
Subuh hari masih terasa sangat dingin di musim kemarau, awalnya Salma tak mengira jika rasa dingin itu akan separah saat ini, dia memakai gamis biasa tanpa jaket yang seharusnya bisa menghangatkannya, berkali-kali Salma menggosok lengannya mencoba menghangatkan badan yang mulai menggigil karena dingin.
"Apa kamu kedinginan?" tanya Kafa menoleh ke arah Salma dengan penuh ke khawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Sedikit," jawab Salma dengan senyum yang terlihat indah di mata Kafa.
Tanpa bertanya lagi Kafa langsung berjalan masuk ke dalam kamar kemudian menuju tempat penyimpanan baju, Kafa mengambil satu jaket kulit kesayangannya, jaket yang biasa dia pakai saat balap liar bersama teman-temannya yang lain, kemudian Kafa kembali ke balkon dan menemui Salma memberikan jaket yang dia bawa tadi.
"Pakai ini!" titah Kafa.
"Ini jaket siapa Mas?" tanya Salma menatap aneh ke arah jaket kulit yang tak pernah Salma lihat sebelumnya, Kafa memang memakai jaket itu hanya saat melakukan balapan saja, selain balapan jaket itu menjadi penghuni tetap lemarinya, karena itulah Salma tak pernah melihat jaket yang di bawa oleh Kafa untuknya.
"Tentu saja milikku, mana mungkin aku membiarkanmu memakai baju orang lain selain aku," jawab Kafa dengan nada sedikit ketus yang terdengar jelas di wajahnya.
"Aku tidak pernah melihatnya Mas," ujar Salma yang berhasil memancing Kafa.
"Jaket itu aku gunakan hanya saat aku balapan saja," jawab Kafa spontan, dia langsung menutup mulutnya setelah mengatakan apa yang dia katakan barusan.
"Apa? balapan?" sahut Salma terkejut mendengar jawaban Kafa.
Kafa sejenak terdiam, dia tidak bisa terus-terusan menutupi apa yang seharusnya di ketahui Salma, bukankah dalam rumah tangga tidak baik jika ada rahasia di antara keduanya, Kafa berharap setelah ini Salma masih bisa menerima dirinya apa adanya.
"Iya, aku memang seorang pembalap," jawab kafa pasrah.
__ADS_1
"Pembalap apa? motor gp?" Salma kembali bertanya.
"Bukan, aku seorang pembalap jalanan, aku sering sekali melakukan balap liar, dan kebiasaan itu aku lakukan sejak aku tinggal di sini." Jawab Kafa.
Salma terdiam menatap Kafa dengan ekspresi wajah terkejut yang tidak lagi bisa di tutupi oleh Salma.
"Mas Kafa serius? Mas. Kafa tidak bohong, Kan?" tanya Salma penuh rasa heran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Aku berkata jujur padamu, aku tidak ingin ada kebohongan di antara kita, maka dari itu aku menceritakan segalanya padamu," Kafa mencoba meyakinkan Salma.
"Apa yang Mas Kafa dapatkan saat balapan?" Salma mulai mengintrogasi Kafa yang kini sudah menjadi suaminya itu.
"Aku hanya merasakan kebebasan dan kelegaan dalam hatiku saat melajukan motor dengan kencang, sapuan angin yang menatap wajahku selalu memberikanku sensasi baru yang tak pernah aku rasakan sebelumnya," jawab kafa jujur.
"Tidak, semua rasa sakit itu kembali datang," Kafa kembali bersuara setelah menggelengkan kepalanya.
"Jika tahu seperti itu kenapa harus di lanjutkan?" Salma tak lagi bisa menahan diri setelah mendengar balap liar yang dia tahu sangat merugikan siapapun yang ada di sekitarnya.
"Maaf," Kafa kehabisan kata-kata utuk menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh Salma.
