Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Malam Yang Indah


__ADS_3

Kafa benar-benar menunggu kedatangan Salma, dia duduk di kasur kamarnya menanti Salma yang tak kunjung datang.


"Ke mana Salma ini, bukankah tadi dia sudah selesai sholat dan baca wirid, apa iya dia berdo'a selama ini? ada begitu banya pertanyaan muncul di bebak Kafa yang sudah tidak sabar untuk melakukan hal yang seharusnya dia lakukan sejak dulu saat mereka pertama kali menjadi suami istri.


Kafa yang sedang risau berbanding terbalik dengan keadaan Salma yang justru sedang bingung menatap layar yang menyala di ponselnya, bagaimana mungkin dia memakai baju yang lebih mirip dengan saringan tahu.


"Apa aku harus memakai baju ini? dan apa aku punya? sepertinya aku tidak punya baju yang sama seperti apa yang terlihat di gambar ini," lirih Salma.


"Ahh sudahlah, aku akan tampil dan bersikap apa adanya saja, dari pada harus memaksa diri dan aku jadi tidak nyaman," lirih Salma berdiri melenggang pergi menuju kamar menyusul Kafa yang lebih dulu sampai di kamar.


Salma berjalan pelan masuk ke dalam kamar, jantungnya berdetak begitu kencang mengingat apa yang akan dia lakukan sebentar lagi, antara takut dan penasaran bercampur jadi satu, orang yang dulu sangat dia benci kini telah menjadi suaminya dan fia juga yang akan mendapatkan mahkota berharga yang sudah Salma jaga dengan baik selama ini.


'Kenapa kamarnya gelap seperti ini?' batin Salma sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar.


"Mas Kafa," lirih Salma saat melihat Kafa duduk menatap langit yang di penuhi buntang dari balik jendela, malam ini begitu cerah hingga sinar bulan dan bintang mampu menerangi gelapnya kamar yang lampunya sengaja di matikan oleh Kafa.


Kafa tak menjawab panggilan Salma, dia berdiri berjalan mendekat ke arah Salma, Salma hanya diam mematung melihat Kafa berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa aku bisa melakukannya sekarang?" bisik Kafa tepat di telinga Salma.


Sebuah bisikan yang bisa membuat Salma merinding, seluruh bulu kuduknya berdiri, ada aliran aneh tengah mengalir dalam dirinya.

__ADS_1


Salma hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang Kafa berikan, dan jawaban Salma membuat Kafa semakin bersemangat untuk melanjutkan apa yang dia mulai.


Perlahan tapi pasti Kafa terus saja mendekat membisikkan kata-kata jitu untuk meluluhkan hati Salma seraya terus menjelajah ke seluruh wahana yang ada, awalnya Kafa hanya mendekatkan bibirnya mencium aroma harum yang menggoda untuk terus di nikmati, tak ada satupun yang terlewat, semuanya terabsen sempurna oleh bibir Kafa.


Gerakan pelan tapi penuh gairah membuat Salma semakin kelimpungan, apa yang di berikan Kafa saat ini memang hal baru yang belum pernah Salma rasakan sebelumnya, ada keinginan yang tiba-tiba muncul tanpa bisa di hentikan oleh Salma, keinginan yang menuntut Kafa melakukan hal lebih dan memberi kenikmatan haqiqi.


"Mas Ka~" lirih Salma tepat di telinga Kafa membuat Kafa semakin bersemangat untuk melanjutkan kegiatannya.


"Ahhh," lolos sudah nada merdu penuh cinta dari bibir Salma.


"Kenapa Sayang? apa masih kurang?" sahut Kafa semakin menjadi-jadi menikmati setiap inci lekuk tubuh Salma.


"Ma~ ahh ...." Salma kembali meloloskan nada merdunya.


"Pelan-pelan!" sahut Salma memejamkan mata mencoba menahan segala rasa yang ada.


Hanya dengan satu hentakan merubah seluruh hidup Salma, kini dia bukanlah gadis cantik yang bersifat lembut, kini dia sudah menjadi wanita bersifat lembut, Kafa telah menunaikan kewajibannya, begitu pula dengan Salma yang sudah memberikan apa yang telah menjadi milik Salma.


