Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Pergi Ke Butik


__ADS_3

Salma masih terus memikirkannya, ucapan Kafa seperti batu besar yang menghantam relung hati Salma, dia merasa seprti berharap atas seuatu yang tak bisa dia harapkan. Di tambah ucapan Ghozi yang memperparah fikiran Salma.


"Woii Salma!!" panggil Tari dengan suara sedikit lebih keras dengan tujuan menyadarkan Salma yang terlihat melamun di depan mesin cuci.


"Astaghfirullah," spontan Salma saat mendengar teriakan Tari.


"Kamu ngapain ngelamun di sini? bukannya nyuci malah asyik melamun, emang kamu mau kenalan sama setan penunggu mesin cuci ini, pakai acara melamun segala." Cerocos Tari membuat Salma sedikit gemas dengan mulut blak-blakan sang sahabat.


"Huss!! kalau ngomong selalu saja gak di saring, lama-lama aku pasang filter juga di mulutmu ini." Hardik Salma pada Tari yang justru tersenyum menanggapi ancaman Salma.


"Wah bagus donk ada filternya, biar gak ada debu yang masuk ke dalam mulut sterill penuh keharuman milikku ini," sahut Tari yang sukses membuat Salma semakin gemas.


"Issshhh, pengen rasanya ku remas tu mulut," ujar Salma.


"Jangan di remas entar capek tu tangan, sumpel aja pakai uang biar mampet!" ucap Tari.


Tari selalu saja punya jawaban tiap Kali Salma gemas dan berkata sedikit tegas atau kasar padanya, selalu saja ada jawaban nyeleneh yang membuat Salma malas untuk meneruskannya karena meneruskan obrolan bersama Tari hanya akan menimbulkan kekesalan yang tak berujung.


"Sudahlah! lama-lama bisa darah tinggi aku bicara sama kamu," menyerah sudah, Salma tak lagi punya kata-kata untuk melawan Tari yang memiliki berjuta kata melawannya.


"Jangan darah tinggi! gak enak soalnya cuma bisa makan timun, mending kurang darah biar bisa makan sate kambing sama gule," Tari masih saja membalas ucapan Salma.


"Kamu ke sini mau ngapain?" Salma akhirnya memilih untuk bertanya tujuan Tari agar gadis itu tak lagi berbicara sembarangan lagi.


"Astaghfirullah, aku lupa kalau sekarang sedang di tunggu Mbok Bat, aku ke sini mau ambil kunci peralatan dapur yang kemarin kamu bawa." Tari mengatakan tujuannya datang mencari Salma.


"Makanya jangan suka debat dan ngejawab yang enggak-enggak kalau ada orang ngomong, di marahin Mbok Bat baru tahu rasa kamu," ujar Salma seraya merogoh saku abaya yang dia pakai dan mengambil kunci yang sempat dia bawa sebelum di panggil Ummi.


Mbok Bat memang suka marah, sebenarnya Mbok Bat bukan marah tapi memberi nasehat agar lain kali Tari ataupun Salma tak melakukan kesalahan yang sama dan bisa melakukan semua pekrjaan dengan benar.

__ADS_1


"Sudahlah, ngomong sama kamu gak ada faedahnya," ujar Tari yang langsung melenggang pergi meninggalkan Salma yang kini justru merasa heran dengan apa yang di ucapkan oleh Tari. Sungguh Tari adalah gadis dengan sejuta keceriaan juga kejengkelan yang bisa di berikan pada siapapun yang akan menasehatinya.


"Hah? apa Tari bilang tadi, gak ada gunanya?" lirih Salna dengan hati yang sudah jengkel mendengar ucapan Tari.


Salma hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Tari yang selalu membuat hidupnya merasa lebih berwarna.


"Salma!" kini suara Ummi yang terdengar memanggil Salma yang sedang menjemur cucian yang sudah selesai di keringkan.


"Ummi," sahut Salma.


"Ada apa Ummi?" sambung Salma seraya menghentikan aktifitas menjemurnya dan menoleh ke arah Ummi yang berdiri tudak jauh dari tempatnya duduk.


"Setelah selesai mencuci kamu bersiap-siaplah! kita berangkat ke butik!" titah Ummi pada Salma.


