling cafe yang memang terasa sejuk meski suasana sedang terik.


Kafa tak menggubris ucapan Salma, dia langsung menggandeng tangan Salma berjalan masuk ke dalam cafe dan mencari tempat yang pas untuk bercerita sambil menikmati suasana pantai.


Cafe yang terletak tepat di pinggir sawah dengab beberapa saung yang berjajar di dalam lingkungan cafe.


"Kita duduk di ujung sana saja." Ujar Kafa beralih menggenggam jemari tangan Salma menuntunnya agar mengikuti langkah Kafa yang kini duduk di salah satu saung yang ada di sana.

__ADS_1


"Tempat yang tepat dan indah Mas," puji Salma saat merasakan betapa nyamannya saung pilihan Kafa.


"Aku tidak akan memberikan sesuatu yang kurang bagus untukmu, apapun yang aku berikan padamu adalah hal yang paling baik dan berkualitas," ujar Kafa sambil membanggakan diri atas pujian yang di berikan oleh Salma.


"Terima kasih untuk segalanya Mas, aku bahagia dan bersyukur bisa berjodoh dengan laki-laki sebaik dirimu," ucap Salma dengan senyum yang mampu meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.


"Sudah, jangan senyum seperti itu! kalau kamu terus senyum seperti itu, aku akan menyuruhmu memakai cadar lagi," ancam Kafa yang mulai posesif pada Salma.


"Iya, iya, aku gak bakal senyum lagi," sahut Salma langsung diam sebelum Kafa memberi aturan baru yang tidak masuk akal.


Sejenak suasana berubah menjadi hening, hingga suara Kafa kembali terdengar.


"Sekarang ceritakan bagaimana kamu bisa mengendarai motor balap!" Kafa menagih janji pada Salma yang kini justru diam, hatinya sedang kacau tatkala mengingat masa lalu yang terasa begitu pahit.


"Eh, maaf," sahut Salma dengan ekspresi wajah terkejut dia menyahuti panggilan Kafa.


"Aku butuh ceritamu bukan kata maaf yang tak seharusnya kamu ucapkan," ujar Kafa.


Salma terlihat mengumpulkan banyak tenaga dan menenangkan emosi yang sempat memuncak setelah mengingat semua yang pernah terjadi di masa lalu.


"Dulu, aku pernah punya seseorang yang begitu penting dalam hidupku, sama seperti Mas Kafa, ku sangat mencintai dan mempercayainya lebih dari apapun, bahkan aku sempat melawan Ibuku sendiri hanya demi mempertahankan hubunganku dengannya," Salma mulai bercerita, sebenarnya dia bingung dengan apa yang akan dia ceritakan, tapi mau bagaimana lagi, janji harus tetap di tepati bagaimanapun kondisinya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mendengar bagaimana kamu bisa mengendarai balap motor, bukan mendengar rasa cinta yang teramat dalam yang pernah kamu rasakan dulu," sela Kafa yang merasa cemburu dengan pengakuan cinta Salma yang menurutnya begitu dalam tak seperti rasa cinta Salma padanya saat ini.


"Ini juga masuk dalam ceritanya Mas, dengarkan dulu! Baru berkomentar," ujar Salma dengan ekspresi wajah lelah melihat sikap Kafa yang terkesan posesif padanya.


"Baiklah, lanjut kan saja ceritamu!" Titah Kafa.


"Kalau aku bercerita Mas Kafa di larang cemburu ataupun protes! karena yang aku ceritakan ini hanya lembaran usang yang tak berharga, dan masa lalu yang tak lagi menarik untuk ku ingat ataupun untuk aku kenang," Salma membuat kesepakatan sebelum Kafa marah dan cemburu atas apa yang akan di ceritakan oleh kafa.


"Ceritakan saja! aku akan mendengarkannya tanpa protes," titah Kafa mencoba meyakinkan Salma agar dia mau menceritakan segalanya tanpa ada keraguan.


"Baiklah, aku akan melanjutkan ceritanya, diam dan dengarkan baik-baik!" Salma balik memberi perintah menirukan gaya Kafa yang biasanya memberi perintah padanya.


"Dia adalah mantan pertama dan terakhirku, seseorang yang mengajarkanku apa arti cinta dan air mata, dia juga yang mengajarkan aku bagaimana caranya melepas penat dan rasa lelah setelah seharian berdagang, dia pula yang memberikanku pengalaman tak akan peenah aku lupakan seumur hidupku," cerita Salma.


"Pengalaman yang tak terlupakan seperti apa Salma? apa kamu melakukan sesuatu yang buruk dengannya hingga kamu tak bisa melupakannya," Kafa kembali menyela cerita Salma, entah mengapa fikirannya tak bisa berfikir positif jika mengenai Salma.


"Aku sudah bilang Mas, dengarkan dulu ceritaku! jangan menyela ataupun memotongnya! apa lagi berfikir buruk tentangku," jawab Salma yang mencoba menyadarkan Kafa jika dirinya telah melanggar janji yang sudah dia perbuat.


"Maaf, lanjutkan lagi!" Kafa lebih memilih mengalah dari ada harus berdebat yang akhirnya membuat Salma marah dan malas untuk melanjutkan ceritanya.


"Awalnya aku tidak tahu jika dia seorang pembalap, lebih tepatnya seseorang yang suka ikut balap liar, sama seperti apa yang Mas Kafa lakukan, hingga suatu hari aku merasa begitu lelah dan penat setelah seharian berjualan bersama Ibu, aku memutuskan untuk menenangkan diri melepas penatku dengan cara menikmati suasana yang ada di sekitarku, tapi Dia mengajakku pergi menemui temannya dan menjanjikanku mendapatkan kenangan yang tak akan pernah bisa di lupa, dan benar saja, dia mengajakku ke arena balap di mana teman-temannya sudah menunggu, awalnya hanya mengantarkannya saja, tapi lama-kelamaana aku tertarik untuk belajar dan merasakan terpaan angin yang katanya bisa menghibur hati ataupun diri yang sudah lelah inj," Salma mulai menceritakan semua yang pernah dia alami.

__ADS_1


"Apa dia mengajarimu dengan posisi yang sama seperti tadi waktu kita baru mau berangkat berlatih?" tanya Kafa yang lagi-lagi tidak bisa menahan diri.


"Tidak Mas, dia hanya mengatakan semua bagian motor beserta fungsinya, awalnya aku hanya diam duduk di atas motor hingga perlahan aku mencoba mengendarainya, dan hasilnya aku bisa mengendarai motor itu," Salam terus menceritakan apa yang memang harus di ketahui oleh Kafa sebelum doa tahu dari orang lain yang pasti akan membuatnya merasa jauh lebih kecewa.


__ADS_2