
"Apa kamu faham Salma?" tanya Kafa saat Salma tak menjawab pertanyaannya.
"Iya, Mas Kafa, aku faham," jawab Salma karena Kafa terdengar menuntut sebuah jawaban dari Salma.
"Syukurlah kalau kamu faham," sahut Kafa yang kini berjalan menjauh dari Salma mengambil kontak mobil yang akan di pakai kemudian menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.
"Bukanlah hal yang baik bagi seseorang yang sudah punya pasangan memakai minyak wangi saat mau berpergian, wajib di pakai hanya saat berada di rumah dan bersama dengan istrinya," ucap Salma dengan suara kencang agar Kafa mendengarnya dengan jelas karena saat ini Salma sedang berada di tengah pintu bersiap untuk pergi jika saja Kafa mengamuk.
Apa yang di katakan Salma membuat Kafa terdiam, dia mencoba bersabar atas apa yang di lakukan oleh Salma, mungkin dia masih belum faham tentang ilmu yang seharusnya dia fahami. Apa yang di fikirkan Kafa berbanding terbalik dengan ala yang di fikirkan Salma, dia berfikir jika Kafa itu egois karena Kafa melarang Salma memakai parfum tapi dirinya sendiri malah memakai parfum saat mau pergi.
"Kamu kenapa Neng Salma?" tanya Ghozi saat melihat Salma duduk diam dengan bibir manyun di ruang tamu.
"Aku lagi sebel," jawab Salma.
"Sebel kenapa?" Ghozi langsung duduk di dekat Salma saat mendengar jawaban Salma yang membuat Ghozi begitu tertarik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku sedang malas bercerita Ghozi," jawab Salma.
Ghozi hanya tersenyum menanggapi jawabanSalma yang masih terlihat manyun.
"Jangan manyun seperti itu!" larang Ghozi.
"Biarin, mulut-mulut aku suka-suka akulah," sahut Salma seolah tak perduli dengan apapun yang di katakan oleh Ghozi.
"Kalau aku sih tidak masalah melihatmu manyun seperti itu, kamu masih terlihat cantik meski kamu manyun, tapi aku gak tahu bagaimana reaksi Mbok Sumik dan apa yang di fikirkan olehnya jika kamu masih manyun," ujar Ghozi, Salma sempat melepas cadarnya saat dia keluar dari kamar dan memegang cadar itu di tangan sebagai protes atas apa yang di katakan oleh Kafa, tapi setelah mendengar ucapan Ghozi yang khawatir dengan apa yang di fikirkan oleh Mbok Sumik ketika melihat Salma memanyunkan bibir.
__ADS_1
Sejenak Salma diam tanpa kata, hingga Salma memutuskan untuk kembali memakai cadar yang dia pegang sebagai jawaban untuk Ghozi agar dia tak lagi bertanya ataupun berkomentar apapun tentangnya.
"Kamu terlihat misterius saat memakai cadar itu, kenapa kamu masih manyun dan memakai baju yang sama? kenapa kamu tidak tersenyum dan berganti baju?" apa yang Salma harapkan tidak terjadi, bukannya diam Ghozi malah terus bertanya.
"Diamlah Ghozi! aku sedang tak ingin menjawab pertanyaan siapapun, yang penting aku sudah pakai cadar ini dan Mbok Sumik tidak akan tahu jika sedang tidak baik-baik saja," ujar Salma.
"Khem," Kafa berdehem melihat kedua insan yang sedang mengobrol di ruang tamu, Ghozi hanya tersenyum ke arah Kafa menanggapi dehemannya sedang Salma memutar bola mata jengah melihat sikap Kafa, tanpa memperdulikan Kafa, Salma berjalan melewatinya masuk ke dalam rumah untuk mencari Mbok Sumik, sungguh berada di antara Kafa dan Ghozi sungguh membuat Salma emosi.
"Salma kenapa Mas Kafa?" tanya Ghozi dengan ekspresi wajah bingung melihat sikap Salma yang menurutnya berbeda dari biasanya.