"Sekarang Ummi?" tanya Salma seolah masih belum mengerti dengan perintah yang di berikan oleh Ummi.


"Baik, Ummi, tapi Salma mau siap-siap dulu ke kamar. Apa boleh?" tanya Salma memastikan jika Ummi memberinya izin.


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya, Nak!" jawab Ummi memberi izin pada Salma.


"Terima kasih, Ummi," ujar Salma seraya tersenyum manis ke arah Ummi yang kini berjalan pergi meninggalkan sendiri.


Salma yang sudah mendapat izin langsung menyelesaikan pekerjaannya kemudian bersiap untuk ikut bersama Ummi ke butik.


"Ummi!" panggil Salma saat sampai di halaman setelah bersiap-siap.


" Kemarilah, Nak!" titah Ummi.


Salma sejenak mematung menatap Kafa yang juga berdiri di samping Ummi.

__ADS_1


"Iya, Ummi," jawab Salma.


"Nak, awal bulan depan Ummi berencana mengadakan acara pertunanganmu dengan Kafa, dan sekarang kita mau ke butik untuk memilih baju yang akan kamu gunakan nanti. Sekalian kita pilih baju pengantin untuk bulan depannya lagi." Ummi menjelaskan tujuan dirinya mengajak Salma pergi ke butik.


Meski sebenarnya Salma sangat terkejut dengan apa yanh di jelaskan oleh Ummi, tapi keterkejutan itu tidak di perlihatkan ke hadapan Ummi, Salma tetap bersikap biasa saja dan menuruti apa yang di perintahkan oleh Ummi tanpa banyak bertanya dan menjawab ataupun mendebat, bagi Salma yang terpenting sat ini hanya mengikuti apa yang di minta oleh Ummi.


"Apa kamu setuju dengan apa yang Ummi beritahukan barusan, Salma?" tanya Ummi.


'Bagaimana aku bisa menolaknya Ummi, jika aku saja baru mengetahui sekarang saat mau berangkat. Bagaimana aku bisa melawan ataupun menolak ucapannya,' batin Salma.


"Salam!" Ummi kembali memanggil Salma yang terlihat melamun memikirkan sesuatu.


"Eh Iya, Ummi," sahut Salma.


"Bagaimana? apa kamu setuju dengan apa yang Ummi jelaskan barusan?" Ummi kembali melempar pertanyaan ke arah Salma dengan harapan Salma juga menerima rencana yang telah di susun sejak lama.


"Kalau Salma setuju-setuju saja Ummi, semuanya Salma pasrahkan sama Ummi saja." Jawab Salma yang memilih memasrahkan segalanya pada Ummi meski sebenarnya dalam hatinya terbesit rasa ragu yang kini mulai menguasai hatinya.


"Alhamdulillah, kalau begitu kita akan tetap melakukan acara pertunangan awal bulan depan dan pernikahannya bulan depannya lagi." Ujar Ummi penuh semangat.


"Terserah Ummi," ucap Kafa dengan nada sinis kemudian dia berjalan masuk ke dalam mobil mendahului Ummi dan Salma.


"Ayo masuk, Nak!" ajak Ummi seraya menggandeng tangan Salma dan mengajaknya masuk ke dalam mobil untuk berangkat menuju butik di mana mereka akan memilih baju.


'Bukankah ini butik yang kemarin?' tanya Salma dalam hati seraya memperhatikan suasana sekitar butik.


"Jangan terpesona hanya karena melihat bangunan seperti ini! katrok!" ledek Kafa saat dia berjalan dan sampai tepat di samping Salma. Entah mengapa Kafa selalu saja merasa senang saat berbicara dengan nada tajam pada Salma, Kafa merasa memiliki hiburan tersendiri saat melihat wajah jengkel Salma saat menatapnya dengan penuh emosi yang tak bisa di lampiaskan.


Salma yang mendengar ucapan tajam Kafa memilih untuk masuk ke dalam butik, menyusul Ummi yang lebih dulu masuk ke dalam butik untuk bertemu dengan pemilik butik, dan memesan beberapa baju untuk acara pertunangan dan pernikahan sang putera.

__ADS_1


__ADS_2