"Apa kau tahu Mas Kafa? dulu aku pernah punya saudara, dia adik dari ibuku, orangnya sangat baik dan selalu bersamaku karena umur kami hanya berjarak dua tahu, dia lebih tua dariku, aku menyayanginya seperti saudara kandungku karena Ibu dan ayah hanya memiliki aku sebagai anaknya," Salma sejenak terdiam menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan, apa yang di lakukan Salma seolah menandakan jika saat ini Salma sedang mengingat sesuatu yang sangat berat yang pernah dia lalui sebelumnya.
"Kau tahu Mas, dia meninggal karena tertabrak remaja yang sedang melakukan balap liar, sungguh sejak saat itu aku membenci mereka yang melakukan balap liar di jalan raya," Salma melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Golongan kami selalu melakukan balapan di malam hari dan menutup satu akses jalan dan menjaganua agar tak ada satu orangpun yamg melewatinya," Kafa memberikan pembelaan atas apa yang pernah dia lakukan.
"Kamu fikir jalan raya itu milik nenek moyang kamu dan teman-temanmu itu," Salma mulai menunjukkan bahwa emosinya terpancing.
"Bukan begitu Salma, aku hanya menceritakan kalau golongan kami tidak sembarangan melakukan balapan," Kafa masih mencoba membela diri.
"Setiap orang memiliki kesibukan dan kepentingan mereka masing-masing, sekalipun jalan sudah di tutup jika ada pengendara lain yang berada dalam kesulitan, atau dia sedang berada dalam keadaan yang membuat dia terpaksa untuk terap melewatinya meski temanmu itu sudah melarang, karena jalan satu-satunya yang bisa dia lewati adalah jalan yang kamu gunakan untuk balapan bagaimana? apa yang kamu lakukan? menghentikan balapan atau bahaimana?" Salma terlihat semakin emosi.
"Maaf," akhirnya Kafa mengalah, berdebatpun percuma karena dirinya memang salah.
"Aku tak ingin mendengar Mas Kafa balapan lagi, maaf bukan maksud aku mengekang terlalu melarang kegiatan ataupun hobi Mas Kafa, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan terjadi pada Mas Kafa atau pada orang lain," ujar Salma yang merasa jika Kafa tidak akan mendebatnya lagi.
"Maaf, aku akan berusaha untuk tidak balapan lagi," Kafa tak bisa berjanji karena dia mungkin harus balapan lagi sebelum masalahnya dengan Intan selesai.
"Aku harap Mas Kafa bisa benar-benar meninggalkan dunia balap agar tidak ada hal buruk yang akan terjadi," ujar Salma seraya mengambil susu coklat yang sudah di buatkan oleh Kafa, sebenarnya dia masih ingin memaksa Kafa agar dia benar-benar meninggalkan dunia balap liar, sebenarnya Salma ingin membuat Kafa berjanji untuk meninggalkannya, tapi untuk saat ini Salma tidak ingin merusak subuh yang indah penuh ketenangan ini dengan perselisihan yang mungkin bisa membuat suasana berubah menjadi tegang tak terkendali lagi.
"Kamu mau sarapan apa? hari ini aku ingin mengajak seluruh isi rumah untuk makan di luar dan kamu yang menentukan makanan apa yang ingin kamu makan," Kafa mencoba mencairkan suasana dan mengalihkan pembicaraan agar ketegangan yang sempat terjadi segera hilang.
Salma sejenak terdiam, dia memang sedang merasa bosan dan ingin jalan-jalan.
"Apa di daerah sini ada event yang menyediakan banyak makanan yang bisa kita datangi?" tanya Salma, dia baru ingat kalau hari ini adalah hari minggu, karena itulah Salma yakin jika di kota seperti saat ini pasti ada event atau acara tertentu di pagi hari.
"Di Taman kota ada car free day, kita bisa jalan-jalan di sana, apa kamu mau kalau aku ajak pergi ke sana?" tawar Kafa yang mengingat jika setiap hari minggu pasti ada acara car free day yang selalu di adakan dan bisa di pastikan jika di sana ada banyak makanan yang enak untuk di nikmati.
__ADS_1