"Entahlah, lagi dapet kali," jawab Kafa acuh.
'Ishhh dasar kutub, jawab seenaknya sendiri,' batin Ghozi yang kini mengalihkan pandangan ke arah ponselnya dan Kafa berjalan menuju garasi untuk memanasi mobil yang akan dia gunakan.
"Mbok!" panggil Salma sesaat setelah dia sampai di depan pintu kamar Mbok Sumik.
"Iya, Neng Salma sebentar," sahut Mbok Sumik yang sebenarnya sudah siap sejak tadi, hanya saja dia lupa menaruh dompetnya si mana? jadi sejak tadi Mbok Sumik muter-muter mencari dompet tempat dia menyimpan seluruh uang yang dia miliki."
"Mbok kok lama?" tanya Salma.
"Mbok sudah siap Neng sejak tadi, tapi Mbok belum menyusul karena masih mencari dompet Mbok yang hilang, jadi Mbok muter-muter di kamar sejak tadi buat nyari tapu gak ketemu," jawab Mbok Sumik.
"Apa Mbok mengizinkan kalau aku bantu nyariin dompetnya?" tanya Salma yang tidak ingin lancang masuk ke dalam kamar Mbok Sumik, sekalipun dia hanya seoranf asisten rumah tangga tapi Mbok Sumik lebih tua darinya.
"Boleh, Neng, silashkan! asal Mbok gak ngerepoti Neng Salma saja," jawab Mbok Sumik seraya membuka lebar pintu kamar mempersilahkan Salma masuk dan membantunya.
__ADS_1
Salma masuk ke dalam kamar Mbok Sumik dan membantunya mencarikan dompet yang entah seperti apa bentuknya.
"Mbok, dompetnya seperti apap?" tanya Salma.
"Dompetnya panjang sekitar seginiNeng," Mbok Sumik menunjukkan perkiraan besarnya dompet yang sedang dia cari.
"Terus warnanya coklat, motifnya polos hanya ada gambar bunga matahari tak terlalu besar berada di ujungnya," Mbok Sumik menjelaskan bentuk dompet yang dia cari.
"Baiklah, aku akan bantu Mbok untuk mencarinya." Entah mengapa Salma tiba-tiba melupakan rasa jengkelnya saat ini, yang dia tahu hanya membantu Mbok Sumik mencarikan dompetnya.
Cukup memakan waktu untuk mencari barangyang pemiliknya saja lupa di taruh di mana, hingga Salma menemukannya di bawah tempat tidur, entah bagaimana ceritanya dompet itu sampai ada di sana.
"Salma!" kali ini Kafa yang mencari keberadaan Salma, dia sudah menunggu hampir setengah jam, tapi Salma tak kunjung muncul juga, Kafa yang tak ingin terlalu siang saat sudah sampai di tempat tujuan langsung berjalan masuk ke dalam rumah untuk mencari Salma.
"Apa?" sahut Salma yang kini berjalan berdampingandengan Mbok Sumik.
"Kenapa lama sekali? dari mana saja?" tanya Kafa menatap heran ke arah Salma yang kini berjalan sambil menggandeng lengan Mbok Sumik.
"Aku baru selesai nyari harta karun," jawab Salma asal.
"Harta karun? apa maksudnya?" Kafa yang tak mengerti kembali bertanya sedangMbok Sumik tersenyum lucu mendengar jawaban Salma.
"Neng Salma baru saja membantu Mbok mencari dompet Mbok yang hilang, dan ini baru ketemu," Mbok Sumik yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di antara keduanya memilih untuk menjawab apa yabg Kafa katakan.
"Apa sekarang kalian sudah siap? atau kalian masih mau cari harta karun?" tanya Kafa.
__ADS_1
"Kami sudah selai Mas Kafa, kalau mau berangkat silahkan!" kali ini Mbok Sumik yang menjawab karena Salma diam dan terlihat enggan berbicara.
"Neng Salma tumben pakai cadar seperti ini?" tanya Mbok Sumik yang baru saka sadar jika Salma saat ini memakai cadar, tidak sperti biasanya.