Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Salma Gugup


__ADS_3

Salma yang sebelumnya tidak pernah merias wajah kini terlihat begitu cantik dan anggun saat MUA sudah merias wajahnya.


"Masya allah Salma, kamu benar-benar terlihat sangat cantik dan anggun, aku yakin Kafa pasti akan terpesona dan langsung jatuh hati saat melihatmu nanti," ungkap Tari dengan ekspresi penuh kekaguman yang tergambar helas di wajahnya saat ini.


"Jangan membuatku berharap pada Mas Kafa yang belum tentu mengharapkanku juga Tari!" ujar Salma dengan ekspresi datar yang tergambar jelas di wajahnya.


"Upsss sorry," kata-kata yang sudah cukup lelah di dengar oleh Salma kini kembali terdengar.


Suara riuh yang tadi terdengar perlahan sirnah, kini suasana berubah menjadi hening, sepi senyap seperti tak ada kehidupan.


"Kenapa tiba-tiba sepi Tari?" tanya Salma ketika dia merasa ada perubahan di luar sana.


"Entahlah, aku sendiri juga heran kenapa tiba-tiba jadi sepi ya?" bukannya menjawab dan memberi penjelasan Tari malah balik bertanya pada Salma.

__ADS_1


"Astaga, kamu bagaimana sih Tari? aku tadi bertanya padamu, bukannya menjawab kamu malah nanya balik ke aku," sahut Salma.


"Mbak, maaf, kenapa suasananya jadi hening ya?" tanya Tari pada salah satu perias yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Saat ini Tari dan Salma berada di kamar tamu yang di khususkan untuk Salma berias dengan MUA, sedang kamar Kafa tidak boleh di masuki siapapun karena sudah di hias sedemikian rupa untuk sang pengantin.


"Pengantin prianya sudah siap dan berjalan menuju Aula, jadi suasananya hening karena hampir semua orang yang hadir sedang khusuk menyaksikan ijab kabul yang akan segera di mulai," sang MUA menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di luar kamar.


"Sama-sama," jawabnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Mas Kafa bentar lagi bakal sah jadi suamimu, bagaimana perasaanmu Salma?" tanya Tari dengan ekspresi wajah yang di penuhi dengan rasa penasaran.


"Diamlah Tari! aku sedang mengatur perasaanku yang sejak tadi tak karuan," sahut Salma, kini dia terlihat begitu serius, senyum manis dan cantik yang biasanya terpasang jelas di sana kini wajah Salma terlihat jauh lebih serius.

__ADS_1


"Jangan terlalu tegang! tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan!" titah Tari mencoba menenangkan Salma yang terlihat gugup saat ini.


Salma kini lebih fokus menahan diri dan mengatur perasaannya dari pada menanggapi ucapan Tari yang bisa di pastikan akan panjang seperti kereta api kalau terus di lanjutkan tanpa tahu kapan akan berakhir.


Hal lain terjadi di dalam kamar Kafa, dia yang awalnya terkejut melihat perubahan kamarnya kini sedang duduk mengatur hati dan jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang meskipun dalam hati Kafa masih belum ada cinta, tapi tetap saja Salma adalah gadis pertama dan insya allah akan menjadi gadis terakhir yang menikah dengannya, gadis yang akan menemani di setiap langkahnya.


"Kenapa jantungku berdebar jauh lebih kencang begini?" lirih Kafa sambil meletakkan tangannya di dada, Kafa masih berusaha keras menetralkan perasaannya.


"Mas Kafa!" panggil Ghozi yang baru saja sampai di dalam kamar Kafa.


"Hm," sahut Kafa.


"Semua persiapan sudah selesai, Mas Kafa bisa ke Aula sekarang juga." Ujar Ghozi sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2