"Mas, sakit," keluh Salma ketika Kafa meneruskan aktifitasnya.


"Tahan sedikit lagi Sayang, aku harus menuntaskan segalanya." Jawab Kafa yang langsung membungkam bi**r salma dengan bi**rnya.

__ADS_1


Perlahan taoi pasti Salma terlena dengan apa yang di lakukan oleh Kafa, dia tidak lagi mengeluh meski ada sedikit rasa perih di bawah sana, tapi Salma tak bisa merasakannya dengan jelas karena Kafa terus saja memberikan sesuatu yang tak pernah di rasakan sebelumnya, sesuatu yang begitu nikmat tiada tara.


"Untuk hari ini cukup satu ronde saja, istirahatlah! aku yakin kamu pasti lelah," lirih Kafa sesaat setelah hasratnya terpenuhi, Kafa tidur di samping Salma memeluknya erat dari belakamg dan menempatkan wajanya tepat di cecuruk leher Salma menikmati ara tubuh sang istri yang terasa begitu harum menggoda, aroma murni tanpa parfum bercampur keringan bekas mereka menyelesaikan hasratnya.


Apa yang di katakan Kafa memang benar, Salma awalnya tidak merasakan apapun, tapi setelah beberapa jam tertidur, rasanya Salma baru saja mengikuti lomba lari cepat, seluruh badan Salma terasa remuk redam tanpa tenaga.


"Kenapa badanku sakit semua ya?" lirih Salma yang masih bisa di dengar oleh Kafa meski hanya samar-samar.


"Lanjutkan tidurnya! ini masih malam, besok aku akan siapkan air hangat untukmu, agar rasa sakit yang oaku rasakan itu akan berkurang," bisik Kafa seraya memper erat pelukannya.


Sebenarnya Salma kurang suka dengan pelukan yang di berikan oleh Kafa saat ini, semua itu bukan karena tidak suka, tapi rasa sesak yang di rasakan Salma cukup mengganggu tidurnya.


Tapi Salma tidak bisa mengusir ataupun meminta Kafa melepas pelukannya, jika itu dia lakukan maka bisa di pastikan jika Kafa akan sakit hati dan marah padanya.


Salma cuma bisa diam dan tak memberontak dengan segala perlakuan Kafa, dia tetap berusaha tidur dengan menutup mata walau itu sangat susah.


Malam indah penuh kenikmatan yang tidak akan pernah di lupakan oleh Salma dan Kafa, penyatuan indah yang akan menjadi awal bagi keduanya, awal untuk menuju sebuah rumah tangga yang akan menjadi sakinah mawaddah warohmah.


Detik jam terus berlalu hingga kini samar-samar terdengar suara adzan subuh yang cukup membuat Kafa bangun, tapi tidak dengan Salma yang memang baru terlelap dalam tidurnya, Kafa menatap lekat ke arah Salma yang tengah terlelap menjelajah ke dalam alam mimpi yang mungkin indah setelah pertempurannya semalam.


Kafa terus menatap lekat wajah Salma yang kini justru membuatnya merasakan damai tiada tara, sungguh pahatan sempurna ciptaan yang maha kuasa ini bisa membuat Kafa kelimpungan, rasa cinta yang semakin kuat setelah penyatuannya semalam membuat Kafa memiliki keinginan untuk mencurahkan segala rasa sayang yang dia miliki.

__ADS_1


"Aku akan membahagiakanmu Sayang. dan mulai saat ini kamu tanggung jawabku, aku akan terus menjagamu dari apapun yang bisa membuatmu terluka, kamu akan menjadi ratu di rumah ini, dan aku akan memastikan kenyamanan ratuku di sini." Lirih Kafa seraya menatap wajah Salma dan mengusap lembut pucuk kepalanya, Kafa mencoba mengalirkan segala rasa sayang yang dia miliki dan apa yang di lakukan Kafa sukses membuat Salma merasa semakin nyaman dan enggan ubtuk bangun.


__ADS_2